Gigolo Feeling

Gigolo Feeling
24 : Sleeping Beauty


__ADS_3

Hapus Read~ing


!!! : Typo everywhere


πŸ“‹Sleeping Beauty


Akhirnya Eldanpun juga mengikuti Evan yang tengah menikmati teh sembari memandang keindahan taman didepan mereka. Dan tak terasa sudah ada setengah jam mereka menikmati teh.


"Aku salut kau berani datang kemari?" ujar Evan membuka pembicaraan.


Eldan melirik Evan tak senang, "Maksudmu?"


Evan mendengus sinis, "Jangan pura-pura bodoh. Kau kira aku tidak tau hubunganmu dengan tanteku?"


Eldan hanya terdiam mendengarnya. Jika wanita yang Evan maksud tantenya adalah salah satu dari wanita yang berkencan dengannya itu artinya secara tak langsung wanita itu juga tante Zyta.


"Kau paham maksudku sekarang," ejek Evan saat melihat Eldan yang hanya terdiam dengan wajah tegangnya.


"Kuberitahu. Sebaiknya kau sudahi saja hubunganmu dengan kakak sepupuku itu,"


Eldan terdiam dan kembali melirik Evan tak senang.


Evan mengedikkan bahunya, "Yeah.. bisa dibilang hubungan palsu kalian,"


"Apa maksudmu?"


Evan tertawa, "Masih berpura-pura ternyata," Lagi-lagi Eldan hanya terdiam.


"Kau tau sebaiknya kau sudahi saja hubungan kalian. Jika kakek tau ini. Kupastikan kau maupun Zyta tidak akan selamat," Eldan mengerutkan dahinya bingan.


"Tak usah bertele-tele,"


Evan kembali tertawa, "Aku tak tau apa yang akan kakek lakukan pada Zyta tapi orang rendahan sepertimu ingin setingkat dengan kakakku? Mimpimu terlalu tinggi dan kakek pasti tidak akan menyetujuinya. Dan lagi, jika ia tau hubungan kalian. Ia pasti akan segera menendangmu keluar dari rumah ini,"


"Apa kau merendahkanku?" ujar Eldan dan benar apa yang Evan katakan.


Ia memang tidak berada di derajat yang sama dengan Zyta. Tapi, untuk apa ia memikirkannya karena dari awal ia menjalin hubungan dengan Zyta adalah adanya kerjasama diantara mereka.


Evan mengedikkan bahunya, "Tapi,"


Eldan kembali melirik Evan yang tengah menunduk memperhatikan teh pada gelas ditangannya.


"Akh! Tidak. Tidak apa-apa," ujar Evan menggelengkan kepalanya.


"Tapi, jika kau tidak ingin ditendang dari rumah ini sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengan Zyta," Eldan mengerutkan dahinya bingung.


"Dan aku akan bilang pada kakek kalau kau adalah temanku dan Rangga jadi kau akan aman disini. Juga.."


"Juga?"


'Tetap dekat dengan Zyta,' batin Evan.


Evan menggelengkan kepalanya, "Tapi, jika kau tetap mendekati sepupuku yang cantik dan manis ini. Kau akan tau akibatnya dari kami para sepupu laki-lakinya," ujar Evan tersenyum miring.


"Kalian pengidap sister complex?"


Evan tertawa dan mengedikkan bahunya, "Entahlah. Mungkin. Karena Zyta juga lebih banyak dirumah ini dulu. Sangat disayangkan kalau ia sampai dilihat oleh orang lain. Ia bagaikan permata bagi kami. Apalagi saat ia tersenyum, sungguh bagaikan bunga paling indah dan paling langka didunia ini," ujar Evan memegang pipinya saat wajah Zyta yang tengah tersenyum.


Eldan mendengus dan kembali meminum tehnya yang tinggal sedikit.

__ADS_1


"Kau memang pengidap sister complex," Evan mendengus kesal mendengarnya.


πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹


Eldan merebahkan tubuhnya diatas kasur dan meletakkan tangannya dibelakang kepalanya. Pandangannya lurus pada langit-langit kamar yang ditempatinya. Pikirannya melayang mengingat percakapannya dengan Evan tadi.


Eldan menghembuskan napasnya dan bangun dari duduknya berjalan menuju pintu yang menghubungan kamarnya dengan taman dan membukanya. Udara malam langsung menerpa Eldan.



Eldan berjalan menuju taman dan berdiri diatas batu sebagai jalan setapak. Ia mengadahkan kepalanya ke atas langit yang dipenuhi bintang juga bulan purnama yang memancarkan sinarnya. Eldan menutup matanya menikmati sejuknya angin malam.


"Akh!!"


Bruk!!!


"Aduh!!"


Eldan membuka matanya saat mendengar suara benda jatuh disusul pekik sakit. Eldan membulatkan matanya saat ia melihat siluet tubuh seseorang tengah memunggunginya. Orang itu berbalik dan terlihat terkejut begitupun dengannya.


"Mbak?"


Eldan terpana melihat Zyta yang dibalut pakaian Jepangnya dengan rambut yang masih telah tersanggul rapi.



Zyta tersenyum dan terkekeh lalu dengan pelan ia menghampiri Eldan.


"Ternyata ini kamarmu," ujar Zyta menggaruk pipinya yang tak gatal.


"Mbak, baru saja manjat?"


"Setinggi itu dengan pakaian ini?" Zyta lagi-lagi mengangguk.


Eldan menggelengkan kepalanya tak percaya lalu terkekeh geli.


"Ada-ada saja,"


Zyta mengerucutkan bibirnya, "Hmm.. Apa kau juga akan mengataiku aneh?"


Eldan kembali terkekeh, "Tidak akan,"


Zyta tersenyum lebar mendengarnya membuat Eldan tersadar akan sesuatu saat melihat senyuman Zyta.


"Oh ya. Tangan mbak udah gak apa-apa?"


Zyta mengangguk dan menyingkap kedua lengan bajunya memperlihatkan kedua tangannya yang telah diperban.


Eldan menyentuh pelan lengan Zyta yang diperban hingga mencapai sikunya.


"Apa sakit?" Zyta menggelengkan kepalanya.


"Hanya terasa sedikit ngilu sekarang," ujar Zyta juga ikut menyentuh lengannya.


Sedikit ngilu? Yang benar saja? Sudah jelas terlihat memerah seperti itu, batin Eldan.


"Kita duduk dulu,"


Zyta mengaggukkan kepalanya. Lagi-lagi jika tengah berdua mereka akan terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


"Apa kakek mbak selalu malukannya?"


Zyta berdeham dan menatap Eldan bingung. Eldan menunjuk lengan Zyta.


"Hmm.. jika aku tidak memakai yukata atau tidak belajar ia akan memukul lenganku atau punggungku," Eldan menatap Zyta tak percaya.


"Dengan apa?"


"Biasanya ia menggunakan kipasnya atau kayu tipis yang mungkin ukurannya sekitar satu centi,"


Eldan meneguk ludahnya susah payah. Dipukul dengan kipas atau kayu memangnya ini jaman apa seorang anak harus dipukul seperti itu.


"Dan mbak nggak pernah melawan?" Zyta menggeleng.


"Jika aku melawan kakek bisa memukul keduanya. Tangan dan punggungku,"


Eldan terdiam mendengar bagaimana susahnya hidup Zyta. Zyta mengangkat kakinya dan menekuknya.


"Dan sebagai cucu dan kakak tertua terkadang aku harus mendapatkan pukulan untuk adik-adikku," ujar Zyta pelan tapi tetap dapat didengar oleh Eldan.


Zyta benar ia salah jika mengira hidup yang Zyta jalani enak. Mendapatkan pukulan hanya untuk pakaian dan pukulan untuk adik-adiknya jika melakukan kesalahan.


Eldan tak yakin jika ia menjadi Zyta, mungkin Eldan lebih memilih kabur dari rumah daripada menghadapi kakek yang kejam seperti itu.


Eldan tak tau harus berkata apa lagi. Ia bukan siapa-siapa bagi Zyta dan tidak mungkin ia ikut campur ke dalam masalah Zyta.


Tidak.


Ia tidak berani melakukannya. Katakanlah dirinya pengecut tapi memangnya siapa yang ingin mencari masalah dengan kakek-kakek sadis.


"Eldan, bisakah aku tidur disini?"


Eldan tersadar dari lamunannya dan menatap Zyta tak percaya.


"Tapi.. tapi, kasurnya hanya ada satu," ujar Eldan melihat kasur king size yang berada dikamarnya.


Zyta tersenyum, "Tenang saja. Tidurku cukup tenang dan aku tidak akan melakukan apapun padamu," ujar Zyta mengedipkan matanya lalu berdiri dari duduknya dan masuk kedalam lalu menjatuhkan tubuhnya keatas kasur.


Eldan berdiri menyusul masuk dan menutup pintu. Ia berdiri disamping Zyta yang tidur tengkurap diatas kasur.


"Baju yang mbak pakai memangnya nyaman dibuat tidur,"


Zyta berdeham mengiyakan lalu membalikkan badannya menuju sisi lain kasur untuk menyisakan ruang bagi Eldan.


Tak membutuhkan waktu lama Zyta sudah jatuh kealam mimpinya. Eldan menghembuskan napasnya berat lalu mematikan lampu.


"Kau memang bisa saja tenang tapi aku tidak," ujar Eldan merebahkan tubuhnya disamping Zyta dan menutup matanya agar segera tidur.


Mata Eldan kembali terbuka saat ia merasakan tangan dan kaki Zyta yang membelit tubuhnya. Jantung Eldan berdetak kencang.


Secepat itu? Batin Eldan tak percaya Zyta yang benar-benar sudah tertidur. Eldan beberapa kali menghembuskan dan menghirup udara, mengatur napasnya.


Mungkin ia sangat lelah, batin Eldan mengatur debaran jantungnya. Eldan menundukkan kepalanya menatap wajah Zyta.


Cantik dan manis seperti kata Evan tadi. Eldan memiringkan tubuhnya menghadap Zyta dan mengulurkan tangannya memeluk pinggang Zyta. Tubuh Zyta terasa pas dipelukkannya.


Eldan mengeratkan pelukkannya pada Zyta dan meletakkan tangannya sebagai bantalan Zyta. Ia menyukai pelukkan mereka. Terasa nyaman dan menenangkan.


πŸŽ‘πŸ“‹πŸŽ‘TBCπŸŽ‘πŸ“‹πŸŽ‘

__ADS_1


__ADS_2