
Happieu~ Readingeu~.
! : Typo ne ngati-ati
πGrandma's Unexpected Suprise
"Maafkan soal yang tadi," ujar Zyta saat mereka sudah jauh dari nenek dan kedua temannya.
Zyta duduk disalah satu kursi yang ditempatkan dipinggir taman untuk para tamu undangan yang ingin duduk. Eldanpun duduk disebelah Zyta dan menyandarkan tubuhnya. Ia berdeham mengiakan. Keduanya diam dan hanya memperhatiakan sekeliling.
"Yang datang orang-orang berpakaian bagus," ujar Eldan.
Zyta menganggukkan kepalanya, "Hmm... dan mereka adalah orang-orang yang menyebalkan,"
Eldan terkekeh dan mengiakan ucapan Zyta. Ada beberapa tamu yang Eldan kenali. Salah satu wanita yang menyewanya pernah mengajaknya keacara seperti ini dan memberitahunya siapa saja yang datang keacara tersebut. Sungguh orang-orang yang menyebalkan.
"Sebenarnya itu adalah pakain yang masih biasa dan wajar saja. Kau belum melihat bagaimana pakaian yang dikenakan oleh bibi Valerie," dengus Zyta saat ia tak sengaja melihat siluet tubuh Valerie dari kejauhan dan mendekati neneknya.
Eldan menegakkan tubuhnya dan menatap Zyta penasaran, "Pakaian seperti apa?"
Eldan penasaran pakaian seperti apa yang akan dikenakan wanita sombong seperti tante Zyta.
Zyta menunjuk tempat neneknya tadi dan benar disana terdapat Valerie dengan longdress hitam berbelahan dada cukup rendah dan punggung yang terbuka tetapi tertutupi oleh rambutnya.
Eldan membuka mulutnya merasa jijik dengan Valerie. Sekarang berpikir bagaimana bisa ia berkencan dengan wanita seperti itu.
Baru saja Eldan akan berkomentar suara dari pembawa acara menggema dipenjuru taman dan mengatakan kalau acara puncak akan dimulai. Zyta segera berdiri dari duduknya dan mengajak Eldan mendekat menuju keluarganya.
πππππ
Acara puncak yang dinanti-nantipun dimulai. Nyanyian-nyanyian lagu selamat ulang tahun dilantunkan dan diiringi oleh musik yang merdu. Zyta yang berdiri tak jauh dari neneknya ikut bernyanyi dan menepuk tangannya mengiringi nyanyiannya. Eldanpun yang berdiri disamping Zytapun tak jauh berbeda.
Setelah nenek meniup lilin para tamu undangan berteriak riuh dan saling mengucapkan ucapan selamat dan doa. Nenek hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebisanya.
Setelah selesai melakukan acara potong kue, acarapun dilanjutkan.
Zyta kembali mendekati sang nenek dan memeluknya, "Sekali lagi, selamat ulang tahun, nenek. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu,"
Nenek tersenyum dan mengucapkan terima kasih tetapi senyum nenek terasa berbeda dimata Zyta. Nenek memanggil MC yang memandu acaranya mendekat lalu nenek mengambil alih mic yang MC laki-laki itu pegang.
"Cek! Cek!"
Para tamu undangan yang tengah berbincangpun kembali mengalihkan pandangan mereka ke arah nenek.
Nenek tersenyum misterius kepada Zyta, membuat gadis itu curiga, "Terima kasih atas perhatian para tamu sekalian," ujar nenek kembali mengalihkan pandangannya kepada para tamu tetap dengan senyum dibibirnya.
"Sebenarnya acara malam ini bukan hanya diadakan untuk saya saja," ujar nenek membuat tamu undangan kembali riuh menebak-nebak maksud nenek.
__ADS_1
Jantung Zyta tiba-tiba berdetak kencang dan perasaannya menjadi tak nyaman. Ia merasa ada hal buruk yang akan keluar dari bibir nenek tapi ia berpikir positif. Semoga saja tidak.
Nenek kembali tersenyum lalu menolehkan kepalanya pada Zyta dan melambai. Seketika jantung Zyta rasanya mati saat nenek menyuruhnya mendekat.
Mau tak mau Zyta tetap mendekat saat sang kakek yang berdiri disamping Zyta juga menatapnya. Mata kakek seolah memintanya segera mendekat. Zyta mendekat dan menundukkan kepalanya.
"Kau juga Eldan," ujar nenek tanpa mic dan melambai pada Eldan.
Zyta mengangkat kepalanya menatap neneknya tak mengerti tetapi nenek hanya diam dan tersenyum padanya. Setelah Eldan mendekat, nenek berpindah berdiri diantara Zyta dan Eldan.
Nenek kembali tersenyum, "Malam ini saya ingin memberitahukan hal penting pada kalian semua. Saya akan menjodohkan cucu pertama saya, Sherlyzyta Mezzaluna,"
Zyta membulatkan matanya dan menatap nenek tak percaya. Para tamu undangan terdiam dan berbisik satu sama lain. Tak percaya dengan apa yang diucapkan pemilik acara.
Sedangkan Eldan hanya diam dan menunduk. Hatinya menjadi gelisah saat nenek berniat menjodohkan Zyta. Ia menebak-nebak cucu dari siapa yang akan dijodohkan dengan Zyta.
"Dan pria muda disebelah saya ini adalah calon mempelai prianya. Eldan Naresh,"
Eldan membulatkan matanya sedangkan nenek hanya tersenyum. Para tamu undanganpun memberikan ucapan selamat kepada keduanya.
Eldan bingung, kenapa nenek Zyta tau nama panjang samarannya. Darimana wanita paruh baya ini tau?
"Dan lagi, acara pertunangan mereka akan diadakan tiga bulan lagi ditanggal yang sama dengan hari ini. Saya harap kehadirannya diacara pertunangan para cucuku," ujar nenek membungkukkan badannya setelahnya ia bangun dan menyerahkan kembali mic pada MC yang segera mengendalikan suasana yang mulai riuh ke acara sebenarnya.
Baru saja Zyta akan mengucapkan pertanyaan tetapi kakek lebih dulu membawa nenek pergi untuk menyapa tamu yang belum sempat disapa sedangkan nenek hanya tersenyum lebar tanpa dosa.
Zyta kembali mengedarkan pandangannya dan mendapati pamannya yang juga melihat kearahnya dan baru saja ia akan menghampiri sang paman tapi lengannya dipegang oleh Eldan. Pamannya melihatnya juga segera pergi.
"Mbak?"
Zyta berbalik dan menatap Eldan tajam membuat pria kaget dengan perubahan Zyta. Tatapan dingin dan penuh amarah.
Selama bersama Zyta beberapa waktu ini, baru kali ini ia melihat tatapan Zyta yang seperti ini berbanding terbalik dengan tatapan Zyta yang sering ia terima. Lembut dan penuh kasih sayang juga mungkin cinta.
Lidah Eldan terasa kelu melihat Zyta saat ini. Eldan hanya terdiam saat Zyta masih diam dan menatapnya tajam. Semua pertanyaan yang ingin Eldan ucapkan hilang seketika saat Zyta menatapnya.
Zyta menutup matanya dalam lalu menghembuskan napasnya panjang.
"Ikut aku," ujar Zyta menggandeng Eldan menjauh meninggalkan acara.
πππππ
Dan disinilah mereka, ditempat yang lagi-lagi membuat Eldan terpukau dan tak percaya akan luasnya rumah nenek-kakek Zyta. Eldan mengedarkan pandangannya kepenjuru ruangan tempatnya berada. Tak banyak barang dan hanya beberapa barang-barang saja untuk mempercantik ruangan.
Eldan duduk didepan meja yang sudah terdapat teh dan beberapa cemilan yang disuguhkan pelayan saat mereka sampai. Padahal Zyta belum memerintahkan apapun. Walaupun bingung Eldan tapi ia tak terlalu memperdulikannya.
__ADS_1
Sedangkan Zyta duduk menekuk kakinya dan menatap luar. Sejak mereka datang Zyta segera duduk disana dan belum menolehkan kepalanya sedikitpun. Eldan sendiri tak berani menegurnya dan memilih diam.
Ia masih tak berani menegur Zyta setelah melihat tatapan tak bersahabat dari Zyta tadi dan tatapan itu terus melekat didalam benaknya. Tak pernah sekalipun Zyta menatapnya setajam itu.
Waktu terus berjalan dan tak terasa sudah hampir dua jam mereka disini dan itu artinya sudah dua jam Zyta duduk disana sedangkan Eldan kadang berkeliling ruangan untuk membunuh rasa bosannya.
Sreekk..
Eldan mengalihkan pandangannya kearah pintu dan disana nenek berdiri dengan pakaian yang berbeda dengan diacara tadi. Yang tadinya memakai gaun yang indah sekarang sudah berganti dengan yukatanya.
Nenek tersenyum dan melangkah masuk, "Sudah berapa lama dia disana?" tanya nenek duduk didepan Eldan dan kedua pelayan yang ikut bersama nenek mengganti teh yang Eldan minum tadi dengan yang baru.
"Sejak dua jam yang lalu,"
Nenek menggelengkan kepalanya. Setelah Eldan mengatakan itu Zyta menolehkan kepalanya. Ia menatap sang nenek tajam tapi nenek dengan tenang meminum teh yang disuguhkan pelayannya seolah tak terjadi apapun.
Zyta berdiri dari duduknya yang lama dan segera mendekati neneknya. Eldan menatap Zyta bingung dan khawatir. Zyta mendekati neneknya dengan langkah tanpa ragu dan terlihat baik-baik saja padahal sudah dua jam Zyta duduk sambil menekuk kakinya.
"Duduklah," ujar nenek meletakkan gelas tehnya.
"Tak perlu. Yang kuperlukan saat ini adalah penjelasan nenek," ujar Zyta datar dan Eldan kembali terkejut.
Kemana Zyta yang begitu manja pada neneknya siang tadi? Zyta yang berada dihadapannya bukan Zyta yang dikenalnya. Nenek menghela napasnya dan mengadahkan kepalanya menatap Zyta.
"Kurasa tidak ada yang perlu dijelaskan disini," Zyta mengerutkan dahinya tak senang.
"Walaupun kujelaskan sekalipun. Cucuku, kau pasti juga tidak akan mengerti," ujar nenek kembali meminum tehnya dengan tenang.
Zyta mendengus dan tertawa sinis, "Kenapa tidak kau jelaskan saja. Setidaknya aku akan memikirkan apa maksudmu," ujar Zyta membuat Eldan mengerutkan dahinya tak senang dengan sikap Zyta kepada neneknya yang sama dengan sikap Zyta pada bibinya.
"Tidak sekarang,"
"Kalau bukan sekarang?! Kapan lagi?! Apa sampai aku menikah??!!" tekan Zyta kencang dengan kedua tangannya yang mengepal.
Matanya tertutup menahan marah.
"Mbak," tegur Eldan tak senang.
Zyta membuka matanya dan menatap Eldan tajam membuat Eldan kembali terdiam.
"Jangan menyalakan Eldan. Dia tidak bersalah," ujar nenek menunduk menatap tehnya membuat Eldan mengerutkan dahinya khawatir.
Zyta menggertakkan giginya, "Kau benar. Dia tidak salah. Tapi keluarga ini,"
Setelah mengucapkan itu Zyta segera pergi meninggalkan nenek dengan Eldan. Nenek mengangkat kepalanya dan menatap sendu kepergian Zyta. Ia tidak ingin hubungan mereka menjadi renggang tapi ini bukan saatnya memberitahu Zyta.
π‘ππ‘TBCπ‘ππ‘
__ADS_1