
Happy Reading~
Sorry for typo
Biasa namanya juga human
PS:Menujurakhir
πFirst Meet U (1)
Zyta menepuk dahinya setelah mengingat siapa yang dimaksud bibi dan ibunya. Zyta tak dapat mempercayainya. Bibi dan ibunyalah yang membuat Adam, Kane, dan Evan tidak mengetahui keberadaannya selama 7 tahun lamanya. Sungguh para ibu yang tega. Tidak bisa melihat bagaimana bingungnya anak-anak mereka.
Dan untuk Kane, bagaimana bisa sepupunya itu tidak tau kalau selama ini, dirinya berada di Jepang. Atau jangan-jangan Kane sendiri memang tidak atau parahnya kedua orangtuanya juga seperti bibi dan ibunya. Adam hanya diam dan memandang Zyta yang tengah mengucapkan rutukkan kepada bibi dan ibunya. Biarkanlah dia berdosa kali ini. Hanya kali ini saja.
"Memangnya apa yang dikatakan bibimu?"
Zyta meneguk ludahnya, "Tapi, kau jangan marah, okey...,"
Adam mengerutkan dahinya curiga tapi tetap menganggukkan kepalanya.
"Mereka.. mereka.. mereka yang membuat kalian tidak tau keberadaanku selama ini," ujar Zyta diakhiri kekehan sedangkan Adam memandang Zyta tak percaya bahkan dia sampai tidak bisa berkata-kata.
"Ja.. ja.. jadi.. jadi.. mereka,"
Zyta tersenyum tak enak dan menganggukkan kepalanya.
Adam masih tidak dapat berkata apapun. Selama 7 tahun ini artinya ia, Kane dan Evan seperti orang bodoh yang mencari Zyta kemana-mana tapi tak kunjung menemukannya sedangkan orang-orang terdekat Zyta mengetahuinya. Adam menutup matanya menahan kesal.
"Eiyy.. jangan marah. Lagipula, aku juga senang kalian mau mencariku," ujar Zyta tersenyum membuat Adam terdiam.
Lagi-lagi perasaan ini. Perasaan dimana ia pernah melihat senyum itu sebelumnya. Senyuman yang membuat mata pemiliknya seolah-olah tertutup. Senyum lebar yang terlihat sangat manis menurut Adam. Tapi, Adam tak dapat mengingat dengan jelas dimana ia pernah melihat senyum itu.
πππππ
"*Adam, besok malam bisa bantu aku menjamu beberapa tamu?"
Adam mengerutkan dahinya, "Acara apaan?" tanya Adam pada kakak kesalnya itu.
"Biasa ulang tahun perusahaan papa,"
Adam ber-oh ria.
"Oke. Berapa duit?" ujar Adam menaikkan sebelah alisnya.
"Ck! 600 ribu. Emang kebanyakan sih tapi cuman kamu yang bisa kuandalkan,"
Adam memberikan tanda oke lewat jarinya, "Siap, boss!!"
"Dateng pagi, ya. Aku butuh dari pagi sampai malam,"
Adam mengacungkan kedua jempolnya. Sudah biasa jika Adam membantu kakak kelasnya itu untuk menjadi pelayan pada acara-acara yang diselenggarakan keluarga dari kakak kelasnya itu. Tentu saja Adam akan mendapatkan bayaran dari pekerjaannya itu. Bayaran dari yang paling murah sampai semahal tadi*.
πππππ
__ADS_1
*Jam menunjukkan pukul 7 pagi dan kakak kelas Adam sudah memerintahkan pria itu untuk segera sampai ditempat acara yang akan diselenggarakan. Adam berdecak kesal saat kakak kelasnya itu terus meminta untuk segera datang.
Adam yang terlalu fokus pada ponselnya tanpa sengaja menyenggol bahu seorang perempuan memakai gaun putih berlengan panjang dan transparan, menampakkan samar bahunya yang seputih susu*.
"*Oh! Maaf, mas,"
Baru saja Adam akan mengucapkan maaf orang itu sudah lebih dahulu mengucapkan maaf dan segera melenggang pergi, Adam tersenyum kecil saat ia sekilas melihat wajah wanita itu.
'Manis,' batin Adam.
Drttt...
Ponsel Adam bergetar dan tertera nama kakak kelasnya disana. Adam berdecak kesal dan mengangkat sambungan telepon tersebut.
'Cepetan dateng. Tak potong uangmu nanti,'
"Iya. Iya, mas. Ini dijalan,"
'Dijalan aja dari tadi. Emangnya lewat mana sampai sekarang belum sampai,' Adam memutar bola matanya malas.
"Ya.. jalan biasalah,"
'Terserahlah mau lewat mana yang penting cepetan dateng,'
"Iy..."
Adam menjauhkan ponselnya dari telinganya dan melihat layar ponselnya yang sudah berganti seperti semula. Adam mendengus dan menggeleng tak percaya*.
πππππ
*Reyhan -kakak kelas Adam- bersedekap didepan pintu belakang gedung tempat dimana acara akan diadakan. Adam berdecak kesal melihat wajah menyebalkan Reyhan.
"Terlam...,"
"Iya, iya, aku tau," sela Adam sebelum Reyhan menyelesaikan ucapannya.
Reyhan mendengus dan menyuruh Adam mengikutinya. Adam hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka melewati dapur terlebih dahulu sebelum menuju tempat acara.
"Jadi, kenapa memintaku datang pagi-pagi?" tanya Adam saat mereka telah sampai ditempat acaranya.
Reyhan tersenyum lebar, "Bantu-bantulah. Tenang, kalau yang ini bukan aku yang bayar tapi papa," ujar Reyhan cepat saat Adam membuka mulutnya untuk protes.
"Berapa?"
Reyhan mendengus dan menatap Adam kesal. Sejak pertama kali Reyhan meminta bantuan Adam. Pria didepannya ini selalu saja mempermasalahkan bayaran yang akan diterimanya. Reyhan menunjukkan angka 5 pada jarinya.
"5 rupiah? Mana ada uang segitu,"
Reyhan berdecak kesal, "500. 500 ribu,"
Adam membuka mulutnya tak percaya dengan wajah bahagia. Hanya bekerja bantu-bantu saja dia sudah dibayar 500 ribu dan menjadi pramusajinya dibayar 600 ribu. Satu juta dalam sehari.
__ADS_1
Tanpa perlu bekerja setiap hari, Adam saja berhasil menghasilkan uang 1 juta. Bayangkan betapa hebat dirinya ini.
"Siap, bosku. Apa yang harus saya lakukan lebih dahulu," ujar Adam dengan wajah bahagianya membuat Reyhan berdecak dan mulai menjelaskan apa yang harus Adam lakukan terlebih dahulu*.
πππππ
*Adam merebahkan tubuhnya pada kursi tamu dan mengibas-ibaskan tangannya untuk mengurangi rasa panas pada tubuhnya setelah bekerja membantu para pekerja lainnya mendekor ruang acara dan mengangkat-angkat barang.
Walaupun ruangannya adalah ruangan ber-AC tapi tetap saja Adam merasa kepanasan. Bulir-bulir keringatnya saja sudah sebesar biji jagung.
"Capek?" ujar Reyhan memberikan sebotol air mineral, Adam mengangguk dan menerima air tersebut lalu mengucapkan terima kasih.
"Makasih udah bantu-bantu,"
Adam berdeham mengiakan dan menganggukkan kepalanya.
"Nggak usah sungkan-sungkanlah,"
"Udah sana ganti baju. Jangan lupa mandi juga. Baumu asem banget,"
Adam menatap Reyhan yang menutup hidungnya dan mengibas-ibaskan tangannya datar lalu beranjak dari duduknya dan menuju dapur.
Adam sudah hapal diluar kepala seluk-beluk tempat acara ulangtahun perusahaan keluarga Reyhan karena jika keluarga Reyhan mengadakan acara ulangtahun maka tempat inilah yang akan mereka gunakan.
Adam selesai membersihkan badannya dan memakai pakaian pramusaji lalu segera menuju dapur untuk membantu orang dapur memindahkan makanan-makanan yang akan disuguhkan pada acara kali ini.
Semua orang terlihat sibuk dan terus berlalu lalang. Begitupula dengan Adam yang tiada henti terus bolak-balik untuk mengantarkan makanan atau peralatan lainnya. Acara akan diadakan jam setengah 8 nanti dan sekarang masih jam 5, masih ada banyak waktu untuk menyempurnakan semuanya.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 07.14, artinya sebentar lagi acara akan dimulai. Reyhan juga sudah rapi dengan tuxedo hitamnya. Reyhan tersenyum lebar saat melihat Adam dan menghampiri Adam lalu menepuk bahunya.
"Woy!"
Adam terjengit kaget dan segera memukul Reyhan saat mengetahui siapa yang mengagetkannya.
"Wow! Wow! Wow! Memang hebat kemampuanmu menata setiap makanan dan lain-lain agar terlihat sempurna,"
Adam hanya mendengus menjawabnya membuat Reyhan berdecak kesal.
"Aku ini sedang memujimu tapi sikapmu malah seperti itu," ujar Reyhan kesal dan Adam hanya terkekeh sembari menyusun makanan lainnya pada meja panjang.
"Iya. Iya. Maaf,"
"Adam, seharusnya kau juga memakai tuxedo,"
Adam mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Lihatlah dirimu yang dalam balutan baju pelayan saja sudah sangat keren bagaimana jikalau kau memakai tuxedo. Mungkin aku kalah ganteng,"
Adam tertawa mendengarnya.
"Itu tidak mungkin," ujar Adam melanjutkan pekerjaannya.
Reyhan baru saja akan membuka mulutnya tapi sang ayah sudah memanggilnya untuk mendekat.
__ADS_1
'Memakai tuxedo. Yang benar saja,' batin Adam*.
π‘ππ‘TBCπ‘ππ‘