Goddess Of Don Pablo

Goddess Of Don Pablo
Bab 16 : Nostalgia Rumah Pohon


__ADS_3

Matahari bersinar sangat terik pagi itu. Sebuah Jeep terparkir didepan sebuah hutan rimbun dekat bibir pantai. Nina berjalan sendirian dengan sebuah tas ransel berukuran kecil dipunggungnya. Ia menyusuri jalan setapak dihadapannya. ranting-ranting kering dari pohon ek yang patah menghalangi setiap langkahnya tapi tidak menyurutkan Nina untuk terus melangkah. Setelah beberapa meter memasuki area hutan, ia melihat tanah lapang yang kosong dengan sebuah pohon besar yang rimbun. Akar-akarnya menonjol keluar terlihat kokoh dan kuat. Dibagian atasnya terdapat sebuah rumah pohon sederhana yang terbuat dari beberapa batang kayu yang disusun dengan atap jerami. Terdapat sebuah tangga dari tambang disisi pohon. Inilah rumah pohon yang dibuat Carlo saat Nina berusia 7 tahun. Ia menoleh ke sekitar pohon tersebut. Pohon itu berdiri tepat ditengah-tengah tanah lapang. Dibelakangnya terdapat dua jalur bercabang dengan jalan setapak memasuki kawasan hutan yang lebih dalam. Bagian inilah yang Nina belum pernah memasukinya. Kedua orangtuanya maupun Carlo tidak pernah membolehkan anak mereka memasuki kesana. Mereka berkata disana banyak hewan buas. Karena jalan tersebut belum banyak dilalui orang.


Nina pun memutuskan untuk menaiki rumah pohonnya dahulu. Ia meraba-raba tangga yang terbuat dari tambang itu. Terlihat sudah agak usang dan beberapa serabutnya seperti tertarik keluar, tetapi tangga tersebut masih tampak cukup kokoh untuk dinaikinya. Ia pun menaikinya. Melangkahkan kakinya perlahan menaiki satu per satu tangga tersebut. Hingga ia sampai ke rumah pohon itu. Rumah itu tidak memiliki pintu. Hanya sebuah lubang yang dapat dimasuki satu orang anak kecil. Nina harus membungkukkan badannya untuk memasukinya. Bagian dalam rumah itu tampak cukup luas. dapat memuat 2 orang dewasa didalamnya. Meskipun dibeberapa sudut tertutup oleh sarang laba-laba yang telah mendiaminya dengan debu tebal yang besar.


Nina membersihkan bagian tengah ruang dengan sebuah lap handuk yang ia bawa didalam tas ranselnya. Ia duduk sesaat menghela napasnya.Dahulu rumah pohon ini terasa luas baginya. Ia kerap main disini bersama Carlo. Sekarang rumah ini terasa sempit baginya. Tapi cukup menyenangkan untuk tempat beristirahat. Dibagian depan dan belakangnya masing-masing terdapat sebuah jendela kecil yang dapat melihat kawasan disekitarnya. Ia membuka kedua jendela tersebut. Sebenarnya hati Nina penasaran apa yang ada dibalik hutan dibelakang rumah pohon ini. Hanya nyali cukup ciut ketika ia melihat dari jendela..Tampak bagian belakang rumah pohon itu hanyalah hutan yang jauh lebih lebat dari jalan yang ia susuri saat menuju ke rumah pohon ini. Hingga nyaris-nyaris sebagian jalan nampak tak terlihat dan hanya tertutup rimbunnya pohon. Suara burung-burung pipit kecil menambah suasana ketenangan dirumah pohon itu. Nina menghirup udara segar beberapa kali.Bau dedaunan yang basah karena embun masih terasa. Bau sejuk khas yang ia sukai. Ia mengambil sebuah botol minum dari tas ranselnya serta beberapa snack cemilan yang telah ia persiapkan dari rumah. Nina pun membawa sebuah teropong diranselnya. Ia mengambilnya mengalungkan dilehernya. Ia dapat melihat dikejauhan beberapa jenis burung laut yang cukup langka beterbangan. Tetapi rimbunnya pepohonan menghalangi jarak pandangnya.

__ADS_1


Disebuah kastil megah,Carlo yang tengah mengawasi melalui layar handphonenya tahu dimana gadis itu berada. Tetapi, ia memilih seolah ia tak tahu dimana gadisnya itu berada. Ia memencet tombol angka handphonenya. menghubungi gadis itu. Ia mendengar nada sambung diseberang sana. Saku celana Nina bergetar. Getaran itu berasal dari handphonenya. Nina merogoh kedalam saku celana. Sebuah nama tertera dilayarnya.


"Ya..Carlo Sayang...ada apa ? " ucap Nina mengawali pembicaraan dari handphonenya.


"Ooh .... Carlo sayang...masa kau tak tahu ? Tebak dimana aku sekarang...Mana mungkin seorang Carlo tak dapat menemukanku.." jawab Nina dengan suara manjanya. Ia sangat paham siapa Carlo yang sudah seperti kakak,ayah dan kawan terbaik baginya. Carlo selalu tahu kemanapun ia pergi. Ia tahu ayahnya tidak mungkin membiarkan Carlo melepaskan pandangannya darinya.

__ADS_1


"Hmm ...ayolah Carlo kau pasti bisa menemukanku...Jika kau sudah dapat menemukanku...datanglah kesini.." ucap Nina kembali sambil menutup telepon genggamnya.


Carlo yang belum sempat membalas ucapan Nina tampak sedikit terkejut. Tapi baginya hal biasa. Ia mengerti betul sikap Nina. Ia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dasar gadis nakal! ucap Carlo dalam hati. Carlo mengambil sepeda motornya. Ia menyalakan mesinnya dan bergegas menuju ketempat Nina berada.


***

__ADS_1


__ADS_2