
Happy readingeu~
! : Typo manjat bertebaran~
Satu lagi, di sini namanya tiba2 bakalan ganti jadi siap2 aja... emng cerita tak buat gtu...
📋 Revealed X Go
"Eldan, aku senang kamu kembali," ujar Cintya masih memeluk Eldan.
Eldan berdecak dan berusaha melepaskan pelukkan Cintya tapi wanita yang memeluknya ini semakin mengeratkan pelukkannya.
"Lepas, Cintya!!" bentak Eldan tapi Cintya menggelengkan kepalanya dan tetap memeluk Eldan.
"Nggak. Kalau aku lepasin nanti kamu pergi lagi, Eldan. Aku nggak mau,"
Kepala Eldan terasa pening seketika. Niat awal ingin bertemu dengan Zyta tapi malah bertemu dengan wanita yang paling tak disukainya.
"Lepas!!" ujar Eldan kesal dan dengan paksa melepaskan pelukan Cintya pada dirinya.
Setelah lepas Eldan langsung memberi jarak diantara mereka. Cintya memandang sendu Eldan yang menjauh.
"Kamu kok berubah?"
Eldan menaikkan sebelah alisnya, "Bukan urusanmu," dengusnya.
"Kamu berubah Eldan. Kamu nggak kayak dulu lagi,"
"Memangnya dulu aku seperti apa?"
Eldan mengerutkan dahinya.
"Kamu dulu.. dulu.. dulu kamu baik, sayang sama aku, nggak pernah kayak gini,"
"Oh!"
"Eldan?!!"
Cintya tak percaya Eldan, pria yang dicintainya akan bersikap dingin seperti ini. ini bukan Eldannya, bukan, dia bukan Eldan yang selama ini dikenalnya.
Eldan yang Cintya tau adalah laki-laki yang baik dan menyayanginya. Tapi, pria didepannya ini adalah kebalikannya.
"Kamu. Kamu Eldankan?"
Eldan kembali mengerutkan dahinya dan tak urung mengangguk. Cintya menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Nggak. Nggak mungkin. Kamu pasti bukan Eldan. Ya, aku yakin kamu pasti bukan Eldan," ujar Cintya menunjuk Eldan dengan airmata yang telah menjadi anak sungai dikedua sisi pipinya.
Eldan memutar bola matanya dan bersedekap, "Jika aku bukan Eldan. Kau pikir siapa?"
Cintya menggelengkan kepalanya tetap tak mau percaya.
"Nggak, Eldanku nggak kayak gini,"
Eldanku, dia bilang? Yang benar saja, batin Eldan.
__ADS_1
"Tapi... kamu sangat mirip dengan Eldan,"
"Ini memang aku," ujar Eldan berjalan meninggalkan Cintya untuk mencari Zyta.
Baru saja Eldan akan memutar handle pintu suara Cintya mencegahnya, "Ini pasti karena perempuan itukan?"
"Apa maksudmu?" tanya Eldan tanpa berbalik.
Cintya tertawa sinis, "Jangan pura-pura. Ini pasti karena diakan. Dan karena dialah kamu tiba-tiba saja pergi tanpa mengucapkan apapun,"
"Perempuan? Dia? Siapa yang kau maksud?"
Eldan benar-benar tak mengerti siapa wanita yang Cintya maksud. Seingatnya sejak dia memiliki hubungan dengan Cintya tidak ada seorangpun perempuan yang dekat dengannya. Tapi, atau jangan-jangan...
"Siapa lagi kalau bukan dokter Zyta,"
"Lihat. Kamu bahkan hanya diam saja. Benar dugaanku. Ini semua karena dia dan karena dialah yang membuatmu meninggalkanku!!! Kamu meninggalkanku hanya untuk wanita murahan itu!!!"
Eldan mengeraskan rahangnya. Zyta bukanlah wanita murahan. Eldan berbalik dan dengan langkah cepat ia berjalan mendekati Cintya lalu mencengkram rahang Cintya.
"Jangan sekali-kali kau menghinanya apa lagi menyebut namanya!"
Cintya tersenyum sinis, "Jangan munafik, Eldan. Kau sendiri bahkan tau. Untuk apa perempuan baik-baik sepertinya menyewa seorang gigolo... sepertimu..,"
Eldan melepaskan cengkramannya dengan kasar, "Eldan kau harus tau. Zyta menemuimu bukan karena keinginannya tapi karena aku yang memintanya," Eldan membulatkan matanya.
Jadi, Zyta datang menemuinya bukan untuk dirinya tapi karena permintaan Cintya dan itu artinya Zyta...
Eldan tersadar saat ini, tidak mungkin Zyta datang karena perempuan itu menyukainya. Eldan berpikir terlalu jauh dan salah mengira perkataan Kane waktu itu. Zyta saja memintanya menjadi kekasih perempuan itu disaat posisi Eldan seorang gigolo.
"Kita kembali seperti dulu lagi, ya. Dan jangan tinggalkan aku lagi," lanjut Cintya dan Eldan hanya diam saja.
Cintya tersenyum bahagia saat Eldan diam saja. Cintya pikir dalam diamnya Eldan menyetujuinya untuk kembali bersama.
Eldan tertawa, "Kembali seperti dulu? Apa kau bercanda?" ujar Eldan melepaskan pelukan Cintya dan mendorong perempuan itu menjauh.
"Kau tau kenapa aku meninggalkanmu? Itu karena aku memang tidak mencintaimu,"
Cintya membulatkan matanya, "Nggak, Eldan. Kamu pasti bohong?"
Eldan tertawa sinis, "Bagaimana dari kata-kataku yang bohong. Jika bukan karena ayahmu memintaku menjadi kekasihmu. Mana mungkin aku mau berpacaran dengan perempuan manja dan egois sepertimu. Jangan bermimpi terlalu tinggi,"
Cintya menggelengkan kepalanya dan airmatanya sudah menumpuk dipelupuk matanya. Cintya tak percaya jika ayahnya turut adil dalam hubungannya dengan Eldan dan parahnya selama mereka berpacaran, Eldan sama sekali tak mencintainya padahal ia mencintai laki-laki itu dengan segenap hatinya. Bahkan Cintya rela mati untuk Eldan.
"Huh! Dasar!" dengus Eldan melangkah pergi.
"Tunggu, Eldan. Jangan tinggalin aku. Kamu nggak bisa ninggalin aku kayak gini," ujar Cintya mencengkram lengan Eldan mencegah laki-laki itu pergi.
Eldan menyentakkan tangan Cintya kasar dan pergi dari ruangan Zyta.
Hal pertama yang harus Eldan lakukan adalah mencari Zyta dan menjelaskan semuanya pada gadis itu walaupun hubungan mereka bukankah hubungan yang sewajarnya tapi Eldan ingin mengubahnya.
Eldan sudah menyusuri seluruh penjuru rumah sakit, menanyai setiap petugas yang ditemuinya tapi Zyta tak kunjung ditemukannya dimanapun. Eldan menggeram kesal.
"Adam?!"
__ADS_1
Eldan mengedarkan pandangannya mencari orang yang memanggil nama aslinya. Sampai saat ini yang mengetahui nama asli Eldan adalah keluarganya dan keluarga Zyta.
"Evan?"
Evan menghampiri Adam yang berdiri tak jauh darinya dengan wajah keras dan cemas. Jantung Adam berdetak was-was, takut jika ada hal buruk yang akan terjadi atau mungkin sudah terjadi.
"Lo udah ketemu, Zyta?"
Adam mengerutkan dahinya dan menggeleng. Evan mengacak rambutnya dan menghela napas berat membuat Adam semakin bingung.
"Memangnya ada apa?"
Evan menoleh pada Adam tanpa berbicara dan menunjukkan ponselnya yang menampilkan chat-nya dengan Zyta. Adam mengambil ponsel tersebut dan membacanya.
Mata Adam bergerak gelisah selama membaca chat Evan dengan Zyta, "Lo bercandakan?" ujar Adam tersenyum miring dan tak percaya.
Kane menggeleng, "Sayang nggak. Waktu Zyta chat kayak gitu. Gue langsung kesini dan gue kira lo sama Zyta,"
Adam terdiam tak tau harus berbicara apa. Jika saja Cintya tidak menganggunya dengan Zyta tadi mungkin sekarang ia sudah bersama dengan Zyta sekarang.
"Tapi, kok lo nggak sama Zyta?" tanya Evan mengerutkan dahinya bingung saat ia memanggil Adam tapi pria didepannya hanya seorang diri.
"Panjang ceritanya. Dan sekarang aja gue lagi cari Zyta tapi belum ketemu,"
"Udah dicari ke seluruh rumah sakit?"
Adam menganggukkan kepalanya membuat Evan mengerutkan dahinya dan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Kalau gitu kita cari lagi. Lo kenasa, gue kesana,"
Adam menganggukkan kepalanya dan mereka berpencar mencari Zyta.
Sudah hampir ada 2 jam, Adam dan Evan mencari Zyta tapi tak kunjung ditemukan juga bahkan diruangan Zyta tadi juga kosong dan para suster yang berada disana bilang. Zyta tidak kembali sejak Adam keluar dari ruangan Zyta dan sekarang sudah hampir malam.
"Udah ketemu?" tanya Adam menghampiri Evan yang duduk beristirahat dikursi taman.
Evan menggelengkan kepalanya dengan napas yang tersengal.
"Udah.. percuma aja kita cari kepenjuru rumah sakit. Nggak bakal ketemu. Orang rumah juga lagi nyari Zyta,"
Adam hanya diam saja mendengarkan ucapan Evan.
Tring!
Evan tersentak kaget sendiri saat ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk. Evan mengambil ponselnya dari saku celana dan membuka chat group keluarga besarnya. Evan membulatkan matanya saat membaca pesan dari salah satu pamannya.
"Baca!" ujar Evan menyerahkan ponselnya pada Adam.
Adam mengambil ponsel tersebut dan membacanya.
"Kita ke bandara sekarang!" ujar Adam berdiri dari duduknya dan setengah berlari menuju parkiran.
Evan menganggukkan kepalanya dan menyusul Adam yang sudah jauh.
'Kenalanku bilang ada nama Zyta di salah satu maskapai penerbangan menuju Jepang,' seperti itulah isi pesan paman Evan.
__ADS_1
🎡📋🎡TBC🎡📋🎡