
Happyto Readingeu
! : Typo dimana2
πNew Job
Zyta merebahkan kepalanya diatas meja bosan. Laptop menyala didepannya dan tengah memutar drama korea tapi ia tak benar-benar menontonya. Sudah hampir ada lima jam, Zyta duduk didepan Edo dan Eldan yang tengah melayani pembeli.
Dan sekarang sudah jam 3 sore, sebenarnya sudah waktunya Eldan berganti shift dengan yang pegawai Zyta yang lain tapi tidak ada tanda-tanda Eldan ingin pulang malah pria itu tetap terlihat bersemangat membantu Edo membuat minuman.
"Ada apa?" tanya Edo meletakkan segelas lemon tea tepat didepan Zyta.
"Terima kasih dan tidak ada apa-apa," ujar Zyta bangun dari rebahannya lalu meminum lemon tea yang diberikan Edo.
"Iya boss. Sejak 2 jam yang lalu kau terlihat lesu begitu," ujar seorang pelayan yang bertugas mengantarkan minuman.
Zyta mengangkat tangannya dan hendak memukul pelayan itu tapi pelayan itu lebih dahulu menghindar.
"Berhenti memanggilku boss, Rezza, dan kalau kubilang tidak ada apa-apa... ya... tidak ada apa-apa," ujar Zyta kesal dan meminum minumannya hingga tersisa setengah.
"Dibalik kata tidak ada apa-apanya seorang wanita pasti ada apa-apanya," ujar Rezza mengedikkan bahunya.
Zyta mendelik kesal kepada Rezza, "Lebih baik kau diam dan tak banyak bicara dan entah mengapa aku sekarang akan merasa bersyukur jika kau sakit gigi lagi,"
Rezza segera memegang pipi kanannya yang beberapa hari yang lalu gigi kanannya sakit.
Rezza memberenggut, "Jangan seperti itulah, boss," ujar Rezza memegang lengan Zyta.
Zyta menyentakkan tangan Rezza dari lengannya lalu mendorong Rezza menjauh.
"Jangan dekat-dekat," ujar Zyta melanjutkan menonton dramanya yang sudah berjalan entah sampai mana.
Rezza mendengus, "Cih!"
"Lebih baik kau antarkan ini ke meja nomor 21," ujar Edo meletakkan 3 gelas minuman didepan Rezza.
Rezza menganggukkan kepalanya, "Balik kerja dulu, boss," ujar Rezza berjalan mengantar minuman.
Zyta berdecak kesal mendengarnya. Edo bersandar menyampingi Zyta dengan segelas kopi ditangannya.
"Kurasa anak itu menyukaimu,"
Zyta menatap Edo datar lalu kembali menonton dramanya.
"Kenapa?"
Zyta menggelengkan kepalanya dan tetap fokus pada tontonannya, "Tak apa, hanya saja yang kau katakan entah mengapa terdengar menyebalkan ditelingaku," Edo tertawa mendengarnya.
"Anak itu, rajin juga,"
__ADS_1
Zyta menatap Edo bingung. Edo menunjuk Eldan dengan dagunya. Zyta menumpuhkan kepalanya dengan tangan lalu mengangguk.
"Hmm.. kurasa begitu,"
Edo menatap Zyta penasaran, "Dimana kau menemukannya,"
Zyta memandang Edo sebentar lalu kembali memandang Eldan yang tengah melayani pembeli dengan wajah senangnya.
"Sebuah cerita yang sangat panjang," ujar Zyta misterius.
"Hmm.. Menarik," ujar Edo menyeruput kopinya pelan dan entah mengapa ia paham maksud Zyta.
"Bukankah sudah waktunya berganti pegawai?" tanya Edo saat mengingat jika sudah seharusnya Eldan bergantian dengan pegawai yang lainnya.
Zyta menganggukkan kepalanya, "Tak apa. Ini baru hari pertamanya, biarkan dia menikmatinya," Edo mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kau menyukainya,"
Zyta segera menatap Edo yang tengah menatap Eldan. Zyta terdiam sebentar sebelum berdeham meng-iya-kan.
"Sudah kuduga. Pria tampan sepertinya tak mungkin, tak disukai banyak wanita," Zyta terkekeh geli pelan mendengarnya.
"Kau juga tampan," ujar Zyta tersenyum pada Edo.
Edo balas tersenyum, "Tapi tak setampan dia. Lihatlah anak-anak labil itu sejak tadi mereka membicarakannya," ujar Edo sesaat setelah beberapa remaja perempuan yang baru saja beli meninggalkan kafe.
"Akhh!! Kau benar. Jika seperti ini terus. Bisa-bisa aku kaya mendadak," gurau Zyta dan Edo menganggukinya.
Edo menatap Zyta penasaran sebab nada bicara Zyta terdengar serius artinya ada hal penting yang ingin Zyta sampaikan.
"Aku minta bantuanmu. Tolong bimbing dia. Kau tidak perlu tau sekarang maksudku tapi suatu saat nanti kau akan tau dengan sendirinya," ujar Zyta tanpa menatap Edo membuat Edo mengerutkan dahinya bingung tak mengerti maksud dari ucapan Zyta.
Zyta tersenyum lebar pada Edo, "Jangan terlalu dipikirkan tapi mohon bantuannya,"
Walaupun masih bingung tetapi Edo tetap menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih,"
Edo kembali menganggukkan kepalanya. Zyta dan Edo tersenyum saat Eldan menoleh kepada mereka dan tersenyum.
'Tidak perlu sekarang kau mengetahuinya tapi tunggu saja. Maka kau akan mengerti maksud dari perkataanku dan kau akan melakukan apa yang kumaksudkan, Edo,'
πππππ
"Bagaimana?" tanya Zyta saat Eldan duduk disebelahnya setelah pria itu menyelesaikan seluruh pekerjaannya.
"Menyenangkan," ujar Eldan tersenyum lebar kepada Zyta dan Zyta ikut tersenyum.
"Zy, balik dulu, ya,"
__ADS_1
Zyta menganggukkan kepalanya saat Edo berpamitan untuk pulang. Cafe sudah ditutup beberapa menit yang lalu dan hanya tersisa beberapa pegawai saja yang masih belum pulang untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
"Udah malem. Kita pulang, tapi sebelum itu cari makan dulu. Sejak tadi hanya makan beberapa kue aja dan kamu pasti belum makan sama sekali," ujar Zyta memasukkan laptopnya kedalam tas lalu berdiri.
Eldan masih terdiam dan memeperhatikan Zyta, "Kenapa?"
Eldan menggeleng. Zyta menghela napasnya lalu menghampiri Zyta.
"Lepas celemekmu dan kita pulang," ujar Zyta melepaskan celemek cafenya yang masih dikenakan Eldan sedangkan Eldan hanya diam membiarkan Zyta melepaskan celemek yang dikenakannya.
Zyta meletakkan celemek disembarang tempat, "Eldan, jangan-jangan karena belum makan badanmu lemas?" Eldan menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
Eldan terdiam cukup lama dan Zyta dengan sabarnya menunggu. Beberapa kali Eldan membuka mulutnya tapi kembali ditutup. Zyta kembali duduk disebelah Eldan.
"Apa kau berpikir soal pekerjaan ini yang tidak cocok denganmu? Dan merasa tidak bisa menerimanya?" tebak Zyta dan ternyata Eldan mengangguk.
Zyta menyandarkan tubuhnya pada meja dibelakangnya, "Eldan, kau tau. Sebenarnya aku juga bingung ingin melakukan apa padamu," ujar Zyta menatap lurus kedepan dimana terdapar taman disebelah cafenya. Eldan menolehkan kepalanya.
"Aku yang tak pernah mempunyai hubungan seperti ini dengan seorang pria tapi tiba-tiba melakukannya. Itu membuatku bingung dan bimbang. Aku terus berpikir apa kau merasa nyaman jika aku melakukan ini dan itu atau malahan kau merasa tak nyaman,"
Zyta menutup matanya dan menghela napasnya perlahan, "Tapi..," ujar Zyta tersenyum kecil lalu menolehkan kepalanya pada Eldan.
"Apapun itu. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untukmu. Selagi aku bisa. Sedikit demi sedikit aku ingin membantumu semampuku," lanjut Zyta tersenyum lebar pada Eldan.
Eldan terdiam dan terpesona dengan wajah Zyta yang terkena cahaya lampu dari luar cafe. Terlihat sangat menawan menurutnya.
"OH!! TUHAN!! APA YANG TERJADI? KAU MIMISAN, ELDAN!!!" pekik Zyta saat dirinya melihat darah yang keluar dari hidung Eldan.
Zyta segera mencari tisu dan membantu Eldan membersihkan darah yang terus mengalir dari hidung pria itu.
"Apa kau sakit?" tanya Zyta khawatir dan Eldan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Tuhan, yang tadi sangat memalukan bagi Eldan. Bagaimana mungkin dirinya sampai mimisan hanya kerena melihat wajah Zyta, batin Eldan.
Zyta dengan telaten membantu Eldan membersihkan darah mimisannya, "Jika kau sakit bilang padaku. Aku akan segera menghubungi temanku untuk memeriksamu," ujar Zyta dan Eldan hanya menganggukkan kepalanya.
Saat ini Eldan tak tau apa yang harus dilakukannya selain diam dan menurut ditambah lagi Eldan bisa merasakan kalau pipinya memanas. Memanas karena malu. Sebab wajah Zyta saat ini juga sangat dekat dengannya.
"Kenapa masih saja keluar?" gerutu Zyta kesal karena darah mimisan Eldan terus saja keluar tanpa henti.
"Oh! Gosh! Kita pergi kerumah sakit dulu. Mimisanmu tidak juga berhenti. Aku khawatir ada apa-apa denganmu," ujar Zyta berdiri dari duduknya menyerah dengan mimisan Eldan yang tak kunjung berhenti.
Zyta berjalan menuju wastafel dibalik meja untuk mencuci tangannya lalu kembali pada Eldan. Sebelum itu ia membuka pintu dapur cafe dan berpamitan kepada pegawai yang masih bekerja juga berpesan untuk menutup cafe.
"Ayo," ujar Zyta menggandeng tangan Eldan pergi.
Eldan segera menutup hidungnya dengan tisu saat ia merasakan darahnya kembali mengalir.
__ADS_1
"Tuhan! Eldan, darahmu tidak mau berhenti," ujar Zyta saat ia melihat Eldan terus mengusap hidungnya dengan tisu yang tadi sempat diambilnya beberapa.
π‘ππ‘TBCπ‘ππ‘