
The next part is up~~💋💋
Happy Reading~ Chu~♡
! : Typo Bertebaran.. Fyuuu~
📋Fake ID Card
Kringgg....
Zyta tersentak duduk dari tidurnya saat mendengar suara jam waker berbentuk kucing disampingnya. Digapainya jam waker tersebut lalu mematikannya, Zyta kembali menjatuhkan tubuhnya ke kasur berniat kembali tidur. Baru saja Zyta merasa ia tertidur sekarang ponselnyalah yang berbunyi nyaring.
Zyta menggeram kesal lalu bangun dari tidurnya dan mengambil ponselnya yang entah bagaimana setiap ia bangun tidur ponselnya sudah berada dilantai. Zyta menguap dan menjawab panggilan telepon tersebut.
"Hallo, dokter Zyta disini?"
"Bos," Zyta mengerutkan dahinya bingung.
Bos? Siapa? Dirinyakah?
Zyta menjauhkan ponselnya dan disana tertera sederet angka lalu mengerutkan dahi, mencoba mengingat nomor milik siapa.
"Eumm.. siapa ya?" tanya Zyta saat tak mengingat nomor asing tersebut.
"Ini saya, bos. Beni,"
"Beni?"
Zyta mengerutkan dahinya dalam dengan mata menahan kantuk. Otaknya saat ini sedang pada mode malas untuk diajak berpikir. Lagipula sekarang dia tengah bebas tugas jadi ingin mengistirahatkan jiwa raganya hari ini dengan cara tidur sepuasnya.
"Yang tadi malam, bos. Yang bos suruh cari orang itu,"
"Cari orang itu?" tanya Zyta kembali.
Beni diseberang sana mendehem ragu apakah ia menelpon orang yang benar atau tidak. Zyta kembali menguap dan merebahkan tubuhnya dikasur.
"Bos?" Zyta berdeham menjawab.
"Bos! Bos disanakan?"
Zyta kembali mengiakan padahal saat ini dirinya hampir masuk kembali ke alam mimpi karena sangking malas dan mengantuknya.
"Bos, kita sudah menemukan orangnya. Orang yang ada difoto," sahut suara lainnya yang Zyta rasa dirinya pernah mendengarnya tapi dia lupa dimana.
"Kita juga udah ngomong-ngomong sama dia. Ternyata dia beneran orang yang bos maksud. Dan katanya dia mau ketemuan sama, bos," jelas suara diseberang sana.
"Siapa?" tanya Zyta dengan suara pelan tapi tetap mendengarkan ocehan diseberang sana.
"Gigolo yang bos maksud,"
Seketika Zyta langsung terjaga mendengar jawaban diseberang sana.
"HAH?!! BENERAN?!!" pekik Zyta kencang.
Rasa kantuk yang Zyta rasakan tadi tiba-tiba menghilang begitu saja digantikan rasa segar dimatanya.
"Aduh, bos... Woles aja kali. Kuping saya jadi sakit ini,"
"Alah.. udah. Jadi, kapan bisa ketemuan?" tanya Zyta tak sabar.
"Bos sendiri yang harus telepon sama buat janji. Gitu katanya,"
Zyta mendengus mendengar jawaban itu. Dasar pria itu, awas saja jika mereka bertemu nanti.
"Cih! Kenapa gak kalian aja yang bilang? Atau jangan-jangan kalian gak bilang sama dia?"
"Ehhhh... nggak, bos. Nggak, suwer. Kami udah bilang tapi dia nolak trus minta bos sendiri yang hubungin dia," Zyta menghembuskan napasnya panjang.
"Oke. Oke. Oh ya, soal informasi pribadinya gimana selain janji temu?" tanya Zyta sembari beranjak dari kasurnya dan melangkah menuju dapur.
"Orangnya misterius bos. Setiap ditanya soal pribadinya. Gak dijawab malah senyum mulu. Kita padakan jadi bingung mau tanya gimana lagi,"
__ADS_1
Zyta mengerutkan dahinya, "Kalian tanya apa aja emang?" tanya Zyta.
"Semua. Soal kehidupannya,"
Zyta mengerutkan dahinya, "Yakin?" entah siapa yang tengah berbicara diseberang sana menjawab berdeham.
Sejak tadi nada suara yang menjawab terus berubah-ubah tapi Zyta tak ambil pusing yang penting informasi yang dibutuhkannya ia dapatkan.
"Oke. Kalau gitu, kalian kirim lewat pesan aja. Informasi apa aja yang udah kalian dapatkan,"
"Siap, bos," Zyta segera mematikan sambungan telepon tersebut.
Zyta terpaku didepan kulkas lalu menyandarkan punggungnya dimeja pantri yang tepat dibelakangnya.
"Kamu emang gak berubah, kak. Misterius kayak dulu," guman Zyta memandang layar ponselnya yang menampilkan foto si kakak kelas.
"Sial! Sampai lupa kalau mau ambil minum," gerutu Zyta.
📋📋📋📋📋
Zyta menjatuhkan tubuhnya diatas kasur setelah berbersih badan. Ia lalu mengelus perutnya yang terus berbunyi sejak dia dikamar mandi.
"Makan apa, ya?"
Zyta memejamkan matanya memikirkan makanan apa yang akan dimakannya. Dia sedang malas untuk masak sendiri dan tak mungkinkan seorang dokter Gizi sepertinya makan makanan fastfood. Mau ditaruh dimana mukanya nanti.
Zyta membuka matanya, "Masa bodolah. Gak ada yang tau juga," ujar Zyta tersenyum lebar lalu mendial salah satu nomor telepon gerai makanan siap saji.
Setelah terhubung, Zyta segera memesan dua porsi sedang pizza dengan rasa yang berbeda.
Tak berapa lama pizza pesanan Zyta datang. Dengan langkah lebar, Zyta segera menghampiri pintu apartementnya dan dengan tak sabaran membuka pintunya. Zyta melebarkan matanya senang saat dua bungkus pizza ukuran sedang telah berpindah ketangannya.
Zyta meletakkan pizzanya diatas meja ruang tamu sedangkan dirinya duduk di karpet. Zyta segera membuka pizzanya yang sejak datang sudah mengeluarkan aroma yang membuat perutnya berbunyi.
"Selamat makan," seru Zyta mengambil satu slide pizza dan memakannya dengan lahap.
"Hmmm... enak banget. Sumpah. Memang hebat kekuatan makanan cepat saji. Jelas banyak orang menyukaimu, sayang. Termasuk aku,"
Zyta merebahkan tubuhnya dikaki sofa setelah menghabiskan hampir 7 slide pizza. Sekarang perutnya terasa sangat penuh membuatnya sangat malas untuk bergerak barang sedikit saja.
Tiba-tiba saja rasa kantuk kembali menyergap Zyta, dirinya tak dapat menahan kantuk dan hampir memasuki alam mimpi kembali hingga tersentak sadar saat ponselnya berbunyi.
Zyta berdecak dan meraih ponselnya yang berada dilantai, "SMS?" guman Zyta melihat notif sms terpampang dilayar ponselnya.
Zyta mengerutkan dahinya, "Nomor siapa?" gumannya setelah membuka SMS itu dan hanya berisi angka-angka nomor telepon.
Tak berapa lama ponsel Zyta kembali bergetar dan tetap dari nomor yang sama dari nomor yang menelponnya tadi. Zyta membulatkan mulutnya sambil mengangguk-angguk.
Tanpa berpikir panjang Zyta langsung menelepon nomor tersebut hingga sambungan kedua terdengar jawaban dari sama tapi Zyta malah menutupnya.
'Hei,' kirim sapaan Zyta kepada nomor tersebut dan berapa lama terdapat balasan yang juga balas menyapa.
'Kamu... Eldan, kan?' -Zyta
'Ya, ada perlu apa?'
Zyta tersenyum mendapat balasan itu. Tak salah lagi ini pasti pria itu. Hebat juga pria-pria itu mencari orang. Dalam waktu singkat mereka sudah menemukan orang yang ia cari. Zyta rasa ia harus menambahkan bonus untuk mereka.
'Ya. Dan bisakah kita bertemu,' -Zyta
'Dimana?'
'Lusa di Café Zyzy lantai dua jam 1 siang. Saya tunggu disana. Apakah bisa?' -Zyta
'Tentu saja bisa,'
Setelah itu, percakapanpun terhenti. Zyta merenggangkan tubuhnya. Ia tersenyum miris.
"Sudah berbeda," gumannya memandang langit-langit ruang tamu apartementnya.
Tanpa disadari dirinya sendiri, air matanya jatuh. Zyta menutup matanya dengan lengan. Zyta menghela napasnya panjang dan membuka matanya.
__ADS_1
"Sekarang waktunya membuat identitas palsu," gumannya.
Zyta mengscroll layar ponselnya mencari nomor salah satu temannya lalu menelponnya setelah menemukannya. Tak perlu waktu lama panggilan Zyta sudah terjawab.
"Dadan!!" panggil Zyta tanpa basa-basi membuat penerima diseberang sana berdecak kesal.
'Jangan panggil Dadan. Gue gak suka. Lo kira gue daun pandan, yang biasa lo buat masak kolak. Udah berapa kali gue bilanginkan? Nama gue Eldan. Griseldan Gilang. Eldan, Zy. Eldan. E-L-D-A-N. Eldan! Ngerti lo!' jawab penerima diseberang sana tanpa jeda.
Zyta terkekeh mendengar jawaban orang yang paling sering Zyta buat repot selama ini.
"Oke. Oke. Sorry, Eldan si genteng.. ehh.. salah.. maksud gue. Si ganteng," jawab Zyta terkikik.
'Hm.. hm.. akhirnya lo bisa nyebut nama gue dengan benar,'
Zyta menjauhkan ponselnya dari telinga dan menahan tawanya agar tidak meledak. Eldan memang mudah luluh jika dipanggil tampan.
"Dan...," panggil Zyta dan dibalas deheman diseberang sana.
"Gue minta tolong," ujar Zyta mengulurkan tangannya untuk mengambil satu slide pizza lagi. Tiba-tiba dia merasa lapar kembali.
'Tolong? Tolong apa? Jarang banget lo minta tolong sama gue biasanya juga sama si Rico itu,'
Zyta terkekeh, "Maaf. Maaf,"
'Hmm.. minta tolong apa?'
"Bantu gue buat KTP," ujar Zyta sembari mengunyah pizzanya dengan pelan.
Tadi ia merasa lapar tapi saat memakannya ia merasa kenyang.
'Haaah? KTP? Kartu Pelajar atau Kartu Tanda Penduduk?'
Zyta memutar bola matanya malas, "Kartu tanda pendu....,"
'Buat apa? Bukannya lo dah punya KTP ya? Ngapain buat lagi? Ilang? Dicuri orang? Atau...,' ujar Eldan menyela membuat Zyta berdecak kesal karena kebiasaan Eldan yang tak pernah berubah.
Selalu banyak bicara tanpa henti dan suka memotong pembicaraan orang lain tapi anehnya apa yang akan kita katakan seolah-olah sudah diketahui oleh teman baiknya ini.
"Dengerin dulu bangsat!!" teriak Zyta kesal. Napas Zyta tersengal-sengal walau hanya berteriak 3 kata saja.
'Eehhh!!! Biasa aja kali, mbak! Gak usah ngegas kayak bajaj juga!!' teriak Eldan membalas.
"Biasa aja juga kali, mas!!" balas Zyta juga berteriak.
'Terserah loh deh. Gak mau bantu gue. Bye!!!!'
"Ehhhh!! Tunggu Dan. Tunggu," ujar Zyta mencegah Eldan menutup panggilannya.
"Jangan marah. Ayolah bantu gue okey," rayu Zyta saat Eldan tak mengucapkan sepatah katapun.
Bisa hancur sudah jika Eldan tak mau membantunya sedangkan Zyta sangat-sangat membutuhkan kepintaran yang sungguh luar biasa milih temannya yang satu ini.
"Gue traktir KFC deh. Gimana?" lanjut Zyta tapi Eldan tetap terdiam.
"KFC. McD. Apapun makanan yang lo mau gue beliin buat lo se...,"
'Beneran?'
Mendengar jawaban Eldan membuat Zyta kembali berdecak dan memutar bola matanya malas. Sudah pasti cara terampuh merayu Eldan adalah dengan mentraktir orang itu makanan.
"Hmmm... hmmm...,"
'Oke. Minta buatin KTP, kan? Gue buatin. Atas nama siapa nona Sherlyzyta Mezzaluna. Atas nama anda ataukan orang lain?'
"Mending kita ketemuan hari ini. Gue tunggu di Starbucks jam 3. Gak boleh telat! Telat 1 detik. Traktiran batal,"
Zyta langsung mematikan sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari Eldan yang Zyta sangat yakin pasti tengah bergerutu kesal sembari menyumpah serapahinya. Zyta terkekeh membayarkan bagaimana Eldan jika dalam keadaan kesal. Sangat lucu.
"KTP selesai. Mission start," guman Zyta memakan kembali pizzanya yang belum habis dan mengunyahnya pelan.
🎡📋🎡TBC🎡📋🎡
__ADS_1