
"Papa...berapa hari kita akan berada disana ?" ,seorang gadis kecil berambut coklat kemerahan menarik lengan ayahnya yang tengah duduk menikmati sepotong sandwich ditangannya.
"Hmm...Frans kecil kesayangan Papa..kira-kira untuk menikmati berenang di alam terbuka, memancing dipinggir sungai Rheinsen dan mungkin kita bisa memetik bersama-sama buah berry yang ada dihutan..kira-kira sehari cukupkah ? " tanya sang ayah menggoda putri kecilnya itu.
"Tentu tidak, Papa..Frans ingin berenang berlama-lama disana...kemudian Frans ingin berjalan-jalan bersama Bunchy mencari buah-buah berry di hutan sambil Frams ingin menikmati ikan bakar seperti liburan tahun lalu,Papa.." ucap Fransisca sambil berjingkat-jingkat riang memeluk lengan ayahnya.
"Hmm...Bunchy haruskah diajak juga, Frans?" tanya sang ayah belagak mengerutkan dahinya. Seolah-olah tampak kurang setuju dengan pernyataan gadis kecilnya itu.
Bunchy adalah nama yang diberikan Emily untuk boneka kelinci kesayangannya. Boneka berwarna putih abu-abu yang merupakan hadiah ulang tahun dari ayahnya itu selalu dibawa kemana-mana oleh Em. Bahkan saat berangkat sekolah pun Em pasti akan membawanya,seandainya sang ibu tidak menghentikannya. Hingga jadilah Bunchy terpaksa menunggu didalam mobil sampai Emily selesai sekolah dan dijemput kembali oleh sang ibu.
" Tentu, Ayah...kasihan Bunchy harus menjaga rumah sendirian jika ia tidak ikut kita berlibur.." ucap Frans sambil memanyunkan bibirnya seolah tampak sedih dan merajuk pada sang Ayah.
__ADS_1
" Iya, Papa..Bunchy diajak saja...kursi bagian belakang mobil kan bisa muat untuk Em,Frans,dan Bunchy duduk bersama" sambar Emily mengenakan kaos putih dan celana jeans selutut. Ia duduk diruang makan. Sang ibu yang melirik ke arah meja makan dimana sang suami tengah dikeroyok oleh kedua putrinya tampak tersenyum-senyum. Ia ikut menghampiri mereka sambil memegang sekotak cornflakes dan sebotol susu murni segar dari dalam kulkas.
"Waduh..tampaknya Papa takkan bisa menolak kalian. Bukan begitu,Pa..?" ucap sang ibu pada suaminya sambil tersenyum mengerlingkan sebelah matanya. Fransisca, si bungsu tampak riang mendapatkan dukungan dari kakak dan ibunya.
"Hmm...apa boleh buat..Bunchy akan ikut bersama kita berlibur di villa Mounsieur selama sepekan.."ucap sang Ayah. Frans tampak bertepuk tangan riang tanda kemenangannya merajuk pada sang ayah.
"Ayo..Frans..Em..sarapan cepat...atau kita akan kesiangan nanti..keburu matahari bersinar terik..kita berangkat pagi-pagi..setelah kalian selesai sarapan. Semua barang-barang yang ingin dibawa sudah kalian siapkan bukan,Em ?" tanya sang ibu pada putri sulungnya sambil menuangkan cornflakes dan susu pada mangkok yang telah tertata diatas meja makan.
Emily menghabiskan semangkuk cornflakes dengan susunya dengan cepat. Begitupun Frans yang memakan suap demi siap cornflakesnya. Meskipun tidak secepat Emily sang kakak, Frans tahu ia harus buru-buru menghabiskan sarapannya.
Hingga 15 menit kemudian...
__ADS_1
Semua telah berada didalam mobil pada posisinya masing-masing. Simon dan Samantha tentu saja duduk dibagian depan. Sedangkan Emily, Fransisca dan Bunchy dibagian belakang penumpang. Bunchy didudukkan oleh Frans ditengah, diantara dirinya dan Emily. Semua telah memasang seatbeltnya. Mobil Falcon seri terbaru pun meluncur menuju villa Mounsieur. Falcon adalah sebuah brand dari mobil lokal yang memproduksi berbagai jenis mobil-mobil SUV off-road yang telah teruji tingkat keamanan dan kenyamanannya.
Simon telah mempersiapkan liburan ini sejak sebulan yang lalu. Ia telah mengajukan cuti ke Richard selama seminggu penuh. Awalnya Richard, sang atasannya dikepolisian sedikit berat dengan cuti yang ia ajukan itu. Seminggu adalah waktu yang lama dalam divisinya untuk mengajukan cuti. Bukan saja pekerjaannya yang mengurusi para penjahat-penjahat bandar narkoba yang kerap berkeliaran disetiap jalanan, tetapi karena Simon tengah mengurus sebuah kasus besar yang menjerat kejahatan narkoba kelas global. Tapi, untunglah Richard seorang atasan yang usianya cukup jauh diatas Simon. Hingga ia dapat mengerti betapa jenuhnya dengan dunia yang ia tekuni itu. Hingga Richard menyetujui pengajuan cuti Simon.
Simon merasa senang. Cuti kali ini ia ajukan bertepatan dengan liburan sekolah kedua putrinya itu. Jadilah ini sebuah liburan terlama yang akan mereka habiskan bersama disebuah Villa.
Villa Mounsieur adalah sebuah villa keluarga milik nenek buyut dari keluarga Samantha,sang istri. Samantha istri Simon adalah wanita penduduk asli dikawasan pulau Androa. Nenek dari nenek buyut Samantha memiliki keturunan bangsawan asli pulau tersebut. Hingga ia memiliki sebidang tanah dan sebuah villa yang cukup besar di tengah hutan dekat dengan sebuah pegunungan Rheinsen. nama Mounsieur diberikan oleh keturunan setelahnya yakni nenek buyut dari Samantha. Nama itu sebagai sebuah penghormatan dan simbol akan sejarah keluarga mereka.
Samantha sendiri baru mengetahui ia memiliki sebuah villa milik keluarga besarnya itu ditengah hutan belantara yang tidak memiliki tetangga seorang juga pun beberapa tahun yang lalu. Ketika sang nenek meninggal dan ia mengikuti acara pemakamannya. Keluarga besarnya turut hadir didalamnya. Setelah pemakaman anak tertua, saudara kandung orang tuanya membicarakan mengenai aset keluarga yang dimilikinya. Salah satunya adalah villa Mounsieur ini. Mereka setuju villa ini tidak akan dijual kepada siapapun dan akan diurus bersama-sama. Siapapun anggota keluarga dapat menempati atau mengunjungi villa tersebut. Samantha sendiri baru sekali kesana dan ini adalah kunjungan keduanya bersama keluarganya untuk berlibur bersama.
Butuh sekitar 5 jam menuju kesana dengan kondisi cuaca yang normal.Untunglah pagi ini matahari bersinar cerah. Mobil Falcon mereka telah sampai pada sebuah jalan terjal menanjak. Tetapi mereka berhasil melaluinya dengan sangat baik hingga sampai tepat pada siang hari. Mereka telah berada di areal tanah yang luas milik keluarga Samantha. Area yang dijadikan tempat parkir mobil. Sedangkan untuk mencapai villa mereka membutuhkan sekitar 10 menit mencapai villa yang berada sedikit menjorok ke dalam hutan.Mereka melalui jalan setapak yang dihiasi batu kali berukuran sedang dipinggiran. Matahari seolah terhalang di area ini. Pohon-pohon tinggi menjulang berada disekitarnya. Hawa asri dan bau khas hutan yang dirindangi pepohonan menyelimuti area tersebut. Tampak sebuah gerbang yang terbuat dari bebatuan asli yang diperoleh dari sekitaran pegunungan Rheinsen mulai tampak. Pagar batu itu tampak ditutupi pohon mawar yang lebat dengan aneka warna. Sebuah pintu masuk terbuat dari besi berwarna hitam tinggi menjulang berada dihadapan mereka. Samantha tengah memegang sebuah kunci untuk membuka sebuah gembok besar yang tergantung dipagar besi tersebut.
__ADS_1
Ceklek ....gembok pun terbuka dan Samantha membuka pintu besi hitam dihadapannya. Simon dan kedua putri kecilnya yang digandeng disisi kanan dan kirinya mengikutinya dari belakang...