Goddess Of Don Pablo

Goddess Of Don Pablo
Bab 12 : Titik Terang...


__ADS_3

Hari ini Ray sedang tidak berada dikantor. Ia berencana pergi ke rumah Jessie, rekan kerjanya yang dinyatakan meninggal akibat serangan jantung. Karena meninggalnya Jessielah, Ray direkrut menggantikannya masuk ke dalam tim khusus yang menangani peredaran narkoba global di kawasan Bellarose. Tetapi Ray tidak mempercayai begitu saja hasil forensik tersebut. Ia merasa curiga dengan kematian rekan kerjanya itu.


Cuaca saat itu cukup hangat. Ray membeli es lemon dengan selusin donut sebagai buah tangan untuk keluarga Jessie. Setelah mengantri cukup lama, Ray mengemudikan mobilnya menuju kediaman keluarga Jessie.


Hanya sekitar 45 menit dari toko donut, Ray telah memasuki kawasan pemukiman yang cukup asri. Ia berhenti didepan sebuah rumah bernomor 23. Tampak bagian halaman depan dihiasi rimbunan bunga mawar yang berwarna-warni. Terdapat sebuah garasi mobil, dimana sebuah mobil sedan hitam terparkir disana. Ray menepikan dan memarkir mobil dipinggir trotoar. Ia berjalan sambil menenteng kardus berisi donut.


Ting Tong....Ting Tong.... Ray menekan tombol bel pintu. Setelah 5 menit ia berdiri didepan pintu, seorang wanita dengan blouse berwarna biru yang bermotif bunga mawar kecil-kecil berwarna kuning, melihat dari celah pintu yang masih terpasang rantai kuncinya. Ketika wanita tersebut melihat kehadiran Ray yang mengenakan seragam kepolisian saat itu, wanita tersebut membuka sepenuhnya pintu rumahnya.


"Selamat Siang ...ada yang bisa saya bantu, Officer ?" tanya wanita itu pada Ray. Istri Jessie memang belum mengenal lelaki ini. Saat Jessie masih hidup, Ray merupakan salah satu petugas forensik untuk kasus-kasus pembunuhan. Setelah Jessie meninggal, Richard memintanya menggantikan posisi Jessie.


Selamat siang...Mohon maaf sebelumnya menggangu Nyonya Jessie..Saya kebetulan lewat sini, jadi saya berniat mampir sebentar...apa tidak mengganggumu ?" tanya Ray pada wanita tersebut. Sesaat wanita itu tampak sedikit ragu. Tetapi, ia akhirnya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Silahkan,Officer..." ia memberikan jalan untuk Ray masuk ke dalam rumah. Setelah menoleh ke kanan dan ke kiri sekitar rumah, wanita tersebut kembali mengunci pintu rumahnya.


"Silahkan duduk disana, Officer...anda mau minum apa ? panas atau dingin ?" tanya kembali wanita itu.


"Tidak perlu repot-repot, Nyonya ..cukup air putih saja", jawab Ray singkat. Wanita itu, kembali ke dapur dan mengambil segelas air putih. Mata Ray memutar ke segala arah di ruangan tersebut. Ia melihat beberapa foto keluarga terpampang didinding dan diatas meja dekat perapian. Tak sampai 5 menit, wanita tersebut membawa segelas air putih. Kemudian ia duduk disebuah sofa berhadapan dengan Ray.

__ADS_1


" Maaf sebelumnya,Officer...saya belum pernah melihat anda. Boleh tahu nama anda ?" tanya wanita itu pada Ray.


" Oh,tentu...Nyonya. Anda memang belum pernah bertemu dengan saya. Saya dan....Jessie, almarhum suami anda berada di divisi yang berbeda dahulu. Tetapi, saat ini saya menggantikan posisi suami anda. Perkenalkan nama saya Ray..Nyonya Jessie.." Ucap Ray sedikit gugup dengan senyum ramahnya.


"Oh...jangan panggil saya dengan sebutan seperti itu. Panggil saja saya, Michelle..",jawab Michelle dengan ramah.


"Baiklah Michelle ...Oh iya, ini saya bawakan sedikit snack buatmu dan anak-anakmu..."ucap Ray kembali.


" Oh,seharusnya kau tidak perlu repot-repot...tapi terima kasih.." balasnya kembali sambil menerima bungkusan donut yang diberikan padanya.


"Maaf, Mike dan Jason, mereka sedang sibuk bermain games dikamar.."ucap Michelle memberitahukan perihal kedua anaknya dengan Jessie.


"Hmm ...sebentar kuingat-ingat..Jessie sepertinya tidak menunjukkan sesuatu yang aneh sebelum kematiannya..tetapi...hmm...kalau ku tak salah ingat sekitar 2 hari sebelumnya seseorang menelepon ke rumah..akulah yang pertama kali mengangkatnya. Seorang lelaki menghubungi suamiku..saat itu kuberikan pada Jessie. Mereka sepertinya tidak terlalu banyak bercakap.Seperti telepon biasa saja. Kupikir mungkin seorang rekan kerja dikantornya." terang Michelle.


"Hmm...tidak adakah sesuatu yang aneh dari pembicaraan mereka saat itu atau mungkin kau memiliki firasat tertentu ? tanya Ray kembali.


" Yah...aku tidak mendengarkan percakapan mereka. Karena setelah kuberikan pada Jessie aku sibuk menyiapkan sarapan untuk anak-anakku..tetapi...tunggu sebentar...Aku ingat saat itu,setelah suamiku memutuskan pembicaraan ia sempat berkata padaku :"mungkin lusa aku tidak makan malam dirumah dan aku mungkin pulang agak sedikit larut.." dan satu lagi...sehari setelah pemakaman suamiku, seseorang mengirimkan karangan bunga..mengucapkan belasungkawanya. Tetapi tidak ada nama pengirim dituliskan disana. Kupikir mungkin dari rekan kerjanya dikepolisian.Hanya itu saja seingatku...Ngomong-ngomong ada apakah kau menanyakan masalah ini ? Apakah ada sesuatu yang aneh dalam kematian suamiku ?" tanya Michelle dengan nada penuh selidik.

__ADS_1


Ray yang sedikit terkejut dengan pertanyaan yang straight to the point dan penuh selidik dari Michelle, teringat perkataan Richard atasannya untuk tidak membuat cemas keluarga Jessie.


"Oh..tidak..tidak ada apa-apa Michelle...kebetulan karena sayalah yang menggantikan posisinya, saya hanya ingin tahu mengenai Jessie dan keluarganya saja. Yah...hanya sekedar silaturahmi saja.."jawab Ray berupaya setenang mungkin.


"Oh...kupikir ada sesuatu yang aneh dari kematian suamiku. Karena ..jujur,Officer ..aku sebagai istrinya pun tak menyangka ia akan pergi secepat itu..belum ada 10 tahun kami menikah..dan Jessie bukanlah tipe pemabuk ataupun gemar makan makanan diluar...Biasanya ia lebih memilih makan dirumah bersama kami...kecuali ada sesuatu yang mendesak..Tapi mungkin begitulah jalan takdir kehidupannya..." ucap Michelle dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf, Officer ..saya terlampau emosional..setiap kali mengingatnya ..."jawabnya kembali dengan cepat sambil mengambil selembar tissue dan buru-buru menyeka airmata yang akan turun mengalir dari kedua matanya.


"Tidak apa-apa..panggil saja aku Ray ..dan jika ada sesuatu yang ingin kau bagi atau ceritakan padaku mengenai Jessie atau mengenai apapun tentang kau dan anak-anakmu...kau bisa hubungi aku langsung.." ucap Ray memberikan kartu namanya.


"Terima kasih,Ray .." jawab Michelle menerima kartu nama tersebut. Ia melihat sebentar kartu nama yang diberikan padanya,kemudian ia menatap kembali kepada Ray.


"Baiklah...Michelle...Maaf aku tidak bisa berlama-lama disini ...Aku masih harus bertugas. Jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk hubungi aku. Dan sekali lagi...saya ikut berbelasungkawa atas kematian suamimu,Michelle.." ujar Ray sambil menjulurkan tangannya memberikan salam pada wanita itu. Wanita itu pun membalasnya sambil tersenyum. Kemudian, ia mengantar Ray sampai ke depan pintu. Melihat lelaki itu memasuki mobilnya dan menutup pintu mobil. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya.


Didalam mobil Ray berpikir keras dengan perkataan Michelle barusan. Ia semakin yakin kematian Jessie bukanlah kebetulan atau karena serangan jantung yang mendadak. Tetapi ini pasti sebuah pembunuhan berencana. Pasti ada hubungannya dengan si penelepon misterius yang diceritakan Michelle tadi. Siapakah sebenarnya si penelepon itu ? Apakah ialah pembunuh Jessie ? Dan pengirim karangan bunga tanpa nama...apakah ini semua saling terkait dengan kematian Jessie ? Berbagai pertanyaan muncul dibenak Ray sambil ia mengendarai mobil. Ray yakin ada yang tidak beres dengan kematian rekan kerjanya itu.


***

__ADS_1


"


__ADS_2