
Happyie Readingie all..
! : Typo ne typo ne loh...
πStorytelling
Tanpa sepatah katapun Evan bersedekap dan menatap Zyta yang tengah memajukan bibirnya beberapa senti. Raut wajah Evan datar tak terbaca apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu.
Sejak mereka sampai disalah satu cafe dan memesan menu bahkan hingga menu yang mereka pesan datang Evan tak merubah sedikitpun posisinya membuat Zyta sedikit merasa tertekan.
Lama-kelamaan Zyta merasa kesal sendiri karena Evan terus menatapnya seolah-olah ia telah melakukan suatu kejahatan yang tak termaafkan atau seorang istri yang ketahuan berselingkuh dibelakang suaminya.
"Cukup! Aku cerita!" ujar Zyta memilih menyerah.
Evan menaikkan sebelah alisnya, "Memang seharusnya seperti itu," Zyta mendengus dan berdecih kesal.
"Dasar adik sepupu sialan!" guman Zyta menyeruput jus alpukatnya yang tersisa kencang-kencang.
"Ayo, adikmu menunggu kakak,"
"Iya. Iya,"
Zyta menyandarkan tubuhnya dikursi dan Evan memandang Zyta terus menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu benar. Aku sewa dia," ujar pelan tapi tetap dapat didengar oleh Evan.
Evan menjentikkan jarinya, "TUHKAN!! BENER!!" ujar Evan kencang membuat Zyta tersentak kaget bahkan beberapa pengunjung disekitar mereka.
Zyta tersenyum canggung dan meminta maaf kepada pengunjung lainnya.
"Biasa aja kali!" ujar Zyta menatap Evan kesal.
Evan hanya mengedikkan bahunya acuh membuat Zyta menggeram kesal.
"Tapi, mbak, buat apa kamu sewa orang kayak gitu? Kayak udah gak ada cowok lainnya?" ujar Evan menyandarkan punggungnya dikursi dan kembali bersedekap.
"Kamu gak tau ceritanya," ujar Zyta tanpa memandang Evan dan memilih memandang padatnya jalanan di kota J dari dalam cafe.
Evan berdecak, "Makanya cerita biar adikmu yang ganteng ini tau," ujar Evan menyerutup secangkir expresso-nya.
"Cih! Males banget cerita ke kamu. Yang ada aku apes nanti. Kamu cowok tapi kok kere,"
Evan tersedak mendengar ucapan Zyta. Evan meletakkan cangkir expresso-nya ke meja dengan kasar.
"Aku kere juga karena masih anak-anak. Masih sekolah," ujar Evan tak terima.
Zyta tersenyum jahil, "Masih anak-anak, ya? Terus kok udah berani pacaran, dek?" ujar Zyta menatap Evan jahil.
Evan mengalihkan pandangannya dan menggaruk pipinya gugup.
"Eeeehhh...,"
"Hmm, jadi? Cerita, cerita, cerita,"
Zyta tersenyum dan terus memandang Evan jahil karena adik sepupunya ini sangat menggemaskan jika tengah gugup, itu menurut Zyta.
Evan kembali berdecak, "Kok malah bahas aku sih? Disinikan mbak yang harusnya cerita," ujar Evan bersedekap kesal dan mengerucutkan bibirnya.
"Cih! Gak seru. Udah ah, males banget bahas yang begituan," ujar Zyta meraih tasnya dan berdiri dari duduknya, Evan mengerutkan dahinya bingung.
"Mau kemana mbak? Mau kabur, ya?" ujar Evan meraih tangan Zyta mencegahnya pergi.
__ADS_1
Zyta memasang wajah datarnya lalu melihat tangannya sendiri bermaksud meminta dilepaskan tetapi Evan tetap tidak ingin melepaskan tangannya. Zyta mengerutkan dahinya kesal dan Evan juga melakukan hal yang sama.
Mereka saling melemparkan tatapan tak mau mengalah hingga akhirnya Zyta menghela napasnya dan kembali duduk sedangkan Evan bersorak senang layaknya anak kecil.
"Baik. Baik. Aku akan cerita tapi jangan ceritakan kepada siapapun, okey,"
Evan mengacungkan kedua jempolnya dengan wajah sumringah juga menganggukkan kepalanya cepat.
Akhirnya mengalirlah cerita Zyta dari awal hingga akhir. Evan mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar cerita Zyta.
"Jadi, dia minta tolong sama mbak?"
Zyta menganggukkan kepalanya lemah.
"Sebenarnya ingin kutolak tapi saat tau pria yang dimaksud adalah dia. Mau bagaimana lagi," ujar Zyta menutup matanya dengan tangan.
"Mbak masih suka sama orang itu?"
Zyta membuka matanya dan menatap Evan bingung.
"Siapa?"
"Yaa... 'orang itu',"
"Ohh.. hmm.. sangat malahan dan semakin bertambah dengan adanya masalah ini," ujar Zyta memainkan jari-jari tangannya.
"Kenapa?"
Zyta mengangkat kepalanya dan memandang Evan bingung.
"Maksudnya?"
"Kenapa masih suka sama dia? Padahalkan dia belum tentu suka sama mbak,"
Evan menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan tingkah kakak sepupunya ini.
"Setia sekali," guman Evan.
πππππ
"Makasih, ya, mbak udah nganterin pulang," Zyta menganggukkan kepalanya.
"Kalau gitu aku pulang dulu, ya, titip salam buat semuanya,"
"Gak mampir dulu, mbak?" Zyta menggeleng.
"Ya udah deh. Bye Van...,"
Evan menganggukkan kepalanya lalu melambai saat mobil Zyta meninggalkan rumah orang tuanya.
Evan memandang mobil Zyta yang menjauh hingga berbelok di tikungan. Evan merasa kasihan dengan kehidupan Zyta yang rela jauh-jauh mendapatkan kerja di kota J hanya untuk seorang pria yang belum tentu mengingatnya.
Jika mengingat pria itu ingin rasanya Evan memukul wajahnya sampai hancur tapi Evan tak sampai hati saat mendengar jika kakak sepupunya itu akan merasa senang jika pria itu benar-benar menyukainya.
Sebenarnya tadi Evan ingin memberitahu Zyta sesuatu tentang pria itu tapi setelah dipikir-pikir tak perlu karena hubungan Zyta dengan pria itupun juga tak nyata ditambah lagi Zyta benar-benar membatasi hubungan mereka jadi untuk sementara ini Evan rasa cukup aman bagi Zyta sendiri.
πππππ
Zyta menekan tombol lift dengan malas. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding lift. Hari ini cukup melelahkan bagi Zyta karena banyaknya pasien yang harus dicek ditambah dengan kedatangan tiba-tiba Evan dirumah sakit dan juga pergi mengelilingi mall untuk mencari hadiah.
Zyta berdoa semoga saja paman-paman dan bibi-bibinya tidak meminta bantuannya seperti ulang tahun nenek tahun lalu dan jikapun terjadi maka lengkap sudah rasa lelah yang Zyta bawa hari ini.
__ADS_1
"Akkhhh... sial sekali! Aku lapar. Tau begini tadi aku ikut makan," gerutu Zyta menyesali dirinya yang tak ikut memesan makanan seperti Evan di cafe tadi dan lebih memilih memesan jus juga kentang goreng.
Ting!
"Pintar sudah sampai," guman Zyta melangkah keluar dari lift dan dengan pelan berjalan menuju unitnya.
Zyta berjalan dengan mata setengah tertutup karena rasa lapar ditambah ia tengah lelah.
"Hai!" Zyta tersentak dan membuka matanya.
"Oh! Hai juga. Sedang apa disini?" tanya Zyta to the point saat pria yang memjadi bahan pembicaraannya dengan Evan bersadar di depan unit apartementnya.
Eldan mengangkat kantung kresek ditangannya.
"Apa ini?" tanya Zyta mengambil alih kantung tersebut dan membukanya.
"Tentu saja makanan," jawab Eldan tersenyum.
"Wahhh!!!! Pas banget aku lagi lapar. Kalau gitu yuk masuk," ujar Zyta segera membuka kamarnya.
"Oh ya, Eldan. Kalau tidak salah, aku belum memberitahumu sandi apartementkukan?" tanya Zyta saat mereka masuk kedalam apartement dan duduk diruang tamu yang merangkap dengan ruang tv.
Eldan mengerutkan dahinya dan menantap Zyta bingung, "Sandi apartement? Buat apa?"
Zyta sekarang yang menatap Eldan bingung. Untuk apa pria didepannya inj bertanya. Bukankah sudah jelas maksud Zyta membiarkan pria itu mengetahui sandi apartemennya.
"Bukankah biasanya memang seperti itu?"
Eldan mengerutkan dahinya lalu tertawa.
"Gak begitu juga kali, mbak. Kalau aku biasanya mending tunggu didepan rumah atau menunggu yang punya rumah mengijinkan masuk,"
"Eiyyy... sopan sekali," Eldan terkekeh.
"Oh ya ini apa?" tanya Zyta mengeluarkan kotak sterofom dari dalam kresek lalu membukanya.
"Tadi pas dijalan liat ada yang jualan mie pangsit. Jadi, aku mampir beli deh,"
"Hmm... enak banget. Yang masak ini pinter banget. Aduh.. duh.. gaya banget pakai sumpit segala tapi kamu enak banget kok," ujar Zyta pada dirinya sendiri membuat Eldan tersenyum lega saat Zyta menyukai mie pangsit yang dibelinya.
"Loh nggak makan?" tanya Zyta saat menyadari jika Eldan hanya membeli satu porsi mie pangsit.
Eldan menggeleng, "Udah makan tadi,"
"Barusan?"
"Eumm tadi sore sih," jawab Eldan menggaruk tengkuknya.
Zyta memberenggut lalu memutar mie pangsit ke sumpit dan menyodorkannya ke depan mulut Eldan.
"Nggak usah mbak,"
Zyta tetap menyodorkan mienya hingga akhirnya Eldan membuka mulutnya dan memakan mie yang diberikan Zyta.
Zyta tersenyum melihatnya, "Tunggu sebentar," ujar Zyta berdiri dari duduknya dan setengah berlari menuju dapur untuk mengambil garpu.
"Nih," ujar Zyta menyerahkan garpu tersebut ke Eldan.
"Makan bareng," ucap Zyta kembali duduk didepan Eldan dan melanjutkan makannya.
"Eh? Nggak usah, mbak. Inikan buat...,"
__ADS_1
"Ssttt.. Makan. Mie pangsitnya juga cukup buat dua orang," ucap Zyta tanpa melihat ke Eldan dan tanpa bisa menolak Eldan ikut makan.
π‘ππ‘TBCπ‘ππ‘