Gigolo Feeling

Gigolo Feeling
20 : Stupid Submission


__ADS_3

Hap~py Read~ing~


! : Typo typo


πŸ“‹Stupid Submission


Zyta berjalan dengan santai menuju ruangannya. Sesekali ia membalas para perawat yang menyapanya. Karena Alex memintanya segera datang jadi Zyta memiliki banyak waktu untuk mengajukan izin cutinya dan semoga saja diizinkan.


"Dokter Zyta!"


Zyta menghentikan langkahnya dan menutup matanya kesal. Kenapa orang yang paling dihindarinya kembali muncul. Padahal tadi Zyta sudah berdoa semoga saja tidak bertemu tapi ternyata Tuhan sedang tidak berpihak kepadanya.


"Dokter!"


Zyta membalikkan badannya saat bahunya dipegang oleh orang itu. Zyta berdeham menjawabnya tak lupa ia juga tetap tersenyum walau hatinya mendumal kesal.


"Apakah ada hasil?"


Zyta menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Cintya itu menundukkan kepalanya. Zyta memegang bahu Cintya.


"Bukankah sudah kukatakan jikalau aku sudah bertemu dengannya, aku akan segera mengabarimu,"


Cintya itu menganggukkan kepalanya membuat Zyta berdecak dalam hati.


"Baiklah. Aku harus pergi. Dokter Alex tengah membutuhkan bantuanku,"


Cintya menganggukkan kepalanya dengan kepala tetap menunduk. Zyta segera melenggang pergi dari hadapan Cintya. Ia menghembuskan napasnya lega karena berhasil lolos.


Dirinya harus segera sampai diruangannya dan segera membantu Alex, itu lebih baik daripada ia berkeliaran disekeliling rumah sakit tetapi malah bertemu dengan Cintya.


Akhir-akhir ini Zyta mulai menyesali keputusannya saat pertama kali bertemu dengan Cintya.


Jika diingat-ingat itu adalah kebodohan Zyta sendiri karena menawarkan dirinya membantu Cintya.


πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹


Zyta berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit karena jam periksanya sudah selesai dan ia sendiri tidak tau harus melakukan apa jadi ia memilih berjalan-jalan menyusuri rumah sakit.


Zyta bersenandung pelan saat melewati taman rumah sakit yang sangat asri juga teduh sehingga membuat siapapun yang disana akan merasa betah.


Zyta menghentikan langkahnya saat ia melihat seorang pasien tengah duduk seorang diri disalah satu bangku dengan wajah yang menunduk. Zyta berjalan mendekati pasien tersebut.


"Hai~" sapa Zyta membuat pasien itu mengadahkan kepalanya.

__ADS_1


Zyta sedikit tersentak saat dilihat wajah pasien itu basah oleh air mata. Zyta segera memasang senyumnya.


"Kenapa sendirian disini?"


Pasien itu segera menundukkan kepalanya dan mengacuhkan pertanyaan Zyta.Β  Zyta mendengus dalam hati.


"Boleh aku duduk disini?"


Pasien itu menatap Zyta sebentar lalu menganggukkan kepalanya dan Zyta segera duduk disebelah pasien.


"Aku Zyta. Namamu?" ujar Zyta mengulurkan tangannya dan dibalas oleh pasien tersebut.


"Cintya," ujar pasien bernama Cintya dengan nada yang lembut membuat Zyta terpana beberapa saat mendengar kelembutan suaranya.


Zyta tersenyum lebar hingga matanya menyipit.


"Nama yang cantik seperti orangnya,"


Cintya tersenyum sinis, "Apanya yang cantik dari gadis berpenyakitan sepertiku?"


Zyta tersentak kaget mendengar perubahan nada bicara Cintya yang terdengar sinis. Zyta mengedipkan matanya beberapa kali, ia bingung harus menjawab seperti apa.


"Eumm.. menurutku cantik seorang wanita tidak diukur dari sehat atau sakitnya orang itu. Bukankah setiap orang memiliki kecantikan mereka sendiri-sendiri?" ujar Zyta dengan hati-hati agar Cintya tidak tersinggung dengan kata-katanya.


"Jika memang seperti itu kenapa dia meninggalkanku tanpa penjelasan?"


Zyta memiringkan kepalanya tak paham. Beberapa pertanyaan muncul dibenaknya dan yang mungkin mendekati keadaan Cintya saat ini mungkin masalah percintaan gadis itu. Masa muda memang yang paling indah, batin Zyta.


Zyta sendiri tak sadar jika juga masih termasuk kedalam golongan orang-orang dari masa muda.


"Pacarmu?" tanya Zyta saat matanya menangkap sebuah foto yang tengah dipegang Cintya.


Cintya mengangkat kepalanya dan menatap Zyta bingung. Zyta segera menunjuk foto yang tengah dipegang Cintya.


"Ohh.. Hmm.. seperti itulah. Sebelum dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar," ujar Cintya pelan dan terdengar kekecewaan dan kesedihan dalam nada bicaranya.


"Boleh aku melihatnya,"


Cintya menganggukkan kepalanya dan menyerahkan foto tersebut. Zyta membulatkan matanya saat ia menerima foto tersebut dan melihatnya.


Zyta mengalihkan pandangannya pada Cintya yang tengah menunduk dan pada foto tersebut secara bergantian. Ia tak percaya pada apa yang dilihatnya dalam foto tersebut.


Tangan Zyta bergetar dan jantungnya berdegup kencang. Mungkin ia harus mmembuat jadwal dengan dokter jantung hari ini untuk mengecek keadaan jantungnya yang berdegup kencang.

__ADS_1


Itu dia. Ya. Benar. Itu dia.


Ia tidak mungkin salah mengenali orang. Itu memang dia. Orang yang membuat Zyta nekat pindah dari kota S ke kota J hanya untuk mengejar pria yang terdapat dalam foto dengan senyuman lebarnya dan memeluk mesra Cintya.


Memeluk mesra? Hati Zyta berdenyut sakit melihatnya.


Jadi, Cintya adalah kekasih dari pria yang disukainya. Sebuah kebenaran yang menghantam Zyta dan mengingatkan Zyta kalau ia tidak mungkin tidak akan bisa menjadi bagian hidup pria itu.


Tapi, tunggu. Bukankah Cintya bilang kalau prianya ini meninggalkan Cintya?


Prianya? Terdengar manis baginya.


"Namanya Eldan Naresh. Kami berpacaran sudah ada 2 tahun setengah tapi saat aku mengatakan jika aku sakit dan keluargaku mengasingkanku. Ia pergi tanpa jejak seolah-olah ditelan bumi dan saat kudatangi rumahnya kosong. Dan tetangganya bilang ia pindah tepat sehari setelah kami berpisah," cerita Cintya tanpa Zyta minta.


"Sekali saja. Hanya sekali saja. Aku ingin dia menemuiku dan memberikanku penjelasan mengapa dia meninggalkanku. Hanya itu yang kuinginkan," Zyta hanya bisa terdiam mendengarnya.


"Bagaimana kalau kubantu mencarinya?"


Cintya menatap Zyta tak percaya sedangkan Zyta langsung tersadar dan merutuki ucapannya yang baru saja keluar tanpa bisa dikontrolnya.


"Benarkah?" tanya Cintya dengan mata yang penuh harap membuat Zyta bimbang.


"Kumohon bantu aku, dokter," ujar Cintya mengatupkan kedua tangannya memohon.


Zyta mengerutkan dahinya bingung hingga akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Sudah kepalang tanggung ia menawarkan bantuan tapi tiba-tiba menolaknya dan kabur yang ada gadis didepannya ini akan bertambah sakit.


Oh ya! Soal sakit. Ia belum tau penyakit apa yang diderita oleh Cintya.


Cintya meraih tangan Zyta, "Terima kasih, dokter. Terima kasih banyak," Zyta menganggukkan kepalanya disela-sela penyesalannya.


"Baik. Baik. Tapi, bisakah kau memberitahuku beberapa informasi tentangnya untuk mempermudahkanku mencarinya nanti," Cintya segera menganggukkan kepalanya dengan cepat.


πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹


Zyta menggeram kesal dan membanting tumpukkan map keatas meja membuat Alex yang berada disebelahnya terlonjak kaget.


"Emm.. Zy lo gak apa-apakan?" tanya Alex hati-hati dan Zyta hanya meliriknya tajam. Alex meneguk ludahnya tegang.


"Kalau lo capek. Istirahat aja. Gak apa-apa kok,"


"Gak! Gue masih sanggup bantu-bantu," ujar Zyta dengan nada kesal yang disalah artikan oleh Alex jika Zyta tengah kesal kepadanya dan akhirnya Alex memilih diam daripada terus berbicara dengan Zyta yang akhirnya dia yang akan terkena imbasnya.


πŸŽ‘πŸ“‹πŸŽ‘TBCπŸŽ‘πŸ“‹πŸŽ‘

__ADS_1


__ADS_2