
Happieu~ Readingeu~.
! : Typo ne ngati-ati
πBirthday's Party
Tak terasa malam sudah datang dan acara ulang tahun nenek akan dimulai setengah jam lagi. Eldan sudah siap dengan tuxedo yang dikirimkan temannya beberapa jam yang lalu. Eldan melihat penampilannya yang dibalut dengan tuxedo hitam. Terlihat berbeda dengannya dibalutan baju biasa. Rambutnyapun sudah ditata dengan rapi dan memperlihatkan wajah freshnya.
"Kau terlihat tampan, nak,"
Eldan menolehkan kepalanya dan mendapati nenek disana. Eldan tersenyum pada nenek dan mengucapkan terima kasih.
"Pantas saja, Zyta, cucuku, menyukaimu," ujar nenek berjalan mendekati Eldan yang tersipu.
Eldan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Kemarilah," ujar nenek dan Eldan sedikit mendekat pada nenek.
Nenek memasangkan pin membentuk burung pheonix pada tuxedo Eldan.
"Apa ini, nek?" tanya Eldan menyentuh pin yang baru saja dipasangkan nenek.
"Itu adalah lambang keluarga nenek di Jepang sana. Lihatlah. Kau semakin terlihat tampan," ujar nenek juga melihat pantulan diri Eldan dicermin.
"Lambang keluarga? Nenek aku tidak bisa menerimanya. Ini terlalu berlebihan," ujar Eldan baru saja akan melepaskan pin tersebut tapi dicegah oleh nenek.
"Aku tidak akan memaafkanmu jika kau melepaskannya," ujar nenek tak ingin dibantah.
"Baiklah kalau begitu," ujar Eldan membuat nenek tersenyum senang.
"Ayo, keluar. Aku yakin Zyta juga sudah selesai," ujar nenek menggandeng lengan Eldan keluar kamarnya dan berjalan ke depan kamar Zyta.
"Ohh ternyata belum selesai. Kau tunggulah disini. Aku harus pergi," ujar nenek berjalan menjauh dengan senyum jahil dibibirnya.
Eldan menggelengkan kepalanya dan terkekeh geli melihat nenek Zyta. Ia menyandarkan dirinya pada tiang didepan kamar Zyta. Tak berapa lama Eldan mendengar suara orang bercakap-cakap mendekati pintu.
"Apa ada lagi, nona?"
"Tidak. Terima kasih,"
Setelah itu, pintu kamar Zyta terbuka menampakkan diri Zyta dibalutan long dress lace berwarna hitam belahan samping hingga pahanya dengan rambut yang sudah ditata sedemikian rupa.
Eldan terpaku ditempatnya melihat Zyta. Terlihat mempesona dimatanya. Kedua pelayan yang membantu Zyta terdiam dan menundukkan kepalanya saat melihat Eldan.
Zyta mengerutkan dahinya melihat dua orang dikanan kirinya terdiam. Ia mendongak dan tersentak kaget.
"Ya Tuhan! Eldan! Kau mengejutkanku," ujar Zyta berjalan keluar kamarnya dan mendekati Eldan.
Zyta tersenyum, "Bagaimana? Apa aku terlihat bagus dengan gaun ini?"
__ADS_1
Eldan menatap Zyta dalam diam. Masih terpesona. Zyta mengerutkan dahinya saat Eldan hanya menatapnya tanpa mengucapkan apapun.
"Eldan?" panggil Zyta tapi Eldan masih saja terdiam.
Kedua pelayan yang membatu Zyta saling memandang dan terkikik geli membuat Eldan tersadar.
"Hmm.. hmm.." jawab Eldan kikuk.
Kedua pelayan Zyta kembali terkikik. Zyta menolehkan kepalanya membuat kedua pelayan tersebut segera terdiam. Zyta berbalik dan berkecak pinggang.
"Sana kembali ke tempat kalian," usir Zyta dan kedua pelayan tersebut segera pergi tetap dengan kekehan di bibir mereka.
Zyta menggelengkan kepalanya dan kembali menghadap Eldan.
"Jadi?" Eldan menaikkan alisnya bingung dan Zyta menunjuk gaunnya.
"Cocok nggak?"
Eldan mengangguk dan tersenyum, "Cocok banget sama, mbak,"
"Syukurlah. Sayang kalau gaun yang nenek pesan tidak cocok denganku,"
Eldan hanya tersenyum menanggapinya dan memilih memandangi Zyta yang terlihat bersinar dimatanya.
"Kau juga terlihat tampan,"
Eldan tersadar, "Hah?"
Zyta merasa bersalah pada sang nenek karena sampai sejauh ini. Bahkan memberikam pin tersebut yang artinya Eldan diterima sebagai anggota keluarga secara tak resmi.
Zyta memegang pin tersebut, "Apa nenek yang memberikannya?" tanya Zyta fokus pada pin dan Eldan menganggukkan kepalanya.
Akan sangat berbahaya jika kakek sampai melihatnya tapi mau bagaimanapun juga tetap saja nenek yang memberikannya jadi kemungkinan kakek tidak akan berani aneh-aneh.
"Memangnya kenapa, mbak?"
Zyta tersenyum dan menggeleng. Ia semakin mendekatkan tubuhnya dan mengalungkan kedua tangannya dibahu Eldan. Tubuh Eldanpun menegang dan tak dapat pergi kemanapun karena tubuhnya menabrak tiang dibelakangnya.
Zyta tersenyum dan semakin mendekatkan tubuhnya, "Kau akan tau suatu saat nanti," bisik Zyta tepat ditelinga Eldan lalu menjauh dari Eldan.
"Jadi simpan baik-baik pin ini atau nenek akan marah besar," lanjut Zyta tersenyum lebar.
"Ayo, acaranya kurasa sudah dimulai," ujar Zyta menggandengan tangan Eldan menuju tempat acara dilangsungkan.
Eldan hanya diam dan mengikuti Zyta. Ia tak bisa berkata apapun dan sibuk menormalkan debaran jantungnya. Eldan sering memeluk atau dipeluk oleh wanita tapi entah mengapa berbeda dengan Zyta.
Ia merasa jantungnya berdebar dengan kencang dan pipinya sering tersipu jika berduaan dengan Zyta. Eldan sendiri tak tau apa yang tengah terjadi pada dirinya.
πππππ
Area taman depan rumah telah dipenuhi para tamu undangan dan puncak akan diadakan tepat jam setengah delapan sedangkan sekarang masih jam 19.54 tetapi taman sudah penuh mungkin sudah ada ΒΎ tamu undangan yang datang.
"Sangat ramai," bisik Eldan. Zyta mengangguk mengiakan.
__ADS_1
"Karena ini ulang tahun nenek tepat yang ke-60 tahun," Eldan menganggukkan kepalanya.
"Ayo, pergi ucapkan ke nenek. Sejak tadi ia melihat kearah kita," ujar Zyta mengapit lengan Eldan dan berjalan bersama menuju nenek yang tengah berbincang dengan salah seorang yang Zyta ingat teman nenek.
"Nenek, selamat ulang tahun. Semoga tuhan selalu memberkatimu, nek," ujar Zyta menghampiri neneknya lalu meraih tangan nenek.
Nenek tersenyum lebar, "Terima kasih. Semoga tuhan juga memberkatimu cucuku sayang," kekeh nenek mencubit gemas pipi Zyta.
"Selamat ulang tahun nenek. Semoga kau sehat selalu, nek," ujar Eldan memeluk nenek.
"Terima kasih dan tentu saja," ujar nenek.
"Oh ya! Kenalkan mereka adalah cucuku dan kekasihnya. Zyta dan Eldan," ujar nenek memperkenalkan Zyta dan Eldan kepada dua temannya.
Salah satu diantara mereka mendekat dan meraih tangan Zyta, "Jadi, ini ya yang namanya Zyta. sungguh duplikat Mikhail versi perempuan. Sangat cantik," Zyta tersenyum dan berterima kasih.
"Nak, kau sungguh beruntung mendapatkan gadis secantik ini," ujar teman nenek yang lain menepuk pelan bahu Eldan sedangkan Eldan hanya terkekeh dan berterima kasih.
"Sayang sekali, Zyta sudah menjadi Eldan. Jika saja belum mungkin aku akan menikahkan Zyta dengan salah satu cucu kalian," ujar nenek mengedipkan matanya pada Eldan dan Zyta membulatkan matanya juga menggelengkan kepalanya menolak tetapi 3 orang wanita paruh baya ini hanya tertawa.
Merasa senang berhasil menggoda Zyta. Eldan mengerutkan dahinya. Menikahkah? Seserius itu? Batin Eldan merasa tidak nyaman saat nenek bilang akan menikahkan Zyta dengan cucu teman-temannya. Eldan tak suka ide itu.
"Benar. Sayang sekali. Tapi, tidak apa-apa. Malah akan sangat disayangkan kalau mereka yang tidak bersatu. Yang satu cantik dan yang satunya tampan. Sungguh pasangan yang sempurna," ujar teman nenek yang sejak tadi memegang tangan Zyta.
Nenek tertawa, "Benar. Dan kalian tau. Aku berencana akan menikahkan mereka," ujar nenek membuat Zyta dan Eldan tersentak kaget dan membulatkan matanya.
"Hah?!! Benarkah?" ujar kedua teman nenek dan nenek menganggukkan kepalanya.
"Nenek!!!" pekik Zyta merasa pipinya memanas malu.
"Kenapa selalu kau yang selalu mendahului kami?" ujar salah satunya melihat kedua tangannya didada.
"Eiyy.. walaupun seperti itu. Tenang saja, aku akan mengundang kalian," ujar nenek menggandeng lengan kedua temannya dan tertawa bersama.
Zyta menggelengkan kepalanya tak percaya dengan ucapan nenek kepada dua temannya. Nenek ini memang suka sekali membuat masalah dengannya. Zyta menolehkan kepada Eldan berniat mengajak pria itu pergi meninggalkan ketiga wanita berbahaya.
Tetapi Zyta kembali membulatkan matanya saat ia melihat Eldan yang menatapnya dengan pipi yang memerah hingga mencapai telinganya. Sontak pipi Zyta kembali memerah dan ia segera mengalihkan pandangannya kearah lain.
'Sial!' batin Zyta.
"Lihatlah cucu dan kekasihnya. Baru saja digoda seperti itu, pipi mereka sudah seperti tomat matang," goda teman nenek dan semakin membuat pipi Eldan maupun Zyta menunduk.
Eldan menundukkan kepalanya malu sedangkan Zyta terus mengalihkan pandangannya.
Nenek kembali tertawa, "Bukankah sungguh manis?" tanya nenek dan kedua teman nenek menganggukkan kepala setuju.
Zyta berdeham, "Nenek, kurasa kami harus pergi. Bukankah nenek harus menyapa yang lainnya? Jadi, kami pergi dulu," ujar Zyta sudah mengapit lengan Eldan dan membawa pria itu pergi.
"Eh?! Tunggu! Zyta! Eldan!" panggil nenek tapi Zyta tak mengacuhkannya dan tetap membawa Eldan pergi.
'Dasar anak itu,' batin nenek terus memperhatikan Zyta dan Eldan yang mulai menjauh.
π‘ππ‘TBCπ‘ππ‘
__ADS_1