Gigolo Feeling

Gigolo Feeling
44 : Fatigue


__ADS_3

Happy Reeeaaadddiiinngggeeuuu~


!:Typo everywhere


PS:MenjelangAkhir


πŸ“‹Fatigue


Adam duduk bersandar pada tiang rumah belajar dengan Zyta yang berada didalam pelukkannya. Tidak ada pembicaraan apapun yang keluar dari mulut keduanya. Adam maupun Zyta sama-sama menikmati waktu bersama mereka.


Di dalam hati, Zyta bertanya-tanya ada apa dengan pria yang tengah memeluknya ini? Tiba-tiba saja memintanya tetap diam dalam pelukannya dan Zyta sendiri juga tidak berani menanyakannya karena Adam terlihat tenang disini.


Adam menggerakkan tangannya mengelus rambut Zyta yang terasa halus ditangannya. Zyta baru saja akan mengangkat kepalanya tapi ditekan lagi oleh Adam untuk tetap bersandar pada dada pria itu. Zyta kebingungan setengah mati saat ini. Ada apa dengan pria ini?


Adam tidak ingin Zyta melihatnya saat ini. Adam dengan pipinya yang memerah sejak tadi. Sekarang Adam rasa ia memang sakit. Adam sendiri bisa merasakan badannya sendiri menghangat.


Zyta akan membuka mulutnya tapi diurungkannya. Ia tidak tau ingin mengucapkan apa pada Adam. Jika Zyta tak salah tebak, seharusnya acaranya sudah selesai sejak tadi tapi melihat Adam yang tak segera melepaskan pelukannya membuat Zyta tak tega meminta pria itu melepaskan pelukannya lagipula Zyta sendiri juga merasa nyaman dalam pelukkan hangat pria itu.


'Hangat?!'


Zyta baru saja tersadar kalau suhu badan pria yang tengah memeluknya ini terasa lebih hangat. Zyta segera menegakkan tubuhnya dan benar saja, wajah Adam memerah dan matanya juga sayu ditambah dengan napas yang mulai terengah.


"Ya Tuhan!! Adam, kau demam?" ujar Zyta saat menyentuh seluruh bagian wajah Adam yang terasa hangat ditangannya.


Adam menyingkirkan tangan Zyta dari wajahnya dan menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak apa-apa,"


Zyta mengerutkan dahinya tak senang, "Apanya yang tidak apa-apa? Badanmu panas gini,"


Adam menganggukkan kepalanya, ia juga dapat merasakan suhu tubuhnya sedikit panas.


"Iya. Tapi aku beneran gak apa-apa," ujar Adam dengan senyum kecil diwajahnya yang mulai pucat.


"Udah. Mending kita balik lagi ke rumah utama. Disini nggak ada apa-apa kecuali meja sama buku," ujar Zyta berdiri dari duduknya dan membantu Adam berdiri.


Adam sendiri tak dapat membantah karena memang benar apa yang Zyta katakan badannya mulai terasa hangat ke panas.


"Bisa jalankan?"


Adam tertawa pelan, "Kok malah ketawa?" tanya Sya mengerutkan dahinya kesal.


"Nggak. Aku masih bisa jalan memangnya demamku parah sampai-sampai nggak bisa jalan?"


Zyta mengedikkan bahunya, "Mungkin aja. Kalau nggak bisa jalankan, nanti kupanggilkan yang lainnya,"


Adam mendekatkan wajahnya pada wajah Zyta.


"Kenapa nggak kamu aja yang bantu aku jalan," ujar Adam dengan senyum kecilnya.


"Ka.. kamu?" tanya Zyta heran karena Adam tiba-tiba saja menggunakan aku-kamu.


"Iya, kamu. Kamu bantu aku,"

__ADS_1


Zyta mengalihkan wajah kearah lain. Wajahnya memerah sekarang.


Sial!


Seharusnya Zytalah yang membuat Adam seperti ini tapi kenapa ini malah Adam yang membuatnya memerah.


"I.. iya.. ini kubantu sampai kamarmu,"


Adam menjauhkan wajahnya dengan senyum lebar dibibirnya.


πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹


"Ini dia orang yang ditung... Ya Tuhan! Adam! Zyta apa yang terjadi pada Adam?" pekik Nirmala saat ia baru saja akan menggoda Zyta yang lebih dahulu terlihat terhenti saat Adam berada dalam papahan Zyta.


Kane dan Evan yang melihat Zyta kesulitan memapah tubuh tegap Adam segera membantunya. Zyta menghembuskan napasnya lega setelah ia membantu Adam yang mulai setengah sadar sampai rumah utama. Kane dan Evan segera memapah Adam menuju kamarnya dengan Nirmala dan Zyta dibelakangnya.


"Adam kenapa Zyta?" tanya Nirmala sekali lagi.


"Nggak tau, bu. Tiba-tiba aja dia demam tadi,"


Nirmala menggelengkan kepalanya.


"Pasti Adam melewatkan makannya lagi. Kebiasaan," ujar Nirmala menggelengkan kepalanya dan Zyta membulatkan matanya kaget.


"Melewatkan makan? Kok bisa?" Nirmala menganggukkan kepalanya.


"Hmm.. sejak kamu tinggal di Jepang. Mama yang cuman punya anak satu aja akhirnya menganggap anak orang lain jadi anaknya," ujar Nirmala mendengus kesal dan bersedekap.


Zyta memutar bola matanya malas, "Ibu... jangan mulai lagi. Yang terpenting sekarang, kenapa Adam sampai punya kebiasaan melewatkan makan?"


Nirmala mengedikkan bahunya tak tau, "Entahlah. Ibu saja baru tau sejak 2 tahun yang lalu waktu Adam di kota S dan tinggal dirumah kita selama beberapa bulan,"


"Rumah kita!!!!" pekik Zyta membuat Nirmala mengusap-usap telinganya dan memandang putri itu dengana raut wajah kesal.


"Kamu ini masih saja suka ngegas kalau ngomong,"


"Kalau Adam tinggal dirumah terus dia tidur dimana?"


"Ya.. tidur dikamarmulah,"


Zyta membuka mulutnya lebar-lebar dan menatap ibunya tidak percaya.


"Kamarku?!!" ujar Zyta menepuk dadanya membuat Nirmala memandang putrinya itu aneh lalu menganggukkan kepalanya.


Zyta tak dapat berkata-kata dan meremas rambutnya. Di dalam kamarnya itu terdapat foto Adam yang ia tempelkan pada kaca putar kecil diatas meja belajarnya dan jika Adam tidur dikamarnya, ada kemungkinan Adam tau foto itu atau juga tidak.


"Kenapa ibu membiarkan Adam tidur dikamarku?"


Nirmala mengerutkan dahinya, "Memangnya kenapa? Adamkan juga tunanganmu,"


"Waktu itu belum dan ibu, apa ibu tidak tau kalau dibalik cermin kecil dimeja belajarku ada foto Ad...."


Zyta langsung membekap mulutnya sendiri saat ia tersadar hampir saja keceplosan tentang foto Adam.

__ADS_1


"Hah? Foto? Foto apa?"


Zyta menggelengkan kepalanya cepat.


"Nggak. Nggak apa-apa. Aku balik ke kamar dulu,"


"Eh! Eh! Nggak! Nggak! Kamu ke kamar Adam, jagain dia,"


Bahu Zyta merosot dan memandang ibunya memelas. Nirmala bersedekap dan menggeleng.


"Sana. Biar nanti ibu suruh pelayan membawa air dan baju gantimu. Kamu juga bisa menggunakan kamar mandi Adam untuk membersihkan diri," ujar Nirmala mendorong tubuh putrinya itu menuju kamar Adam.


"Tapi, bu..."


Nirmala melotot membuat Zyta langsung menganggukkan kepalanya cepat dan pasrah membiarkan Nirmala membawanya menuju kamar Adam.


Sesampainya Zyta dan ibunya dikamar Adam. Kane dan Evan juga berada disana. Mereka sama-sama menoleh saat Zyta dan ibunya masuk.


"Bagaiamana?"


"Masih dipanggilkan dokter. Tunggu! Bukankah kakak juga dokter?" ujar Evan menunjuk Zyta dan Zyta menunjuk dirinya sendiri.


"Eiy.. aku memang dokter tapi aku tidak membawa peralatan medis satupun saat kemari dan lagipula aku juga dokter spesialis"


"Cih! Dasar tidak berguna," guman Kane


"Hah?!! What do you mean, Nii-san?" ujar Zyta menekankan setiap katanya dan tersenyum manis, ia kesal Kane mengatainya tidak berguna.


Jika ia tidak berguna lalu untuk apa dia belajar selama ini hingga mendapatkan gelas S2-nya.


Kane menggelengkan kepalanya, "Aishh.. sudahlah kalian ini. Kau juga Kane berhentilah mengatai putriku," ujar Nirmala.


Kane mendengus dan Zyta menjulurkan lidahnya mengejek Kane karena Nirmala membelanya.


"Kalian ini sudah sama-sama dewasa masih saja seperti anak-anak," ujar Nirmala tidak habis pikir pada putrinya dan keponakannya ini.


Di usia mereka yang seharusnya sudah memiliki 2 sampai 3 anak masih saja suka bertengkar layaknya anak kecil. Tak lama kemudian dokter yang dipanggil Evan datang dan segera Adam yang ternyata hanya kelelahan. Setelah selesai memeriksa Adam dokter itu pamit.


Kane menghembuskan napasnya panjang, "Pria ini suka sekali menyusahkan dirinya sendiri,"


"Seperti kau tidak saja," ujar Nirmala membuat Kane menatap bibinya itu kesal.


"Zyta, kamu jaga Adam ya. Ibu suruh pelayan mengantarkan kompres," sela Nirmala saat Kane akan membuka mulutnya dan setelah itu segera menggandeng Kane untuk pergi dari kamar Adam.


Zyta ingin mencegahnya tapi dia tak berdaya karena Nirmala terus melemparkan senyum lebarnya yang menurut Zyta menakutkan karena didalam senyuman itu mengandung suatu arti. Zyta menghembuskan napasnya panjang saat samar-samar ia mendengar pertengkaran kecil Kane dengan ibunya.


Kane yang ingin ikut menemani Adam dengan Zyta dan ibunya menolak dan berusaha membawa Kane pergi dari depan kamar Adam.


"Sungguh merepotkan," guman Zyta menghembuskan napasnya panjang.


Bukan karena Adam yang sakit dan merepotkannya karena dengan senang hati Zyta akan merawat Adam tapi kerena ibunya yang senang sekali menindasnya walau ia adalah anak kandung wanita itu dan Kane yang mengidap sister-complex.


πŸŽ‘πŸ“‹πŸŽ‘TBCπŸŽ‘πŸ“‹πŸŽ‘

__ADS_1


__ADS_2