Goddess Of Don Pablo

Goddess Of Don Pablo
Bab 6 : Cinta Dalam Diam Untuk Tuan Putri


__ADS_3

Ombak laut saat itu cukup kencang. Angin dingin membuat gaun tidur Nina yang tipis tak mampu menahan dinginnya. Nina tampak mengelus-ngelus kedua lengannya. Carlo sudah menduga hal ini. Angin dingin telah terasa menusuk tulang-tulangnya sejak ia duduk didipan terasnya tadi. Saat sepuntung cerutu telah ia habiskan. Ia melepaskan mantel tebal yang digunakannya itu dan dikenakannya pada Nina. Tanpa berkata Nina menerimanya. Ia hanya tersenyum tipis melihat perlakuan Carlo.


"Kenapa kau tidak tidur malam ini ? Ada sesuatukah yang kau pikirkan ?" tanya Carlo pada gadis itu.


"Aku belum mengantuk...berbaring diatas kasur membuatku gelisah ", jawab Nina singkat.


"Kau boleh cerita padaku jika ada yang ingin kau katakan..." ucap Carlo kembali. Ia telah melihat beberapa hari belakangan, lampu dikamar gadis itu tampak menyala. Tetapi ia tidak ingin bertanya, khawatir itu akan membuat gadis itu merasa terdesak dan diawasi olehnya.


" Carlo, apa yang kau ketahui tentang kematian ibuku ?" tanya Nina padanya tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Maksudmu ?" jawab Carlo menatap gadis itu lekat-lekat. Setelah puluhan tahun lamanya, baru kali ini ia mendengar Nina bertanya kembali perihal kematian ibunya. Ia teringat pada perkataan Don Pablo, majikannya. Nina tidak boleh tahu apapun tentang kematian ibunya atau pekerjaan Don Pablo yang terlalu detail. Ayahnya tak ingin Nina terlibat terlalu jauh dalam lingkungan bisnisnya yang jauh lebih keras dari apa yang diketahui putrinya itu.


"Ya...aku ingin tahu apa penyebab kematian ibuku, Carlo ? Apa yang dikatakan interpol di Italia saat itu ? Kau pasti mengetahui sesuatu mengenai itu,Carlo. Jawablah aku dengan jujur.." tanya gadis itu memburu. Carlo menarik napas dalam-dalam. Sambil mencari kata-kata yang tepat. Ia tahu gadis ini telah tumbuh dewasa dan tidak mungkin dibohongi. Tapi ia pun telah berjanji pada Don Pablo, majikannya itu.


"Nina...kau tahu kematian ibumu..aku tidak dapat memberikan penjelasan yang tepat padamu. Aku hanya mengetahui polisi menemukan kandungan ricin dalam darahnya yang membuatnya tidak dapat diselamatkan saat itu.." ucap Carlo jujur.


"Ia diracun oleh seseorang kan Carlo ? Seseorang ingin membunuh keluargaku ? Itulah kenapa ayahku mempercayakanku padamu? Ia membayarmu untuk menjagakukan Carlo ?" Nina memburu Carlo dengan rentetan pertanyaannya. Ia tahu bisnis yang dijalankan ayahnya. Ia tahu kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki ayahnya itu. Tapi Nina tidak tahu bahwa dunia yang digeluti ayahnya jauh lebih kejam dari apa yang ia bisa bayangkan.


" Sebaiknya kau tidak perlu lagi memikirkan masalah itu Nina. Aku yakin seandainya ibumu masih hidup ia tidak ingin melihat anaknya bersedih karena kepergiannya. Lagipula mengapa kau tiba-tiba bertanya hal itu padaku ?" tanya Carlo kembali. Ia berupaya setenang mungkin dalam pertanyaannya itu. Agar Nina tidak merasa curiga dan diselidiki olehnya.

__ADS_1


" Aku...bermimpi kemarin malam...seseorang tengah menodongkan pistol dikepala ayahku... Seorang lelaki yang wajahnya samar dalam mimpiku..aku takut Carlo...Aku tidak ingin kehilangan ayahku..Ia satu-satunya yang kumiliki saat ini.." jawab Nina meneteskan airmatanya. Nina memang seorang gadis yang tegas diluar tapi tidak saat bersama Carlo. Baginya Carlo bukan hanya seorang pegawai ayahnya. Ia telah hidup bersama-sama Nina sejak ia masih kecil. Carlo sudah seperti kakak baginya. Bagian anggota keluarga Don Pablo.


Carlo menyeka airmata yang menetes dari kedua bola mata gadis itu. Hatinya terenyuh mendengar perkataan Nina. Ia berupaya sebaik mungkin menyembunyikan perasaan cintanya pada gadis itu. Saat itu rasanya ia betul-betul ingin memeluk Nina erat-erat. Tapi ia urungkan. Ia tidak ingin terbawa hanyut perasaannya.


"Kau tidak perlu takut. Kau tahu aku selalu bersamamu...kita selalu bersama bukan ? kau masih memilikiku.." ucap Carlo kembali berupaya menenangkannya. Ia melepaskan cengkeramannya perlahan.


"Sebaiknya kita masuk kembali kedalam rumah. Angin dingin ini tidak baik untuk kesehatanmu. Ayahmu pun akan khawatir jika larut begini kau tidak ada dikamarmu.." ucap Carlo kembali pada gadis itu. Nina hanya mengangguk kecil. Ia tahu Carlo sanggup menenangkannya hanya dengan berada disampingnya. Kata-katanya membuatnya lupa dari mimpi buruknya kemarin malam. Perlahan mereka berjalan kembali menuju kedalam rumah.


Carlo hanya terdiam dalam perjalanan kembali mengantar Nina ke dalam rumah. Memastikannya masuk kedalam kamarnya. Jauh didalam hatinya ada sesuatu yang ia rasakan. Ia merasa cintanya kepada gadis itu semakin besar. Rasanya ia tidak akan pernah melepaskan penjagaannya pada gadis Don Pablo itu. Bukan..bukan karena ia adalah anak majikannya. Tetapi karena rasa cinta yang menguat dalam hatinya.

__ADS_1


***


__ADS_2