Goddess Of Don Pablo

Goddess Of Don Pablo
Bab 34 : Seorang Penyelinap


__ADS_3

Langit perlahan menggelap. Tanda malam telah tiba. Suara kumbang hutan terdengar jelas memecah keheningan malam. Bau khas daun pinus, ek dan berbagai pepohonan disekitar membuat angin dingin yang berhembus dari lubang-lubang ventilasi terasa sejuk.


Mungkin karena di hutan, membuat hawa lembab dari tanah-tanah yang tertutup rimbunnya pepohonan yang tinggi menjadikan angin berhembus cukup dingin. Hingga tanpa membutuhkan AC, hawa sejuk dapat terasa di malam hari.


Samantha membuka sekaleng kacang polong dan jamur. Ia membuat sup krim yang gurih untuk makan malam keluarga. Mereka berempat : Samantha,Simon, Emily dan Fransisca tengah duduk di meja makan yang sangat luas.


"Pa, apa acara besok untuk kita ? Kita akan berenangkah ?" tanya Emily bersemangat.


" Hmm ...kau ingin berenang Frans ?" tanya sang ayah pada putri bungsunya.


"Yah ..aku ikut berenang kalau Emily pun ikut berenang..." jawab Frans mendukung kakaknya. Si ayah hanya tersenyum mendengarnya.


"Baiklah...Besok kalian berenang dan ayah akan ikut memancing...Sepertinya akan enak bukan jika memakan ikan bakar segar untuk makan siang besok ?" ucap ayah pada kedua putrinya dengan nada menggoda.


"Tentu..hmm....yummy..." ucap Emily dan Frans berbarengan yang diikuti tawa ketiganya setelahnya.


"Mama, tentu ikut kami bukan besok ?" tanya Emily kemudian pada ibunya yang hanya mendengar dan tersenyum melihat ketiga hartanya yang berharga tengah bercengkerama. Sang ibu hanya tersenyum menganggukkan kepala.


***

__ADS_1


Pagi itu cuaca cukup cerah untuk memancing. Sebuah pancingan dan ember berukuran sedang siap ditenteng di tangan Simon. Emily membawa sebuah tas kecil berisi handuk dan pakaian gantinya dan Fransiska. Frans seperti biasa membawa Bunchy dalam pelukannya. Samantha tengah siap dengan sebuah tas ransel berukuran sedang membawa beberapa peralatan yang mungkin dibutuhkan nanti. Tak lupa sebuah kamera kecil pun dibawanya.


Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang terbentuk alami.. Mungkin karena telah sering dilalui orang. Pepohonan tinggi dan tanah lembab menimbulkan hawa sejuk meskipun matahari telah terbit sepenuhnya.


Cukup jauh mereka menyusuri untuk sampai di sungai Rheinsen. sekitar 1 jam mereka berjalan akhirnya terdengar suara gemericik air. Terlihat jelas sebuah aliran sungai jernih berbatu. Dasarnya tampak terlihat oleh mata. Sekelilingnya begitu asri dikelilingi hutan Pinus. Simon, sang ayah mencari spot yang bagus menurutnya untuk memancing.


Samantha menggelar tikar yang ia bawa. Emily dan Frans tampak bergembira. Mereka meletakkan tas diatas tikar dan langsung berlari dengan baju kaos dan celana pendek yang mereka kenakan.


"Emily..Frans jangan terlalu jauh bermain ?!" teriak Samantha ketika baru aja ia menggelar tikar mencari area yang datar dan tak berbatu,seketika Emily melemparkan tas gembloknya.


"Siiiappp....Mom..." teriak Emily dan Frans berbarengan. Mereka masing-masing membawa kantong plastik berukuran kecil ditangan mereka. Emily dan Frans gemar mengoleksi kerang atau bebatuan warna-warni yang menurut mereka memiliki rupa yang menarik.


"Em...kantongku sudah nyaris penuh...ayo kita balik...Mom bilang jangan jauh-jauh.."ucap Frans mengingatkan.


"Hum...baik...ayo kita sudahi.." jawab Emily pada adiknya itu.


Mereka berlari kembali menghampiri Samantha, yang tengah duduk diatas tikar. Sebuah rantang sedang telah berisi penuh buah Berry hutan yang tumbuh liar di sekitaran sungai.


Samantha telah memetik dan mencuci dari air sungai dan jernih. Rasa manis dan segar terasa dari buah tersebut. Disekitaran hutan di kawasan ini banyak sekali pohon buah Berry hutan tumbuh. Buahnya dapat dimakan. Seperti tak mengenal musim mereka tumbuh sangat subur dan lebat. Mungkin kondisi tanah dan cahaya yang baik membuatnya tumbuh begitu subur.

__ADS_1


Emily dan Frans pun tengah menikmati buah Berry liar yang dipetik oleh Samantha. Emily yang melihat sang Ayah tengah duduk diatas sebuah batu dengan pancingan ditangan menghampiri. Ayahnya memberikan isyarat telunjuk dibibir untuk menyuruh anaknya diam. Emily pun melangkah begitu pelan seperti orang yang mengendap-endap. Ia melihat dikolam yang jernih seekor ikan berukuran cukup besar memakan umpan ditali pancing sang ayah. Ikan itu perlahan berenang mendekati dan...


"Dapat...!!" sang ayah berteriak girang. Emily yang melihat ikut berloncat-loncat riang. Seekor ikan berwarna gelap dan berukuran cukup besar menggeliat-geliat dikail yang tersangkut dimulutnya. Simon melepaskan dan memasukkan kedalam ember berisi air yang ia bawa tadi.


Mereka tampak senang sekali. Emily melihat ikan besar itu tampak tak dapat bergerak dengan bebas diember yang terlihat sempit untuknya.


Emily menceburkan kakinya kedalam air sungai setinggi perutnya. Ia berenang didekat ayahnya itu. Disekitar situ ia dapat melihat beberapa ekor ikan kecil tampak berenang dibawah kakinya. Emily berupaya mengerok dengan kedua tangan kecilnya. Tapi sudah tentu ikan-ikan itu sudah jauh terbiasa berenang dengan gesit di sungai Rheinsen yang jernih. Hingga mereka dapat meloloskan diri dari kejaran Emily. Simon, sang ayah, hanya tertawa melihat tingkah anaknya itu.


"Em...kau harus menggunakan serokan jaring untuk menangkapnya...Mereka jauh lebih pintar berenang daripada dirimu ..." ucap sang Ayah pada putri sulungnya yang tampak basah kuyup itu. Frans yang melihat dari kejauhan, karena melihat Em berenang, ia pun berlari telanjang kaki menghampiri sang ayah. Badannya yang lebih pendek beberapa senti dari Em, membuat air sungai itu tampak lebih tinggi dari Emily. Untunglah sungai Rheinsen adalah sungai yang tenang seperti sebuah danau tanpa riak. Simon sang ayah pun tak luput memantau kedua putrinya itu. Yang sekarang telah kuyup oleh air sungai. Mereka tampak riang sambil tertawa bermain air.


***


Nun jauh di Villa Monsieur sana, seorang lelaki bertubuh kurus bertopi kupluk tengah sibuk mengotak-ngatik mobil yang dikendarai Simon. Ia telah mengetahui kedatangan keluarga ini kesini. Bahkan ini adalah bagian dari rencananya. Ia telah memancing keluarga ini untuk pergi berlibur ke villa ini.


Lelaki kurus ini tengah mengotak-atik master dan kampas rem pada mobil ini. Ia memang buka ahli mekanik, tetapi lelaki ini pernah bekerja disebuah bengkel. Ia mengerti seluk beluk kerja sebuah kendaraan bermotor dari berbagai tipe.


Beres!! ucap lelaki itu tersenyum puas. Tangannya tampak kotor.Ia mengelap keringat disekitar dahinya. Ia memiliki waktu yang lebih dari cukup untuk melakukan semua pekerjaannya. Ia tahu kemana keluarga ini akan pergi. Ia telah memasang beberapa kamera pengintai kecil di Villa mewah sebelum kedatangan keluarga Simon. Bagaimana lelaki ini bisa masuk kedalamnya ? Tentu saja sangat mudah. Ia telah mengatur semuanya. Ia tahu Manuella adalah pelayan yang menjaga dan mengurus villa ini. Mudah baginya untuk memperdaya seorang Manuella hingga ia dapat masuk dan memasang kamera pengintai dibeberapa titik atau area. salah satunya disudut dapur. Ia mendapatkan sebuah spot tersembunyi didinding dekat lampu templok. Dari situ, ia dapat melihat keseluruh penjuru dapur dan dapat mendengar pembicaraan yang mereka lakukan dimeja makan.


***

__ADS_1


__ADS_2