Goddess Of Don Pablo

Goddess Of Don Pablo
Bab 24 :Balas Budi Kawan Lama...


__ADS_3

Apartemen itu tak mewah,tapi jauh lebih baik dari flat miliknya. Sejak kebakaran beberapa Minggu yang lalu,Ferguso belum tinggal kembali ke flatnya. Ia begitu awas karena khawatir seseorang tengah mengintainya.


Beruntunglah Ferguso memiliki seorang rekan kerja yang telah mapan. Ia menghubungi Miguelo saat kebakaran terjadi di flatnya. Miguelo, yang dahulu rekan kerjanya ketika lelaki itu masih menjadi pegawai di perusahaan farmasi milik Don Pablo,memberikannya tempat tinggal sementara untuknya. Ia kini tinggal disebuah apartemen yang cukup untuk ditempati 2 orang. Apartemen itu memang kosong saat Ferguso menempatinya. Dahulu apartemen tersebut ditempati oleh pegawai Miguelo yang bekerja di pubnya.


Sudah hampir lebih dari 2 Minggu Ferguso hanya satu kali kembali ke flatnya hanya untuk mengambil beberapa pakaian ganti seperlunya. Masalah kebakaran yang terjadi pada flatnya,belum ia ceritakan kepada siapapun,kecuali Miguelo. Ferguso tidak ingin karena mulutnya yang sembrono justru ia membuat pelakunya mengetahui dirinya masih hidup. Siapa kira-kira yang ingin membunuhnya ? Ferguso masih berpikir keras. Ia mencurigai banyak orang dalam kepalanya. Fernando adalah salah satu tersangka utama dibenaknya. Karena hanya laki-laki itu yang mungkin memiliki motif untuk membunuhnya saat ini,begitulah kira-kira dalam pikiran Ferguso. Tapi Ferguso pun menyadari pekerjaannya sangat beresiko. Hingga mungkin baginya salah satu kliennya merasa tidak puas dengannya dan berniat untuk melenyapkannya. Entahlah! Ferguso belum mendapat sebuah alibi sempurna dari masalahnya.


Ferguso menghirup secangkir black coffee tanpa gula yang ia buat. Ia belum menghubungi Chantel lagi semenjak SMS singkatnya pada wanita itu. Ia khawatir gadis itu sembrono dengan mulutnya pada Fernando,kakak kandungnya itu. Ferguso merasa sebaiknya ia tutup mulut untuk saat ini mengenai kebakaran diflatnya. Sampai betul-betul ia menemukan pelakunya. Ferguso yakin ini bukan kebetulan semata. Mungkin sebaiknya aku mencari informasi penyelidikan kebakaran yang terjadi itu. Ferguso tahu polisi pasti sedang menyelidiki kebakaran itu. Bagi Ferguso sangat mudah untuk mendapatkan informasi di kepolisian mengenai hal ini. Ia memiliki rekan disana yang biasa membantunya dalam pekerjaannya sebagai seorang informan untuknya yang lihai.


Beep..Beep.. sebuah notifikasi di handphonenya tiba-tiba bunyi. Tanda sebuah pesan singkat masuk di inboxnya. Ferguso membukanya.


Bagaimana kabarmu,Bro ? Kau baik-baik saja ?Sudah ada kabar mengenai flatmu ? kalau kau mau,kau bisa menggunakan apartemenmu sesukamu..Jika ada yang masih kau perlukan,kau tak perlu sungkan untuk menghubungiku..Miguelo.

__ADS_1


Sebuah pesan singkat dari Miguelo. Ferguso membalasnya dengan ucapan terima kasih yang singkat atas kebaikan kawannya itu. Ia teringat akan Miguelo muda dahulu. Bagaimana ketika rekannya itu bekerja di perusahaan farmasi milik Don Pablo bersama-sama dengan dirinya.Ferguso saat itu adalah senior sekaligus atasannya. Miguelo seorang junior sekaligus partner kerja yang baik dan ambisius bagi Ferguso. Tetapi mungkin karena itulah Miguelo muda telah terbilang sukses saat ini. Ia tidak lagi bekerja pada Don Pablo dan telah memiliki usahanya sendiri sebuah cafe yang mewah di kawasan Mandrake yang terkenal. Meskipun tidak bekerja formalitas pada Don Pablo, Miguelo masih rekanan bisnis dengan Ferguso dalam mendistribusikan morphin mereka kepada para pelanggan. Untuk masalah ini, Ferguso mengakui kehebatan lelaki ini. Ia sebagai rekanan bisnis pemasok terbesar bagi Ferguso. Bahkan terkadang Miguelo memberikan sebuah imbalan bagi Ferguso ke kocek pribadinya langsung. Ia pun heran lelaki ini begitu hebatnya dalam mencari keuntungan dibisnis ini. Itulah mengapa Ferguso masih berkontak dengan Miguelo. Bahkan mungkin Miguelo bukan hanya seorang rekanan bisnis yang menguntungkan tetapi ia adalah satu-satunya kawan terdekat untuk Ferguso.


Ferguso menyeruput kopi beberapa kali hingga nyaris kosong dicangkirnya. Ia berencana untuk ke flatnya hari ini. Ia telah mencukur janggutnya sejak malam hari tadi. Ia hanya menyisakan sedikit kumis yang telah ditipiskan diwajahnya. Hingga nyaris berbeda dan sulit dikenali. Wajahnya tampak jauh lebih muda dari penampilan biasanya. Ia pun mengenakan kaos dan jeans yang tampak sudah lusuh dengan sebuah topi baseball berwarna biru dengan sebuah lambang tim baseball terkenal favoritnya. Memang itulah tujuan Ferguso. Agar nantinya tak ada satupun yang mengenali wajahnya ketika ia kembali ke flat. Ferguso khawatir si pelaku masih mencari tahu tentang dirinya. Ia ingin agar si pelaku menganggapnya telah berhasil melenyapkannya dalam kebakaran itu.


Ferguso pun bergegas keluar dari apartemennya. Ia menembus jalanan yang telah lalu lalang dengan kendaraan pribadi. Ferguso berjalan dengan cepat menuju sebuah halte bus yang terletak sekitar 20 menit jika ditempuh dengan jalan kaki dari apartemennya.


Ia tidak terlalu terburu-buru pagi ini. Ia tidak memiliki schedule bertemu dengan klien hari ini. Jadi ia memiliki waktu senggang untuk keperluan pribadinya. Ia memulai pagi ini menuju flatnya. Mungkin ia bisa mencari tahu informasi berguna yang ia butuhkan dari orang sekitar disana. Dan setelahnya ia akan menanyakan pada seorang kawan polisinya yang bisa membantunya mendapatkan informasi dari hasil penyelidikan pihak yang berwenang.


Ia telah menghubungi kawannya itu 2 hari yang lalu. Tetapi ia belum mendapatkan jawabannya. Jadi Ferguso memilih berinisiatif untuk mencari informasi sendiri dari penduduk sekitar flatnya yang mungkin saja bisa memberikan petunjuk atas semua prasangka-prasangkanya.


Ferguso sekilas menatap wanita itu. Ia tampak cantik natural.. Wajahnya terpoles make up tipis. Perjalanan menuju flatnya cukup jauh. Butuh waktu hampir 1 jam dari apartemennya tinggal. Lalu lintas saat itu cukup ramai tapi tak terlalu padat. Maklumlah hari ini adalah weekend.Jadi banyak orang keluar dari rumah untuk sekedar nongkrong atau berjalan keluar.

__ADS_1


Ferguso berniat sedikit berbasa-basi dengan wanita disebelahnya. Entah mengapa ia merasa matanya seperti ingin terus melirik wanita disebelahnya. Ferguso tidak ingin ia dianggap cowo berandal murahan,penjahat wanita,yang biasa menggoda wanita cantik secara random di angkutan-angkutan publik. Jadi dengan cara yang menurutnya lebih sopan dan elegan ia menegur wanita disebelahnya.


"Permisi, Miss..kau mau pergi ke daerah Bellarose ?" tanya Ferguso sopan pada wanita disebelahnya. Wanita disampingnya menoleh sesaat sambil menggelengkan kepala.


"Bukan.." jawabnya singkat.


"Oh..kukira kau ingin pergi keluar disana..Maklumlah..ini weekend..biasanya banyak orang hangout di mall-mall atau tempat-tempat menarik untuk sekedar mencuci mata..Maaf,Miss boleh berkenalan denganmu ? nama saya Ferguso ",ucap Ferguso kembali sambil mengulurkan tangan.


Wanita itu menatap lelaki itu untuk sesaat sebelum ia membalas uluran tangan lelaki disampingnya itu.


"Maria",jawab wanita itu dengan singkat. Baru saja mereka berkenalan, Maria tengah beranjak berdiri dari duduknya. Ia tengah bersiap turun. Selang beberapa menit supir bus berhenti disebuah halte. Ia membuka pintu bus, beberapa orang penumpang turun dihalte tersebut,termasuk Maria. wanita itu berjalan dari halte. Hingga ia menoleh kembali ke bangku tempat ia duduk tadi dari arah luar bus. Ia melihat lelaki itu masih duduk disisi jendela ketika bus menutup pintunya dan mulai berjalan meninggalkan halte.

__ADS_1


Maria merasa tenang. Maria memang seseorang yang mudah curiga ketika ada seseorang yang mengajaknya berkenalan tiba-tiba. Bagi Maria seperti menjadi sebuah karakter yang melekat pada dirinya. Tetapi ia cukup tenang melihat lelaki didalam bus itu betul-betul penumpang yang hanya random ia temui. Hanya seseorang yang mungkin mengajaknya ngobrol untuk menemani perjalanan panjangnya mungkin. Maria merasa malu sendiri dengan sikap curiganya yang berlebihan. Sebetulnya ia berniat turun tepat dihalte bus dekat flatnya. Tetapi karena ia merasa curiga tiba-tiba dengan pria disebelahnya,ia terpaksa turun dihalte sebelumnya yang masih harus 2 halte bus lagi ia tempuh. Tapi bagi Maria, itu jauh lebih baik daripada ia harus berdiam didalam bus dalam keadaan tidak nyaman bersama lelaki itu. Ia menoleh kesekeliling. Sebuah toko pastry tak jauh dari tempat ia berada tampak didepan matanya. Ia berniat sejenak kesana. Sambil mungkin ia bisa membeli beberapa roti untuk sarapan esok hari.


***


__ADS_2