
Happy Readingπ
! : Typo berterbangan
πShopping Time
Mobil Zyta yang dikendarai Eldan berhenti disalah satu swalayan terbesar dipusat kota. Setelah mematikan mesin mobil, Zyta segera keluar dari mobilnya dan sedikit merenggangkan tubuhnya.
Jalan dikota tengah macet, jadi membutuhkan waktu sedikit lama untuk sampai walau jarak antara apartement dan swalayan toko dekat. Mungkin hanya membutuhkan waktu 30 menit jika tak macet.
Eldan memandang Zyta bingung, "Mau ngapain disini, mbak?"
Zyta menoleh dan tersenyum lalu menutup pintu mobilnya.
"Belanja dan menemaniku makan," ujar Zyta singkat.
Eldan mengerutkan dahinya, "Belanja?"
Zyta tertawa pelan melihat kebingungan diwajah Eldan. Zyta berjalan mendekati Eldan dan merangkul lengannya.
"Kau lupa? Aku membayarmu bukan sebagai teman tidurku tapi...,"
Zyta berjinjit hingga sejajar dengan telinga Eldan, "Sebagai kekasih merangkap teman," lanjutnya menjauh dari Eldan.
Eldan melebarkan matanya, "Teman?"
Zyta tersenyum mengangguk lalu melepaskan rangkulannya.
"Yoshh!! Waktunya menguras isi dompet!!" ujar Zyta semangat berjalan mendahului Eldan.
"Teman, ya?"
Eldan tersenyum tipis dan segera menyusul Zyta yang sudah memasuki swalayan dengan troli didepannya.
"Waahhh... Adeemmm ee yoo..," ujar Zyta saat melewati etalase khusus pendingin makanan.
Eldan terkekeh gemas, "Kenapa?" tanya Zyta dan Eldan menggeleng.
"Mbak, asalnya darimana?" Zyta menoleh saat ia fokus memilih sayur.
"Aku? Kota S. Kenapa?" ujarnya memasukkan sayur yang sudah dipilihnya kedalam troli.
"Ohh!! Mangkanya kok pakai bahasa jawa. Sama, aku juga dari kota S," ujar Eldan tersenyum dan Zyta juga tersenyum.
'Aku tau, kak,' batin Zyta.
"Oh ya! Kamu suka makanan apa?" tanya Zyta saat mereka berjalan menuju area daging.
"Bukannya tadi bilang...,"
"Sttt..."
Zyta meletakkan jari terlunjuknya diatas bibirnya sendiri.
"Aku ingin kamu juga ikut makan nanti. Jadi, kamu suka makanan apa?" lanjut Zyta
__ADS_1
"Semua suka. Aku gak pilih-pilih kok, mbak,"
Zyta menhela napas lega dan mengelus dadanya, "Syukurlah. Kukira kamu nggak bisa makan apa gitu," ujarnya setelah itu memesan beberapa daging.
Eldan memandang Zyta yang saat ini tengah fokus memilih ikan. Dari pandangannya, Zyta orangnya sangat teliti dan tenang, berbeda dengannya yang terkadang masih ceroboh dan mudah sekali panik.
Dan dari cara Zyta berbicara, ada sesuatu yang menarik perhatiannya tapi ia tak tau apa itu. Juga dirinya merasa ia seperti pernah melihat wajah itu tapi ia tak yakin kapan dan dimana.
"Eldan? Eldan. Elllldaaannn..,"
Eldan tersadar dari lamunannya. Zyta menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kamu lamunkan? Dipanggil-panggil kok diam aja. Yuk, jalan lagi," ujar Zyta mendorong trolinya mendahului Zyta, Eldan mengangguk dan menyusul Zyta.
Tak terasa troli yang Zyta bawa sudah penuh dengan bahan makanan juga kebutuhan sehari-harinya yang mulai habis bahkan beberapa ada yang sudah ludes tak tersisa.
"Semuanya sudah. Waktunya membayar!!" seru Zyta mendorong trolinya menuju kasir.
"Eldan, yakin tidak ada yang kamu inginkan atau mau kamu beli?" tanya Zyta memandang Eldan tak yakin karena sejak tadi Eldan tak mengambil apapun sehingga membuatnya tak enak hati.
Dan jika ditanya, Eldan selalu menjawab tidak ada. Eldan menggelengkan kepalanya.
"Nggak ada, mbak. Semuanya sudah dibeli sama kakak," Zyta membulatkan matanya.
"Kakak? Kamu punya kakak?" Eldan mengangguk.
"Laki-laki. 3 Tahun lebih tua,"
Zyta baru tau jika sebenarnya Eldan memiliki seorang kakak. Karena setaunya Eldan adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Itu artinya Eldan anak kedua. Tidak. Tidak. Bisa jadi Eldan adalah anak ketiga. Atau bahkan keempat. Kelima. Keenam.
"Kedua dari 4 bersaudara,"
Zyta menumpukkan tangannya dipegangan troli dan menggunakan tangannya sebagai sangga kepalanya.
"Hmm.. Enak ya bisa punya saudara. Iri rasanya. Aku anak tunggal dan juga gak terlalu dekat sama banyak sepupu. Dekat sih. Tapi, itu dulu. Sekarang rasanya seperti punya dunia masing-masing. Dan cuman dua orang aja yang masih dekat sampai sekarang," ujarnya mendorong troli sedikit maju dengan malas.
Eldan memandang Zyta bingung, "Bukannya malah enak ya kalau jadi anak tunggal. Nggak ada banyak tanggungan,"
Zyta mengangguk, "Enak sih enak. Hanya saja, rasanya gak ada yang bisa diajak main," ujarnya memindahkan barang-barang ditroli kemeja kasir dibantu Eldan.
"Emangnya gak ada teman?"
Zyta memindahkan troli kedepannya "Ada. Tapikan, gak harus setiap saat kalau mau keluar ajak mereka. Mereka pasti punya kehidupan sendiri. Tapi, sekarang tidak lagi. Kan ada kamu," ujar Zyta tersenyum lebar. Eldan terdiam sesaat.
Zyta segera membayar belanjaannya setelah selesai dihitung, "Terima kasih," Zyta mengangguk.
"Yuk, pulang! Gak sabarnya mau masak. Aduh, duh, hanya saja rasanya membayangkan sudah seru," ujar Zyta mendorong trolinya menuju parkiran tempat mobilnya berada.
"Mbak, suka masak?"
Zyta menoleh kearah Eldan yang berjalan dibelakangnya lalu mengangguk.
"Suka. Suka benget malah,"
Zyta tersenyum lebar dan lagi-lagi Eldan terdiam melihat senyum Zyta. Ia pernah melihatnya. Benar, ia yakin itu tapi dimana dan kapan juga dengan siapa?
__ADS_1
"Eldan, melamun lagi,"
Eldan tersadar dari lamunannya saat ia merasakan senggolan dilengannya.
Eldan menunduk dan berguman maaf. Ini pertama kalinya Eldan tidak fokus dalam suatu hal. Ia merasa tidak enak karena terus tertangkap basah tengah melamun.
"Tidak apa-apa,"
Eldan mengangkat kepalanya saat Zyta mengelus rambutnya. Terasa nyaman dan hangat. Zyta tersenyum dan menjauhkan tangannya membuat Eldan merasa kehilangan.
"Yosh!! Waktunya pulang," ujar Zyta mendorong trolinya menuju belakang mobil lalu membuka pintunya, dengan cepat Zyta segera memindahkan barang-barangnya.
"Ayo pulang, Eldan," ujar Zyta kembali tersenyum dan untuk kesekian kalinya Eldan kembali terdiam.
Suara lembut Zyta menenangkan hatinya, seolah-olah inilah yang Eldan tunggu selama ini. Suara lembut yang menyuruhnya untuk pulang.
πππππ
Sesampainya diapartement Zyta segera mengeluarkan kebutuhannya dibantu dengan Eldan dibelakangnya. Zyta meletakkan bahan sayuran diatas pantry sedangkan Eldan kebingungan akan meletakkan dimana kebutuhan Zyta yang lain.
Zyta yang melihatnya terkekeh dan menghampiri Eldan lalu meraih kantong belanjaan tersebut.
"Biar aku saja dan bantu aku mengeluarkan bahan disana," ujar Zyta menunjuk kantong belanjaan sayuran, Eldan mengangguk dan mengerjakan perintah Zyta.
Zyta tersenyum kecil, ia melangkah menuju kamarnya dan dengan sembarangan meletakkan belanjaannya diatas sofa.
Setelah itu, Zyta segera kembali ke dapur, "Eldan, kau ingin makan apa?"
Eldan tersentak kaget lalu menggelengkan kepalanya. Zyta terkekeh melihatnya. Eldan yang seperti ini membuat Zyta gemas sendiri melihatnya.
"Bisa mencuci beras?" Eldan mengangguk.
"Kalau begitu, bisa cucikan untukku? Itu berasnya dan ini wadahnya," ujar Zyta menyerahkan baskom kecil dan menunjuk wadah dimana biasanya ia menyimpan beras.
"Mbak, sering masak dirumah, ya?" tanya Eldan mengerjakan tugasnya.
"Eumm.. nggak juga. Kalau lagi pingin aja," jawab Zyta sembari mengupas kulit wortel.
"Bisa?" tanya Zyta saat Eldan mulai membersihkan beras.
Eldan menganggukkan kepalanya dan menjawab iya. Zyta tersenyum dan kembali lanjut mengupas kulit wortel. Untuk beberapa saat mereka terdiam dan fokus dengan pekerjaan masing-masing.
"Eldan," panggil Zyta dan Eldan berdeham meng-iya-kan.
"Kamu kuliah?" tanya Zyta tetap fokus pada pekerjaannya. Eldan terdiam mendengar pertanyaan Zyta.
"Kok diam?"
"Aku...,"
π‘ππ‘TBCπ‘ππ‘
Makasih yang dah baca sama like...πππ
tp yang tak bingungin... gimana cara kaliam tau cerita q π€
__ADS_1