
Happy Readingggggeuuuu
!:Typo nang ndi2
PS:Menjelangtheend
đź“‹Special Gift
“Zyta!”
Zyta tersentak kaget saat sang ibu memanggilnya dengan suara lantang. Zyta yang baru saja melewati pintu ruang diskusi kembali memundurkan langkahnya. Ia mengerutkan dahinya bingung melihat kakek, nenek, paman, bibi, dan kedua orangtuanya minus Kane dan Evan yang entah kemana perginya kedua sepupunya itu.
Dengan senyum lebarnya nenek melambaikan tangannya, memanggilnya mendekat. Masih dalam keadaan bingung Zyta tetap menghampiri lalu duduk dihadapan nenek dan kakeknya, disampingnya kanan dan kirinya ada kedua orangtuanya dan paman juga bibinya.
Nenek tersenyum dan membawa tangan Zyta kedalam genggamannya, “Kamu sekarang sudah dewasa dan sebentar lagi akan menjadi milik suamimu,”
“Su-suami?!!”
Pipi Zyta memerah mendengar kata suami dan yang lainnya hanya terkekeh geli.
“Iya.. padahalkan baru kemarin rasanya bibi gendong kamu yang masih bayi. Sekarang bakal digendong suaminya,” goda ibu Evan disertai kekehannya membuat Zyta semakin malu.
Zyta tidak menyukai situasi ini, dimana ia menjadi kelinci kecil dihadapan harimau besar.
Nirmala ikut terkekeh, “He-em... ibu jadi kangen nyium-nyium kamu waktu kecil dulu. Ehh.. sekarang sudah ada yang gantikan ibu,” ujar Nirmala disertai kekehannya.
Zyta menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang sekarang memerah. Apa mereka semua memanggilnya hanya untuk menggodanya seperti ini?
Ini tidak adil. Mengapa ia harus mengalami hal seperti ini? Zyta tidak menyangka mereka akan menggodanya seperti ini tapi ini lebih baik daripada ada Evan maupun Kane disini.
“Zyta.. apa kamu tidak bisa tidak usah menikah dan jad... akhh!!!” ujar Mikhail terhenti saat Nirmala menyikut perutnya.
Mikhail menatap sang istri tak terima dan saat akan protes ia tak sengaja melihat ibu dan adiknya menatapnya tajam membuatnya mengurungkan niat untuk protes.
Kakek hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak-anaknya lalu mengalihkan pandangannya kearah Zyta yang tengah terkekeh. Kakek itu tersenyum melihatnya.
Kakek menyentuh bahu nenek dan nenek yang masih menatap putranya itu segera menatap kakek bingung. Kakek hanya tersenyum dan nenek langsung memahaminya.
Nenek melepaskan genggaman tangannya dari Zyta lalu mengambil sebuah kotak dari bawah meja. Zyta mengerutkan dahinya saat melihat kotak kayu berukiran rumit itu. Rasanya ia pernah sekali melihat kotak tersebut.
Nenek tersenyum lalu membuka kota tersebut. Didalamnya terdapat kalung permata yang Zyta ingat pernah dipakai ibunya saat acara ulang tahun pernikahan kedua orangtuanya dulu dan setelah itu ia tidak pernah melihat ibunya memakai kalung permata itu lagi diacara-acara besar.
__ADS_1
“Ini adalah kalung warisan keluarga kita. Kamu pasti pernah melihat ibumu memakainyakan?”
Zyta menganggukkan kepalanya mengiakan pertanyaan sang nenek. Nenek kembali tersenyum lalu memberikan kalung tersebut pada Nirmala.
“Kemarilah,”
Zyta mengerutkan dahinya bingung lalu berdiri dan duduk disebelah Nirmala. Nirmala mengambil kalung tersebut dan memasangkannya pada leher Zyta.
“Eh?!! Ibu, apa maksudnya ini?”
Nirmala hanya tersenyum melihat kalung tersebut melingkar sempurna dileher Zyta dan membuat Zyta terlihat semakin cantik.
“Sekarang kalung ini menjadi milikmu,” Zyta membulatkan matanya.
“Tapi, kalung ini milik ibu dan tidak seharusnya diberikan padaku. Bukankah ibu sering memakai kalung ini?” Nirmala hanya tersenyum.
“Nak, kalung ini adalah kalung keluarga kita. Kalung ini harus diberikan pada anak pertama dalam keluarga seperti ayahmu dan karena ayahmu adalah laki-laki maka yang mendapatkannya adalah istrinya yaitu ibumu dan sekarang kalung ini menjadi milikmu,” jelas nenek.
“Tapi...,”
“Zyta, ibu sudah tidak bisa memakainya lagi sejak kamu dewasa dan itupun juga berlaku padamu nanti. Saat putra atau putrimu menginjak umur 25 tahun maka kamu sudah harus memberikannya pada anakmu nanti,” Zyta terdiam.
“Apa yang kamu pikirkan, nak? Sudah sepatutnya seperti itu,” ujar nenek.
“Zyta, memang seperti itulah cara kalung itu harus diberikan. Diwariskan pada anak pertama dalam keluarga,” ujar ibu Evan pada Zyta yang hanya menundukkan kepalanya.
“Sudahlah. Suatu saat kamu pasti juga akan memberikannya pada anak atau cucumu nanti dan sekarang mungkin kamu masih kaget. Dan bibi juga paman ingin memberikanmu sesuatu,” lanjut ibu Evan tersenyum pada Zyta dan mengambil sebuah kotak perhiasan lalu menyerahkannya pada Zyta.
Zyta membulatkan matanya melihat satu set perhiasan mewah didepan matanya. Zyta menggelengkan kepalanya dan mendorong kembali perhiasan itu pada bibinya.
“Bibi, aku tidak bisa menerima barang mahal seperti itu,”
Ibu Evan memberenggut tak suka, “Ambilah. Ini juga dari pamanmu. Anggap saja ini hadiah dari kami untukmu. Kamu tidak pernah meminta apapun dari kami dan selalu menolaknya setidaknya ini hadiah dari kami yang bisa kami berikan padamu untuk semua hadiah kami yang kamu tolak,”
“Tapi, bibi..,”
“Shhtttt... ambilah,” ujar ibu Evan memberikan kembali perhiasan tersebut.
Zyta tak bisa menolaknya lagi dan hanya bisa menerimanya dan berterima kasih. Paman dan bibinya tersenyum lebar melihat Zyta yang tidak menolak pemberian mereka kali ini.
“Dan ini dari nenek dan kakek,”
__ADS_1
“Eh?! Apa??”
Zyta kembali membulatkan matanya saat kakek dan neneknya juga memberikan satu set lengkap perhiasan.
“Kakek, nenek, tidak usah seperti ini juga,”
Kakek menggeleng, “Tidak bisa. Kau harus menerimanya. Kakek tidak menerima penolakkan dalam bentuk apapun. Hanya ini yang bisa kakek berikan padamu untuk menebus semua hal yang kakek lakukan padamu,”
Zyta lagi-lagi hanya bisa diam karena sekeras apapun ia menolak maka perhiasan-perhiasan mahal tersebut akan tetap kembali padanya.
“Huh!! Padahal itu adalah perhiasan yang ingin kuberikan pada Zyta ternyata kalian yang lebih dahulu memesannya. Kupikir siapa,”
Nenek hanya terkekeh, “Siapa cepat dia yang dapat,”
“Baiklah. Baiklah. Setidaknya perhiasan dari kami baguskan, Zyta?” ujar ibu Evan mengedipkan matanya cepat pada Zyta.
“Tidak! Tentu saja punyaku. Iyakan, cucuku sayang?” ujar nenek tak mau kalah.
Zyta terkekeh, “Iya. Semuanya bagus,”
“Ah! Kamu nggak seru, Zy. Jelas-jelas bagusan dari bibi sama paman,”
Zyta hanya terkekeh lagi, “Iya. Punya paman dan bibi juga bagus,”
Baru saja ibu Evan akan berucap tapi dicegah oleh Nirmala.
Nirmala menolehkan kepalanya pada sang suami. Mikhail yang ditatap semua orang dirungan, mengusap tengkuknya. Mikhail mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku celananya lalu memberikan pada Zyta. Zyta mengambil kotak tersebut dari ayahnya dan membukanya.
“Emm.. memang tidak semahal dari paman, bibi, kakek dan nenekmu juga tidak seistimewa dari ibumu dan ayah juga bingung mau memberikanmu yang seperti apa karena kamu bilang tidak suka sesuatu yang berlebihan jadi ayah hanya bisa membelikanmu kalung kecil itu,” ujar Mikhail tak berani menatap putrinya itu dan lebih memilih mengalihkan pandangannya kearah lain.
Karena merasa Zyta tak memberikan tanggapan apapun membuat Mikhail mengalihkan pandangannya kepada putrinya itu. Mikhail membulatkan matanya melihat mata Zyta yang berair.
“Sayang...,” ujar Mikhail mengulurkan tangannya pada Zyta dan mengusap air matanya.
Zyta menangis tersedu hingga membuat semuanya panik seketika. Mereka berusaha menenangkan Zyta yang tangisannya semakin kencang. Mikhail mengulurkan tangannya memeluk putri semata wayangnya yang setelah ini akan dilepasnya.
“Terima kasih.. Terima kasih.. ayah.. terima kasih..,”
Kata itulah yang terus Zyta ucapkan selama dalam pelukkan Mikhail. Semua yang melihatnya hanya tersenyum dan membiarkan ayah dan anak itu tetap berpelukkan. Mereka tau seberapa dekat ikatan ayah dan anak itu dan memilih membiarkan mereka.
🎡📋🎡TBC🎡📋🎡
__ADS_1