
📋 Confused and Silent
"Boleh... masuk?" tanya Eldan tetapi Zyta masih saja diam.
"Mbak?"
Zyta menundukkan kepalanya dan mengangguk lalu menggeser tubuhnya memberi ruang bagi Eldan untuk masuk kekamarnya.
Eldan mengedarkan pandangannya mencari meja dan setelah menemukannya ia berjalan menuju meja tersebut dan duduk melipat kakinya karena mejanya tidak memiliki kursi. Eldan meletakkan nampan tersebut dibawah samping meja lalu menyusunnya satu per satu diatas meja dengan hati-hati.
Setelah itu, Eldan menolehkan kepalanya pada Zyta yang masih berdiri ditempatnya tadi dan tersenyum.
"Sini. Katanya tante Mala, mbak belum makan apapun tadi pagi," ujar Eldan tetap dengan senyumnya tapi Zyta hanya diam dan menatapnya.
Melihat Zyta yang hanya diam membuat senyum Eldan hilang dan digantikan dengan kening yang berkerut sedih. Zyta mengalihkan pandangannya tak ingin melihat wajah Eldan saat ini. Eldan berdiri dari duduknya dan menghampiri Zyta.
Eldan memegang pundak Zyta dan menghela napasnya pelan, "Mbak harus makan. Memangnya mbak nggak laper? Ini juga udah malam. Semua anggota mbak khawatir sama mbak,"
Zyta terdiam dan tetap mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Mbak," ujar Eldan mengikuti arah pandang Zyta dan Zyta segera mengalihkan pandangannya kearah lain.
Eldan terus mengikuti arah pandangan Zyta.
"ZYTA!" sentak Eldan membuat Zyta mengangkat kepalanya dan menatap Eldan.
Ini pertama kalinya Eldan memanggil namanya karena Eldan biasanya memanggilnya mbak.
Eldan membawa Zyta kedalam pelukannya, "Jangan begini. Keluarga mbak semua khawatir sama mbak. Dan aku juga," Zyta hanya diam saja.
"Aku memang nggak tau apa yang mbak pikirkan tapi entah kenapa melihat mbak yang kayak gini rasanya sangat nggak nyaman. Mbak belum makan sejak pagi bahkan berbicarapun nggak mau. Mbak, bikin semua orang khawatir termasuk aku,"
Eldan melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Zyta, "Memangnya mbak mau sakit?" Zyta hanya diam memandang Eldan.
Zyta menatap tepat dimata Eldan. Dan baru Zyta sadari warna mata Eldan sedikit warna abu-abu.
"Mbak, kan dokter. Masa dokter sakit sih? Terus periksa sama dokter juga. Kan aneh,"
"Dokter juga manusia," jawab Zyta memegang tangan Eldan membuat laki-laki itu tersenyum lebar.
Akhirnya Zyta mau bicara setelah setengah hari ia tidak mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya.
"Kalau begitu mbak makan, ya,"
__ADS_1
Zyta terdiam cukup lama hingga akhirnya mengangguk. Eldan bersorak senang layaknya anak kecil dan membawa Zyta ke depan meja makan.
📋📋📋📋📋
Eldan menepuk tangannya riang layaknya anak kecil dan bersorak senang saat Zyta menghabiskan semua makanan yang dibawanya.
"Nggak usah kayak anak kecil, deh," ujar Zyta sembari meminum air.
Eldan menumpukan kepalanya diatas tangan yang ia gunakan sebagai penyangga, "Soalnya seneng karena makanannya habis," ujar Eldan tersenyum lebar membuat Zyta tersedak dan pipinya merona.
Benar juga apa yang Eldan katakan. Sial! Karena sejak tadi pagi ia belum makan dan sekarang sangat lapar sehingga tanpa sadar ia menghabiskan semua makanan yang Eldan bawa untuknya.
Eldan terkekeh saat melihat pipi Zyta yang memerah hingga ketelinganya. Sungguh manis.
Zyta yang mendengar kekehan Eldan mendengus lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju taman. Zyta mengangkat kedua tangannya untuk merenggangkan badan.
Ternyata seharian didalam kamar berhasil membuat seluruh badannya pegal. Eldan tersenyum dan melangkah mendekati Zyta.
"Indah," ujar Eldan saat ia mengadahkan kepalanya dan melihat bulan yang membulat sempurna.
"Hmm... Kirei~(Indah~)" guman Zyta
"Mbak?" panggil Eldan dan Zyta hanya berdeham menjawabnya.
"Apa mbak marah?"
"Mmm... Soal kemarin?"
Wajah Zyta yang tadinya kebingungan berubah datar dan kembali mengadahkan kepalanya lalu berdeham. Eldan mengepalkan tangannya dibalik lengan bajunya.
"Tapi, aku tidak marah denganmu. Hanya saja, mereka. Mereka tidak bilang apapun bahkan kemarin ayah dan ibu hanya diam saja,"
"Bukannya aku tidak mau. Hanya saja, saat ini aku membutuhkan penjelasan mereka. Tapi, mereka tidak menjelaskan apapun,"
Eldan menolehkan kepalanya pada Zyta, "Jadi, ini alasan mbak nggak keluar kamar," Zyta berdeham iya dan mengangguk.
"Lalu, kenapa tidak mencoba bertanya?"
"Sudah," jawab Zyta menundukkan kepalanya.
Eldan mengerutkan dahinya bingung. Kapan? Kapan Zyta bertanya bahkan Eldan yang juga sejak pagi berada didalam kamar dan sesekali keluarpun dapat mendengar percakapan orang diluar kamar.
Zyta terdiam, enggan menjelaskan tapi Eldan yang terus menatapnya dari samping membuat Zyta tak nyaman dan akhirnya ia menyerah.
__ADS_1
"This always happen's," ujar Zyta mengalihkan pandangannya kearah lain.
Eldan membulatkan matanya dan jantung berdecak cepat, "Soal pernikahan!!!" pekik pria itu.
Zyta memutar bola matanya malas, "Bodoh! Tentu saja bukan!"
Eldan menghembuskan napasnya lega. Entah mengapa ia merasa lega saat Zyta bilang kalau bukan soal pernikahan.
"Aku sudah sering berada di situasi seperti ini dan tentu saja mereka lebih memilih tak memberitahuku. They hide many secret's from me. Itu membuatku kesal dan marah. But, sebanyak apapun aku bertanya, then the longer they are still silent. Nobody want's to tell me," ujar Zyta berbalik dan mendudukkan dirinya diteras sembari matanya tak ia alihkan dari indahnya cahaya bulan.
"Itu pasti menyakitkan," ujar Eldan tanpa menoleh pada Zyta dan juga fokus pada bulan.
"Hmm.. kau benar tapi biarlah. Terserah mereka jika ingin diam,"
"Tapi, bukankah mbak malah kelihatan kekanakan,"
Zyta tertawa sinis, "Aku tidak peduli. Mau mereka bilang sifatku seperti anak-anak atau tidak. terserah. Tapi, yang pasti aku sudah muak jika mereka tak pernah memberikan kejelasan apapun,"
"Tap..,"
"Eldan, lebih baik kau kembali ke kamarmu," sela Zyta saat Eldan berbalik dan akan berbicara.
"Biar pelayanku yang membersihkannya," ujar Zyta berdiri dan masuk ke dalam kamar lalu membuka pintu dan memanggil dua pelayan yang sering melayaninya untuk membersihkan peralatan makan.
"Oh ya! Besok kita pulang. Jadi, segera kemasi barang-barangmu," ujar Zyta tanpa menoleh.
Eldan hanya diam dan memperhatikan Zyta yang berjalan keluar kamarnya. Entah kemana gadis itu akan pergi.
📋📋📋📋📋
Zyta berjalan santai menuju taman yang berada ditengah-tengah rumah. Memang sedikit aneh dan berbeda tapi karena rumah nenek dan kakek berbentuk persegi panjang dan layaknya Dojo sehingga daripad dibiarkan kosong akhirnya dibuatkan taman.
Angin malam ini berhembus cukup kencang dan Zyta lupa membawa kain untuk menghangatkan tubuh. Zyta memeluk dirinya dan ngelus pelan lengannya yang dingin angin malam menusuk kulitnya.
"Zyta?!!"
Zyta menghentikan langkahnya dan berbalik, "Oni-san?(Kakak?)" ujar Zyta saat melihat kakak sepupu laki-lakinya yang berasal dari Jepang tengah berlari kearahnya.
Pria itu menumpuhkan tangannya dilutut dan tampak mengatur napasnya yang tak teratur. Zyta mengerutkan dahinya bingung. Kenapa kakak sepupunya ini ada di Indonesia?
"Kok kakak disini?"
"Tung.. tunggu sebentar..," jawab laki-laki itu dengan aksen Jepang yang masih kental tapi ia cukup lancar berbahasa Indonesia.
__ADS_1
Zyta tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
🎡📋🎡TBC🎡📋🎡