
Happy Reading
!:typobertebaran
ps:menjelangakhirnya
📋Wedding Prepared (1)
“Zyta. Zyta. Ayo bangun. Zyta,”
Zyta membuka matanya perlahan setelah mendengar namanya dipanggil dan merasakan guncangan pelan pada tubuhnya. Zyta mengangkat sedikit kepalanya dan dengan mata setengah terbuka ia melihat ibunya. Ia mengedarkan pandangannya ke sepenjuru ruangan.
‘Dimana ini? Oh! Ternyata masih dirumah kakek,’ batinnya kembali merebahkan kepalanya diatas bantal.
“AKH!!”
Zyta terpekik saat ia merasakan ada yang memukul betisnya.
“Ayo, bangun!! Dasar anak malas. Sebentar lagi kamu akan menjadi istri orang, tidak seharusnya kamu semalas ini!!! Zyta!! Ayo!! Bangun!!” ujar Nirmala menarik selimut Zyta tetapi Zyta mempertahankan selimutnya, alhasil terjadilah tarik-menarik selimut antara ibu dan anak ini.
“Ayo!! Bangun!! Zyta!!”
“Ibu.. ini masih pagi dan lagipula aku sedang libur,”
Zyta menggelengkan kepalanya.
“Bagi wanita yang akan menjadi istri tidak ada kata bangun siang. Jadi, ayo bangun!!” ujar Nirmala mendelik pada Zyta dan berusaha menarik lepas selimut yang membungkus tubuh Zyta.
“Ibu!!”
“Zyta!!”
“Ada apa ini? Pagi-pagi sudah ramai,” ujar nenek memasuki kamar Zyta yang sudah ramai oleh suara Zyta dan ibunya.
“Ibu?”
“Nenek?”
Nirmala maupun Zyta sama-sama menghentikan kegiatan tarik-menarik mereka saat nenek memasuki kamar Zyta.
“Bu, lihatlah cucu tersayangmu. Matahari sudah tinggi tapi masih saja tidur,”
__ADS_1
Nenek terkekeh lalu menghampiri Zyta dan duduk disebelahnya. Nenek mengelus sayang kepala Zyta yang masih setengah sadar dari tidurnya, nenek yang melihatnya merasa sangat gemas dengan tingkah Zyta yang tidak pernah berubah sejak dulu.
“Zyta, ini sudah siang. Lihatlah sudah jam 9, sudah waktunya bangun. Lagipula hari ini waktunya fitting baju,”
Zyta yang baru saja akan merebahkan tubuhnya langsung terbangun dan menatap neneknya meminta penjelasan sedangkan nenek hanya tersenyum dan beranjak dari duduknya.
“Bantu Zyta berbersih. Kami tunggu diruang keluarga,” ujar nenek pada dua pelayan dan menyeret Nirmala meninggalkan kamar Zyta dengan paksa.
Zyta melihat neneknya yang keluar dari kamarnya dengan tidak percaya dan dengan pasrah ia membiarkan dua pelayan nenek untuk melayaninya. Tak membutuhkan waktu lama, Zytapun sudah selesai.
“Kalian boleh pergi,” ujar Zyta pada kedua pelayan yang membantunya.
Kedua pelayan itu mengangguk dan pergi meninggalkan kamar Zyta. Zyta menghembuskan napas panjang setelah pintu kamarnya kembali ditutup. Ia menungkupkan kepalanya diatas meja dan terus menghela napas. Dalam waktu kurang dari satu bulan ia sudah menyandang nama baru. Ia bukan lagi nona muda Mezzaluna tapi sudah menjadi nyonya muda Sayudha.
Ini terasa terlalu cepat bagi Zyta. Ia baru saja kembali dari kaburnya dan tiba-tiba saja ia sudah akan menikah. Tapi, dilain sisi tak dapat dipungkiri kalau Zyta merasa sangat senang bisa menyandang nama dari pria yang dicintainya sejak lama itu.
Zyta mengangkat kepalanya saat mendengar suara pintu kamarnya yang dibuka, “Apakah ada yang lain?” tanya Zyta tapi ia tak mendapat jawaban apapun.
“Kenapa kalian kem...,” ujar Zyta terhenti saat ia berbalik dan mendapati Adam yang berdiri didepan pintu dangan wajah gugupnya.
“Ada apa gerangan pria tampan sepertimu menemuiku?”
Adam hanya diam dan terus mengalihkan pandangannya.
“Ehhh... itu...,” ujar Adam gugup dan menggaruk pipinya yang Zyta yakin tidak terasa gatal sedikitpun.
“Hmm? Ada apa?”
Zyta merasa gemas melihat tingkah gugup Adam. Kedua pipi Adam sangat memerah sekarang bahkan telinganyapun juga memerah. Zyta ingin sekali tertawa melihatnya tapi ia tidak tega melakukannya karena Adam pasti akan semakin malu. Zyta hanya terkekeh sebagai gantinya dan benar saja walau hanya kekehan tapi Adam semakin malu.
“Lihatlah pipi dan telingamu. Merah sekali,” ujar Zyta menyentuh pipi dan telinga Adam yang bertambah merah.
Adam membulatkan matanya bahkan ia sampai menahan napasnya. Ia tidak bisa berhadapan dengan Zyta hari ini. Baru saja Adam membalikkan badannya dan ingin kabur, Zyta sudah lebih dulu menarik baju Adam membuat langkah Adam terhenti.
Zyta menarik baju Adam hingga sang empunya terjatuh ke atas kasur. Adam menatap Zyta yang berdiri didepannya dengan waspada. Dikepalanya ia menebak-nebak apa yang akan Zyta lakukan padanya karena wajah Zyta saat ini tak menggambarkan apapun.
“A.. a.. apa yang.. apa yang akan.. kau lakukan?”
Zyta hanya tersenyum mendengar nada gugup dari suara Adam. Menggoda Adam entah mengapa sangat menyenangkan bagi Zyta. Melihat ekspresi malu-malu Adam membuat Zyta merasa gemas dan ingin terus menggodanya.
__ADS_1
Zyta sedikit merendahkan badannya dan kembali tersenyum. Zyta mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Adam lalu mengusapnya pelan. Pipi Adam terasa lembut ditangannya membuat Zyta betah untuk terus mengusapnya.
SRAKK!!
“Mite! Kimitachi!!(Lihat! Kalian!!)”
Zyta maupun Adam sama-sama membulatkan dan segera menjauh diri mereka masing-masing.
“Kalian sudah ditunggu sejak tadi,” ujar Kane menghampiri Adam dan Zyta lalu menggandeng tangan Adam membawa pria itu pergi meninggalkan kamar Zyta sedangkan Zyta menatap kakak sepupunya itu tidak percaya.
Kenapa malah Adam yang dibawa pergi oleh Kane bukannya ia?
Evan yang berdiri diluar dan bersandar pada tembok hanya mendengus saat Kane dan Adam melewatinya lalu ia masuk ke dalam dan terkekeh melihat Zyta dengan wajah kagetnya.
“Ayo. Hari ini waktumu untuk menyiapkan segala keperluanmu,”
Zyta tersadar dan menatap Evan bingung, “Keperluanku?” tanya Zyta dan Evan menganggukkan kepalanya.
“Memangnya apa keperluanku?” lanjut Zyta kembali bertanya.
Evan memutar bola matanya malas, “Tentu saja keperluan untukmu menikah nanti. Kau menikahkan tidak langsung menikah. Ibumu dan nenek pasti tidak akan menyetujuinya. Ini adalah pernikahan cucu pertama,”
Zyta menghela napasnya panjang. Benar juga apa yang dikatakan Evan. Karena ia adalah cucu pertama dikeluarga Mezzaluna jadi tidak ada yang namanya pernikahan sederhana.
Neneknyapun pasti juga tidak tinggal diam. Setelah menikah dengan tradisi Indonesia sudah pasti ia, Adam dan yang lainnya akan dibawa ke Jepang oleh nenek dan kakeknya untuk pernikahan dengan tradisi Jepang.
“Jadi, cepatlah. Bibi dan nenek kelihatan sudah tidak sabar. Itu sebabnya aku dan Kane kemari karena Adam yang disuruhpun juga tidak segera menemui mereka. Tidak taunya...,” Zyta mengangkat tangannya.
“Baik. Baik. Aku akan segera kesana,”
Evan mengedikkan bahunya dan berjalan keluar. Zyta kembali berpikir kalau ia tak menyangka akan menikah dengan Adam.
Jika Zyta mengingatnya kembali. Ia tak percaya bisa menyukai Adam hingga bertahun-tahun. Rasa suka yang menjadi cinta itu terus bertahan walaupun ia tak pernah bertemu dengan Adam hingga saat itu.
Jika saja kalau bukan karena Cintya mungkin saja ia tidak akan pernah bertemu dengan Adam kembali dan tentu saja Zyta pasti harus melupakan Adam dengan sepenuhnya.
Walau ia tak menyukai Cintya yang pernah menjadi kekasih Adam tapi tak dipungkiri kalau ia harus banyak berterima kasih kepada wanita itu.
Zyta berdiri dari duduknya dan segera keluar kamar untuk menemui ibu dan neneknya yang mungkin sekarang tengah kesal. Zyta terkikik saat bayangan wajah kesal ibu dan neneknya melintas dikepalanya.
🎡📋🎡TBC🎡📋🎡
__ADS_1