
Happy Read....ingg...π
! : Ngati-ati kro typo ne
πUnexpected Guest
Zyta tertawa kecil melihat pria didepannya hanya tersenyum tanpa mengucapkan apapun.
"Kapan datang? Bukannya kamu seharusnya nggak disini?"
Pria itu mengerucutkan bibirnya dan melipat tangannya didada, "Jadi, nggak boleh, nih?" Zyta tertawa mendengarnya lalu menggeleng.
"Bukannya nggak boleh. Boleh-boleh aja malah tapi bukannya kamu harusnya masih sekolah, ya? Inikan bukan waktu liburan disekolahmu,"
"Aku ijin seminggu. Mbak lupa? 2 harikan ulang tahun nenek dan aku disuruh bantu-bantu. Duh kebiasaan deh kalau yang repot-repot kayak gini panggil-panggil,"
Zyta membulatkan matanya dan menepuk dahinya.
"Ya!! Tuhan!! Aku lupa," ujar Zyta seketika panik saat ia ingat jika ia belum menyiapkan kado untuk nenek tercinta.
Pria itu menggelengkan kepalanya, "Kebiasaan, deh. Untung aja ada aku,"
Zyta berdecak dan menatap pria didepannya kesal.
"Masih berani kesal. Udahlah mending kita pergi cari kado buat nenek,"
"Memangnya kamu belum beli?"
Pria itu menggelengkan kepalanya. Zyta melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah 3 artinya setengah jam lagi waktunya ia pulang.
"Kurang setengah jam lagi," gumannya.
"Evan, karena masih setengah jam lagi jam jagaku. Gimana kalau kamu kuajak keliling dulu. Kamukan belum pernah keliling rumah sakitku dulu,"
Evan menggelengkan kepalanya cepat, menolak ajakkan Zyta sedangkan wanita itu sendiri sudah tertawa karena ia memang sengaja ingin menggoda Evan yang notabanenya termasuk golongan orang yang membenci berada dirumah sakit.
"Ihhh mbak Zy, mesti deh,"
Zyta menghentikan tawanya dan meminta maaf.
"Iya.. iya.. Kalau gitu kita bahas sekolahmu saja. Gimana sekolahmu disana? Udah mau ujiankan?"
Evan menghela napasnya lalu menumpukan kepalanya diatas lipatan tangannya.
"Yaaa gitu deh," ujar Evan malas-malas
"Ya gitu deh itu, gimana?" ujar Zyta sembari mengelus sayang rambut Evan yang halus seperti rambut bayi.
Karena Zyta dan Evan sama-sama anak tunggal dikeluarga dan ditambah lagi jarak umur mereka yang tak jauh membuat keduanya sangat dekat. Zyta sudah menganggap Evan seperti adik kandungnya sediri begitupun juga dengan Evan.
"Mbakkan tau sendiri gimana sekolahku," ujar Evan menatap Zyta sebentar lalu memfokuskan dirinya pada miniatur kayu yang berdiri dimeja Zyta.
Kali ini Zyta yang menghela napasnya, "Masih suka bolos lagi?"
Evan menganggukkan kepalanya dan Zyta kembali menghela napasnya. Zyta memincingkan matanya, menatap adik sepupunya yang paling menyebalkan ini.
"Kamu sekarang udah kelas 3 loh. Bukan waktunya main-main lagi, Evan. Apalagi kamu udah mau ujiankan,"
Evan hanya menganggukkan kepalanya menjawab Zyta, "Aduh.. duh.. sakit mbak," pekik Evan bangun dari tidurannya dan mengelus telinga kirinya yang baru saja ditarik oleh Zyta.
__ADS_1
Zyta mendengus kesal, "Kalau orang ngomong itu didengar. Jangan masuk kiri keluar kanan," ujar Zyta bersedekap.
Evan mengerucutkan bibirnya kesal dan melengoskan pandangannya kearah lain. Zyta menghela napasnya lalu melihat jam tangannya yang ternyata sudah 30 menit terlewati padahal mereka hanya berbincang sebentar. Zyta mengambil tasnya dan memasukkan barang-barangnya.
"Sudah selesai?" Zyta mengangguk lalu berdiri dari duduknya.
"Ayo,"
Evan mendengus tak urung mengikuti ajakkan Zyta. Mereka keluar dari ruangan Zyta secara bersamaan.
"Pulang dulu, ya semuanya," ujar Zyta kepada para suster yang berjaga dan di-iya-kan oleh mereka.
Para suster itu bertanya-tanya Evan itu siapanya Zyta karena yang mereka tau Zyta jarang sekali kedatangan tamu selain pasien.
"Mungkin pacarnya dokter Zyta," ujar suster Ida saat Zyta dan Evan sudah keluar dari ruangan lalu diangguki oleh suster yang lainnya.
"Ada apa ini?"
Mereka tersentak kaget saat mendengar suara Alex yang baru saja keluar dari ruangannya. Mereka menggelengkan kepala.
"Gak ada apa-apa kok, dok," ujar salah satunya.
Alex menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke ruangan Zyta.
"Dokter Zytanya sudah pulang,"
Salah satu suster mengangguk, "Iya, dok. Baru aja sama cowoknya," ujar suster Ida membuat Alex mengerutkan dahinya.
Cowoknya? Setau Alex, Zyta tidak tidak mempunyai pacar lalu bagaimana mungkin tiba-tiba pulang dengan seorang pria.
Tanpa sepatah katapun Alex kembali keruangan dengan pikiran yang terus memikir siapa pria yang pulang bersama Zyta ini. Para suster disana menghembuskan napasnya lega karena mereka harus menahan napas jika suara Alex sudah berkumandang.
πππππ
Zyta dan Evan saat in berada di salah satu pusat pembelanjaan terbesar di kota J. Hampir dua jam setengah mereka berkeliling untuk mencari hadiah, tepatnya hadiah dari Zyta sendiri karena Evan sudah lebih dahulu mendapatkan hadiah untuk nenek nanti.
Wajah Evan sudah terlihat tidak enak sejak tadi tapi Zyta tak memperdulikannya dan terus menyeret Evan dari satu toko ke toko yang lainnya.
"Ayo, mbak. Pilih salah satu lalu kita makan," ujar Evan sudah jengah dengan Zyta yang terus menimbang-nimbang baju yang sama hanya saja berbeda warna.
"Bentar ihh. Evan, menurutmu bagus yang mana? Yang tua apa yang muda?" ujar Zyta memperlihat kedua baju tersebut.
Evan menghela napasnya tak urung tetap mengikuti keinginan Zyta. Evan menunjuk baju berwarna biru tua.
"Eumm.. tapi, kalau biru tua gak cocok deh. Yang ini aja kalau gitu," ujar Zyta mengembalikkan baju berwarna biru tua dan membawa baju berwarna biru tua ke kasir sedangkan Evan menghembuskan napasnya panjang.
Tak berapa lama Zyta telah selesai membayar baju yang dibelinya dan segera menghampiri Evan yang berdiri tak jauh dari kasir.
"Lama," ujar Evan saat Zyta berdiri didepannya.
Zyta berdecak kesal, "Gimana pacar-pacarmu gak pada kabur kalau kamu kayak gini,"
Evan balas berdecih, "Kayak tau-tau aja,"
"Emang tau kali,"
Evan menatap Zyta mengejek, "Masa?"
Zyta berdecak lalu memukul lengan Evan, sontak Evan mengaduh karena Zyta memukulnya cukup kencang.
__ADS_1
"Ihh.. Kamu in.."
Zyta ganti mencubiti pinggang Evan sedangkan Evan berusaha menghindar.
"Loh? Mbak Zyta?"
Sontak Zyta dan Evan menghentikan aksi mereka dan menoleh ke sumber suara. Zyta maupun Evan membulatkan matanya kaget setelah melihat orang yang memanggil nama Zyta.
"Kamu..,"
"Lo?"
Zyta maupun Evan sama-sama menoleh, menatap, dan menunjuk satu sama lain seolah bertanya mereka saling kenal dengan orang didepan mereka saat ini.
"Mbak kenal sama orang ini?" tanya Evan menujuk orang didepan mereka.
Zyta mengedarkan pandangannya kearah lain dan tiba-tiba saja dia merasa gerah mendengar pertanyaan Evan.
"Errr... hmm.. hmm..," guman Zyta menggaruk kepalanya dan menganggukkan, Evan membulatkan mulutnya dan menatap Zyta tak percaya.
"Gak bohongkan?"
Zyta kembali mengangguk dengan ragu dan tertawa canggung.
"Ikut!" ujar Evan menggandeng tangan Zyta meninggalkan orang tersebut yang memandang Zyta dan Evan bingung.
Zyta yang diseret Evan pergi hanya bisa pasrah.
"Eldan, udah selesai carinya?"
Orang tersebut adalah Eldan. Eldan menoleh dan mengangguk kepada wanita yang memanggil namanya.
"Ayo, pergi,"
Eldan kembali mengangguk dan mengikuti wanita yang merangkul lengannya itu pergi.
Didalam pikirannya, Eldan terus berpikir siapa pria yang bersama dengan Zyta. Apakah kekasih wanita itu atau teman dan bisa jadi saudara wanita itu?
"Gimana menurutmu, Eldan?"
Eldan tersadar dari lamunannya dan menatap wanita disampingnya yang sejak tadi terus berbicara tapi Eldan tak tau apa yang tengah dibicarakan wanita itu.
"Kenapa?"
Wanita itu memberenggut dan berdecak lalu melepaskan rangkulannya pada lengan Eldan dengan kasar. Eldan sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu dari beberapa wanita yang menyewanya.
"Ihh.. Eldan kamu nggak dengarin aku lagi?"
Eldan tertawa kecil, "Iya, maaf. Tadi kamu tanya apa?" tanya Eldan merangkul bahu wanita itu dan tersenyum lebar.
"Aku tanya. Gimana kalau aku mengadakan acara ulangtahunku nanti?"
"Oke. Oke, aja. Malah bagus,"
"Beneran? Kalau begitu kamu datang ya nanti,"
Eldan tersenyum dan mengangguk membuat wanita itu bersorak seperti anak kecil padahal umurnya 7 tahun lebih tua daripada Eldan. Tak apa ia datang ke acara seperti itu asalkan ia mendapatkan pundi-pundi uang dari wanita manja didepannya ini.
Tapi, pikiran Eldan tetap mengarah ke Zyta dan terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan ada hubungan apa Zyta dengan pria itu.
__ADS_1
π‘ππ‘TBCπ‘ππ‘