Gigolo Feeling

Gigolo Feeling
25 : Learning House


__ADS_3

Happieu~ Readingeu~.


! : Typo ne ngati-ati


📋 Learning House


Zyta membuka matanya perlahan saat ia mulai merasa gerah dan tubuhnya tak dapat digerakkan. Zyta membulatkan matanya ketika sebuah lengan memeluknya dari belakang. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati Eldan dibelakangnya.


Zyta meringis saat ia mengingat kejadian tadi malam ketika ia meminta untuk tidur dikamar Eldan. Entah apa yang ada dipikiran saat itu tapi tiba-tiba saja ia dengan beraninya meminta tidur dikamar Eldan.


Ia menyingkirkan tangan Eldan dan ketika berasil Zyta segera bangun dari tidurnya dan berjalan menuju luar kamar Eldan dimana ia semalam memanjat untuk kabur dari kamarnya yang dijaga oleh dua pelayan yang diperintahkan kakeknya dan sekarang ia harus segera berada dikamarnya kembali.


Matahari mulai naik dan Zyta segera memanjat kembali pagar pemisah antar ruangan dirumah nenek. Dari atas pagar Zyta bisa melihat siluet tubuh dua pelayan yang diminta kakeknya menjaga dari luar.


Zyta tersenyum sinis, "Dasar bodoh," guman Zyta lalu turun dari pagar dan segera berjalan menuju kamarnya lalu merebahkan tubuhnya diatas kasurnya yang terasa dingin karena semalaman tak dipakainya.


"Akhh!! Dasar bodoh!!" pekik Zyta tertahan saat ia masih merasakan rasa hangat Eldan yang tertinggal ketika memeluknya.


Tak urung ia tetap tersenyum senang. Zyta memegang pipinya ketika ia merasa rasa panas mulai menjalari pipinya. Zyta kembali terpekik pelan dan menarik selimutnya hingga menutup seluruh badannya.


📋📋📋📋📋


Eldan mengerjapkan matanya saat salah seorang pelayan membuka pintu dan membiarkan cahaya matahari memasuki kamarnya. Eldan bangun dari tidurnya dan mengucek pelan matanya.


"Pagi, tuan,"


Eldan tersenyum dan balas menyapa pelayan tersebut. Setelahnya pelayan tersebut pamit undur diri setelah ia mengatakan jika ia sudah menyiapkan air untuk Eldan mandi dan Eldan kembali berterima kasih.


Eldan berdiri lalu berjalan menuju taman. Ia merenggangkan sedikit badannya lalu kembali masuk. Saat melewati kasur tak sengaja Eldan melihat aksesoris bunga berada dibawah selimutnya. Eldan mengerutkan dahinya bingung.


Sejak kapan ada benda itu? Batinnya.


Eldan mengambil aksesoris jepit berbentuk bunga itu dan memperhatikannya dengan seksama hingga Eldan merasa pipinya memanas saat ia mengingat kejadian semalam ketika ia tidur sembari memeluk Zyta.


Eldan menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dilakukannya. Tapi, tubuh kecil Zyta terasa pas dan nyaman saat ia peluk membuatnya ingin memeluk wanita itu lagi. Eldan menggelengkan kepalanya berusaha menyingkirkan kejadian tadi malam.


"Aku pasti sudah gila," guman Eldan berjalan menuju kamar mandi.


📋📋📋📋📋


Eldan keluar dari kamarnya setelah ia selesai berbersih diri dan berganti pakaian tetapi tetap memakai pakaian Jepang yang sempat diantarkan oleh pelayan yang menyiapkannya air untuk mandi dan kata pelayan karena Tuan Besar yang artinya kakek Zyta sudah berada dirumah sehingga wajib bagi setiap orang dirumah memakai pakaian Jepang.


Eldan tak percaya dengan sifat kakek Zyta yang aneh. Kakeknya berasal dari Indonesia dan neneknya dari Jepang tapi kakek Zyta yang menyuruh setiap orang memakai pakaian Jepang padahal nenek Zyta tak mempermasalahkannya.


Eldan tak terlalu memperdulikannya karena saat ini yang akan dia lakukan adalah mengembalikan jepit rambut yang dibawanya kepada sang empunya.

__ADS_1


Eldan membuka pintu menuju luar dan secara tak sengaja saat ia menoleh kearah kiri ia melihat Zyta dengan balutan yukata hijaunya yang indah.



Eldan terpaku ditempatnya dan terpana melihat Zyta tetapi wanita itu belum menyadari kehadiran Eldan dan masih sibuk membenahkan pakaiannya yang dibantu 2 orang pelayan hingga selesai ia membenahkan pakaiannya ia juga menoleh.


Zyta tersenyum melihat Eldan tapi saat akan menyapanya salah seorang pelayan menyuruh Zyta untuk bergegas pergi. Zyta akhirnya hanya melambaikan tangannya dan melangkah pergi.


Eldan mendengus dan berjalan kearah berlawanan. Ia tidak tau harus melakukan apa tapi mungkin lebih baik ia berjalan-jalan mengelilingi rumah ini untuk melihat-lihat.


📋📋📋📋📋


Entah sudah berapa lama Eldan mengeliling rumah kakek dan nenek Zyta karena rumah ini benar-benar luas. Sangat luas. Mungkin seluas lapangan golf.


Oke. Itu berlebihan tapi rumah ini memang luas. Sejak tadi ia terus melewati tempat-tempat yang indah dan ditambah taman-taman hijau yang memanjakan mata.


Eldan berjalan dijalan setapak yang ditutupi rindangnya sebuah pohon. Dari kejauhan Eldan melihat rumah kecil dengan danau buatan didepannya. Disana terpadat seseorang wanita yang pakaiannya Eldan kenali.



"Zyta," guman Eldan.


Wanita itu menolehkan kepalanya tepat kearahnya lalu tersenyum dan melambai meminta Eldan mendekat. Eldan balas melambai dan mendekati rumah tersebut.


"Hai," sapa Eldan melepas sandalnya dan menaikki tangga lalu duduk disebelah Zyta.


"Tempat yang indah tapi sayang jauh dari rumah utama,"


Zyta menganggukkan kepalanya dan berdeham mengiakan.


"Sering disini?"


"Hmm.. kakek selalu menyuruhku disini untuk belajar. Dia bilang agar lebih tenang,"


Eldan menganggukkan kepalanya. Mereka terdiam menikmati angin yang berhembus pelan ditambah kicauan burung.


"Oh ya, mbak. Aku mau balikin ini," ujar Eldan mengeluarkan jepit rambut Zyta dari dalam bajunya.


"Oh! Kucari kemana-mana. Ternyata ketinggalan dikamarmu. Terima kasih," ujar Zyta tersenyum dan mengambil jepitnya lalu menyimpannya didalam baju, Eldan menganggukkan kepalanya.


"Nona, ini tehnya," Eldan tersentak kaget saat sebuah suara mengintrupsi mereka.


Zyta menoleh dan berterima kasih begitupun dengan Eldan. Ternyata pelayan yang membantu Zyta tadi, batin Eldan.


Setelah meletakkan teh, pelayan itu pamit undur diri meninggalkan rumah belajar untuk kembali ke rumah utama.

__ADS_1


"Minumlah," ujar Zyta menyerahkan segelas teh, Eldan menerima teh tersebut dan berterima kasih.


"Ini teh yang kau minum sama Evan tadi malam,"


Eldan tersentak kaget dan terbatuk, Zyta terkekeh melihat Eldan yang kaget.


"Tidak perlu kaget. Pelayan yang membantu Evan adalah orangku. Tepatnya semua pelayan yang melayani sepupuku adalah orang-orang yang kupekerjakan tapi tetap kakek dan nenek yang menggaji mereka. Jadi, apapun yang mereka sajikan pada para sepupuku mereka wajib memberitauku. Itu peraturanku," ujar Zyta meniup tehnya yang masih mengepul lalu meminumnya pelan.


"Mbak, baik sekali. Sangat perhatian sama sepupu-sepupu, mbak,"


"Sudah menjadi tanggung jawabku untuk adik-adikku. Sama sepertimu," ujar Zyta tersenyum pada Eldan.


"Hmm.. mungkin. Tapi, nggak sehebat, mbak," ujar Eldan menatap tehnya yang baru ia sadari ada daun teh didalamnya tapi tidak selembut teh pada umumnya.


Zyta tertawa, "Aku nggak sehebat itu. Jangan berlebihan. Aku hanya melaksanakan tanggung jawab yang kakek berikan padaku," ujar Zyta menunduk menatap air danau buatan dibawahnya.


"Siapa bilang berlebihan? Kenyataannya mbak mau mengemban hal seberat itu. Jika aku berada diposisi, mbak, mungkin aku sudah tidak berada disini,"


Zyta terkekeh mendengarnya membuat Eldan menatap Zyta bingung.


"Kenapa?"


Zyta menggeleng, "Memangnya berani kalau punya kakek seperti kakekku? Kakek kalau tau aku kabur pasti sudah mengerahkan seluruh orangnya untuk mencariku. Gimana dong, masih berani?" goda Zyta mengedipkan sebelah matanya.


Eldan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


"Kalau seperti itu beda ceritanya," Zyta tertawa mendengarnya.


Zyta meletakkan gelas tehnya lalu meraih wajah Eldan dan menangkupnya. Terlihat jelas diwajah Eldan jika pria itu kaget. Zyta menghela napasnya pelan.


"Seharusnya, nggak membawamu kesini. Disini nggak seperti yang kau bayangkan. Terlalu rumit untuk orang sepertimu," ujar Zyta mengelus pelan pipi Eldan yang terasa halus ditangannya.


Zyta menyesal sekarang sudah membawa Eldan kerumah nenek dan kakeknya. Jika ia tau kakeknya akan kembali malam tadi, Zyta lebih memilih membawa teman prianya yang lain daripada Eldan. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Sudah terlambat bagi Zyta.


"Nggak apa-apa, kok, mbak. Aku malah senang diajak kesini," ujar Eldan memegang Zyta dan mengelusnya perlahan.


Zyta tersenyum lega, "Syukurlah kalau beg...,"


"Zyta!!!"


Zyta menjauhkan tangannya dari wajah Eldan saat ia mendengar suara saudara ayahnya yang paling dihindarinya.


"Bibi?!!" ujar Zyta berdiri dari duduknya begitupun dengan Eldan.


"Loh! Eldan?!" Eldan membulatkan matanya melihat wanita yang berdiri tak jauh dari mereka.

__ADS_1


🎡📋🎡TBC🎡📋🎡


__ADS_2