Gigolo Feeling

Gigolo Feeling
50 : Wedding Day


__ADS_3

Happy Reading


!:typoeverywhere


ps:kurangdikitending


đź“‹Wedding Day


Tak terasa hari sudah malam dan besok adalah hari paling membahagiakan juga menegangkan bagi Zyta. Ia akan menjadi milik orang lain, bukan orang tuanya lagi.


Malam ini, Zyta merasa sangat gugup dan tidak sabar, hingga rasanya ia tidak bisa tidur atau mengistirahatkan badannya barang sejenak saja.


Sreekkk~


Zyta membalikkan badannya dan melihat ibunya masuk dengan nampan ditangannya. Zyta segera menghampiri ibunya dan mengambil alih nampan tersebut.


“Kenapa ibu membawanya sendiri? Dimana pelayan yang lain?”


Nirmala hanya tersenyum, “Ibu hanya ingin membawakanmu camilan untuk terakhir kalinya,” ujar Nirmala berjalan menuju teras dan duduk disana, Zyta mengikutinya dari belakang.


“Apa maksud ibu? Tidak ada terakhir kalinya. Ibu bisa melakukan ini kapan saja,” ujar Zyta menuangkan teh untuk ibunya dan dirinya sendiri.


Nirmala kembali tersenyum, “Ibu ingin melakukannya dengan kamu sebagai anak ibu. Jika dilain waktu ibu memang bisa melakukannya tapi status yang kamu bawa sudah bukan anak ibu lagi,”


“Ibu~” ujar Zyta menatap ibunya tak senang.


Nirmala terkekeh, “Hei, hei, apa ini? Sudah mau menjadi seorang istri masih bertingkah kekanakan,” Zyta hanya memberenggut.


Nirmala tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi putri semata wayangnya. Mengelus pipi Zyta seperti ini adalah hal yang paling Nirmala sukai sejak Zyta lahir kedunia ini dan besok ia tidak tau kapan ia bisa melakukannya lagi.


“Ibu? Jangan menangis,” ujar Zyta menyeka airmata Nirmala.


Nirmala tersentak kaget dan segera menghapus airmatanya yang keluar tanpa ia sadari.


“Ibu, jangan seperti ini. Ibu membuat Zyta juga ingin menangis saja,”


Nirmala hanya tersenyum kecil menanggapinya.


“Ibu, sampai kapanpun, Zyta masih anak ibu. Putri kecil ibu yang selalu menganggu ibu disetiap kesempatan,” ujar Zyta memeluk Nirmala erat dan bertingkah manja membuat Nirmala tak kuasa menahan tawanya.


“Iya. Iya. Zyta memang putri kecil ibu yang nakal,” ujar Nirmala mencubit gemas hidung Zyta dan membuat keduanya sama-sama tertawa.


Zyta dan ibunya sama-sama diam dan saling memeluk, seolah menikmati waktu berdua mereka kali ini.


“Emmm, ibu,” Nirmala berdeham menjawabnya.

__ADS_1


“Adam... apa benar ada dikamar lain?” tanya Zyta hati-hati.


“Hmm. Tentu saja. Jika ia berada tepat disebelah kamarmu. Kecil kemungkinan kamu bakal lompat lewat pagar untuk kekamarnya,”


Zyta terkekeh mendengarnya. Memang benar, jika saja Adam masih berada dikamar sebelahnya. Mungkin, Zyta sudah melompati pagar pemisah antara kamarnya dan Adam hanya untuk berdekatan dengan pria itu.


“Ibu tau saja,”


“Tentu saja. Bagaimana mungkin ibu tidak paham dengan tingkah anak ibu satu-satunya ini,” ujar Nirmala mencubit gemas hidung Zyta.


“Iya. Iya. Ibu yang paling tau,”


Dan lagi, mereka sama-sama terdiam, menikmati waktu berdua hingga malam semakin larut.


đź“‹đź“‹đź“‹đź“‹đź“‹


Pagi-pagi buta Zyta sudah dibangunkan secara paksa untuk mempersiapkan diri. Dengan mata yang masih setengah mengantuk membuat Zyta tanpa sadari ketiduran disela-sela ia berias.


“Akh!!” pekik Zyta saat ia merasakan ada yang menyentil dahinya.


“Jangan tidur!”


Itu neneknya.


“Mbak cantik banget. Saya sampai kagum melihat wajah mbak,”


Zyta hanya tersenyum dan berterima kasih mendengar pujian yang dilayangkan kepalanya. Memang dirinya terlihat berbeda hari ini. Dirinya yang sehari-hari berdandan ala kadarnya tiba-tiba saja sudah berubah dari itik buruk rupa menjadi angsa yang anggun dan menawan. Sungguh berbeda dengan dirinya sendiri.


Walau ia merasa sedikit tidak nyaman dengan riasan yang terlalu tebal diwajahnya ini karena ia tidak terbiasa memakai riasan tebal tapi untuk hari ini Zyta tidak kuasa menahan dirinya untuk dirias sedemikian rupa. Kebaya putih yang membalut tubuhnya rampingnya semakin memperlihatkan betapa cantiknya Zyta saat ini.



“Sebentar lagi calon suami mbak mau ngucapin ijab kabul. Dari sini kedengerankan?”


Zyta menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Sungguh moment yang mendebarkan untuknya dan tentu saja lebih mendebarkan lagi jika berada diposisi Adam sekarang.


“Oh! Oh! Udah mulai,”


Dari tempatnya merias diri, terdengar suara Adam yang tengah mengucapkan ijab. Suara Adam yang berat membuat jantung Zyta berdebar. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Adam bagaikan alunan arus air yang menderu. Lancar tanpa sedikitpun kesalahan.


“Walau sudah sering mendengar calon suami mengucapkan ijab kabul dengan lancar tapi hari ini sungguh berbeda dengan yang lainnya hingga saya bingung harus mengucapkan apa,” ujar wanita paru baya yang membantunya berhias tadi dan Zyta hanya tersenyum mengiakan.


“Zyta,” panggil Nirmala tersenyum simpul.


Zyta balas tersenyum. Zyta berdiri dari duduknya dibantu dua orang perias untuk berjalan menuju ibu dan bibinya.

__ADS_1


“Hari ini Zyta cantik banget,” puji bibi Zyta meraih tangan kiri Zyta dan Nirmala tangan kanan Zyta.


“Terima kasih, bibi. Bibi juga cantik,”


“Tentu saja, karena hari ini pernikahannya Zyta tentu saja bibi harus dandan secantik mungkin,”


“Ibu juga cantik,” ujar Zyta pada ibunya yang sejak tadi hanya diam dan menyimak pembicaraannya dengan bibinya.



“Ibu masih kalah cantik denganmu, sayang,”


Dan disinilah Zyta sekarang didapan penghulu dan disamping pria yang sudah sah menjadi suaminya. Prosesi pada pagi hari ini sudah usai. Semua sudah terselesaikan tinggal menunggu acara resepsi nanti malam.


Sialnya, Zyta dan Adam harus menunggu hingga acara nanti malam selesai dan barulah mereka bisa bersama. Bahkan sekarang mereka berada ditempat berbeda dan Zyta rasa, para wanita berkumpul dengan wanita dan para pria berkumpul dengan pria lainnya.


Tapi mau bagaimana lagi, jika neneknya sudah berkata A maka harus A dan B harus B. Zyta hanya bisa menghela napasnya pasrah saat diberitahu jika ini perintah dari neneknya.


Zyta duduk didepan meja rias dan memandang wajahnya yang masih penuh dengan riasan bahkan Zyta belum mengganti baju dengan yang lebih santai.


Dirinya sekarang sudah tidak sendiri lagi, sudah menjadi istri orang. Milik Adam dan pria itu juga menjadi miliknya. Sekarang Zyta sudah merasa lebih tenang dan tidak kuatir seperti dahulu. Perasaan terbebani jika ia tidak dapat bersama dengan pria yang telah disukainya sejak ia SMP dulu.


Tuk! Tuk! Tuk!


Zyta mengerutkan dahinya. Seperti ada yang melempari pintu taman dengan batu. Zyta berjalan menuju pintu dan mendorongnya menyamping. Zyta menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri tapi tidak ada siapapun. Lalu suara darimana itu?


“Akh?!!” pekik Zyta pelan saat ada sebuah batu kerikil mengenai dahinya.


Zyta mengelus dahinya dengan kesal, walau hanya batu kerikil tapi sampai terasa sakit mengenai dahinya tentu saja yang melempar menggunakan kekuatan penuh. Zyta mengedarkan pandangannya dan tepat lurus didepannya muncul kepala Kane dari balik pembatas antar ruangan.


Kane memamerkan kekehannya membuat Zyta menyumpahinya dalam hati. Pasti Kane yang melempar batu hingga mengenainya. Baru saja Zyta akan membuka mulutnya, Kane menghilang dari tempatnya dan terdengar suara ribut dari balik pembatas itu hingga berganti dengan wajah Adam yang terlihat disusul dengan tubuhnya. Adam dengan wajah kesalnya, bersusah payah melewati pagar pembatas.


“Hat...,” ujar Zyta terpotong.


Bruk!


Zyta ikut meringis saat melihat Adam yang juga meringis baru saja jatuh setelah melewati pagar pembatas. Adam mengguman menyumpahi dua pria yang baru saja memaksanya melompati pagar pembatas.


“Baik-baik disana. Mumpung yang lain masih pada sibuk. Nikmati waktumu,” ujar Kane memunculkan kepalanya dan memberikan wink-nya pada Adam dan Zyta membuat keduanya bergidik geli.


Zyta menggelengkan kepalanya, “Jadi...?” tanya Zyta pada Adam yang sudah menatapnya.


Adam menghembuskan napasnya panjang.


🎡📋🎡TBC🎡📋🎡

__ADS_1


__ADS_2