Goddess Of Don Pablo

Goddess Of Don Pablo
Bab 20 : Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Pagi itu Nina tengah berias dengan make up yang cukup tebal. Seperti biasanya saat ia harus keluar rumah dan berada di keramaian publik. Ia tampil menjadi Lucy. Hari ini ia berniat shopping sekaligus mengecek distribusi minuman Fenucaria yang diproduksinya. Minuman beralkohol khusus yang hanya diproduksi menjelang musim dingin. Biasanya cafe ataupun pub disekitar kawasan Wonder Island telah memesan dan menjadi pelanggan setia minuman khas milik perusahaan Nina.Mereka biasanya telah memesan stok 6 bulan sebelum memasuki musim dingin tiba.


Diluar, meski matahari bersinar terang tetapi angin dingin mulai terasa menusuk tulang. Nina dengan tampilan Lucynya telah siap dengan riasannya. Ia mengenakan turtleneck berwarna maroon dengan celana jeans hitam dan boots semata kaki. Tak lupa kacamata anti matahari berwarna coklat keunguan membingkai wajahnya.membuat hampir separuh wajahnya tertutup kacamata. Ia mengenakan topi rajut berwarna senada dengan pakaiannya. Kali ini ia mengenakan tas kecil cangklok dipunggungnya. Tas Prada yang terbuat dari kulit buaya Nil dengan desain khusus yang elegan tampak mewah dan serasi dengan outfit yang Lucy kenakan.


Lucy berjalan dengan pakaiannya tepat ketika Carlo melintasi menuju ruang kerja ayahnya. Jantung Carlo berdegup kencang. Lelaki itu berusaha menutupi perasaannya pada gadis yang telah menjelma menjadi sosok lain dihadapannya. Carlo tahu gadis ini pasti akan pergi ke suatu tempat publik dengan riasannya itu.


" Morning Carlo...kau selalu tampak tampan dengan jas hitammu..Seandainya kau belum memiliki wanita disampingmu...aku pasti telah jatuh cinta padamu.."ucap Nina sambil merapikan dasi yang dikenakan pria itu.Carlo yang terkejut mendengar celetuk wanita dihadapannya itu,sontak jantungnya berdegup semakin kencang..nyaris ia dapat merasakan jantungnya seakan hendak keluar meloncat dari dalam tubuhnya. Ia terbiasa dengan karakter Nina yang ceplas-ceplos.Tapi tidak kali ini.Rasanya ia ingin mendengar wanita itu mengatakan kembali perkataannya itu.Sekalipun mungkin itu hanya bualan celetukan gadis itu padanya. Carlo sebenarnya mengerti dengan perasaannya. Ia telah jatuh cinta pada gadis Don Pablo itu. Sialnya Nina selalu mampu membuat perasaannya seperti riak ombak pantai yang menderu-deru. Tetapi Carlo belum yakin mengutarakannya pada gadis dihadapannya itu. Ia lebih memilih menikmati gadis itu dengan caranya sendiri.


"Kalau aku tidak setampan yang Tuan Putri lihat,apakah kau masih membiarkanku menjagamu dan ayahmu setiap menitnya ?" balas Carlo dengan barisan gigi depannya yang tampak putih bersih sambil mengerlingkan sebelah matanya. Carlo berupaya tampak senatural mungkin dihadapan gadis Pablo ini. Ia tidak ingin Nina mengetahui isi hatinya yang sebenarnya. Belum saatnya bagi Carlo mengutarakannya. Ia masih ingin menikmati gadis ini dengan caranya. Tanpa membuat Nina merasa risih dengan perasaan yang dimilikinya pada gadis itu.


"Oh...Carlo sayang, kalau kau tidak setampan yang kulihat, pastilah karena mataku yang telah rabun hingga tidak dapat melihat ketampananmu itu.." balas Nina sambil mengerlingkan kembali sebelah matanya pada lelaki dihadapannya itu. Carlo tertawa kecil mendengar balasan gadis itu padanya.


"Carlo..aku pergi dulu...tolong sampaikan ayahku..aku pergi keluar sebentar.." ucap Nina mencium pipi lelaki itu. Ia berjalan tanpa menoleh kembali.Tidak menghiraukan Carlo yang hendak bertanya akan kemana ia pergi.Nina berlalu begitu saja. Carlo hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Hatinya tengah berbunga-bunga.Sinar matahari pagi yang hangat dengan hembusan angin dingin, membuat perasaan lelaki itu semakin bersemangat. Carlo tahu...kali ini cintanya pada gadis Don Pablo itu semakin membuncah dan membuatnya bersemangat setiap harinya.


***


Lucy tengah berada di sebuah cafe yang menyediakan live music di kawasan Bellarose. Menyerupai nama kawasannya, Roses Cafe and Pub adalah salah satu cafe termewah dikawasan Bellarose. Cafe yang menyediakan live music saat lunch time tiba serta malam hari berubah menjadi sebuah pub yang dipenuhi music tekno dengan beat yang keras. Jejeran mobil-mobil mewah biasa berada didepan cafe ini.


Bangunan cafe ini tampak biasa dari luar. Seperti cafe pada umumnya yang berada dikawasan Bellarose. Tetapi pada interior dalamnya, cafe ini terbilang sangat luas. Memiliki 3 lantai. Dari luar cafe bangunannya seperti hanya memiliki 2 lantai saja. Lantai 1 adalah cafe biasa yang menyediakan beragam makanan dan minuman. Biasa mereka buka sejak pukul 09.00 pagi s/d pukul 17.00 sore.Sedangkan lantai 2 nya, adalah sebuah bangunan yang lebih menyerupai diskotik dengan beberapa meja dan bangku-bangku tinggi ala bar di cafe-cafe yang terletak disetiap sudut-sudut ruangan dan terdapat 2 buah meja bartender tempat mereka melayani pengunjung yang datang. Bagian tengahnya tampak kosong lenggang dengan 2 buah sound system besar. Dimana musik akan terdengar kencang saat DJ beraksi. Mereka menyebut lantai 2 ini khusus untuk pengunjung pub dan hanya dibuka diatas pukul 20.00 s/d 01.00 dini hari.


Bagian istimewa dari Roses Cafe and Pub adalah lantai "Hidden Ground". Begitulah mereka menyebutnya. Hidden ground terletak di lantai paling bawah. Dimana untuk menuju kesana menggunakan eskalator khusus yang berada didalam sebuah ruangan kecil yang tidak terlihat dari pintu masuk cafe. Dimana didalam ruangan yang terdapat eskalator tersebut dijaga oleh 2 orang penjaga. Seorang penjaga berada diatas eskalator. Seorang lagi berada dibagian bawah tepat didepan pintu ruangan "Hiddenground".


Ruangan tersembunyi ini adalah sebuah ruangan kedap suara. Hingga suara sebising apapun didalamnya tidak akan terdengar ke lantai diatasnya. Hiddenground adalah ruangan khusus yang biasa dibuka hanya pada hari sabtu dan minggu bagi para membernya serta biasa disewakan khusus pada kaum-kaum elite yang hendak menghabiskan malam mereka tanpa merasa terganggu oleh orang lain.

__ADS_1


Ruangan "Hiddenground" sangat luas. Didalam ruangan ini terdapat meja biliard, beberapa meja casino serta sebuah ruangan berupa kamar khusus yang dipasang karpet kedap suara dan tidak terlalu besar, tetapi cukup berisi sebuah double bed dengan kamar mandi terbuka berupa jacuzzi besar lengkap dengan air panas. Untuk memasukinya mereka harus memiliki kartu khusus yang biasa disebut "Black Platinum Member". Karena kartu ini menandakan pemiliknya adalah salah seorang anggota member khusus disana yang harus merogoh kocek tidak sedikit setiap bulannya sebagai bentuk iuran rutin. Hingga mereka bisa menggunakan seluruh fasilitas di dalam "Hiddenground". Sedangkan mereka yang hanya menggunakan kartu "Hidden Guest " tidak dapat memasuki kamar khusus ini. Kamar yang biasa di gunakan untuk para kaum elite superjet melepaskan penat dan birahi mereka disana tanpa terganggu kebisingan diluar.


***


Lucy masih menikmati sarapan paginya sebuah cream soup dengan roti panggang dan segelas lemon tea hangat. mendengarkan live music yang disajikan. Suasana cafe itu dipagi hari tidak seramai saat lunch time.


Matanya tertuju pada rak-rak tempat botol-botol minuman tertata rapi. Ia melihat beberapa botol Fenucaria,minuman beralkohol buatan pabriknya. Tanda berarti distribusi untuk stok musim dingin nanti telah terpenuhi di cafe ini. Ia tersenyum puas.


Selang sekitar 30 menit berlalu, seorang lelaki dengan celana jeans dan kaos putih serta mengenakan kacamata hitam memasuki cafe tersebut. Ketika ia membuka kacamata hitamnya,lelaki itu tampak tertegun. Bagaimana tidak??! Seorang wanita yang tengah duduk ditengah ruangan menghadap ke arah panggung kecil yang sedang menampilkan live music tampak menonjol dalam pandangannya. Ray ingat betul, ia adalah Lucy..gadis yang pernah diliriknya saat ia menonton bioskop dahulu. Antara terkejut tak menyangka bercampur sedikit riang dan gugup. Haruskah dirinya menghampiri dan menegur wanita ini ? Tapi Ray tampak agak ragu. Ia ingat betul betapa dinginnya wanita itu. Tetapi kali ini..cahaya lampu dan sinar matahari pagi yang menembus jendela-jendela kaca cafe membuat penglihatan lelaki ini sangat jelas. Lucy tampil sangat cantik dengan topi rajut dan turtleneck yang ia kenakan. Wajah cantiknya bahkan tampak sangat menonjol diantara para pengunjung cafe. Ray tampak terpukau menikmati lekuk wajah dan tubuh gadis ini dari samping. Sempurna. Gadis ini sepertinya tidak menyadari kehadiran Ray yang tak jauh dari mejanya berada.


Ray berpikir menimbang-nimbang..haruskah ia menghampirinya ? berbasa-basi sedikit terhadap wanita ini ?Tetapi ia takut penolakan dingin dari wanita ini yang sanggup membuatnya canggung nanti. Ia menahan sesaat perasaannya itu.sambil menunggu-nunggu mungkin wanita ini sedang menunggu atau bersama orang lain saat itu.


Tetapi telah 15 menit berlalu, ia tak melihat seseorang bersama wanita itu. Kopi hitam dengan roti panggang yang diisi selai coklat dan keju yang telah ia pesan,tampak hampir habis. Akhirnya dengan keberanian yang dipaksakan, Ray menghampiri gadis yang tengah asyik memainkan sendok pada cangkir lemon teanya.


"Maaf, tanpa bermaksud menyinggung..tetapi saya tidak dapat mengingat anda..." jawab Lucy berusaha sopan. Tetapi sedikit kernyit didahinya cukup menjelaskan ia sedikit terganggu dan tak menyangka dengan keberadaan Ray yang tiba-tiba datang.


"Ooh...sudah saya duga...hmm..kita pernah bertemu saat menonton di bioskop dahulu...saat menunggu pintu theater dibuka..Anda dapat mengingatnya sekarang ?" jawab Ray sedikit canggung. Entah karena kecantikan yang memukau dihadapannya atau karena sikap dingin yang ia bayangkan dari gadis ini,membuat Ray sedikit canggung. Antara menyesal dengan tidak ia telah menegur gadis dihadapannya itu. Khawatir dan cemas,seandainya wanita ini akan membuatnya malu setengah mati dengan penolakannya.


"Ooh...ya...saya ingat...anda yang dahulu menonton film yang sama dengan saya...maaf siapa nama anda ?" ucap Lucy singkat. Ia ingat wajah lelaki dihadapannya itu. Tetapi gadis itu tidak mengingat namanya. Nina alias Lucy memang selalu memandang setiap pria manapun yang ia temui bukan untuk sebuah janji yang benar-benar ia buat, hanyalah pria sambil lalu yang memasuki kehidupannya dan ia tidak pernah mengingat nama mereka atau bahkan wajah mereka.


"Ooh..saya Ray boleh saya duduk disini bersama anda sekarang ?" tanya Ray sambil menunjuk kursi dihadapan gadis itu.


"Tentu saja..silahkan.."jawab Lucy dengan sedikit senyuman sopan. Ray menatap lekat-lekat gadis dihadapannya itu. Gadis itu tampak terlihat mengenakan make up yang cukup tebal. Tetapi tidak sedikitpun menutupi kesempurnaan setiap sisi wajahnya. Ia dapat melihat kecantikan wajah wanita ini. Jantung Ray berdetak sedikit lebih cepat. Kecanggungan seolah tiba-tiba datang padanya.

__ADS_1


"Anda..sudah memesan sesuatu ?" tanya Lucy sopan. Bagi Lucy bertemu dan berkencan dengan banyak pria memang bukan hal yang biasa. Ayahnya tak pernah membiarkannya keluar sendiri semenjak ibunya tewas. Tetapi digoda dan dibanjiri hadiah oleh pria yang terpikat padanya adalah hal biasa bagi wanita ini. Hanya tak ada seorang lelaki pun yang sanggup meraih hati wanita ini. Nina paham betul..setiap lelaki yang mendekatinya hanya menyukai parasnya maupun perusahaan milik


kedua orangtuanya.


"Oh..saya baru saja makan sebelum menghampiri meja anda..bolehkah saya memanggil dengan sebutan Lucy atau anda lebih menyukai panggilan selain itu Nona ?" tanya Ray kembali. Ia menelan ludah menutupi kecanggungannya. Ia sendiri merasa heran. Ray terbiasa bertemu dan berkencan dengan banyak wanita. Tetapi baru kali ini ia merasa canggung berhadapan dengan seorang gadis dihadapannya.


"Oh ..it's ok Ray...you can call me Lucy.."jawab Lucy singkat. Ia tersenyum cukup lebar kali ini. Hampir-hampir jantung lelaki dihadapannya berhenti berdetak. Ray sendiri terkejut. Gadis dihadapannya berbeda dengan yang ia lihat dibioskop dahulu. Kali ini Lucy tampak luwes meskipun keeleganannya terlihat jelas dari tutur kata dan bahasa tubuh gadis itu.


Hanya butuh beberapa menit Ray dan Lucy telah mampu mencairkan suasana diantara mereka dengan sebuah obrolan menarik.


"By the way, kau bekerja disekitar sini ?" tanya Ray ditengah obrolan.


"Yah..begitulah ...aku bekerja tak jauh dari sini..Kau sendiri ?" tanya Lucy balik padanya.


"Oh..I'm police officer ...kadang saya berpatroli disekitaran sini.."ucap Ray jujur.


"Oh..wow...nice job.." sahut Lucy alias Nina tak menyangka. Polisi adalah hal yang paling Nina benci dan jauhi. Ia tahu bisnis ayahnya. Terlebih setelah ibunya meninggal. Yang hingga kini, belum terungkap siapa pembunuh ibunya itu.


" Kau sendiri boleh tahu pekerjaanmu ?" tanya Ray balik tersenyum.


"Hmm...aku bekerja disebuah pabrik minuman beralkohol officer..tapi kau tak perlu cemas...semua berlisensi dan memiliki izin edar..." jawab Lucy tersenyum. Ray yang mendengar tertawa kecil mendengar gurauan wanita itu.


"Serius nona Lucy ? Padahal tanpa lisensi dan izin edar pun..., aku sebagai officer tak akan rela menangkap gadis secantikmu untuk kujebloskan kedalam penjara yang beringas..." gurau Ray pada gadis dihadapannya sambil tertawa kecil. Lucy pun yang mendengarnya ikut tertawa. Obrolan mereka pun semakin mencair dengan beberapa gurauan dan candaan. Hingga mereka saling bertukar kontak sebelum mereka berpisah. Ray tampak senang melihat secarik kertas ditangannya berisi nama dan nomor gadis dihadapannya itu.

__ADS_1


***


__ADS_2