Goddess Of Don Pablo

Goddess Of Don Pablo
Bab 4 : Si Tampan Berseragam


__ADS_3

Kepolisian Distrik Bagian Satuan Khusus Penanganan Narkoba Global saat itu tengah sibuk seperti biasanya. Ray, dengan seragam kepolisiannya tengah berkutat dengan setumpuk berkas di mejanya. Hari ini atasannya menunjuknya untuk mengurus sebuah kasus besar. Kasus penyelundupan Narkoba terbesar. Sebetulnya kasus ini sudah cukup lama diselidiki. Tapi pihaknya mengalami kebuntuan. Mereka hanya dapat menangkap pengedar-pengedar kecil yang hanya dihukum beberapa tahun dipenjara. Padahal pihaknya sangat yakin kasus ini melibatkan jaringan bandar narkoba internasional terbesar didunia. Terlebih beberapa orang tim sebelumnya yang menangani kasus ini, harus mengalami berbagai hal, yang menurut Ray sendiri mungkin ada hubungannya dengan kasus ini.


Siang itu, Ray masih berkutat dimeja kerjanya. Ia sibuk dengan imajinasinya dan analisa yang dibangun dalam mindsetnya sendiri. Hingga tak menyadari kehadiran Richard, atasannya saat itu.


"Seharusnya aku tak melihat seorangpun dalam ruangan ini saat jam makan siang tiba..tapi, ternyata aku salah.." Ia bergumam sambil berjalan mendekati Ray. Ray sedikit kaget dalam lamunannya. Ia menoleh sedikit ke arah pemilik suara. Sebetulnya tanpa menoleh pun Ray tahu itu suara Richard. Tapi gerak refleks tubuhnya tak dapat ia tahan.


"Hmm...aku tengah berfikir..Mungkinkah kecelakaan mobil Simon atau kematian mendadak Jessie karena serangan jantung..sebetulnya apa ada hubungannya dengan kasus ini ?" ucap Ray sambil mengangkat sebuah berkas.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa menduga hal itu ?" tanya Richard kembali padanya. Ia duduk diatas salah satu meja kerja yg kosong diruangan itu. Berhadapan dengan Ray.


"Hmm...aku baru saja melihat berkas kecelakaan Simon dan keluarganya..Ia mengalami kecelakaan saat ingin berliburan panjang bersama keluarganya. Diberkas dituliskan dugaan kecelakaan tersebut karena rem yang kurang berfungsi dengan baik dan ban mobil yang licin membuatnya slip dan ia tercebur ke dalam jurang saat itu. Tidakkah kau menduga itu adalah sebuah skenario pembunuhan berencana ? Bagaimana mungkin seorang Simon bertindak ceroboh tanpa memeriksa kondisi mobilnya yang ia ingin pakai untuk perjalanan jauh yang harus melalui bukit dan pegunungan ? Seharusnya ia pasti mempersiapkannya dengan sangat baik ?Ia tidak sedang berpergian untuk kepentingannya sendiri...terlebih bersama istri dan kedua putrinya..Aku curiga ini ada hubungannya dengan kasus yang ia tangani ini ", jawab Ray dengan nada yakin.


"Hmm...yah...mungkin kau ada benarnya...tapi mungkin juga itu memang benar sebuah kecelakaan karena kelalaian Simon. Ia mengira segalanya baik-baik...Bukankah tim penyelidik tidak menemukan keanehan yang menjurus kesana ?" jawab Richard kembali padanya. Ray yang mendengar jawaban itu sontak merasa tidak puas dengan apa yang dikatakan atasannya.


"Kalau begitu bagaimana dengan Jessie ? Ia meninggal karena serangan jantung saat pulang berpatroli malam dan tengah makan di sebuah restoran Cina tempat biasa ia mangkal disana? Kau tahu, Jessie adalah orang yang paling concern dalam masalah kesehatan. Ia rajin nge-gym dan menjaga pola makannya ?Ia bahkan nyaris tidak pernah memakan daging merah...dan usianya masih sangat muda untuk terkena serangan jantung ?" Kilah Ray kembali pada atasannya itu.

__ADS_1


" Dan...satu lagi...makan sianglah dahulu saat memang jam istirahatmu...itu hak untuk perut dan tubuhmu.." ucap Richard kembali sambil mengacungkan telunjuknya pada Ray dan tersenyum simpul.


Ray masih terdiam dan duduk dikursinya. Ia merasa sangat tidak puas dengan jawaban atasannya itu. Seperti memandang analisa Ray sebagai sebuah hal sepele. Ray diam sejenak sebelum akhirnya ia memutuskan keluar dari ruangan dan mengikuti nasehat Richard,atasannya.


Dikantornya ada sebuah pantry kecil.tidak besar hanya sebuah lemari kecil berisi peralatan makan dan sebuah dispenser yang menyediakan air panas dan dingin. Ia membuka lemari makan.Mengambil sebuah cangkir dan sesachet kopi instan. Ray memang biasa menaruh kopi-kopi sachetan dilemari tersebut sebagai booster saat ia harus bekerja lembur sampai larut malam dikantor. Kopi hitam dengan creamer itu cukup menggoda indera penciumannya. Aroma khas kopi saat bertemu air panas menyeruak seketika diruangan pantry yang sempit itu Ia menyeruput kopi dalam cangkir itu. Penat yang ia rasakan karena berbagai pikiran yang berkecamuk dalam kepalanya seketika hilang perlahan. Aroma kopi dan rasa kopi tersebut seperti mampu menenggelamkan segala pikirannya.


Ray tidak menyadari, seorang wanita yang tengah duduk disalah satu sudut meja kerja kantornya memperhatikan dirinya yang tengah keluar ruangan menuju pantry. Wanita itu tahu sekali kebiasaan Ray beberapa minggu belakangan.Ia selalu melihat lelaki itu hampir tidak pernah keluar ruangan saat jam makan siang tiba. Ketika seluruh polisi sibuk merencanakan mau kemana mereka dengan apa yang akan mereka makan siang ini,hanya Raylah yang satu-satunya tidak pernah keluar ruangan. Hanya sesekali ia keluar menuju pantry dan menyeruput kopi.

__ADS_1


Sayang gadis manis berambut hitam melewati pundak beberapa senti itu, tidak pernah sedikitpun ditegur oleh Ray. Ray seperti tidak menyadari keberadaannya. Padahal gadis itu pula satu-satunya wanita yang senantiasa berada di sudut mejanya saat jam makan siang tiba. Ia yang selalu duduk di mejanya membuka bekal makan yang dibawanya dari rumah.Hingga ialah satu-satunya yang selalu melihat apa yang terjadi setiap siang didalam ruang kepolisian yang tidak terlalu luas itu.


***


__ADS_2