
Happieu~ Readingeu~.
! : Typo ne ngati-ati
πGrandma's House
Tak terasa besok adalah ulangtahun neneknya dan pagi tadi Zyta mendapati pesan bagaiman bom waktu dari sang paman kalau pada ulangtahun sang nenek kali ini harus membawa pasangan. Karena yang mengirim adalah pamannya jadi Zyta tak mempercayai pesan tersebut karena pamannya ini suka sekali membohonginya.
Tapi ternyata saat ia menelpon sang paman malah neneknya yang menjawab dan mulai dari situlah kepalanya tiba-tiba saja pusing mendadak.
"Membawa pasangan? Siapa? Si Evan? Gila aja bawa dia yang udah gila. Yang ada akunya yang ikut gila," ujar Zyta menggelengkan kepalanya cepat.
"Apa si Vanno aja?"
"Nggak! Nggak! Sama gilanya dengan Evan," gerutu Zyta kesal saat ia mengingat kejadian yang pernah dialaminya selama ulangtahun neneknya.
Ia pernah mengajak salah satu diantara mereka dan yang ia dapatkan malah tawa menyebalkan dari mereka. 3 serangkai menyebalkan. Alex, Vanno, dan Evan.
Memang salah jika Zyta ingin tampil lebih cantik dan mereka sering mengatai Zyta jelek saat ia memakai dress dan make-up yang lebih dewasa. Padahal selama inipun Zyta juga sering menggunakan dress tapi ia jarang menggunakan make-up yang full. Mungkin hanya bedak dan lip-gloss.
"Apa kak Adam, ya?" guman Zyta tak yakin, takut jika Eldan menolaknya.
Zyta menggelengkan kepalanya, "Selama belum mencoba. Tak tau dia mau atau tidak? Tapi...,"
Zyta terdiam sebelum memantapkan dirinya untuk menghubungi Eldan. Zyta menelpon Eldan dan pada sambungan kedua Eldan mengangkatnya.
"Kenapa mbak?"
Zyta tersenyum kecil mendengar suara Eldan yang entah mengapa membuatnya tenang.
"Eumm.. Eldan begini.. Emm.. aku bingung harus berbicara seperti apa?"
"Pelan-pelan aja, mbak,"
Zyta menggigit bibir bawahnya gugup.
"Besok.. ulangtahun nenekku dan dia minta... dia minta untuk membawa pasangan," ujar Zyta pelan diakhir kalimatnya.
Diseberang sana Eldan terdiam cukup lama membuat Zyta menjauhkan teleponnya melihat apakah ia masih tersambung dengan Eldan atau tidak dan mereka masih tersambung.
"Eldan?" panggil Zyta.
"Eh?! Iya, kenapa?"
Zyta berdecak dalam hati karena Eldan tidak mendengarkannya.
"Besok nenekku ulangtahun dan dia memintaku membawa pasangan. Niatku ingin membawamu. Apa kamu mau??"
__ADS_1
Hilang sudah rasa gugup Zyta dan digantikan dengan rasa kesalnya membuat dirinya tanpa bisa dikontrol mengungkapkannya.
Eldan tertawa diseberang sana, "Baiklah. Jam berapa aku harus datang?"
Zyta tersenyum senang saat Eldan menyetujuinya.
"Benarkah Eldan?" Eldan berdeham mengiakan.
"Baiklah jam delapan malam nanti aku akan menjemputmu. Sudah menjadi tradisi bagi kami untuk menginap sebelum hari ulangtahun nenek. Apakah tidak apa-apa?"
Eldan terdiam sebentar, "Baiklah. Tidak apa-apa,"
"Okey. Kalau begitu tunggu aku. Siapkan tuxedo untuk acara nenek malam harinya dan baju ganti biasa," Eldan berdehem mengiakan.
"Baiklah. Kalau begitu sampai ketemu nanti malam. Dandan yang tampan,"
Eldan terkekeh dan kembali mengiakan godaan Zyta. Zyta memutuskan sambungan telepon mereka dengan senyum lebar dibibirnya.
Ia tak sabar menunggu malam datang dan menjemput Eldan. Ia ingin melihat bagaimana Eldan dalam balutan pakaian formalnya besok.
πππππ
Zyta merapikan rambutnya yang baru saja dia curly pada bagian ujungnya lalu menyemprotkan sedikit parfum pada dressnya. Malam ini ia memakai dress bunga-bunga diatas lutut dengan pita dipinggang dan tak lupa tas selempang berwarna pink
"Kau sempurna Zyta," ujar Zyta lalu mencium cermin yang mantulkan dirinya hingga meninggalkan bekas lipstiknya pada cermin.
Zyta menjauh dan tersenyum lalu melenggang pergi meninggalkan apartementnya.Zyta membelah jalanan kota J dengan santai dengan ditemani lagu favoritnya. Sesekali Zyta mengikuti lirik lagunya dan bertingkah seolah-olah ialah sang penyanyi.
Drrtt.. Drrtt..
Zyta menghentikan aksinya dan meraih ponselnya yang ia letakkan diatas dashboard.
"Ayah?" Zyta mengerutkan dahinya bingung saat sang ayah tiba-tiba saja menelponnya.
"Hallo? Kenapa ayah?"
"Zy, kamu dimana? Kok belum sampai?"
"Ini masih dijalan, ayah,"
"Ohh.. oke.. oke..,"
Setelah itu sambungan teleponnya diakhiri oleh sang ayah.
"Kebiasaan," gerutu Zyta untuk ayahnya yang sangat suka sekali memutuskan telepon secara sepihak.
__ADS_1
Ada apa gerangan sang ayahanda tiba-tiba saja menelpon? Tidak biasanya. Tapi, Zyta tak mau ambil pusing. Ayahnya mulai bertingkah aneh sejak ia memutuskan pindah ke kota J dan ikut dengan sang nenek.
Tak membutuhkan waktu lama dengan keadaan jalanan kota J yang lenggang, sekarang Zyta sudah sampai didepan rumah Eldan. Zyta segera menghubungi Eldan jika ia sudah sampai dan diminta menunggu sebentar. Tak berapa lama Eldan keluar dari rumahnya dengan tas ransel dipunggungnya.
"Bagaimana dengan bajumu?" tanya Zyta saat Eldan masuk kedalam mobilnya dan hanya meletakkan tas ranselnya dikursi belakang.
"Jasnya kutitipkan pada temanku dan besok akan diantarkan kerumah nenek mbak. Lemariku nggak ada buat gantung baju seperti itu," Zyta mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tapi, kau punyakan?" Eldan menganggukkan kepalanya.
"Ada beberapa. Untuk diajak ke acara-acara seperti ini," ujar Eldan tersenyum lebar dan Zyta kembali menganggukkan kepalanya tanpa menjawab lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Eldan.
Selama diperjalanan mereka terdiam dalam pikiran mereka masing-masing dan tak ada yang memulai pembicaraan. Zyta yang fokus pada jalan didepannya dan Eldan yang menikmati perjalanan malam.
"Eldan, sesampainya dirumahku. Jika mereka bertanya kau siapa. Jawab saja kau kekasihku dan sisanya biar aku yang menjawabnya dan tenang saja mereka tidak memandang rendah orang lain," Eldan menganggukkan kepalanya.
"Dan jika ayah...," ujar Zyta terhenti saat ia mengingat tentang ayahnya.
"Ayah?" tanya Eldan.
"YA TUHAN!!! Aku lupa soal ayah!!"
Zyta segera menepikan mobilnya untuk mencegah terjadinya hal yang tak diinginkan dalam keadaannya yang tegang dan bingung ini.
"Kenapa mbak?"
Zyta menumpuhkan kepalanya pada stir, "Ayah... ayah pasti bakal tanya yang aneh-aneh dan lebih parahnya mungkin dia akan menyuruhku pergi jauh darinya, sejauh mungkin, saat dia...,"
"Dia?"
"Dia mengajakmu bicara," ujar Zyta menatap Eldan bersalah.
Eldan terkekeh pelan, "Aku sudah biasa menghadapinya. Beberapa kali menghadapi hal seperti itu saat menemani wanita-wanita yang berkencan denganku," ujar Eldan mengedipkan sebelah matanya.
Zyta mengerjapkan matanya, "Benarkah?" Eldan mengangguk yakin.
"Tenang saja. Aku pasti bisa menghadapinya," ujar Eldan memegang tangannya Zyta yang sudah terasa dingin dan berkeringat menandakan jika Zyta sudah sangat tegang bahkan terdapat kerutan didahinya.
"Tidak apa-apa. Percayakan padaku. Mbak tenang saja," ujar Eldan mengelus pelan dahi Zyta hingga kerutan didahinya menghilang.
"Oke. Semoga saja ayah tidak menanyakan hal yang aneh-aneh. Tapi jikapun iya, kau hanya perlu menjawab dengan jujur,"
Eldan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Zyta baru saja akan kembali menjalankan mobilnya tapi dicegah oleh Eldan. Zyta menatap Eldan bingung.
"Biar aku saja yang menyetir, mbak. Aku gak yakin kalau mbak mau nyetir. Yang ada nanti kita malah masuk rumah sakit," gurau Eldan dan dihadiahi pukulan pelan dilengannya oleh Zyta.
Tak urung Zyta tetap turun dari mobilnya dan pindah kekursi penumpang disebelah Eldan yang sudah duduk dengan percaya diri dikursi supir.
__ADS_1
π‘ππ‘TBCπ‘ππ‘