
"Halo ?" ucap si lelaki yang telah mengirimkan surat kepada Maria.
"Daddy..." jawab Maria menggantung. Sang ayah spontan terkejut mendengar suara seorang wanita memanggilnya Daddy.
"Maria ? Kaukah itu,Nak ?" ucap lelaki itu.
"Ya..Daddy ...Apa kabarmu, Dad ?A-aaku...telah lama merindukanmu..."
"Maafkan aku Maria..Aku pun merasakan hal yang sama..Hmm...kau sudah membaca surat yang kukirimkan padamu ?" tanya lelaki itu kembali.
"Ya.." jawabnya singkat.
"Maukah kau memaafkanku Nak ? Memaafkan semua kesalahanku dan kita memulai kembali semuanya dari awal ?" tanya lelaki diseberang sana. Tak terasa ia menitikkan airmata. Rasa haru membuncah dari dalam dada lelaki itu. Baru kali ini ia merasakan betapa ia telah lupa kodratnya sebagai seorang ayah bagi gadis diseberang sana.
"Yah...Daddy...aku tahu...aku ingin kita memulai segalanya dari awal...layaknya anak... dengan... ayah kandungnya sendiri..." ucap Maria terbata-bata. Ia mencoba menahan sesenggukan akibat airmata yang mengalir deras dikedua pipinya saat ini. Maria seorang gadis yang kuat. Tapi, baru kali ini ia menangis sesenggukan tanpa merasa malu untuk menahannya.
"Aku ingin bertemu denganmu,Nak...kau bisa ?" tanya lelaki itu kembali.
"Tentu..aku bisa.."
"Kalau begitu Minggu depan, aku akan mengirim seorang supir untuk menjemputmu di apartemen tempat tinggalmu..."
__ADS_1
"Baiklah..aku tidak ada janji pada jam 9 pagi.." ucap Maria.
"Baiklah...jam 9 seorang supir akan menjemputmu di apartemenmu Minggu pagi...Aku mencintaimu,Mary.." ucap lelaki itu.
"Aku juga mencintaimu,Daddy..." jawab Maria singkat sambil menutup teleponnya.
***
Minggu pagi...
Maria telah bersiap-siap sejak pagi. Ia mengenakan celana jeans berwarna biru dongker dengan kaos lengan pendek berkerah sabrina warna merah dan sepatu boots beludru coklat semata kaki. Rambutnya di-blow ikal natural dengan jepit kecil berwarna emas dikedua sisinya. Ia sapukan sunblock dan make up tipis di wajahnya, hingga freckles yang ada disekitaran hidungnya masih tampak jelas jika dilihat secara dekat. Tetapi justru membuat wanita ini tampak cantik natural. Ia mengenakan tas tenteng kecil berwarna emas dengan tali rantai berwarna senada. Penampilannya terlihat stylish dan anggun tanpa menghilangkan karakter tomboi yang ia miliki.
Maria telah berdiri didepan apartemennya. Ketika sebuah mobil Limousine hitam berhenti tepat didepannya. Seorang lelaki berjas hitam keluar dari ruang kemudi dan membukakan pintu mobil belakang. Maria tampak terkejut.
"Ss...saya ?" tanya Maria sambil menunjuk dirinya dan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada orang lain disekitarnya saat itu.
Si pria berjas hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawabannya.
Maria pun masuk ke dalam mobil Limousine tersebut. Pria itu pun kembali ke ruang kemudi dan mengendarai mobil itu menuju ke sebuah tempat yang menjadi titik tujuan mereka.
Didalam mobil Maria tampak terkesima. Ini pertama kalinya dalam hidupnya ia menaiki mobil mewah. Ia hanyalah seorang pegawai IT di kepolisian. Mobil yang pernah ia kendarai hanyalah mobil-mobil berjenis sedan biasa yang dijadikan mobil patroli.
__ADS_1
Tampak bagian dalam mobil sangat luas untuk ukuran sedan. Disisi kursinya terdapat banyak tombol. dihadapannya terdapat sebuah penghalang antara bagian kemudi dan penumpang yang bisa dibuka tutup. Didepannya terdapat sebuah kotak mini.
"Nona, jika kau haus atau ingin Snack kau bisa tekan tombol kecil disisi kotak dihadapanmu.." ucap si pria tadi yang sekarang menjadi supirnya itu. Seolah ia tahu apa yang ada dipikiran wanita itu. Maria pun menekan tombol kecil disisi kotak itu. Sekejap kotak itu pun terbuka. Ternyata itu sebuah refrigerator atau kulkas mini. Disisi pintunya terdapat minuman kaleng. dibagian dalam terdapat bungkusan snack seperti potato chips.
"Kau mau ?" tanya Maria menawarkan sekaleng Coke kepada si supir.
"Tidak Nona...terima kasih" jawab si supir ramah.
Maria pun mengambil sekaleng diet Coke dan sebungkus potato chips untuk dirinya sendiri.
"Mobil ini mewah sekali. Apakah ini milik ayahku ?" ucap Maria membatin pada dirinya sendiri. Si supir yang melihat dari kaca spion tampak tersenyum melihat gadis itu tampak terperangah dengan kemewahan Limousine yang dikendarainya.
"Hmm...kalau ku boleh tahu siapa namamu ? Apa kau kenal ayahku ?" tanya Maria polos sambil mengunyah potato chips di mulutnya.
" Namaku Marlon, Nona. Tentu aku mengenal ayahmu...Aku bekerja padanya sebagai supir pribadinya..." jawab pria itu tersenyum ramah lewat spion. Maria yang melihat lelaki itu membalas kembali dengan senyumannya. Ia hanya manggut-manggut mendengar jawaban Marlon padanya.
"Mungkinkah ayahku bisa semewah ini ?",pikir gadis itu kembali. Maria ingat, masa kecilnya dahulu ia hanya tinggal di sebuah flat sederhana di kawasan kumuh dengan seorang pengasuh yang sudah berusia. Ayahnya memang seorang pekerja keras. Hampir-hampir ia tak pernah bertemu dengannya dahulu. Setiap kali ayahnya pulang, Maria pasti sudah tertidur. Dan ketika ,keesokan paginya ia terbangun, ayahnya sudah tak ada. Ia bahkan tak tahu ayahnya bekerja dimana dan memiliki posisi apa. Ia hanya tahu ayahnya adalah seorang lelaki yang bertanggung jawab yang telah membiayai semua kebutuhannya selama ini.
Maria telah menghabiskan keripik kentang dan sekaleng diet Coke ditangannya. Hingga tak lama setelahnya mobil Limousine tersebut berhenti disebuah hotel mewah berbintang lima. Kini Maria semakin terperangah dengan segala fasilitas kemewahan yang diberikan ayahnya itu.
Mungkinkah...? Maria membisu tak berkata tapi hatinya penuh tanya.
__ADS_1
***