Goddess Of Don Pablo

Goddess Of Don Pablo
Bab 18 : Mencari Bukti Kematian Jessie


__ADS_3

Ray tengah berada dimeja kantornya dengan setumpuk berkas berisi seluruh laporan kepolisian atas kematian Jessie. Ia membaca dengan detail setiap tulisan tangan yang tertulis didalamnya. Richard, atasannya benar. Semua hasil forensik dan laporan dari kepolisian tidak ada hal yang aneh. Kematian Jessie dinyatakan sebagai serangan jantung yang mendadak. Ia pun melihat detail laporan kepolisian saat olah TKP. tidak ada satupun laporan dari saksi atau bukti CCTV yang menunjukkan kejanggalan atas kematian rekannya itu. Disitu tertulis laporan dari seorang saksi yang merupakan pengunjung restoran tempat Jessie berada saat itu. Saksi itu melihat Jessie tengah datang sendirian dan makan sendirian disana. Hingga sekitar 30 menit lebih setelah ia memakan makanannya ia tampak lemas dan kesakitan hingga tiba-tiba terjatuh. Tak ada bukti CCTV ataupun keterangan dari para saksi saat itu yang menyatakan Jessie tengah berada bersama seseorang saat kejadian. Ray berpikir keras dengan setumpuk kertas dan data yang ia miliki. Tetapi nihil. Ia tidak menemukan sebuah benang merah yang mencurigakan, yang dapat membuktikan kematian Jessie adalah sebuah pembunuhan. Tetapi instingnya sebagai seorang polisi merasakan ada sesuatu yang janggal atas kematian rekannya itu. Berulang kali ia membaca satu persatu lembaran kertas laporan kematian rekannya itu. Sial! aku tidak bisa menemukan apapun dari sini! batinnya mulai kesal. Ia melihat sebuah nama tertulis dibawah hasil lab forensik. dr.Breyman. Sebuah tanda tangan dan nama tercantum pada bagian bawah surat hasil forensik tersebut. Nama seorang dokter yang mengotopsi tubuh Jessie saat itu. Ray pun akhirnya memutuskan ia harus bertemu langsung dan menanyakan pada dokter tersebut. Tangannya mulai bermain pada keyboard komputer dihadapannya.Ia mengetik nama dalam search engine di PCnya. Hingga muncul sebuah data pribadi dokter yang ia cari. Disitu tertera alamat maupun nomor kontaknya. Ia mencatat pada secarik kertas kecil dimejanya. Dimasukkan catatan itu kedalam saku bajunya. Ia melihat arlojinya. Jam masih menunjukkan pukul 09.30 pagi. Kesibukan yang sedikit lenggang saat itu. beberapa rekannya tengah sibuk berkutat dengan komputer mereka masing-masing. Beberapa tengah berbincang santai sambil menyeruput kopi ditangan mereka. Ia berjalan keluar dari ruangannya. Menyusuri sebuah ruangan kaca, ruangan atasannya, Richard. Tetapi ia tak melihat lelaki itu berada di ruangannya saat itu. Ray pun memutuskan keluar pagi itu. Ia berniat menemui dokter Breyman langsung ditempat kerjanya. Ray pun bergegas keluar dan menuju tempat parkiran. Hari itu ia membawa mobil pribadinya. Sebuah sedan berwarna hitam. Ia masuk ke dalamnya. Mesin mobil berderu terdengar saat ia memutar kunci. Ray pun melaju keluar dari gedung kantornya.


***


Ray tengah berada disebuah ruangan bernuansa putih bersih. Didinding ruangan terpampang beberapa piagam maupun sertifikat penghargaan yang menunjukkan kredibilitas orang yang memiliki ruangan itu. Tak lama berselang seorang pria paruh baya yang hampir diseluruh bagian kepalanya nyaris dipenuhi uban. Tetapi perawakan fisiknya masih tampak bugar dan gagah. Dokter Breyman,sosok yang nyaris mendekati prediksi Ray kala itu. Ini kali pertama ia bertemu dengannya. Dokter itu menjabat tangan Ray.


"Maaf,membuat anda menunggu lama. Saya baru saja menangani sebuah operasi kecil tadi. Ada keperluan apa,officer ?" ucap sang dokter melihat seragam Ray.


"Saya Ray. Hmm...sebelumnya jika anda tidak keberatan, saya ingin berbincang sedikit mengenai hasil forensik anda atas kematian seorang kawan saya yang bernama Jessie. Anda masih ingat ?" ucap Ray membuka percakapan dengan sopan.


"Hmm...maaf, Officer, bisakah anda membantu saya merefresh ingatan saya...maklumlah saya banyak sekali menangani pasien belakangan ini.." jawab sang dokter tampak dahinya sedikit mengernyit berusaha mengingat-ingat nama yang disebut Ray.

__ADS_1


"Oh...Jessie ..Jessie polisi yang dinyatakan meninggal karena serangan jantung saat berada disebuah restoran Cina. Anda ingat dokter ? Bukankah Anda yang mengeluarkan hasil forensik kematiannya ?" jawab Ray lugas.


"oh..iya ..saya ingat sekarang. Malangnya pria itu.. Seandainya ia tidak makan disana..." ucap dokter Breyman pada Ray.


" Hmm...dokter tidak adakah sesuatu yang janggal dari hasil forensik anda pada tubuhnya ?" tanya Ray singkat.


"Hmm...saya sudah menuliskan kematiannya. Aritmia,atau serangan jantung mendadak karena ritme jantung yang tidak beraturan adalah penyebabnya."ucap sang dokter singkat.


"Ya...saya sudah membaca seluruh hasil laporan anda dikertas. Tetapi,bisakah anda membantu saya dokter ? Maksud saya ...kawan saya tidak memiliki riwayat penyakit jantung ataupun sedang mengkonsumsi obat tertentu yang dapat memicu serangan jantung mendadak. Lantas bagaimana mungkin saat itu ia dapat dinyatakan meninggal karena serangan jantung ?" tanya Ray dengan nada selidik. Jiwa seorang investigatornya tidak dapat ia tutupi. Nuraninya yakin ada yang janggal dengan kematian rekannya itu.


"Maksud anda,Dok ? sepengetahuan saya, rekan saya tidak mengkonsumsi obat-obatan tertentu.." jawab Ray kembali kurang puas mendengar jawaban si dokter.

__ADS_1


"Hmm...berarti kematian rekan anda mungkin disebabkan makanan yang ia konsumsi saat itu. Jika saya tidak salah ingat saya menemukan pada hasil darahnya sejumlah zat tetrodotoxin dalam jumlah yang cukup untuk mematikannya..maksud saya kematian rekan anda adalah sesuatu yang wajar...karena zat tersebut dapat ditemukan pada jenis gurita tertentu dan ikan puffer...jenis makanan laut yang hanya dihidangkan direstoran tertentu yang memang seharusnya memiliki lisensi untuk itu. Karena hewan itu termasuk hewan yang berbahaya untuk dikonsumsi umum dan tidak bisa sembarangan diolah...",jawab dokter Breyman menjelaskan lebih detail hasil forensiknya.


"Jadi maksud anda, serangan jantung rekan saya disebabkan karena makanan yang ia makan adalah makanan beracun ?" tanya Ray kembali tanpa tedeng aling.


"Hmm...sopannya rekan anda saat itu mungkin salah memesan menu yang mewah direstoran itu...hingga ia tidak berfikir mungkin mereka tidak dapat mengolahnya dengan baik dan professional...yang membuatnya harus kehilangan nyawanya.." jawab sang dokter dengan tenang seperti memahami pikiran Ray yang tengah bergulat mendengar penjelasan.


"Menurut anda pribadi dokter Breyman, mungkinkah itu sebuah faktor kesengajaan yang dapat dibuat seseorang pada rekan kerja saya ?" tanya Ray hati-hati.


"Untuk hal ini, maaf Officer...saya tidak bisa menjawab secara gamblang begitu saja..maksud saya..setahu saya untuk mengolah jenis makanan tertentu terutama yang mengandung zat yang membahayakan bukanlah hal mudah...bahkan seorang professional yang ahli pun bisa saja melakukan kesalahan saat itu...dan rekan anda mungkin pada saat bersamaan berada pada kondisi seperti itu.." ucap dokter Breyman menenangkan.Dokter tersebut seperti mengetahui kecurigaan polisi yang berada dihadapannya saat itu. Ia memang sudah terbiasa menjadi seorang dokter ahli forensik yang dimintai bantuan atas kemampuannya oleh pihak kepolisian. Sehingga ia terbiasa memberikan jawaban dan hasil analisanya dengan kemampuan forensiknya itu tanpa berimbang dan menyudutkan satu pihak tertentu. Ray terduduk sesaat dihadapan dokter Breyman. Otaknya tengah merekam dan mengolah setiap kata yang diucapkan dokter itu. Otaknya mulai mencerna satu persatu data yang ia miliki dipikirannya. Ia pun berdiri dari duduknya. Ia mengerti kemana kelak ia harus mencari. Ia yakin, ia dapat memecahkan misteri kematian Jessie. Ia tersenyum sambil menjabat tangan dokter dihadapannya itu.


"Terima kasih,Dokter Breyman. Jika anda tidak keberatan, saya akan menghubungi anda kembali jika ada yang perlu saya tanyakan dengan anda.." ucap Ray pada lelaki dihadapannya itu.

__ADS_1


" Tentu saja,Officer Ray...pintu saya selalu terbuka untuk itu..atau mungkin jika anda ingin berobat sebagai pasien pun saya sama sekali tidak berkeberatan pula untuk itu .." ucapnya sedikit melempar gurauan pada Ray. Barisan gigi putihnya terlihat saat ia tersenyum lebar. Wajah dokter Breyman tampak seperti orang tua yang berwibawa yang baik dan friendly terhadap tamunya. Ray hanya membalas gurauan dokter itu dengan tertawa kecil. Ia pun keluar dari ruangan berjalan menuju parkiran. Ia tahu harus menuju kemana setelah ini...Ray semakin yakin kecurigaannya akan membuahkan hasil seperti yang ia harapkan.


***


__ADS_2