
Tak terasa keluarga Simon telah menghabiskan 5 hari di villa Monsieur. Mereka bersenang-senang dengan puas. Tinggal 2 hari lagi tersisa. Malam itu begitu panjang. Angin dingin menusuk ke tulang membuat mereka tak dapat tidur. Sejak kemarin lusa hujan rintik mulai membasahi di kawasan ini, Simon sudah menebak. Pasti malam ini akan terasa lebih dingin. Betul saja dugaannya itu. Untunglah ia telah mencari kayu yang yang cukup disekitaran villa tersebut.
Ia menyalakan tungku perapian. Api yang yang menyala mampu menghangatkan disekitar ruang keluarga. Dikamar terlalu dingin. Samantha akhirnya memutuskan menggelar bed cover yang mereka miliki sebagai alas tidur. Emily dan Frans pun ikut berkumpul diruang keluarga. Hanya ruangan itu yang terasa hangat. Mereka membawa bantal dari kamar masing-masing.
Sesaat mereka menjadikan suasana tersebut dengan mengobrol, bercanda dan bermain games. Hingga perlahan rasa hangat dengan udara segar yang berhembus membuat rasa kantuk teramat sangat. Mereka berempat tertidur dengan nyenyak dengan tungku perapian yang menyala. Tetapi mereka tidak tahu, seseorang selalu mengawasi mereka 24 jam.
***
Pagi itu tanah cukup becek. Hujan yang turun terus menerus selama 2 hari membuat area hutan begitu lembab dan licin. Simon dan Samantha lebih memilih berada disekitaran villa saja. Halaman belakang cukup luas untuk bermain bagi Emily dan Frans. Simon lebih memilih menggunakan waktu tersebut untuk bekerja. Ia menyalakan laptopnya diruang makan. Samantha sibuk di meja dapur yang berada satu ruangan dengan meja makan, dimana Simon sedang sibuk menatap layar laptopnya.
Emily dan Frans bermain dihalaman belakang. Pintu dapur dan jendela dibiarkan terbuka oleh Samantha agar udara sejuk pagi masuk kedalam dan ia pun dapat memantau kedua anaknya yang tengah bermain disana.
Emily dan Frans tengah bermain petak umpet. Emily tengah berjaga dengan menutup matanya. Ia tengah menghitung dengan lambat ketika Frans mencari tempat bersembunyi. Frans berlari cukup jauh. Halaman itu hanya Padang rumput luas dengan sebuah kolam air mancur dan kursi taman. Ia tidak menemukan tempat bersembunyi kecuali sebuah pagar batu yang ditutupi rimbunnya pohon mawar. Frans mencari sebuah celah diantara rimbunnya pohon mawar tersebut. Ketika ia menemukan sebuah dinding berlubang yang tertutup semak mawar. Ia masuk ke dalamnya. Ternyata Frans melihat celah tersebut menuju keluar dan memasuki kawasan hutan yang terletak dibelakang Villa.
Frans tengah terkejut, ketika seorang lelaki kurus tengah menatapnya dari balik batang pohon besar. Frans takut tapi ia melihat lelaki itu dengan jelas. Gadis kecil itu terdiam terpaku. Lelaki tersebut tampak tersenyum kepada Frans. Setelah beberapa saat lelaki itu berbalik dan menjauh dari villa tersebut.
__ADS_1
Frans yang sempat terpana, kemudian kembali fokus ketika suara Emily dari kejauhan memanggil dan tengah mencarinya. Frans mengintip dari bilik rimbunnya pohon mawar itu. Diam-diam ia berjalan cepat, mengendap-endap menghampiri tempat jaga Emily. Hingga ketika tinggal beberapa langkah lagi, Frans berlari cepat mendahului kakaknya yang tak lama melihat keberadaannya dibelakangnya.
"Tap" teriak Frans sambil menepuk dinding. Tanda ia lebih dahulu sampai dan memenangkan permainan itu.
"Kau kalah,Emily...kau lamban...aku lebih cepat darimu..." ucap Frans sambil menjulurkan lidah meledek kakaknya itu.
"Awas Kau! nanti Ku balas !" jawab Emily kesal melihat adiknya meledek dirinya itu.
Samantha yang tengah membuat brownies coklat mendengar suara kedua gadis kecilnya itu. Ia memanggilnya sebelum keduanya bertengkar mulut nantinya.
"Frans ...Em...kemari, bantu Mom memotong brownies untuk cemilan kita .." teriak Samantha kepada kedua anaknya itu.
***
"Oh ya ??? Yah wajarlah...villa ini sudah tua. Biar nanti Mom akan beritahu Manuella untuk memperbaikinya.." jawab Mom pada Emily.
__ADS_1
"Aku melihat seseorang di hutan tadi Mom..." balas Emily kembali.
"Hmm...betulkah ?" Samantha awalnya tampak kaget dengan ucapan Frans. Tapi karena ia tahu disekitaran sini terdapat beberapa villa di pegunungan Rheinsen. Meskipun berjauhan.
"Apa yang kau lihat, Frans ?" tanya Mom padanya.
" Aku melihat seorang lelaki. Ia hanya tersenyum padaku dan kemudian pergi masuk kedalam sana..." jawab Frans dengan polos sambil menunjukkan tangannya memberitahukan.
" Oh...mungkin ia penduduk yang tinggal di daerah sini juga, Frans..." jawab Samantha tanpa sedikitpun curiga. Emily sudah sibuk memakan potongan brownie coklat miliknya sendiri. Kesal karena ledekan adiknya itu, membuatnya tak menawari brownies yang sedang ia potong-potong pada Frans.
"Ini ..untuk Papa...dan Mom..." ia memberikan potongan brownies coklat disebuah piring kecil pada kedua orang tuanya.
"Untukku ?" tanya Frans polos pada Emily. Emily mengacuhkan adiknya. Sambil ia menggigit potong brownies coklat ditangannya.
"Tidak ada!" balas Emily pada adiknya itu. Mom dan papanya yang melihat hanya tersenyum melihat tingkah kedua putri kecilnya itu jika tengah bertengkar.
__ADS_1
"Em..Jahat!" Frans mengumpat kesal. Matanya tampak berkaca-kaca. Samantha buru-buru menenangkan putri bungsunya itu dengan memberikan sebuah potongan brownies besar padanya.
***