
Mall Metro La Queen adalah sebuah mall elite dikawasan Bellarose, kawasan kaum Milioner menghabiskan waktu mereka untuk sekedar ngopi atau menonton. Banyak pasangan muda yang juga tengah bermesraan di sudut-sudut cafe yang berjejer dipinggiran sepanjang kawasan tersebut.
Nina dengan rambut burgundy sebahunya berjalan menuju gedung bioskop yang berada didalam bangunan Metro La Queen. Sebuah film bergenre drama action yang saat itu tayang ,adalah salah satu pilihan yang ia pilih. Ia mengantri mengikuti antrian yang ada.
"One ticket,please..." ucap Nina pada seorang wanita penjaga tiket saat itu.
"Untuk film apa ? Drama action atau comedy ? tanya penjaga bioskop itu.
"Drama action yang tayang pukul 14.30 ini ", ucapnya kembali. Tak lama berselang, penjaga tiket itu pun menunjukkan sebuah sketsa ruangan bioskop lengkap dengan sederet kursi dan nomor yang tertera disebuah tablet.
"7D,please.." ucap Nina sambil menunjuk sebuah seat bertuliskan 7D yang berada tepat ditengah ruangan. Pas jaraknya dengan layar theter tersebut.
"Baik,Miss...ini tiketnya " jawab wanita tersebut menyobekkan hasil print out tiket sesuai dengan pesanan Nina. Nina kembali melihat sekitaran area gedung bioskop tersebut. Ia hampir tidak pernah pergi keluar rumah seorang diri tanpa pengawal selama hidupnya. Inilah salah satu hal terbaiknya menikmati momen kebebasannya. Ia mengantri membeli sebuah popcorn coffee caramelo dengan taburan emas dan bau manis kopi yang menggugah ditambah sebuah minuman soda diet sugar berukuran medium merupakan cemilan tepat bagi Nina. Nina mengeluarkan beberapa lembaran GoldCreate dari dompetnya. GoldCreate merupakan mata uang yang digunakan dikawasan sekitar Samudera Atlantik, salah satunya kepulauan Wonder Island. Salah satu bahan produksi pembuatan mata uang ini, bukan hanya emas tentu saja.Tapi juga terbuat dari campuran serat pohon maple dan pinus yang tumbuh di pulau-pulau sekitaran selatan Samudera Atlantik. Keaslian lembaran kertas mereka memiliki tanda khusus sebuah garis yang melintang yang berlapiskan emas murni dan tidak dapat dilihat mata telanjang, hanya dapat dilihat dengan money detector. Uang-uang logam mereka berlapis emas murni yang berkilau berlambang Pohon Pinus dengan tulisan Southern GoldCreate yang menonjol.
Nina melihat arloji ditangannya masih 30 menit lagi film yang dipesannya akan dimulai. Ia melewati deretan poster-poster film yang berjejer sambil matanya menatap sebuah sofa yang terletak disalah satu sudut ruangan. Baru 15 menit ia duduk disana. Seorang lelaki tampan dengan wajah cerdas menoleh kekanan dan kekiri mencari bangku yang kosong. Sayang ia tidak menemukan sebuah bangku kosong kecuali sofa panjang yang tengah diduduki Nina seorang diri.
"Excuse me,Miss...Boleh saya duduk disini ?" ucap lelaki tersebut. Nina melirik sepintas lelaki tersebut dari balik kacamata hitamnya. Seorang pria tampan tampak tersenyum dihadapannya.
"Yes,Please ..." jawab Nina singkat.
"Hmm...Saya Ray" jawab lelaki tersebut sambil menyodorkan tangannya. Ia mencoba mencari obrolan memecah keheningan yang terjadi sesaat.
__ADS_1
Nina menurunkan kacamatanya. Sedikit curiga dengan lelaki ini. Tetapi wajah tampannya merupakan hal biasa bagi Nina. Ia sudah terbiasa menghadapi lelaki playboy seperti pria dihadapannya. Nina tak menjawab lelaki itu.
"Boleh kenalan denganmu,Miss..." tanya lelaki itu kembali berupaya mencari bahan obrolan sesopan mungkin dan tanpa basa-basi.
"Lucy..." jawab Nina datar sekenanya. Ia tidak pernah memperkenalkan dirinya dengan nama asli. Hal biasa yang ia lakukan setiap kali berkenalan dengan orang baru terlebih ditempat publik.
"Oh..Hi, Lucy. Senang berkenalan denganmu.." Jawab lelaki itu dengan senyuman sopannya.
Nina hanya menoleh padanya untuk merespon perkataan lelaki itu. Sikap dinginnya adalah sebuah kebiasaan pada orang luar.
"Hmm...kalo boleh tahu, Lucy kau nonton film apa ? Saya sedang menunggu film yang akan tayang pukul 14.30 ini. 'Love With Your Enemy'.. Yah..semoga saja bukan film yang mengecewakan.." lelaki itu tampak tengah mencoba keras membuka obrolan dengan gadis disampingnya itu. Tetapi, tampaknya Nina tidak berminat berbincang dengan orang yang baru saja bertemu dengannya itu. Ia tampak bersikap acuh dan dingin pada lelaki dihadapannya itu.
" Hmm ...maaf, jika aku tampak membosankan bagimu...aku hanya mencoba mencairkan suasana.." ucap lelaki itu tampak salah tingkah.
"Oh..it's okay...i'm waiting for that movie,too.." jawab Nina datar. Tak lama berselang, sebuah suara yang menggema disekeliling gedung theater memberikan sebuah pengumuman melalui microphone yang menyala .Memberitahukan bahwa film yang tengah ditunggu Nina akan segera tayang. Setiap penonton sudah diperbolehkan memasuki pintu teater 1.
"Hey..that's our movie...kita sudah bisa masuk sekarang.." ucap Ray berupaya menenangkan dirinya yang tengah salah tingkah dengan gadis dihadapannya itu.
Nina tak berkata sepatah kata pun. Tetapi ia bangkit dari sofa dan berjalan mendahului lelaki disampingnya itu. Sebuah isyarat penolakan halus untuk kedekatan yang lebih intim.
Ray yang tampak mengerti dengan tolakan halus tersebut, melambatkan jalannya tanpa banyak kata. Membiarkan gadis itu mendahuluinya.
__ADS_1
Baru kali ini bagi Ray,ia diacuhkan oleh seorang wanita. Biasanya siapapun wanita yang dikenalnya pertama kali akan meresponnya dengan baik. Bahkan kebanyakan dari mereka akan saling bertukar nomor telepon. Tetapi tidak dengan Lucy. Gadis ini bagi Ray tampak sangat dingin. Hingga bahkan membuat Ray jadi merasa kikuk dan canggung.
Nina telah berada didalam teater 1. Suasana tampak remang. Seorang petugas memegang sebuah senter kecil membantunya mencari kursi 7D. Ia kemudian terduduk dikursinya. Beruntung ia mendapatkan spot tepat dibarisan tengah.Tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh dari layar putih dihadapannya itu.
Ray yang berada tepat dibelakang Lucy, nama samaran yang diberikan Nina padanya, Tampak menyodorkan tiketnya yang bertuliskan 7F.
"Kursi kedua dari wanita yang duduk disana itu ya.."ucap petugas teater tersebut sambil menyorotkan lampu senter kesebuah kursi kosong. Betapa kagetnya ia, ketika melihat gadis yang baru saja dikenalnya itu. Bagi Ray entah takdir atau kebetulan seperti sebuah benang tipis yang mengagumkan. Ia hanya terhalang sebuah kursi.
Ray terduduk dikursinya. Lucy yang sempat menoleh pun tampak terkejut melihat kembali lelaki yang baru saja dikenalnya sebelum ia masuk kedalam ruang teater ini. Untunglah ia terhalang sebuah kursi yang kemudian diketahui ditempati seorang lelaki paruh baya. Hingga gadis ini merasa sedikit tenang dibuatnya.
Nina tampak serius menonton film yang tengah diputar dihadapannya. Tetapi tidak dengan Ray. Entah mengapa sesekali matanya seolah tak dapat memalingkan dari wajah gadis yang baru dikenalnya itu. Hidung yang tampak bangir, dagu cembung dengan bibir penuh yang ideal seolah tengah menyihir matanya. Wajah gadis itu tampak sempurna bagi Ray. Terlebih ketika Nina melepaskan kacamata hitamnya. Ray seolah tak bisa melepaskan pandangan matanya dari gadis itu. Entah karena kecantikannya atau ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Lucy..ia pun tidak mengerti. Tetapi baru kali ini hatinya berdegup lebih cepat setiap kali matanya menatap gadis itu.
Film 'Love With Your Enemy' ternyata adalah sebuah film yang berakhir tragis. Dimana film ini bercerita tentang seorang gadis bernama Elena ,anak milioner dari seorang pengusaha koruptor yang menikah pada seorang polisi yang menangkap ayahnya yang telah melakukan korupsi uang negara milyaran dollar dan membuatnya mendapatkan hukuman penjara seumur hidup hingga hartanya pun turut habis tak tersisa. Elena yang jatuh miskin,perlahan terpaksa menerima cinta sang polisi yang telah membuat kehidupannya merana.
Nina yang tampak sentimentil menonton film tersebut tampak menitikkan airmatanya. Ia teringat akan kehidupan keras ayahnya. Tak dapat ia bayangkan seandainya ayahnyalah yang berada diposisi sebagai ayah Elena. Hatinya pasti tercabik-cabik. Tidak mungkin pula ia berdiam diri seandainya ia berada diposisi Elena. Ia tengah berkhayal...seandainya ia berada diposisi Elena ia pasti telah membunuh Jack si polisi yang telah menjebloskan ayahnya kedalam penjara seumur hidup dan membuat hidupnya merana tanpa sepeserpun dollar ditangannya.
Ray yang melihat Lucy menitikkan airmata,diam-diam memperhatikannya. Ia baru menyadari ternyata Lucy tidaklah sedingin yang terlihat baru saja dalam penglihatannya. Gadis ini begitu sensitifnya. Ia bahkan dapat menangis hanya karena film yang tak nyata. Jantungnya tiba-tiba saja kembali berdegup cepat. Ia merasa...sepertinya ia betul-betul jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis ini. Cinta yang berbeda...
Ia memang terbiasa berkencan dengan banyak wanita cantik. Tetapi apa yang ia lihat dan rasakan saat ini pada Lucy, bukanlah hal umum yang biasa ia rasakan pada wanita-wanita yang biasa ia kencani.
Lucy kembali mengenakan kacamata hitamnya sebelum lampu menyorot ke semua sudut ruangan dan kembali menerangi ruangan didalam theater. Ia tidak ingin ada seorang pun melihatnya menitikkan airmata. Tapi, sepertinya Lucy tak menyadari sepanjang film berlangsung, seseorang tengah mengamati gadis itu dalam keheningan dan gelapnya ruang teater yang hanya disoroti cahaya yang berasal dari layar besar yang tengah memutarkan film dihadapannya.
__ADS_1
***