Goddess Of Don Pablo

Goddess Of Don Pablo
Bab 36 : Kode-Kode Simon


__ADS_3

Simon menatap layar laptopnya. Ia membaca berkas tentang penangkapan seorang pengedar morfin dalam jumlah yang cukup besar. Kasus tersebut merupakan sebuah kasus yang akhirnya membuka suatu analisa besar bagi pihak kepolisian akan adanya pengedaran morfin internasional secara ilegal.


Morfin pada masa itu adalah obat medis yang memiliki izin edar. Tetapi terbatas dengan izin yang diperketat. Hal ini dilakukan karena dibeberapa keterangan para bandar kecil, mereka mengatakan menggunakan morfin untuk tindakan kriminal. Dari sekedar untuk nge-fly yang digunakan sendiri hingga untuk membius para korban kejahatan. Inilah yang membuat izin pengedaran obat medis ini diperketat dengan berbagai aturan hukum.


Tetapi tidaklah mudah untuk menyelidiki kasus ini. Penangkapan pun hanyalah sebatas pada para penjahat kelas teri. Itu pun terungkap karena sebagian mempergunakan obat tersebut dan memperjual-belikan ilegal untuk kepentingan kejahatan. Beberapa kasus kriminal pembunuhan, ditemukan kandungan morfin pada korban untuk membiusnya. Hal ini yang kemudian menuntun polisi untuk menangkap para penjual ataupun pengedar.


Tetapi dengan tertangkapnya seorang pengedar yang ia cukup dikenal dikalangan kriminal dunia hitam, membuatnya membuka alibi akan adanya penggunaan jenis obat medis ini layaknya narkoba seperti shabu dan pil ekstasi yang dilarang dijual bebas karena masuk kategori narkotika.


Cikal bakal inilah yang kemudian membuat pihak kepolisian membentuk satuan divisi khusus untuk menyelidikinya. Dari mulai penggunaan,bahaya,tingkat resiko,izin pengedaran,dan lain sebagainya. Simon yang tadinya bertugas di divisi tindak pidana pembunuhan, kini ia direkrut masuk menjadi anggota divisi khusus tersebut.


Lelaki itu membaca berkas-berkas yang tengah ia tangani. Suasana sunyi hutan dan hawa sejuk dikawasan villa, menjadikan tempat yang cocok untuk peristirahatan sekaligus bekerja untuk orang sepertinya.


Simon sebenarnya salah satu polisi yang mencium adanya kejanggalan dalam pengedaran morfin di publik. Beberapa kasus pembunuhan dan pemerkosaan yang ia temukan di lapangan, selalu menunjukkan pada hasil forensik akan adanya penggunaan zat medis tersebut pada tubuh korban.


Ia membuka semua artikel ilmiah tentang penggunaan zat ini dan menemukan indikasi yang membuat efek samping dan bahaya pada penggunaan zat ini menyerupai jenis narkotika, yang secara legal telah dibuat aturan larangan pengedarannya.


Simon seseorang yang cukup keras dalam masalah prinsip. Ia seorang polisi lurus. Tak ada ampun baginya untuk sebuah tindak kejahatan melawan hukum. Tak heran ia banyak dibenci orang. Musuh adalah sebuah kata biasa baginya.

__ADS_1


Setiap pengedar atau penjahat yang tertangkap terkait penyalahgunaan zat medis ini, selalu berakhir di balik jeruji. Simon tak akan membiarkannya lepas. Inilah yang membuat namanya menjadi musuh bagi para penjahat dan pengedar.


***


Simon menuliskan sebuah coretan dengan tinta hitam disebuah memo kecil berwarna kuning.


A177+, AND1439UP, 21BR. Seperti sebuah kode bagi orang lain. Tapi tidak bagi Simon, ini adalah catatan hasil analisa dari berkas-berkas softcopy yang tengah ia baca sekarang dilayar laptopnya.


A177+ yang berarti : A merupakan kode alfabet yang menandakan berkas awal sebuah kasus pemerkosaan dan pembunuhan dengan inisial nama korban A. 177+ berarti kasus bukan hanya murni tindak kriminal biasa. Tetapi dari penyelidikan Simon, ia menemukan adanya benang merah dengan sindikat pengedaran morfin ilegal saat itu.


Saat itu ia tengah menangani seorang bandar sekaligus pengedar narkoba yang cukup dikenal dikalangan para penggunanya di dunia hitam. Ia tertangkap dan terbukti memiliki beberapa kilogram shabu dan disertai adanya kepemilikan morfin yang cukup besar ditempat tinggalnya. Yang sudah dapat dipastikan ilegal.


Kala itu peredaran morfin hanya dapat dilakukan dirumah sakit-rumah sakit besar dengan jumlah tertentu dan izin/lisensi medis secara legal. Inilah awal Simon mencurigai peredaran morfin ini pasti melibatkan kalangan elite. Ia menandai tersangka ini karena ia yakin pasti tersangka dalam kasus ini bisa memecahkan siapa dibalik adanya morfin yang ia miliki itu.


Simon bukanlah polisi bodoh. Morfin saat itu bukanlah seperti shabu yang dapat diproduksi secara rumahan dan pribadi. Morfin hanya dapat diproduksi oleh industri farmasi besar yang memiliki izin produksi dan distribusi bukan hanya layaknya izin pendirian usaha. Tetapi membutuhkan izin secara medis yang formil dan legal. Bahan baku yang dibutuhkan pun tidak dapat diperoleh secara mudah. Hingga inilah yang membuat Simon yakin bahwa masalah ini bukan hanya sekedar peredaran narkoba kelas teri tapi ia yakin ada orang-orang elite berkepentingan dibelakangnya. Hanya saja Simon tak sembrono. Ia memilih untuk bungkam dengan alibinya itu. Ia tidak punya cukup bukti untuk hipotesisnya tersebut.


Sedang 21BR adalah salah satu nomor kode tahanan. 21 berarti ia tahanan nomor 21 dan gBR berarti singkatan Black Residivis. Tahanan Hitam. Artinya ia merupakan tahanan yang telah sering keluar masuk penjara dan masuk ke dalam daftar hitam kepolisian. Dalam salah satu berkas kasus, tahan 21BR yang ia tandai sudah sering tertangkap untuk kasus yang serupa. Tetapi ia selalu mendapatkan pengurangan hukuman saat masa tahanan. Bahkan dalam berkas yang dituliskan, ia pernah bebas dengan uang jaminan yang diberikan saat proses penyelidikan berlangsung.

__ADS_1


Simon menuliskan kode-kode tersebut di secarik memo. Menempelkan lembaran memo tersebut pada layar monitornya. Ia tengah menimbang-nimbang, haruskah ia memberitahukan dugaannya itu kepada Richard atasannya ? Tetapi ia tidak memiliki bukti kuat untuk menuduh seseorang secara pasti yang merupakan otak dibalik peredaran morfin ilegal terbesar di dunia. Karena hal ini ia yakin erat ada kaitannya dengan para pengedar jaringan narkoba global.


Simon menyadari kepolisian bukanlah berisi para malaikat didalamnya. Mungkin pula ada para setan yang turut andil dalam kasus ini. Mereka bersedia memakan dengan cara yang kotor untuk membuncitkan perut-perut mereka agar kenyang setiap harinya. Ia khawatir ia salah ucap pada salah seorang diantaranya. Simon pernah mencoba memancing Richard atasannya mengenai hal ini dahulu. Tetapi Richard selalu menampik setiap dugaannya itu dengan berkata : Lihatlah! Mereka orang-orang kulit hitam..mereka berasal dari negara yang menjadikan shabu dan pil-pil haram sebagai uang untuk menghilangkan lapar dan memuaskan syahwat mereka. Dan mereka menyebarkan ditempat kita yang bersih. Kau harus memusnahkan mereka untuk menghentikan kasus ini .


Richard memang terdengar ekstrem dengan ungkapannya itu. Simon bahkan tahu Richard sangat skeptis terhadap keberadaan orang kulit hitam di kawasan Bellarose. Atasannya selalu beranggapan segala bentuk tindak kejahatan kriminal pasti disebabkan adanya kaum mereka yang meningkat di kawasan itu. Seandainya mereka bisa dihilangkan maka hilanglah segala bentuk kejahatan kriminal.


Itulah yang membuat Simon akhirnya enggan untuk berdiskusi dengannya mengenai segala hipotesis apapun yang ia temukan dari hasil penyidikan kasus-kasus yang ditanganinya.


Sedangkan berbicara pada polisi yang lainnya, ia khawatir berkata pada serigala berbulu domba, yang mungkin justru dapat berbalik menerkamnya. Ia tahu banyak dari para polisi di jalanan yang menangani para pengedar atau bandar kecil,berkongsi dengan mereka. Dengan upah narkoba gratis atau mereka mendapatkan komisi dengan memuluskan jalan para pengedar yang bekerja dijalanan.


Simon telah menyelesai membaca seluruh dokumen dan berkas softcopy yang ada di laptopnya. Ia memijit ujung keningnya. Penat mulai terasa.


Samantha yang melihat Simon tengah memijit keningnya sendiri, tahu bahwa suaminya itu memiliki beban pikiran. Ia menghampirinya dari belakang. Memijat pundak suaminya itu dengan mesra.


"Kau masih sibuk dengan pekerjaanmu, saat kau mengambil cuti liburanmu...Bukankah kau akan menyia-nyiakan energi positif yang seharusnya bisa kau hirup disini ? Lusa kau akan kembali dengan segala hiruk-pikuk pekerjaanmu...rilekslah sejenak..." Samantha berucap dengan mesra ditelinga Simon sambil memijat pundaknya.


Simon hanya membalasnya dengan menggenggam kedua tangan Samantha dibahunya. Samantha benar.Ia seharusnya tak menyiakan liburan yang tersisa ini. Ia mematikan layar laptopnya dan menutupnya. Kepala menoleh ke samping, mencium bibir Samantha dengan penuh cinta. Hujan deras kembali turun di seluruh kawasan Rheinsen petang itu.

__ADS_1


__ADS_2