
Happy Reading
! : Typo Everywhere
PS:Mendekatiakhir
πThe Clarity
Adam menyelipkan rambut panjang Zyta yang menjuntai ke belakang telinganya.
"Tidak ingin menjelaskan padaku apa yang terjadi selama 7 tahun kaburmu ini?"
Zyta terkekeh dan mengedikkan bahunya. Zyta melepaskan tangannya dari wajah Adam dan melepaskan tangan Adam dari wajahnya lalu berdiri dan berjalan memasuki rumah belajarnya. Adam mendengus kesal saat Zyta malah kabur. Adam berdiri dari duduknya dan juga memasuki rumah belajar Zyta.
Adam mengerutkan dahinya, melihat Zyta tengah berkutat dengan sesuatu.
"Sedang apa?" tanya Adam berjalan mendekati Zyta dan berdiri dibelakangnya.
"Membuat minum," jawab Zyta singkat.
"Bukankah disana tadi ada minum?"
"Tidak enak jika berbicara disanakan?" ujar Zyta memberikan gelas minuman pada Adam lalu berjalan menuju luar kembali.
Zyta duduk menghadap danau kecil disamping rumah belajarnya diikuti Adam disampingnya.
"Sekarang jelaskan, kemana saja 7 tahun ini?"
Zyta memutar bola matanya kesal.
"Baiklah. Baiklah. Kau sungguh tidak sabaran," ujar Zyta memandang pantulan bulan purnama pada danau.
Adam diam menunggu Zyta berbicara menjelaskan kemana saja wanita itu pergi selama ini. Zyta menoleh pada Adam dan tersenyum geli.
"Sebegitu ingin taunya sampai menatapku seperti itu?" ujar Zyta mengedipkan sebelah matanya membuat Adam tersentak dan segera mengalihkan pandangannya.
Zyta tertawa pelan melihat tingkah Adam yang tak berubah setelah sekian lama tak bertemu. Zyta pikir akan banyak perubahan dalam diri Adam tapi ternyata pria disampingnya ini tidak berubah sedikitpun dan malah terlihat semakin tampan dan dewasa.
"Eiyy.. tak perlu malu," ujar Zyta mendekat pada Adam dan mencolek-colek lengan Adam sedangkan Adam menyembunyikan wajah memerahnya dari Zyta.
"Sudahlah. Lebih baik ceritakan kemana saja selama 7 tahun ini?" ujar Adam tanpa menatap Zyta.
Zyta kembali terkekeh, "Belajar seperti kata kakek," ujar Zyta tersenyum lebar membuat Adam menjadi tidak yakin sekarang kalau Zyta memang belajar.
"Jangan bohong!" ujar Adam menyipitkan matanya.
Zyta mendengus, "Aku tidak bohong. 7 tahun terakhir aku memang melanjutkan S2,"
Zyta melipat kedua tangannya didada dan mengalihkan pandangannya kearah lain. Zyta kesal Adam tidak mempercayai ucapannya dan lagipula ini bukan salahnya, salahkan saja kakeknya yang menyita semua alat elektronik miliknya dan membuatnya menjadi makhluk primitif.
"Benarkah?"
__ADS_1
Zyta menganggukkan kepalanya menyakinkan tapi memang seperti itulah fakta sebenarnya 7 tahun ini.
"Dimana?"
Zyta menatap Adam dan mengerutkan dahinya bingung.
"Tunggu sebentar! Bukannya kakek sudah bilang, ya?" tanya Zyta balik.
Sekarang gantian Adam yang mengerutkan dahinya tidak mengerti maksud Zyta. Apa yang sedang disembunyikan kakek Zyta selama ini? Dan kenapa dirinya dan yang lain tidak mengetahuinya.
"Bilang apa?"
Zyta terdiam. Jangan-jangan kakek tidak bilang apapun soal aku pergi ke Jepang? Batin Zyta.
"Jangan bilang kalau kakek...,"
Zyta mengedipkan matanya beberapa kali lalu menggelengkan kepalanya dan tertawa kesal membuat Adam semakin kebingungan.
"Ya Tuhan!! Jadi selama ini kalian tidak diberitahu kakek?"
"Soal apa?"
"Soal aku yang melanjutkan kuliahku di Jepang,"
Adam membulatkan matanya tak percaya.
"JEPANG??!!!"
Zyta menganggukkan kepalanya serta bingung dengan reaksi Adam. Jika dilihat dari reaksi Adam, kelihatannya kakek memang tidak memberitahukan apapun pada Adam.
Adam menepuk dahinya berulang kali, "Sial! Sial! Sial! Sial! Sial!" umpat Adam kesal karena selama 7 tahun ini ternyata ia sudah dibohongi.
Sungguh sial!
Adam tersadar akan sesuatu. Apa mungkin hanya dia saja yang tidak tau kepergian Zyta ke Jepang untuk melanjutkan sekolahnya.
"Apa Kane dan Evan tau kau di Jepang?"
Zyta mengedipkan matanya cepat mengingat-ingat.
"Kalau Kane kurasa iya tapi aku tidak yakin karena selama di Jepang aku belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Dan Evan, kurasa ia tidak tau,"
"Kalau begitu siapa saja yang tau kau di Jepang?"
Zyta meletakkan jari telunjuk dan ibu jarinya didagu.
"Ayah, ibu, kakek, nenek, dan orangtua Kena tentunya karena aku pernah mengunjungi mereka,"
Adam membuka bibirnya dan mengerjapkan matanya tak percaya. Adam tak dapat berkata apapun saat ini. Ia masih tidak percaya kalau ia baru saja ditipu. Orangtua Zyta dan kakek-nenek Zyta, sungguh para tetua yang tega.
Dan sekarang terjawab sudah mengapa para tetua itu terlihat tenang-tenang saja tentang Zyta yang tiba-tiba saja pergi meninggalkan Indonesia. Dan parahnya mereka membiarkan dirinya, Evan dan Kane kelimpungan mencari dimana keberadaan Zyta selama 7 tahun tanpa henti.
__ADS_1
Padahal kenyataanya para tetua ini juga mengetahui kalau mereka bertiga selama 7 tahun terus mencari Zyta tapi tak ada satupun diantara mereka yang ingin memberitahu.
"Apa mereka benar-benar tidak memberitahumu?"
Adam hanya diam dan mengepalkan tangannya menahan kesal sedangkan Zyta yang melihat wajah keras Adam juga kepalan tangannya mengangguk paham.
Adam menghirup udara dan menghembuskan pelan. Ia mengulangnya beberapa kali sampai amarahnya mereda.
"Jadi, selama ini kau berada di Jepang?" tanya Adam setelah mengatur rasa kesalnya yang memuncak, Zyta menganggukkan kepalanya pelan.
"Dan apa kau tidak tau kalau kami mencarimu selama 7 tahun ini?"
Zyta membulatkan matanya, "7 tahun? Kami?" Adam mengangguk.
"Ya, kami. Aku, Kane, dan Evan,"
Zyta mengerjapkan matanya dan membuka mulutnya tak percaya. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa kesal.
"Jadi ini maksud dari perkataan bibi waktu itu?" guman Zyta saat ingatannya kembali ke beberapa tahun yang lalu saat ia pulang ke Indonesia setelah 4 tahun menempuh pendidikannya di Jepang dan akan kembali ke Jepang karena ia diterima untuk bekerja di salah satu rumah sakit disana.
πππππ
*Zyta terbangun dari tidurnya saat ia merasakan tenggorokannya terasa kering. Zyta turun dari kasurnya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air. Saat ini, Zyta berada di Indonesia, dirumah kakek dan neneknya untuk menikmati liburannya setelah ia di wisuda kemarin.
"Kau tau. Mereka sampai sekarang masih mencari putrimu,"
Zyta mengerutkan dahinya saat ia melewati ruang keluarga dan melihat ibunya dan Emma -ibu Evan- masih berbincang malam-malam begini. Zyta melirik jam dinding diatas lemari yang menunjukkan pukul 11 malam.
"Benarkah? Akhhh!! Ternyata sangat menyenangkan membohongi 3 pria bodoh itu,"
"Tentu saja. Ide siapa dulu," ujar Emma tersenyum dan menaikkan kedua alisnya berulang kali.
Nirmala berdecih, "Sombong sekali,"
Emma tertawa mendengar ucapan Nirmala.
"Tapi, apakah tidak apa-apa tidak memberitahu Evan, Kane, dan Adam?" tanya Nirmala.
Zyta yang baru saja akan melangkah, berhenti dan bersembunyi dibalik lemari. Zyta menjadi penasaran saat 3 nama pria yang dikenalnya disebut oleh ibunya.
"Eiyy.. percayalah. Tidak apa-apa. Lagipula, aku ingin membalaskan dendamku pada Evan. Salah siapa dia merusak tas kesayanganku," ujar Emma kembali kesal setiap kali ia ingat putranya itu pernah merusakkan salah satu tasnya.
Nirmala berdecak, "Ya Tuhan... kamu masih saja mempermasalahkan tas itu,"
"Kamu nggak tau aja. Tas itu tuh dari suami tercintaku waktu kita masih pacaran,"
"Ckckckck... Alay banget kamu," ujar Nirmala menggelengkan kepalanya.
"Kamu nggak paham gimana perasaanku sih,"
"Iya.. iya.. aku tau..,"
__ADS_1
Zyta juga ikut menggelengkan kepalanya saat mendengar suara bibinya yang mulai berlebihan dan kembai melanjutkan langkah menuju dapur saat mendengar ibu dan bibinya terlibat dalam pembicaraan yang tidak penting dan Zyta tidak dapat memahaminya*.
π‘ππ‘TBCπ‘ππ‘