
Lucy keluar dari cafe saat jam menunjukkan pukul 11 siang. Ia sempat duduk beberapa saat disana, saat Ray berpamit pergi dengannya. Gadis itu berfikir sejenak. Ray seorang police officer. Ia telah menyimpan nomor kontak lelaki itu di handphonenya. Lucy tersenyum. Seperti sesuatu melintas dalam pikirannya. Hmm...mungkin lelaki ini dapat membantuku kelak. Pikir gadis itu sejenak. Ia bangkit dari duduknya dan membayar semua tagihan billnya.Tepat saat jam menunjukkan pukul 11 siang ia keluar dari Roses Cafe and Pub itu.
Mall siang itu tampak tidak terlalu ramai. Ia berjalan disebuah store khusus tas kulit mewah. Burlgio. Sebuah toko yang cukup besar untuk sebuah toko khusus tas kulit. Didalamnya terpajang tas-tas kulit yang terbuat dari berbagai kulit hewan. Diantaranya bahkan terbuat dari jenis kulit hewan langka. Lucy memegang sebuah tas tangan berwarna abu-abu keperakan. Tampak sederhana tapi elegan. Sebuah cetakan timbul keemasan berlogo B yang merupakan singkatan dari brand tersebut. Lucy melihat sebuah kartu kecil tergantung ditas. Disitu tertera bahan baku pembuatan tas tersebut.
Antiguan Racer. Terbuat dari 100% kulit ular jenis Antiguan Racer. Seekor ular berbisa langka yang hanya dapat ditemukan dilepas pantai Antigua. Jenis ular berbisa yang telah dikembangbiakkan oleh perusahaan tas kulit Burlgio. Bernomor seri 001AR dari 4 seri yang ada. Ini berarti tas tersebut seri pertama yang dibuat dari jenis kulit ular Antiguan Racer atau disingkat AR dan terdapat sebanyak 4 jenis tas yang berbeda pola tetapi terbuat dari jenis kulit ular yang sama. Nomor seri kecil itu tercetak timbul pada bagian dalam tas.
Sebuah tanda orisinilitas dan eksklusifitas tas mewah tersebut. Keunikan tas Burlgio adalah mereka hanya memproduksi satu jenis barang dengan satu pola. Jadi ketika pelanggan mereka membeli, mereka dimanjakan dengan keeksklusifan barang yang dibeli dengan hanya merekalah satu-satunya pemilik barang tersebut dan tidak mungkin ada orang lain didunia yang memiliki barang dengan pola dan bentuk yang sama. Inilah yang membuat Lucy atau Nina gemar membeli produk mereka. Selain bahan baku barang yang langka yang membuat pastinya produk brand ini berkualitas, mereka membuat para pelanggan mereka merasa diperlakukan istimewa.
Lucy mengambil tas tersebut. Ia menyukai desain dan warnanya yang indah dan unik. Terlihat sedikit abu-abu kegelapan saat didekati tetapi dari kejauhan tampak berkilau keperakan. Transisi warna yang indah membuatnya membeli barang tersebut.
"Yes,Madam...Can I help you ?" ucap seorang pelayan pria berjas hitam dengan penampilan yang sangat parlente, mendekati Lucy sambil menundukkan kepala dan tersenyum tanda hormat.
"I'll take this one,please ..."ucap Lucy menunjuk ke tas tersebut. Si pelayan pria memmbawakan sebuah plastik transparan besar dan membawakan belanjaan Lucy tersebut.
"Yes, madam...Do you have any favor ? If you don't mind, maybe i could help you,Madam..." ucap kembali si Pelayan.
__ADS_1
"It's okay..can you leave me alone ? I'm still looking for something else...just please bring it to the cashier .." ucap Lucy menunjuk tas yang telah dipilihnya dan dipegang pelayan tersebut.
"Yes,Madam..." pelayan pria itu pun menjawab sambil menundukkan badan.Pergi ke cashier sesuai perintah Lucy dan membiarkan gadis itu kembali melihat-lihat barang yang lainnya. Tanpa ia sadari ia telah berada dibagian tas untuk pria. Ia melihat sebuah clutch bag khusus untuk pria.
Lucy tersenyum. Entah mengapa,saat melihat clutch bag tersebut ia teringat Carlo. Pelayan setia keluarganya. Tampak clutch bag pria berwarna coklat gelap dengan desain simple dan elegan,tanpa mengurangi kemaskulinan seorang pria yang memilikinya. Tas ini tampak cocok untuk Carlo. Lucy alias Nina menyadari, selama ini ia belum pernah memberikan hadiah bagi pria itu. Padahal lelaki itu selalu setia menjaganya sejak ia berusia kanak-kanak. Carlo bagi Nina merupakan sosok kakak dan teman curhat terbaik selama ini. Ia hanya mengenal Carlo dan ayahnya sebagai sosok pria sejati dalam hidupnya.
Hmm...tampaknya tas ini cocok untuk Carlo,pikir Lucy. Ia melihat label yang tertera di situ. clutch bag tersebut terbuat dari jenis buaya Afrika Barat dan hanya memiliki 2 seri tas dengan bahan baku yang sama. Tanpa pikir panjang ia mengambilnya dan membawanya langsung ke depan cashier. Si pelayan pria yang tadi melayaninya tampak tersenyum ramah.
"Sudah siap, madam ?" tanya pelayan tersebut.
"Yah..tolong billnya untuk 2 tas ini..." ucap Lucy pada si pelayan.Si pelayan menyiapkan bill dan memberikan kepada petugas cashier wanita yang berada disebelahnya.
"Credit Card, please ..."jawabnya mengeluarkan sebuah Golden Platinum Card. Kartu kredit berwarna coklat keemasan. Kartu kredit yang ia gunakan khusus belanja segala kebutuhan make up dan aksesoris wanita. Lucy atau Nina memiliki 3 jenis kartu kredit. Untuk kebutuhan harian atau sekedar hangout, ia menggunakan kartu kredit berwarna biru milik sebuah bank ternama dikawasan tersebut. Untuk kebutuhan make up,dan segala aksesoris wanita, ia menggunakan kartu kredit lainnya yang berwarna coklat keemasan. Sedangkan sebuah kartu kredit berwarna hitam platinum, merupakan kartu kredit khusus yang ia gunakan untuk kebutuhan perusahaannya. Dengan cara ini, ia bisa mengkalkulasikan biaya hidup dengan terinci.
Setelah menggesek Credit Card yang diberikan gadis itu, dan memberikan billnya pada Lucy. Si pelayan pria yang berada disebelahnya, telah siap dengan box cantik yang diikat pita dan kantung belanja recycle dengan label coklat keemasan diberikan pada wanita tersebut. Meskipun tas yang digunakan terbuat dari kertas recycle tas tersebut dilapisi plastik mika bening dengan Logo brand berwarna coklat keemasan. Hingga membuatnya tetap classy tapi ramah lingkungan bagi para pelanggan setianya. Lucy menenteng tas tersebut dan keluar dari toko menuju parkiran mobil.
__ADS_1
***
Dikastil megahnya, Carlo yang berada bersama dengan Don Pablo seperti biasa tampak setia berada menemani lelaki tua itu. Hingga sang Don memintanya duduk dikursi depan mejanya. Ia mengajak pelayan setia itu menemaninya ngobrol santai sambil menikmati menu makan siang yang telah disiapkan sang koki,juru masak rumah yang memang bekerja untuk keluarga majikannya itu.
"Carlo,berapa usiamu saat ini, Nak ?" tanya Don Pablo pada Carlo. Carlo yang tengah menyantap spaghetti bolognaisenya tampak sedikit terkejut mendengarnya. Ia mendongak menatap lelaki tua dihadapannya. Tersenyum santun, tanda penghormatannya pada lelaki tersebut.
"28 tahun,Sir.."ucap Carlo tenang. Meskipun dalam benaknya ia tengah menduga-duga akan kemana arah pembicaraan majikannya itu.
"Carlo, kau tahu aku sudah sangat tua... suatu saat aku akan pergi meninggalkan dunia ini. Aku tidak memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga kecuali putriku satu-satunya...Dan tak ada sanak keluarga bagi Nina kelak jika aku pergi untuk selamanya. Tak ada satu pun lelaki yang dapat kupercaya untuk menjaganya kelak kecuali engkau, Carlo..Aku tidak pandai berbasa-basi,Nak...tapi, adakah ketertarikanmu pada putriku ?" Tanya Don Pablo tanpa diduga bodyguard kesayangannya itu.
Carlo yang mendengarnya nyaris tersedak garpu yang berisi spaghetti yang ia suapkan ke mulutnya. Bak pucuk dicinta ulam pun datang tiba-tiba. Carlo yang terasa seperti berada ditengah badai salju,diam membeku, seketika itu juga mendapatkan percikan api yang menghangatkan. Ia tersentak tersadar. Tak salahkah ia dengan pendengarannya itu ? Don Pablo memberikan putrinya untuknya ? rasanya ia ingin mengangguk dengan cepat sambil berkata iya. Tetapi wibawanya sebagai seorang pelayan setia lelaki tua itu,menjadikannya menjaga sikapnya.
"Tuan, tak salahkah aku mendengar ucapanmu ? Mungkinkah menurut anda ada seorang lelaki yang engkau tawarkan putri semata wayangmu itu, ia akan menolaknya ?" jawab Carlo diplomatis.
" Jika hanya mencari lelaki yang mengejar kecantikan putriku dan harta warisanku,aku yakin Carlo tak akan ada pria yang menolak tawaranku. Tetapi...aku mencari seorang pria yang bisa menggantikan posisiku untuk Nina. Kau tahu Nina tak cukup pandai bersentuhan dengan dunia luar dan ia seseorang yang keras kepala. Engkau pun tahu bisnis yang kumiliki dan bagaimana dunia didalamnya. Aku mengharapkan seorang lelaki sejati yang dapat mencintai dan menjaga Nina sepenuh hati jika aku tiada nanti,Carlo.." ucap lelaki tua itu. Dari suaranya terdengar seperti ia menahan tangisnya.
__ADS_1
"Aku mengerti perasaan anda,Tuan Pablo.Bagiku...Tuan sudah kuanggap seperti ayah kandungku sendiri...dan mengenai Nina...aku akan menjaganya dengan segenap kemampuanku,Tuan..anda tidak perlu khawatir memikirkan hal itu", jawab Carlo tenang,sopan dan tampak gentle. Don Pablo yang mendengarnya tampak lebih tenang dengan jawaban Carlo. Sebagai seorang lelaki tua yang telah merasakan pahit getirnya kehidupan,ia sebenarnya tahu, pelayan setianya itu mencintai Nina. Putri kesayangannya itu. Ia pun tidak akan menghalanginya jika Nina pun memilih lelaki itu sebagai pendamping hidupnya kelak. Karena ia sangat mengenal baik Carlo semenjak kecil. Menurutnya lelaki itu memiliki tabiat lelaki sejati idaman setiap wanita.
***