
"Kau tampak cantik malam ini ..maafkan aku..pekerjaanku telah menyibukkanku hingga melupakanmu,sayang..."
"Masalah bayi kita...aku bukan pria bajingan seperti lelaki diluaran sana,Chantel sayang...aku akan menikahimu... sabarlah sedikit saja...aku...sedang ada masalah dalam pekerjaanku...", ucap Ferguso pada Chantel sambil memegang dagu wanita itu. Chantel tampil sedikit lebih anggun dari biasanya. Ia mengenakan dress ketat berwarna merah selutut dengan belahan dada yang cukup terbuka.Yang berbeda dari wanita ini, ia tampil sedikit lebih natural pada riasannya. Biasanya ia menyukai warna merah nyala ataupun maroon untuk riasan bibirnya. Tapi kali ini ia memilih warna nude pink yang jauh lebih soft.
"Kau tidak melupakan masalah kita kan Ferguso ? Aku ...aku khawatir Fernando, abangku akan mengetahui masalah bayi kita...",ucap Chantel dengan wajah merengek. Meskipun tampak manja dengan rengekannya itu, Chantel masih terlihat sexy dengan wajahnya. Sebenarnya bukan hanya Fernando yang ia takutkan. Tetapi Chantel sudah muak menjadi wanita simpanan Juan. Jika bukan karena lelaki tua kaya itu adalah rekan kerja abangnya, ia tak akan menjual dirinya pada pria tua sialan itu! Juan memang memanjakannya dengan fasilitas mewah miliknya. Tetapi, Chantel tidak memiliki cinta dengan lelaki itu. Baginya Juan hanya pria simpanan yang telah membiayai hidupnya.
" Ya..sayang...aku janji aku akan melamarmu...aku akan menemui abangmu, Fernando...aku akan menikahimu dan membawamu tinggal bersamaku...", ucap Ferguso sambil kemudian mengecup bibir wanita itu.Dasar si Fernando keparat sialan! Jika bukan calon kakak iparku, aku sudah menendangmu dari dunia ini!,umpat Ferguso dalam hatinya. Ia kemudian memeluk Chantel dengan erat. Ia sangat mencintai gadis itu. Sungguh sentimentil picisan baginya. Tapi, hanya Chantel lah satu-satunya wanita yang pernah ia tiduri. Walaupun saat itu ia tengah dalam keadaan mabuk. Tapi, ia mencintai wanita itu. Chantel menarik dirinya dari pelukan lelaki itu.
"Kau janji,Ferguso sayang ? Aku tidak ingin perut buncit ku akan semakin terlihat jelas...kau harus menikahiku segera...",ucap Chantel tampak memelas. Ferguso hanya mengangguk sambil membelai pipi wanita itu dengan tangannya.
"Aku janji..aku akan segera menikahimu..",jawab lelaki itu singkat.
"Sekarang habiskanlah,makananmu..lalu aku antar kau pulang...",ucap Ferguso dengan tenang. Mereka menghabiskan makanan yang telah sejak beberapa menit lalu dihidangkan. Ferguso mengajak wanita itu ke sebuah restoran yang cukup mewah. Restoran dengan nuansa klasik dan dihiasi alunan dentingan piano yang ditampilkan langsung disana. Ferguso merogoh koceknya lebih dalam dari biasanya hanya untuk makan malam mewah ini dengan Chantel. Tapi ia tak menyesalinya. Ia tahu posisinya. Ialah yang bersalah pada wanita ini. Ia harus bertanggung jawab sebagai seorang lelaki. Untungnya, ia bukanlah pria playboy seperti kebanyakan lelaki yang seprofesi dengannya. Masalah wanita, Ferguso boleh dikatakan bersih dari record dan cap playboy. Dan, satu yang terpenting baginya, ia jatuh cinta dan sangat tergila-gila pada wanita dihadapannya itu.
Mereka menghabiskan pasta dan red wine yang dihidangkan. Seperti yang dikatakan sebelumnya, Ferguso lantas mengantarkan Chantel kerumahnya dengan taksi yang telah ia pesan.
***
Nun jauh di sebuah kantor kepolisian...
Ray tengah memegang carikan memo yang ia duga milik Simon. Berisi kode yang masih belum ia mengerti. Hingga tiba-tiba saja benaknya tercetus sesuatu. Laptop. Ya, laptop. Setiap polisi yang berada didivisinya mereka biasanya memiliki laptop kerja sendiri. Mereka cenderung menggunakan laptop dengan alasan fleksibilitas dan keamanan lebih karena bisa dibawa kemanapun. Ketimbang PC yang mungkin bisa diliat dan dipinjam banyak orang lalu lalang dikantornya. Divisinya memang biasanya menangani data-data dalam bentuk softcopy untuk dianalisis dan dicari korelasinya dengan kejahatan dan sindikat global yang mungkin menarik adanya pelaku-pelaku profesional yang dapat melintasi area wilayah hukumnya. Laporan-laporan hasil penangkapan dilapangan dan akses memasuki data para kriminal atau residivis yang pernah ditangkap dan menjadi penjahat para interpol dunia juga dimiliki tim didivisinya ini. Karena alasan keamanan data, kebanyakan rekan satu timnya memilih laptop sebagai perangkat digital dalam kepentingan pekerjaan ini.
Ray akhirnya baru menyadari. Bodohnya ia, mengapa tak meminta laptop kerja milik Simon dan Jessie. Mungkin disana ada clue lain yang bisa memecahkan misteri kematian keduanya. Meskipun pihak kepolisian telah resmi mengeluarkan hasil forensik kematian kedua rekannya itu, entah kenapa Ray yakin kematian keduanya bukan sekedar kematian biasa. Tapi Ray merasa yakin kematian keduanya adalah bagian dari pembunuhan berencana, yang ia belum tahu motifnya apa. Hanya, Ray merasa yakin kematian keduanya terkait dengan pekerjaan dan tugas yang mereka pegang saat itu.
__ADS_1
Ray berjalan menuju ruangan Richard atasannya. Ia mengetuk pintu kaca ruangan atasannya itu.
"Masuklah..." ucap suara Richard dari dalam. Ia tengah sibuk menatap layar laptop kerjanya.
" Sir...ada yang ingin saya tanyakan..."
"Tutup dahulu pintu di belakangmu...",ucap Richard dengan sekilas lirikan matanya. Ia masih sibuk mengetik didepan layar laptopnya.
"Duduklah...apa yang ingin kau tanyakan ?", Richard berkata tanpa basa-basi dengan suara khasnya yang parau dan dalam. Ia terdengar datar kali ini.
"Umm...maaf mengganggumu,Sir...tapi..saya ingin menanyakan sesuatu mengenai laptop milik Jessie dan Simon. Bolehkah saya meminjamnya ? Mungkin ada sesuatu yang membantu dalam pekerjaan di divisi kita..", ucap Ray berhati-hati.
"Apa yang ingin kau cari dari laptop Simon dan Jessie ?" tanya Richard. Kali ini ia menggeser laptop dihadapannya,hingga dapat melihat wajah Ray dengan jelas. Ray tampak sedikit gugup dan canggung. Tapi ia dapat mengendalikan semua itu.
"Umm..." Richard tampak bergumam sambil berpikir. Ia menatap kembali wajah Ray. Ray hanya diam mematung meskipun jantungnya berdebar kencang.
"Baiklah...kau bisa tanyakan pada bagian pengawas di lab forensik untuk barang-barang Jessie dan Simon. Mereka yang menyimpan semuanya termasuk mungkin laptop keduanya..", jawab Richard singkat.
"Ada lagi yang ingin kau tanyakan ?", tanya Richard datar tetapi terdengar tegas kali ini.
"Tidak ada,Sir..", jawab Ray sambil menundukkan kepala sebagai tanda hormat pada atasannya itu.
"Kalau begitu kau boleh keluar..dan tolong tutup kembali pintunya...", ucap Richard padanya. Ray pun bergegas berjalan keluar ruangan dan menutup kembali pintu ruangan atasannya itu.
__ADS_1
Jantungnya perlahan mulai melambat. Hingga akhirnya ia merasa plong. Seperti sebuah beban besar terlepas dari dalam dadanya. Ia bukan polisi junior, tapi entah kenapa ketika ia dipindahtugaskan di divisi Richard dan diminta menggantikan posisi Jessie, ia merasa seperti sebuah beban besar ada dipundaknya. Richard atasan yang baik tapi ia bukan lelaki yang mudah diajak berkompromi dan berdiskusi dalam pekerjaan. Ia seorang yang keras dan agak saklek. Seperti kebanyakan polisi-polisi angkatan tua pada masanya.
Kini ia telah berada disebuah ruangan forensik. Pada bagian depan ada petugas berjaga yang mengawasi ruangan itu. Ruang forensik adalah sebuah ruangan besar. Bukan hanya seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Forensik berarti mengotopsi mayat. Forensik di kepolisian berarti sebuah ruangan dimana banyak terdapat data-data penting yang sebagian besar berupa data digital dengan berbagai software khusus dan peralatan berteknologi maju demi kepentingan penyelidikan dan akurasi analisis.
"Ada yang bisa di bantu, Officer Ray ?", ucap seorang pria melihat name tag yang tertera diseragam kepolisiannya.
"Ya..tentu Officer Brent.."balas Ray melihat name tag yang juga tertera diseragam lelaki didepannya itu.
"Boleh saya meminta laptop milik Officer Jessie dan Simon..saya membutuhkannya untuk mengambil beberapa pekerjaan keduanya yang mungkin tertinggal disana...", ucap Ray saat officer Brent memberikan selembar kertas formulir yang harus diisinya. Formulir permintaan barang bukti forensik bukanlah hal yang mudah. Mereka memiliki prosedurnya sendiri. Meskipun sesama pihak kepolisian bahkan seorang atasan sekalipun.
" Anda membutuhkan seluruh perangkat laptopnya ? Atau hanya memori yang tersimpan diharddisknya, Sir ?" ,tanya officer Brent kembali sambil tangan memegang pulpen mengisi formulir yang telah diisi Ray. Ia mencentang pada bagian yang harus diisi olehnya.
"Hmm...mungkin saya membutuhkan seluruhnya...maksud saya dalam bentuk perangkat laptop utuhnya..",ucap Ray kembali.
"Baiklah..tunggu sebentar..saya akan ambilkan yang anda minta...",ucapnya kembali.Ia mencentang formulir dan menginputnya pada komputer yang ada didepannya. Ia menuju ke dalam ruangan tempat penyimpanan barang. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan dua buah perangkat laptop yang telah diberi plastik ziplock dengan sebuah sticker bertuliskan kode penyimpanan.
"Ini..barang yang anda minta...dan tolong kembalikan dalam jangka waktu 2 minggu..jangan telat..",ucap officer Brent. Ray menganggukkan kepala. Bagi Ray seperti meminjam buku disebuah perpustakaan besar. Semua barang bukti forensik disimpan begitu rapi dengan kode pengarsipan. Setiap barang ataupun data yang diambil selalu melewati prosedur dan meja officer Brent. Tidak bisa sembarang polisi meminjam dan menggunakan properti yang ada didalam bagian ini. Bahkan ruangan bagian forensik ini memiliki double security system. Selain melewati ruang penjaga, mereka menggunakan id card dan finger print untuk memasuki ruangan ini. Hingga hanya orang-orang yang bekerja didalamnya saja yang dapat leluasa keluar-masuk ruangan ini.
Ray segera beranjak pergi dengan dua buah laptop dalam pelukannya yang masih berada dalam plastik ziplock berkode. Ia harus kembalikan dalam keadaan yang sama.
Ia kembali menuju meja kerjanya. Hatinya merasa senang seakan ia baru saja menemukan kepingan puzzle lain untuk menyempurnakan segala bentuk analisa dan kecurigaannya. Tetapi ada satu yang luput dari Ray...ia lupa resiko yang akan ia tanggung setelahnya, yang mungkin ia dapat kehilangan segalanya. Semakin banyak ia tahu, semakin besar peluang resiko yang akan ia hadapi. Tapi itulah konsekuensi sebuah tugas dan tanggung jawab sebagai seorang polisi senior. Suka tidak suka, cepat atau lambat, ia pasti akan melalui jalan ini juga...
***
__ADS_1