Goddess Of Don Pablo

Goddess Of Don Pablo
Bab 5 : Carlo Si Penjaga Yang Setia


__ADS_3

Malam telah sangat larut. Jam dipergelangan tangan Carlo menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Ia merokok didipan rumahnya. Carlo tinggal didalam satu lahan yang sama dengan rumah keluarga Don Pablo. Tetapi,keluarga tersebut membangunkan rumah yang sederhana yang cukup bagus bagi pria itu. Bersebelahan dengan rumah Don Pablo. Bahkan dinding kamar sang putri kesayangan Don Pablo itu merupakan dinding rumah Carlo jua.


Carlo menyadari posisinya yang hanya bodyguard bagi sang putri Don. Tetapi hatinya telah terpaut pada gadis itu. Gadis yang ia kenal sejak masa kecil dahulu. Ia teringat bagaimana Nina kecil dahulu menangis saat Don mengajarinya memanjat sebuah pohon Ek besar. Ia terjatuh dari sebuah batang pohon yang dijadikan pegangan kala itu. Batang tersebut patah dan membuat Nina kecil terjatuh. Ia menangis saat itu. Carlo sempat merasa takut. Khawatir majikannya akan memarahinya. Untunglah Nina yang menangis tersedu-sedu, justru membela Carlo saat ibunya cemas melihat tangisnya.


"Aku tidak apa-apa, Ma. Batang pohon itu yang terlalu kecil buat Nina...hingga ia patah dan membuat Nina terjatuh..Untunglah Carlo ada..Ia yang menggendong Nina tadi.." ucap Nina saat itu sambil menunjukkan sebuah luka gores yang cukup besar ditangan dan kakinya. Don Pablo dan istrinya yang mengetahui hal itu pun tidak memarahi Carlo. Mereka hanya tersenyum dan memandangnya sebagai sesuatu hal yang wajar kala itu. Carlo merasa diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarga majikannya itu. Tapi ia menyadari posisinya bukanlah siapa-siapa bagi keluarga Don Pablo.

__ADS_1


Ia tidak ingin dipandang bawahan yang melunjak oleh atasannya hanya karena cintanya pada Nina.


Kepulan asap yang keluar dari mulutnya hampir-hampir menutupi wajahnya. Dari teras rumahnya, ia dapat melihat jendela kamar Nina yang hanya beberapa meter dari tempat ia duduk. Don Pablo memang memperhitungkan semuanya. Bahkan hingga arsitektur rumah ini. Carlo telah menempati rumah yang dibangun khusus untuknya sejak ia berusia 10 tahun. Dahulu ia hanya diberikan sebuah kamar kecil dengan kamar mandi disebelahnya yang biasa digunakan para penjaga dan pembantu rumah dikeluarga Don. Tetapi karena kebaikan dan kemurahan hati majikannya itu, ia dibangunkan sebuah rumah yang cukup besar untuk ukuran Carlo. Rumah tersebut memang sengaja dibangun oleh majikannya bersebelahan dengan kamar Nina. Agar ia bisa selalu menjaga Nina 24 jam. Tetapi baginya saat ini seperti sebuah siksaan nikmat bagi sang pecinta yang pengkhayal seperti dirinya.


Bagi Carlo melihat Nina tak jauh dari pandangannya adalah sebuah kepuasan tersendiri. Ia tidak tahu berapa lama ia akan sanggup memendam perasaannya pada gadis itu. Akan tetapi, menurutnya untuk saat ini mungkin itulah hal terbaik yang dapat dilakukannya.

__ADS_1


Suara handphone yang berbunyi membuyarkan lamunan Carlo. Ia merogoh saku celananya sambil melihat pergelangan tangannya. Sudah 45 menit ia menghisap cerutunya sambil duduk melamun didipan teras rumahnya. Siapa pula mengganggu dirinya dini hari. Carlo membuka handphonenya. Ia tampak terkejut ketika melihat sebuah pesan email di handphonenya.


Carlo belum tidurkah kau ? Aku tak bisa tidur..rasa-rasanya aku akan terjaga hingga pagi nanti.Aku bosan sendirian dikamar. Maukah kau temaniku sekedar mengobrol ditepi pantai ? tolong balas segera. Nina.


Carlo yang membaca pesan tersebut tampak terkejut. Lebih terkejut saat ia mengalihkan pandangannya kekamar gadis itu, Nina telah berdiri tepat didepan jendela kamarnya menatap langsung ke arah Carlo. Jantung Carlo langsung berdegup kencang. Baru kali ini ia merasa seolah ditelanjangi oleh gadis itu. Ia merasa seperti gadis itu menyelusup masuk ke dalam relung hatinya. Mengetahui perasaan cintanya padanya. Ia buru-buru mengendalikan perasaannya. Ia tersenyum sambil mengangguk kecil pada Nina yang seolah menunggu persetujuannya. Nina tampak membalas senyuman Carlo dari balik tirai gordyn tipis itu.

__ADS_1


***


__ADS_2