
Carlo tengah menata sebuah meja makan minimalis berbentuk persegi dirumahnya. Beberapa lilin yang menyala dan mengeluarkan aroma lavender yang lembut ikut tertata diatas meja.
Ia kembali ke dapur dan menyiapkan dinner untuk malam ini. Steak daging sapi import terbaik yang bisa ia dapatkan dari fresh market di Bellarose yang ia beli dan racik sendiri. Carlo membumbui dengan resep rahasia yang ia dapatkan dari kepala koki keluarga Nina. Dahulu ketika masih berusia remaja, Carlo muda pernah membantu koki keluarga majikannya.Ia kerap turut membantu didapur. Hingga ia menguasai sebuah resep khusus sang koki. Steak empuk dengan bumbu rempah yang meresap hingga ke dalam dagingnya. Rasa pedas khas rempah dengan daging empuk dan sedikit asin gurih dari taburan parmesan diatasnya dan dibakar dengan suhu tertentu merupakan perpaduan rasa unik yang mampu menggoda setiap yang melihat. Aroma khas gurih dan daging sapi empuk nan juicy merupakan sebuah steak yang sempurna untuk dihidangkannya dimalam khususnya dengan Nina.
Bagi Carlo malam ini adalah pertama kalinya sebagai seorang lelaki dewasa, ia mengajak seorang wanita kerumahnya untuk makan malam. Nina adalah satu-satunya wanita spesial tersebut. Carlo sendiri memandangnya sebagai kencan pertamanya dengan gadis ini. Meskipun Carlo mengerti posisinya dengan anak majikannya itu. Tapi baginya,ia telah mendapatkan restu dari sang Don untuk mengencani anak perempuan satu-satunya itu. Carlo bukanlah lelaki yang haus harta dan kekuasaan untuk memiliki kekayaan yang dimiliki majikannya itu. Ia sendiri merasa sudah cukup dengan posisinya dikeluarga majikannya itu. Sebagai tangan kanan Don Pablo ia pun mendapatkan upah yang tidak kecil. Baginya lebih dari cukup untuk membiayai dirinya sendiri atau hanya untuk membangun sebuah rumah tangga sederhana dengan seorang wanita. Tetapi, Cupid tidak pandang bulu melepaskan anak panah cintanya pada Carlo dan Nina. Hingga Carlo sebagai lelaki dewasa ingin mendapatkan wanita itu dengan caranya sendiri. Ia ingin menjadi seorang lelaki sejati bagi Nina. Mendapatkan wanita itu bukan dengan paksaan. Tetapi dengan harga diri,kehormatan, dan eleganitas seorang lelaki sejati. Ia ingin Nina membalas cintanya atas keinginannya sendiri hingga tidak menjadikan cintanya bertepuk sebelah tangan.
Sambil menata dan menghias piring saji yang telah terhidang daging steak sapi yang mengeluarkan aroma luar biasa menggugah selera. Carlo menyiapkan sebuah bucket stainless berisi es batu dan sebotol white wine berlabel "Chateau La Androa Classy R" . White wine lokal terbaik nomor 1 dikelasnya. Akalnya tengah menimbang-nimbang membayangkan apa yang akan ia bicarakan selama dinner dengan gadis itu. Carlo bukan lelaki yang pintar berbasa-basi dengan seorang wanita. Pekerjaannya menuntutnya untuk selalu serius, jeli, awas terhadap bahaya yang mungkin menghadang dan strategy maker saat dibutuhkan untuk mengambil keputusan penting saat ia harus menggantikan posisi Don Pablo dengan para anak buahnya.
Carlo bukan pria yang bodoh dalam memilih dan menilai seorang wanita,tetapi ia terlalu kaku untuk menghadapi mereka.Carlo tengah menimbang dengan hatinya...haruskah ia mengungkapkan perasaannya pada Nina to the point ? Tetapi Carlo khawatir jika gadis itu menolaknya, maka hubungannya kelak pasti akan sangat rumit. Bukankah ia ditugaskan menjaga dan mengawasi anak majikannya itu ? Mereka pun tinggal berdampingan. 24 jam waktu Carlo untuk gadis itu. Ia tak dapat membayangkan jika hubungannya rusak dengan Nina. Tengah ia mengkhayalkan angan-angannya, suara pintu diketuk dari luar terdengar jelas.
Carlo segera bergegas menuju ke arah pintu. Merapihkan pakaiannya. Ia memakai setelan kemeja branded berkerah yang dimasukkan rapi kedalam celana jeans classic merek Armani berwarna hitam. Sebuah sabuk pinggang kulit ular asli tampak menghiasi pinggangnya yang ramping dan berotot. Membuat tampilan lelaki itu terlihat casual elegan. Ia berdeham sekali sebelum akhirnya membukakan pintu dihadapannya.
Nina tampak sangat anggun. Sebuah dress terusan selutut berwarna coklat transparan menyerupai warna kulit. Sebuah pita emas yang melingkar dibagian bawah dadanya memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping berisi. Sebuah sepatu sandal bertali dengan tinggi sekitar 7 cm membuat gadis itu semakin tampak semampai. Rambutnya yang panjang dicatok ikal natural dibiarkan terurai dengan sebuah jepit kecil disisi kiri dan kanan berwarna emas. Sapuan make up yang tipis membuat gadis itu terlihat sempurna. Tidak banyak pernak-pernik tapi mampu membuatnya terlihat anggun dan sempurna. Seolah Nina yang biasa terlihat keras kepala Dimata Carlo berubah 180 derajat.
Carlo sampai terpukau melihat penampilan gadis itu. Lelaki itu terbiasa melihat Nina sehari-hari dengan pakaian rumahnya atau dengan penampilan ekstrem make up tebal saat ia keluar dari rumahnya. Tapi kali ini, Carlo seperti melihat seorang bidadari wanita yang menjelma dihadapannya.
"Kau tampak cantik malam ini...Silahkan masuk", ucap Carlo pada gadis dihadapannya . Nina tersenyum tersipu berjalan masuk. Matanya berkelana ke sekeliling rumah.
"Rumahmu tampak nyaman Carlo...kau kah yang mendesain semuanya ?" tanya Nina padanya.
"Hmm...ya...aku yang mendekornya sendiri. Kau menyukainya ?" jawab Carlo pada gadis itu sambil menarik sebuah kursi dimeja makan yang telah tertata rapi. Aroma bunga tercium menutupi seluruh ruangan. Carlo tengah menghiasi setiap sudut meja dengan vas berisi mawar merah segar didalamnya. Ditambah aroma lavender yang tercium dari lilin yang menyala diatas meja. Semerbak aroma wewangian bunga menyerbak ke seluruh ruangan. Bau manis nan lembut.
__ADS_1
Carlo keluar dari dapur membawa nampan berisi steak yang telah ia siapkan. Aroma daging asap gurih seketika melintas di hidung Nina.
"Hmm...baunya telah cukup membuat rasa laparku datang,Carlo..."ucap gadis itu memuji pria yang tengah meletakkan piring berisi steak dihadapannya. Tak lupa ia membuka sebotol white wine dingin,yang dituang ke gelas gadis itu.
Tak lama Carlo kembali duduk di mejanya sendiri,berhadapan dengan Nina.
"Ini untuk malam pertama kau berkunjung kerumahku.." ucap Carlo mengangkat gelas winenya ke arah Nina.
" Dan untuk pertama kalinya kau mengajakku kencan denganmu,Carlo.." sahut Nina membalas ucapan Carlo dengan mengadukan gelasnya dengan gelas wine milik Carlo. Sebuah tanda bersulang. Carlo sedikit terkejut dengan ucapan gadis dihadapannya itu. Terkejut yang bercampur senang didalam hatinya. Tanda gadis itu mengerti undangan makan malam yang diberikan dirinya untuk Nina.
Nina menenggak white wine dalam sekali tenggak. Rasa dan aroma khas wine terasa di lidahnya.
"Hmm...kau lelaki yang memiliki selera yang baik untuk menjamu seorang gadis,Carlo.." ucap Nina kembali padanya.
Nina tersipu memerah mendengar ucapan Carlo. Ia menundukkan wajahnya sambil memotong steak dihadapannya. Menutupi rona wajahnya yang berubah karena ucapan lelaki tersebut.
"Hmm..steakmu lezat sekali, Carlo...pantas papa sangat percaya padamu...Kau bisa menjadi tangan kanannya..bahkan kurasa jika ia mencicipi masakanmu, ia pun akan menjadikanmu koki pribadinya.." ucap Nina kembali memuji pria dihadapannya. Carlo hanya tersenyum mendengar ucapan gadis itu.
Hmm..Carlo..setahuku kau bukan lelaki yang bisa bersikap seromantis ini pada seorang wanita...aku terbiasa melihat wajah dinginmu padaku...Apakah ada sesuatu hingga kau mengundangku makan malam di rumahmu ? Nina tiba-tiba memulai pembicaraan. Gadis itu memang cukup terbuka pada Carlo. Karena ia satu-satunya lelaki selain ayah kandungnya sendiri yang selalu bersama sejak kecil bersamanya. Nina terbiasa bicara tanpa tedeng aling terhadap pria dihadapannya saat ini.
Carlo yang tengah mengunyah daging steak di mulutnya cukup kaget dengan pertanyaan gadis itu yang spontan padanya. Tapi ia telah mempersiapkan segalanya dengan sangat matang.
__ADS_1
"Hmm..kalau begitu..selamat kau satu-satunya wanita yang melihat sisi lain dari sikap dinginku padamu, Tuan Putri...lagipula jika aku terus-terusan bersikap lembut padamu setiap hari seperti ini...pastinya Tuan Pablo tidak akan menjadikanku seorang penjaga yang bertugas mengawasimu 24 jam..Jadi, sebaiknya, Tuan Putri jangan lengah dan mengira dengan keromantisanku malam ini, suatu hari kau berniat merayuku untuk melanggar perintah yang diberikan tuan Pablo padaku untukmu..." jawab Carlo tenang sambil menatap dan mengerlingkan sebelah matanya pada gadis itu. Nina spontan tertawa mendengar jawaban Carlo padanya.
"Oo...Carloku...ternyata kau sangat memahami diriku...pantaslah Papa tidak pernah menggantikan posisimu itu..." balas Nina pada lelaki itu. Nina gadis yang pintar.Carlo tahu, Nina sebenarnya telah menduga perasaan lelaki itu padanya. Tapi gadis itu sangat paham dengan posisinya. Carlo tersenyum mendengar perkataan Nina padanya.
"Carlo...aku belum pernah melihatmu meminta cuti pada Papa selama kau bekerja. Tidakkah kau berniat untuk berliburan ? Atau sekedar rehat sesaat dari pekerjaanmu ?" tanya Nina mengalihkan pembicaraannya pada pria itu.
" Aku tidak punya sesuatu yang spesial sebagai alasan untuk aku mengambil cuti,Nina. Aku tidak memiliki sanak famili untuk ku kunjungi. Lagipula bekerja adalah suatu hal yang menyenangkan bagiku dan aku sangat menyukai pekerjaanku..jadi tak ada alasan bagiku mengambil cuti..Kenapa kau tiba-tiba bertanya masalah ini ? " jawab Carlo sambil menyuap suapan terakhir daging steak nya.
"Tidak ..aku heran melihatmu...kau tampak lelaki pekerja keras..aku hanya ingin tahu saja..apakah kau tidak memiliki suatu impian untuk pergi ke suatu tempat sekedar berlibur,atau impian-impian lainnya selain menjadi seorang pria dingin yang tak henti berkerja disamping ayahku bertahun-tahun ?"
"Hmm...aku seorang pria..sebenarnya sama seperti pria lainnya Nina..Aku pun punya impian sebagai seorang lelaki..tapi aku bukanlah lelaki yang gemar pergi ke suatu tempat tanpa tujuan..Aku beruntung dengan hidupku. Kau lihat aku memiliki rumah dengan pemandangan yang indah serta pekerjaan yang menyenangkan. Bagiku ini sudah seperti liburan..Dan aku tidak perlu berkelana tak jelas tanpa tujuan hanya untuk sekedar mencari hiburan.." jawab Carlo santai menatap gadis itu. Ia menuangkan kembali sebotol white wine ke dalam gelasnya dan menenggaknya dengan santun. Nina membalas tatapan mata Carlo. Kali ini ia berani menatap lelaki ini tanpa berkedip. Ia tersenyum. Nina mengerti kenapa Ayahnya sangat mempercayai pria itu untuk menjaganya 24 jam. Carlo seorang lelaki yang memiliki kematangan dalam berpikir dan bertindak.
"Lantas apa impianmu sebagai lelaki, Carlo ?" tanya gadis itu masih menatap Carlo yang ada dihadapannya.
"Kau sungguh-sungguh ingin tahu ?" balas lelaki ini sambil ia memajukan posisi duduknya dan menyingkirkan piring kosong dihadapannya.Wajah Carlo tampak begitu dekat dengan wajah Nina. Ia menelungkup kan tangannya menopang dagunya dan memajukan wajahnya hingga terlihat semakin dekat dengan gadis itu. Kali ini hanya berjarak sejengkal dari wajah Nina. Nina dapat merasakan hembusan napas Carlo dihadapannya. Jantungnya sebenarnya berdegup kencang saat itu. Tetapi Nina penasaran dengan pria itu. Ia mengangguk kecil menatap Carlo. Carlo pun memundurkan sedikit posisinya setelah menatap gadis itu beberapa menit.
" Aku hanya pria biasa Nina...maksudku impianku sama seperti pria lainnya...memiliki karir yang mapan...dan kelak memiliki seorang wanita di sampingku untuk membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia.." ucap Carlo datar menatap gadis itu.
"Apa saat ini kau belum memiliki karir yang mapan untuk mewujudkan semua impianmu itu, Carlo ?" tanya Nina kembali.
Carlo tersenyum. Ia mengerti akan kearah mana pembicaraan Nina tersebut. Tapi, ia tidak ingin kehilangan kesempatan pada gadis itu.
__ADS_1
"Hmm ..untukku sendiri, aku memandang diriku sudah cukup mapan saat ini, Nina. Tapi aku tidak tahu kelak bagi seorang wanita yang menjadi pendampingku nanti..Aku tidak mungkin memaksakan impian yang kumiliki pada seorang wanita yang kucintai kecuali Dia adalah aku. Bukankah arti kebahagiaan bagi setiap orang belum tentu sama. Seperti pertanyaanmu tadi padaku. Bagiku dengan keadaanku sekarang aku tidak membutuhkan liburan ke suatu tempat tanpa tujuan karena untukku apa yang aku miliki sudah menjadi kesenangan bagiku yang mungkin orang lain tidak memandangnya seperti itu,Nina.. Kau paham kan maksudku ?" ucap Carlo tenang pada gadis dihadapannya itu. Kali ini Carlo menatap dalam ke mata Nina. Entah mengapa seperti ada desiran didalam dada gadis itu. Kali ini Nina mengerti. Pantaslah ayahnya sangat percaya pada pria itu dan kali ini Nina pun merasakan hal yang sama pada pria dihadapannya. Mungkinkah kini ia benar-benar telah jatuh cinta pada Carlo ? Hatinya seperti telah menemukan pelabuhan yang tepat untuknya bersandar. Tanpa Nina sadari, panah Cupid telah menancap di dada gadis itu dimalam pertamanya berkencan dengan Carlo.