Gigolo Feeling

Gigolo Feeling
12 : Cooking Cooking


__ADS_3

Happy Reading~


! : Typo berterbangan pyu pyu pyu


πŸ“‹Cooking Cooking


"Gak kuliah?" Eldan berdeham menjawabnya.


"Mau lanjut kuliah?" tanya Zyta menyerahkan wadah untuk menanak nasi ke Eldan.


Eldan menerimanya dan menatap Zyta yang tetap fokus pada pekerjaan mengupasnya.


"Urusan biaya biar aku yang tanggung. Bagaimana?"


Eldan menundukkan kepalanya, "Itu tidak mungkin. Aku harus bekerja untuk bayar sekolah adik,"


"Kau lupa kalau aku yang akan membiayai semuanya? Semua kebutuhanmu? Adikmu?"


"Aku tau. Hanya saja, bukan berarti aku harus menguras uang dari orang yang menyewaku. Aku tidak sejahat itu,"


Zyta mendengus mengejek, "Mulia sekali. Padahal hatimu menginginkannya,"


Eldan menghentikan kegiatannya dan memandang Zyta yang memunggunginya tak percaya. Zyta meletakkan pisaunya dan berbalik.


"Kau ingin kuliahkan?" tanya Zyta menatap Eldan datar.


Eldan segera berbalik kembali dan melanjutkan tugasnya memindahkan beras ke wadah penanak nasi. Zyta melangkah mendekati Eldan dan memeluk pria itu dari belakang. Tubuh Eldan menegang mendapat pelukan tiba-tiba dari Zyta.


Dan Zyta yang memeluk Eldanpun dapat mendengar suara detak jantung pria itu, membuat Zyta merasa tenang mendengarnya.


"Hmm.. Badanmu hangat. Aku suka,"


Jantung Eldan berdetak kencang mendengar suara Zyta yang rasanya tepat berada disamping telinganya. Zyta mencium bahu Eldan dan menghirup aroma segar disana.


"Juga wangi,"


Walaupun sudah terbiasa mendapat pelukan dan selebihnya tapi entah mengapa hari ini, Eldan seolah-olah baru pertama kali merasakannya.


Zyta melepaskan pelukannya dan membalikkan badan Eldan menghadapnya. Eldan membuang pandangannya kesamping. Zyta tersenyum miring. Dipegangnya dagu Eldan dan memaksa pria itu menatapnya. Mata mereka bertemu.


Eldan membulatkan matanya dengan wajah tegang dan Zyta menatapnya datar. Zyta mendekatkan wajahnya hingga bibirnya hampir bersentuhan dengan bibir Eldan.


"Apa lagi yang kau pikirkan? Bukankah ini kesempatan bagus?"


Zyta melepaskan tangannya dari dagu Eldan dan berpindah kepipinya.


"Dari yang kudengar kau tidak lanjut kuliah? Jadi, aku berencana ingin membiayainya," ujar Zyta mengusapkan tangannya hingga ke lengan Eldan dan kembali lagi begitupun matanya mengikuti gerak tangannya.

__ADS_1


Zyta kembali menatap mata Eldan yang sayu. Zyta tersenyum miring dan mendekatkan wajahnya.


"Jadi....," ujar Zyta menggantung dan Eldan hanya berdeham.


Zyta berhenti saat Eldan mulai mutup matanya dan segera menjauh. Eldan yang tersadar Zyta menjauh segera membuka matanya dan memandang Zyta dengan pandangan yang Zyta sendiri tak ketahui apa artinya. Zyta memiringkan kepalanya dan tersenyum lebar.


"Bagaimana?"


Eldan terdiam dan tetap memandang Zyta. Zyta mendengus melihatnya.


"Kurasa lebih baik kau pikir-pikir saja dahulu," ujar Zyta berbalik memunggungi Eldan dan kembali melanjutkan tugasnya.


Jantung Zyta berdetak sangat kencang. Yang barusan terjadi adalah diluar kendalinya, Zyta sendiri pemilik badan dan pikiran tak tau bagaimana bisa ia seberani itu didepan Eldan.


Zyta sendiri tak habis pikir semuanya berjalan dengan sempurna tanpa kesalahan. Seolah-olah hal tersebut sudah biasa terjadi, padahal kenyataannya ini pertama kalinya Zyta sangat dekat dengan seorang pria.


Jika boleh jujur, Zyta sangat bahagia sekarang karena bisa sedekat itu dengan Eldan. Hal selalu Zyta bayangkannya dan inginkan akhirnya tersampaikan.


Lain halnya dengan Zyta yang bahagia, Eldan tengah dilanda kegugupan yang luar biasa. Setelah Zyta membalikkan badannya, tubuh Eldan langsung limbung kebelakang.


Untung saja terdapat wastafel dibelakangnya sehingga Eldan dapat berpegangan disana. Seperti halnya yang Zyta rasakan, jantung Eldan juga berdetak dengan kencang bahkan Eldan sendiri dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri.


Eldan memegang kedua pipinya yang ia rasakan terasa memanas. Eldan seperti seorang anak ABG yang baru saja mengenal cinta atau jangan-jangan Eldan berada disana. Eldan menggelengkan kepalanya dan menepuk pipinya pelan untuk menyadarkan dirinya sendiri.


"Sadar, Adam. Sadar," guman Eldan menepuk pipinya berulang kali.


πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹


Zyta menatap Eldan penuh harap saat pria itu mulai menyuapkan makanan yang mereka buat tadi. Tepatnya Zyta yang membuat karena Eldan hanya membantu beberapa saja.


"Bagaimana?" tanya Zyta tak sabaran dengan mata berbinar, Eldan membulatkan matanya dan tersenyum.


"Enak," jawab Eldan singkat dan sudah membuat Zyta mendesahkan napasnya lega bahkan tanpa Zyta sadari ia sudah sedikit berdiri.


"Syukurlah. Tapi, sukakan?" Eldan kembali mengangguk.


"Gak menyangka, mbak Zyta bisa masak seenak ini,"


Zyta tertawa kecil, "Terima kasih. Lain kali aku bisa masakkan makanan apapun yang kamu mau,"


Eldan menganyunkan tangannya menolak. Zyta mengerutkan dahinya tak senang.


"Gak papa kok. Hitung-hitung latihan buat masakin suami nanti," ujar Zyta terkikik pelan, Eldan juga ikut tertawa.


"Pasti suami mbak orang yang sangat beruntung karena mendapatkan, mbak. Sudah cantik sama masakkannya enak juga,"


Pipi Zyta merona mendengar ucapan Eldan.

__ADS_1


"Ah! Kamu ini bisa aja,"


Zyta memukul pelan lengan Eldan karena malu. Di lain itu, jantung Zyta berdegup kencang karena mendengar Eldan memujinya cantik bahkan mengatakan masakannya enak. Jika seandainya Eldan tau siapa Zyta sebenarnya entah bagaimana jadinya mereka nanti. Zyta tak bisa membayangkannya.


"Ehh... Beneran loh mbak. Mbak Zyta ini cantik juga pinter masak. Pasti suaminya betah dirumah nanti,"


Zyta tertawa mendengarnya, "Ada-ada aja kamu ini,"


"Oh ya, jadi gimana dengan tawaranku?" tanya Zyta.


Eldan menghentikan gerakkan menyuapnya dan menatap Zyta bingung. Zyta segera tersadar.


"Ah! Maksudku.. Kamu mau gak kerja dicafeku?"


"Ohh.. soal itu, masih kupikirkan dulu,"


Zyta memberenggut, "Hmmm... Kamu ada kerja tetap?"


Eldan menggeleng, "Saat ini hanya kerja serabutan,"


Zyta mengerutkan dahinya tak senang. Zyta kira Eldan memiliki pekerjaan tetap sepertinya ternyata masih pekerjaan tak jelas seperti apa. Jelas saja bahkan Eldan harus menjadi seorang pria sewaan. Apalagi dijaman sekarang ini mencari pekerjaan sangat susah bagaikan mencari jarum ditumpukkan jerami.


"Ya sudah. Kalau begitu kerja di cafeku saja," Eldan memandang Zyta tak yakin.


"Akhir-akhir ini cafe sangat ramai dan aku tidak bisa mengawasinya terus setiap saat apalagi aku harus stay terus dirumah sakit. Dan asisten yang biasanya membantuku mengawasi cafe resign seminggu yang lalu. Dan yeah.. bisa dibilang aku membutuhkan seorang manajer baru," Eldan membulatkan matanya.


"Ma.. ma.. manajer?" Zyta menganggukkan kepalanya dengan polos.


"Bu.. bukankah itu terlalu tinggi? Aku bahkan hanya lulusan SMA," Zyta mengangkat bahunya acuh.


"Selagi masih bisa belajar. Why not?"


Eldan memundukkan kepalanya, Zyta yang melihat itu menghembuskan napasnya panjang.


"Eldan...," panggil Zyta dan meletakkan tangannya dibahu Eldan.


"Bisa tidaknya seseorang itu bisa dilihat rajin tidaknya ia melakukan sesuatu,"


Eldan menatap Zyta ragu, "Selama ia giat belajar. Apa yang tidak bisa dilakukannya pasti bisa dilakukannya. Memang tidak langsung bisa. Tapi, sedikit demi sedikit belajar, lama kelamaan juga bisa sendiri tanpa harus belajar lagi. Yang kau perlukan hanya rajin saja,"


Zyta tersenyum kecil, "Sama sepertimu. Selama mau belajar, kenapa tidak? Akupun juga seperti itu. Jadi, kamu maukan?" tanya Zyta penuh harap, Eldan mengalihkan pandangannya kepiring didepannya yang makanannya masih tersisa separuh.


"Aku tidak memaksa. Kau pikirkan saja. Daripada kau bekerja tak tentu yang upahnyapun juga tak tentu. Bukankah lebih baik kau memiliki pekerjaan tetap. Habiskan makananmu daripada mubazir, kan tidak baik," ujar Zyta kembali melanjutkan makannya dan Eldan mengangguk juga kembali melanjutkan makannya.


Disela makannya, Zyta sesekali mencuri pandangan kepada Eldan yang tengah fokus pada makanannya, 'Pikirkanlah dengan baik, kak, dan semoga kau meng-iya-kan tawaranku karena perlahan, sedikit demi sedikit aku akan merubahmu menjadi lebih baik,' Zyta tersenyum didalam hatinya.


πŸŽ‘πŸ“‹πŸŽ‘TBCπŸŽ‘πŸ“‹πŸŽ‘

__ADS_1


__ADS_2