
Nina telah berada dalam kerumunan lalu lintas di jalan raya sekitaran Bellarose. Padatnya jalanan menuju tempat kapal Ferry pribadi milik keluarganya berada cukup jauh. Sebenarnya Nina berniat membeli sebuah apartemen dikawasan ini. Rumah megahnya yang menyerupai kastil dan berada disebuah pulau kecil bernama Wonder Island sangat menyulitkan baginya. Ia harus menggunakan Ferry untuk menuju kawasan Bellarose yang berada di pulau sebelah. Tetapi ia pun tak ingin tinggal jauh dari ayahnya. Pabrik utama pembuatan minuman kerasnya pun berada tak jauh dari kastil megahnya. Tetapi ia mulai memikirkan untuk memiliki rumah atau apartemen pribadi dikawasan Bellarose ini
Selain karena urusan pekerjaan, ia pun tak perlu repot mengendarai mobil ditengah padatnya kerumunan dan kebisingan kendaraan yang lalu lalang. Kakinya telah merasa pegal karena berkali-kali menginjak pedal rem. Hampir 45 menit telah berlalu dan ia belum sampai ke pelabuhan dan halte pribadi milik keluarganya.
Dikawasan sekitaran Bellarose terdapat beberapa pulau kecil. Sebagian adalah aset pribadi milik para billioner seperti Don Pablo. Bellarose sendiri adalah kota metropolis atau ibukota yang terletak di Pulau atau Negara Androa. Androa adalah nama dari pulau atau negara utama disitu yang memiliki luas daratan yang paling besar. Dimana disekitarannya terdiri dari beberapa negara-negara bagian kecil yang memiliki aturan hukumnya sendiri. Pulau Wonder Island yang merupakan pulau milik pribadi keluarga Don Pablo sendiri terletak disebrang Androa. Itulah mengapa keluarga Nina membangun area pribadi dan pelabuhan Ferry sendiri disana untuk kepentingan akses mereka.
Setelah hampir 1 jam lebih mengendarai mobilnya, Nina sampai juga dipelabuhan Ferry miliknya. Disana terdapat halaman parkir yang cukup luas untuk menampung sekitar 10 mobil. Penjaga pelabuhan tidak pernah tahu tentang Nina karena Nina selalu berpakaian Lucy. Mereka hanya tahu Lucy adalah pegawai perusahaannya. Mereka tersenyum menyapanya secara professional sesampainya ia didepan sebuah pos penjaga.
Lucy membalasnya hanya dengan sebuah senyuman ramah tanpa kata. Ia menuju Ferry yang telah disiapkan dengan seorang supir yang mengendarai. Nina duduk didalamnya sambil membawa 2 buah kantong yang cukup besar berisi belanjaan yang baru saja dibeli. butuh waktu 20 menit untuk sampai dikastilnya. Nina hanya menghela napas karena rasa penatnya yang terjebak dalam kepadatan jalan raya Bellarose sebelumnya. Tetapi hembusan angin perlahan menghapus rasa letih dan penatnya. Hingga ia tak merasakan perjalanan Ferry tersebut telah sampai membawanya ke rumahnya.
***
Perjalanan yang cukup melelahkan membuat Nina tertidur pulas malam itu. Hingga ia bangun kesiangan.
Pagi itu sinar matahari terasa panas terik walaupun angin dingin yang berhembus mulai terasa menusuk tulang. Sebuah pertanda musim dingin akan segera tiba. Pagi itu Carlo merasa begitu senang. Cintanya pada Nina seperti telah mendapatkan restu dari majikannya sendiri. Saking gembiranya ia dengan perkataan Don Pablo kemarin, ia menghabiskan malamnya tanpa tertidur membayangkan Nina. Memorinya teringat bagaimana pertama kali ia tinggal bersama keluarga ini. Hingga perlahan waktu membuat dirinya dan Nina tumbuh bersama dan menghabiskan masa kecil mereka berdua. Ia menyadari dirinya betul-betul jatuh hati pada gadis ini.
Carlo melihat jam tangannya waktu telah menunjukkan hampir pukul 08.30 pagi tetapi ia tidak melihat Nina dimanapun. Ia paham,gadis itu pasti tertidur begitu pulas tadi malam. Carlo memanggil seorang pelayan wanita pribadi yang biasa bertugas menyiapkan makanan bagi keluarga ini.
"Apakah kau melihat Nina ?" tanya Carlo pada seorang pelayan wanita berusia sekitar 16 tahunan.
"Tidak, Tuan Carlo..Nona Nina belum keluar dari kamarnya.." ucap sang pelayan padanya.
__ADS_1
"Kau sudah antarkan sarapan pagi untuknya ?" tanya Carlo kembali.
"Belum, Tuan Carlo..Sarapan pagi Nona Nina masih berada diruang makan..apakah ..."
"Baiklah..Biar saya yang antarkan sendiri langsung.." Sela Carlo sebelum pelayan itu menyelesaikan kalimatnya. Carlo mengibaskan tangannya. Pertanda ia menyuruh pelayan tersebut pergi. Sang pelayan yang masih muda tertunduk dan berlalu dari hadapannya.
Carlo pun menuju ruang makan. Ia mengambil sebuah trolley dorong dan membawa sebuah nampan berwarna emas kuningan berisi sebuah roti sandwich dengan kentang goreng dan segelas orange jus sebagai main course. serta sebuah piring kecil berisi mango silk pudding sebagai dessert pagi itu. Carlo segera membawanya menuju kamar Nina.
Entah kenapa setelah pembicaraan Don Pablo kemarin, lelaki ini merasa cintanya kepada semakin membuncah. Ia seperti ingin menunjukkannya kepada gadis itu. Tetapi untuk menyatakannya secara langsung, Carlo merasa belum saatnya gadis ini mengetahui perasaannya secara terang-terangan.
Tok..Tok...Carlo mengetuk pintu dihadapannya. Sambil merapikan dasi dan menjaga raut wajahnya. Ia tidak ingin Nina melihat perubahan pada dirinya.
"Masuk saja,Mary ...kamarku tak dikunci..."ucap Nina dari dalam kamar. Ia masih mengenakan kimono handuknya. Baru saja ia selesai mandi dan keluar dari kamar mandinya. Ketika Carlo telah berada didalam memegang nampan emas berisi sarapan paginya.
"Oh..Maaf ..." ucap Carlo mengalihkan pandangannya. Ia tahu gadis itu terlihat kikuk dan ia pun sebenarnya sedikit canggung berhadapan dengan gadis itu di kamar pribadinya.
" Sepertinya kau tertidur terlalu pulas,Tuan Putri...Mary sedang mengerjakan tugas yang lainnya didapur..Jadi aku yang berinisiatif membantunya mengantarkan makananmu saat ini.." Ucap Carlo sambil meletakkan Nampan berisi makanan disalah satu meja yang berada disudut ruangan dekat dengan jendela kamar.
"Oh..yah...tampaknya aku bangun terlalu siang hari ini...sampai-sampai Carloku mendapatkan tugas tambahan untuk membangunkan dan menyiapkan sarapanku pagi ini...lain waktu mungkin Mary akan merasa senang jika kau mengambilalih tugasnya kembali seperti hari ini.." ucap Nina pada Carlo sambil tersenyum dengan barisan gigi putihnya. Ia berjalan mendekati meja berisi sarapannya itu. Carlo yang mendengar perkataan gadis itu ikut tersenyum sambil sedikit menggelengkan kepala. Ia tahu mengapa Don Pablo sangat mencintai putri semata wayangnya. Nina seorang gadis keras kepala. Ia selalu pandai membalas perkataan seseorang padanya dengan cara yang elegan. Tetapi bagi Carlo, mungkin sikap keras kepala Nina inilah yang kerap membuat jengkel tetapi sanggup membuat panah Cupid dihatinya tidak sanggup untuk ia cabut.
"Kau masih membutuhkan bantuanku,Tuan Putri ? Karena aku kasihan pada Mary jika harus menyuruhnya menungguimu menyelesaikan sarapanmu disini dan membuat kewalahan pada tugas-tugasnya yang lain..." balas Carlo kembali sambil tersenyum simpul dengan sedikit alis yang menaik.
__ADS_1
"Ooh ..tentu aku akan lebih memilihmu untuk membuatmu semakin kewalahan karena berani mengambilalih tugas Mary...duduklah,Carlo...aku akan merasa bersalah mengusirmu dari kamarku tanpa aku menyelesaikan sarapanku.."jawab Nina sambil sedikit tertawa. Ia tahu bagaimana pelayan pribadi ayahnya selalu bersikap tegas dan sopan padanya. Ia tahu Carlo adalah seseorang yang tegas dan disiplin dengan waktu dan aturan yang ada di rumah ini. Tetapi Carlo bukanlah seseorang yang kasar. Bagi Nina Carlo menyerupai ayahnya sendiri. Carlo selalu awas dan mengatur apapun terhadapnya. Tetapi Nina tidak pernah merasa sedikitpun terganggu dan keberatan karenanya. Carlo duduk berhadapan dengannya. Ia menyingkirkan trolley makan agak menjauh.
"Kau sudah sarapan,Carlo ?" tanya Nina pada lelaki dihadapannya itu meskipun sebenarnya ia sudah tahu pasti jawaban Carlo padanya. Carlo hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum melihat gadis dihadapannya yang masih mengenakan kimono handuknya dengan rambut panjang melewati bahunya yang basah terurai.
"Oh..yah...sebentar..hampir saja aku lupa.." Nina bangun dari duduknya ia berjalan kesudut tempat tidur dimana diatas meja sisi tempat tidurnya terdapat sebuah tas kantong belanja branded berwarna hitam dengan logo brand berwarna emas. Kantong berisi clutch bag yang ia beli kemarin khusus untuk Carlo.
" Ini untukmu..." ucap Nina singkat menyerahkan kantong tersebut pada Carlo. Carlo tersenyum menerimanya.
"Hmm..untukku ? Apakah sebuah permintaan maaf dari Tuan Putri yang bangun kesiangankah ?" jawab Carlo mengerlingkan sebelah matanya. Menggoda Nina. Nina tampak tertawa mendengar lelaki itu.
"Haruskah aku menghabiskan uang hanya karena aku bangun kesiangan hari ini ?! Tentu tidak,Carlo...aku membelikannya khusus untukmu..Kau satu-satunya lelaki yang selalu ada untukku selain ayahku sendiri..jadi aku ingin memberikanmu hadiah...kau pantas mendapatkannya..Kuharap kau menyukainya " ucap Nina tersenyum pada lelaki itu. Carlo yang mendengarnya tampak begitu senang. Ia paham betul dengan gadis itu. Meskipun ia pandai berkata-kata dan bercanda, tetapi lelaki itu dapat mengetahui kapan Nina bercanda dan kapan ia serius dengan ucapannya itu.
"Tentu,Nina..apapun hadiah yang kau berikan...aku pasti akan menyukainya..bagiku kau pun satu-satunya wanita yang ada di hidupku selama ini.." jawab Carlo dengan nada datar serius. Suaranya tampak dalam dan tulus hingga Nina dapat merasakannya seperti tiba-tiba jantungnya berdegup cepat. Nina hanya dapat tersenyum membalasnya. Carlo mengalihkan pandangannya pada kantong tas yang ia pegang. Ia menarik sebuah kotak hitam dengan pita emas. membuka ikatan pita tersebut. Sebuah clutch bag berwarna coklat dengan tampilan classy didalamnya. Ia memegang tas tersebut.
"Aku akan selalu menggunakannya kemanapun aku pergi.."ucap Carlo datar memasukkan kembali hadiahnya itu kedalam kotak dan kantong tas.
"Habiskanlah sarapanmu segera..apakah kau memiliki jadwal keluar hari ini ?" tanya Carlo pada gadis itu. Nina tengah mengiris sandwich dihadapannya itu.
"Hmm ..sepertinya tidak ada. Ada apa ?"tanya Nina kembali padanya.
"Jika kau tidak ada jadwal ..aku ingin mengajakmu makan malam ditempatku hari ini.Kau bisa ?"tanya Carlo kembali pada gadis itu.
__ADS_1
"Tentu Carlo..dengan senang hati.."ucap Nina padanya. Entah mengapa Nina seperti merasa canggung dan jantungnya semakin berdegup kencang. Baru kali pertama ini ia merasakan seperti ada yang berbeda didalam hatinya pada Carlo. Ia merasa seperti ada perasaan berbunga-bunga didalam hatinya pada lelaki dihadapannya itu. Ia ingin menyingkirkannya jauh-jauh tetapi tampak seperti tidak bisa. Hingga tiba-tiba Nina merasa malu pada dirinya sendiri karena jantung didalam dadanya berdegup semakin keras dan cepat. Ia sendiri tidak tahu kenapa...ia menghabiskan sarapannya dengan cepat sambil tertunduk malu..khawatir lelaki dihadapannya dapat mendengar degup jantung dan kecanggungan yang tiba-tiba hadir begitu saja pada dirinya...
***