Gigolo Feeling

Gigolo Feeling
16 : Gigolo Feeling


__ADS_3

Happy Reading~


! : Typo typo everywhere


📋Gigolo Feeling


Adam menjatuhkan tubuhnya keatas kasur lusuh yang sudah menemaninya semenjak dia dan keluarganya memilih pindah ke kota J. Tepatnya merantau layaknya orang-orang pada umumnya yang berharap mendapatkan banyak uang dari hasil rantauan yang tak menentu akan berhasil atau gagal. Dan Adam rasa ia gagal dalam rantauannya.


Nasi sudah menjadi bubur. Ingin kembali ke kota asal dan bekerja disana juga sudah tak ada gunanya karena ia dan keluargapun sulit mendapatkan uang ditambah lagi ia masih memiliki 2 orang adik yang masih sekolah.


Tok! Tok!


"Kak, masuk ya," Adam berdehem pelan lalu bangun dari tidurnya.


"Ada apa?" tanya Adam kepada adik laki-lakinya dan mengelus kepalanya sayang.


"Kok pulang malam banget?" Adam tersenyum mendengarnya.


"Hmm.. hari ini kakak sibuk banget mangkanya pulang malam,"


"Fan, udah malem. Ayo tidur sama ibu. Jangan ganggu kakakmu," Adam menoleh kearah pintu dan mendapati sang ibu disana.


"Gak apa-apa, bu. Biar malam ini Refan tidur sama aku aja,"


"Kamu yakin? Kamukan baru pulang kerja," Adam mengangguk.


"Ibu tidur aja,"


"Ya udah kalau gitu. Ibu tidur dulu,"


"Udah malem. Yuk tidur," ujar Adam merebahkan tubuh Refan lalu diikuti dirinya.


Adam mengelus kepala Refan seperti biasa sampai adiknya tertidur. Entah mengapa rasanya Adam sangat lelah padahal tubuhnya tak merasa pegal sama sekali malah terasa baik-baik saja.


Ia menghembuskan napasnya panjang. Akhir-akhir ini ia kepikiran dengan perkataannya kakaknya. Dan akhir-akhir ini ia berpikir apakah yang dilakukannya ini tak akan membawa masalah untuknya dan keluarganya nanti.


Walau tetap terpikirkan olehnya tapi ini jalan satu-satunya dan tercepat untuk mendapatkan uang. Kedua adiknya masih membutuhkan sekolah.


'Semua biaya hidupmu, aku yang menanggungnya termasuk biaya sekolah adikmu. Juga aku ingin kau bekerja di cafe milikku,'


'Aku bisa membiayai semua kebutuhanmu. Menfasilitasimu dan adikmu. Dan memberikan apapun yang kau inginkan. Tapi, sebagai gantinyanya kau harus menjadi kekasihku seperti yang tertera didalam kertas. Bukankah kau juga membutuhkan banyak uang untuk sekolah adikmu?'


Tanpa sadar percakapan Zyta terlintas dikepalanya. Walaupun Zyta sudah menepati janjinya untuk membiayai sekolah adiknya tetap saja ini terlalu berlebihan untuknya.


"Mefasilitasiku? Yang benar saja," dengus Eldan tak percaya.


Memangnya seberapa banyak uang yang Zyta miliki sampai-sampai wanita itu dengan percaya dirinya mengajukan diri ingin memfasilitasinya.


'Kau lupa kalau aku yang akan membiayai semuanya? Semua kebutuhanmu?'


'Apa lagi yang kau pikirkan? Bukankah ini kesempatan bagus,'


'Dari yang kudengar kau tidak lanjut kuliah? Jadi, aku berencana ingin membiayainya,'


Eldan menggelangkan kepalanya saat perkataan Zyta saat di dapur juga terlintas dikepalanya.


"Kuliah? Aku juga ingin,"


Eldan tersadar dan Eldan kembali menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh egois. Pendidikan kedua adiknya lebih penting ketimbang dirinya.

__ADS_1


📋📋📋📋📋


Tok! Tok!


"Kak.. Kak Adam udah siang. Kakak nggak kerja?"


Adam yang masih bergelung diselimutnya mengeliat pelan dan membuka matanya perlahan.


"Kak? Udah siang nih. Nanti dimarahi sama atasan kakak gimana?"


"Hmmm... iya...," jawab Adam bangun dari tidurnya dan duduk diatas kasur dengan mata yang masih setengah terpejam.


"Kak.. Berangkat duluan. Sarapannya ada diatas meja,"


"Hmmm...,' jawab Adam berdeham tanpa turun dari kasur atau membuka matanya hingga suara pintu tertutup tetapi Adam masih saja memejamkan matanya.


Adam tersentak bangun dan menolehkan kepalanya ke kanan-kiri lalu kembali merebahkan tubuhnya.


"Atasan apaan. Orang aku gak punya kerjaan tetap," guman Adam kembali memakai selimut dan memeluk gulingnya untuk melanjutkan tidurnya.


Baru beberapa menit Adam memasuki alam mimpi ponselnya berdering nyaring dibawah bantalnya. Adam menernyitkan dahinya kesal dan merogoh bawah bantalnya untuk mengambil ponselnya. Tanpa melihat siapa yang meneleponya Adam mengangkat panggilan itu.


"Halo?" ucap Adam dengan suara serak karena belum sepenuhnya bangun dari tidurnya.


'Halo? Eldan? Baru bangun tidur?'


Adam menjauhkan ponselnya dan dengan sebelah matanya ia melihat siapa yang menelponnya.


"Mbak Zyta?"


Diseberang sana Zyta tertawa pelan, 'Iya, ini aku,'


"Ada apa, mbak?"


Adam tersentak bangun dari tidurnya dan sepenuhnya terbangun kali ini bahkan rasa kantuknya pergi entah kemana.


"Kerja di cafe mbak?"


'Iya. Tapi... hehehe... aku nggak tau dimana rumahmu,'


"Kalau gitu mbak kirim aja alamatnya nanti aku kesana,"


'Oke. Oke. Ke cafe dimana kita pertama kali bertemu. Kutunggu jadi cepatlah. Byeee,'


Setelahnya Zyta sudah memutuskan panggil sebelum Adam menjawabnya.


Adam segera beranjak dari kasurnya dan menyambar handuk lalu setengah berlari menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri atau mungkin hanya sekedar mencuci muka karena terlalu memakan waktu jika digunakan untuk mandi.


Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, Adam segera mendatangi cafe yang Zyta maksud.


📋📋📋📋📋


Tak membutuhkan waktu lama Eldan sudah sampai di cafe yang Zyta maksud. Eldan memasuki cafe dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Zyta.


"Mas Eldan, ya?"


Eldan menganggukkan kepalanya saat seorang pelayan cafe menghampirinya.


"Mari ikut saya,"

__ADS_1


Eldan mengangguk dan mengikuti pelayan tersebut menuju ruangan yang ternyata disana terdapat Zyta didalamnya.


"Bu, orangnya sudah datang,"


"Oh iya. Makasih ya, Sinta, sama suruh Bagas buatkan minum buat tamu,"


Zyta meletakkan map berisi laporan penjualan bulan ini dimeja.


"Iya, bu. Saya permisi dulu kalau begitu," pamit Sinta diangguki oleh Zyta.


"Ayo duduk dulu, Dan,"


Eldan mengangguk dan duduk di sofa yang tak jauh dari meja kerja Zyta.


"Ku kira kamu lupa sama cafe ini," ucap Zyta duduk diseberang Eldan.


Eldan terkekeh, "Nggaklah. Gini-gini ingatanku itu kuat loh, mbak,"


Zyta tertawa mendengarnya.


"Oh ya, soal pekerjaan di cafe. Niatku ingin menjadikanmu manajer disini,"


Eldan membulatkan matanya.


"Eh?! Jangan deh mbak. Aku nggak punya pengalaman apapun buat jadi manajer. Kasih pekerjaan yang biasa-biasa aja. Seperti pelayan misalnya,"


Zyta meletakkan jari telujuknya didagu berpikir.


"Kau yakin? Gaji seorang pelayan tidak sebanyak menjadi manajer," ujar Zyta ragu dan Eldan mengangguk.


"Bukankah aku sudah mendapatkan banyak uang dari mbak sendiri?" canda Eldan dan Zyta tertawa mendengarnya, tak mengelak karena memang itulah kenyataannya.


Zyta berdiri dari duduknya dan sedikit merenggangkan tubuhnya.


"Baiklah. Ikut aku. Aku ada satu bagian kosong untukmu," Eldan berdiri dari duduknya.


"Loh? Mulai hari ini, mbak?"


Zyta mengangguk dan membuka pintu lalu berjalan keluar diikuti Eldan.


"Iyalah. Nah, kenalkan dia Edo, barista di cafeku dan Edo, dia Eldan," ujar Zyta saat mereka sampai didepan seorang yang tengah meracik kopi.


Zyta duduk dikursi tinggi didepan Edo saat Edo meletakkan dua cangkir kopi diatas meja.


"Edo," ujar Edo mengulurkan tangannya.


"Eldan," jawab Eldan tersenyum membalas uluran tangan Edo.


Zyta meletakkan cangkir vanilla latte setelah meminumnya, "Oh ya Do. Eldan ini belum ada pengalaman apapun dan bisakan kamu mengajarinya? Dia mulai kerja hari ini," Edo menganggukkan kepalanya.


"Sana," ujar Zyta mendorong tubuh Eldan untuk berpindah disebelah Edo.


Eldan memandang Zyta ragu, "Udah sana," ujar Zyta kembali mendorong tubuh Eldan dan menganggukkan kepalanya.


"Belum pernah nyoba buat kopi?" tanya Edo setelah Eldan berdiri disebelahnya.


"Pernah. Kopi sachet," Edo tertawa kecil mendengarnya.


"Kuajari dari awal kalau begitu. Tapi sebelum itu pakai ini," ujar Edo menyerahkan celemek coklat berbordir nama cafe Zyta.

__ADS_1


Eldan mengambil celemek tersebut dan memakainya dan Edo mulai mengajari Eldan mulai dari menjelaskan semua alat yang digunakan membuat kopi sampai cara membuat kopi. Zyta tersenyum kecil sembari sesekali menyeruput lattenya melihat keantusiasan Eldan untuk pengalaman barunya.


🎡📋🎡TBC🎡📋🎡


__ADS_2