Goddess Of Don Pablo

Goddess Of Don Pablo
Bab 33 : Villa Mounsieur..


__ADS_3

Mereka telah berada tepat didepan villa Mounsieur. Bangunan tersebut tampak tua dan kuno. Tapi, siapapun yang melihatnya mereka bisa melihat bagaimana keindahan kemegahan villa ini pada masa lampau. Dinding-dinding terbuat dari batu yang diambil dari kaki gunung Rheinsen. Batu yang terbentuk dari proses metamorfik bebatuan alami ribuan tahun yang lampau. Ketika gunung ini mengeluarkan magma cair dan membentuk proses batuan secara alami. Batu Dindingnya berwarna gelap keabuan mengkilat jika dilihat dari dekat. pintu depan villanya terbuat dari kayu ek yang berumur ratusan tahun. Tampak begitu tinggi dan besar. Berwarna coklat tua.


Samantha, Simon dan kedua putri kecil mereka memasuki dalam villa. Pada bagian dalam villa ini terdiri dari 3 lantai. Lantai menggunakan batu granite berwarna abu-abu kristal dengan corak berbintik hitam. Tangganya terbuat dari kayu mahoni yang tahan rayap dan tahan terhadap kondisi cuaca apapun, baik panas ataupun hujan. Dilantai 1 terbuat sebuah ruang tamu dan ruang keluarga yang luas. Perabotannya berkualitas terbaik dengan pola khas masa monarki zaman dulu. Terdapat sebuah tungku perapian yang cukup besar pada bagian ruang keluarga yang dibalut sebuah karpet dari bulu domba berwarna putih kusam akibat debu. Menuju lorong pada bagian belakang terdapat dapur yang bisa dibilang luas. Dengan sebuah meja makan ditengahnya yang bisa menampung sekitar 10 -15 orang. Semua perabotnya tampak terbuat dari kayu mahoni dengan beberapa lampu templok disetiap sisi dindingnya. Terdapat sebuah jendela dan pintu belakang menuju halaman belakang.


Samantha membuka jendela pada bagian dapur. Agar udara segar siang hari dan cahaya matahari dapat memasuki bagian dalam villa ini. Penerangan pada siang hari tampak sangat terang didapur. Angin pun berhembus cukup kencang. Dilantai 1 terdapat sebuah ruang bawah tanah yang dahulunya menyimpan segala stok bahan makan untuk musim dingin dan balok-balok kayu untuk menyalakan perapian. Tetapi, setelah nenek buyut nya Samantha meninggal, ruang bawah tanah tersebut tampak cukup terbengkalai dan lebih menyerupai sebuah gudang untuk menyimpan segala barang yang tidak perlu.


Seluruh kamar tidur terdapat dilantai 2. Ada 5 kamar tidur dengan sebuah kamar mandi shower dan kloset untuk bersama. Serta kamar mandi didalam untuk sebuah kamar tidur utama yang sangat luas.


Samantha dan Simon menempati kamar utama mereka. Simon membuka kamar utama. Sebuah jendela cukup besar berada menghadap ke jalan utama tempat mereka menyusuri menuju villa ini. Dan pada sisi lainnya terdapat sebuah jendela kaca mati yang tidak dapat dibuka berfungsi untuk melihat pemandangan pada bagian halaman belakang. Dari jendela tampak halaman belakang yang cukup luas yang dikelilingi pagar batu dan mawar berwarna putih merambat menutupinya. ditengah terdapat sebuah kolam kecil air mancur, yang saat ini tampak keruh airnya dan tidak menyala pancurannya. ditepiannya terdapat sebuah bangku taman panjang dan meja kopi berbentuk bulat kecil yang terbuat dari kayu mahoni asli tanpa sambungan.


Emily dan Fransiska memilih tidur bersama. Emily sebenarnya cukup berani untuk tidur sendirian tanpa ditemani Fransiska adiknya saat dirumah. Tapi, entah mengapa setiap kali berlibur ke villa ini, Emily maupun Fransiska tampak ogah untuk memilih kamar sendiri-sendiri. Mungkin karena villa Mounsieur tampak luas dan terasa sepi sekali jika tidur sendirian. Maka tanpa butuh persetujuan siapapun Emily dan Frans setuju memilih sebuah kamar tepat disebelah kamar utama yang ditempati oleh Samantha dan Simon.


"Pa,Ma..aku dan Kak Emily tidur kamar sini ya ?" tampak Frans berkata sambil menarik tepi baju ibunya dan sebelah tangan kirinya menggendong Bunchy dalam pelukannya.


Samantha hanya mengangguk tanda setuju pada kedua putrinya itu. Emily dan Frans pun berlari membuka pintu kamar mereka. Disana terdapat sebuah kasur double bed yang cukup luas. Sebuah lemari kayu dengan cermin besar tergantung pada dindingnya.


Sebuah jendela kaca berukuran sedang menghadap bagian halaman belakang dengan beberapa lubang ventilasi udara sebagai sirkulasi udara. Penerangan didalam kamar mereka sangat baik. Bahkan tampak begitu terang disiang hari itu.


Emily dan Frans melepaskan ransel yang mereka bawa. Emily mengeluarkan pakaian mereka dan menatanya disebuah lemari mahoni yang ada disana. Ia pun membantu adiknya Frans menata pakaian mereka di laci sebelahnya.

__ADS_1


"Ini bagianku dan laci itu milikmu " ucap Emily pada Frans ketika selesai mengeluarkan barang-barang mereka dan menyusun pada laci lemari yang telah mereka bagi.


Villa Monsieur ini tampak cukup bersih saat keluarga Simon datang dan menginap. Karena sebelumnya Samantha telah menghubungi seorang keluarga yang tinggal cukup jauh dari villa mereka tapi masih di area pegunungan Rheinsen. Manuella, adalah pelayan berusia 35 tahun yang sejak zaman neneknya telah mengabdi pada keluarga Samantha. Manuella seorang wanita cekatan dan jujur. Samantha telah menghubunginya 2 Minggu sebelumnya untuk memberitahukan kehadiran mereka di villa itu. Hingga Manuella telah membersihkan dan menyiapkan beberapa bahan pangan kalengan sebagai bekal mereka. Manuella tinggal tak jauh dengan kaki gunung Rheinsen. Jaraknya ke villa Monsieur sekitar 3 kilometer dari rumah. Menuju jalan berkelok dan kanan kiri hutan disekitarnya. Tapi bagi Manuella dan keluarga itu jarak yang dekat dan medan mudah bagi mereka. Karena mereka memang tinggal disana sejak dahulu.


Area pegunungan Rheinsen masih sangat asri. Jauh dari peradaban modern. Tidak ada mall atau area wisata umum disekitarannya. ada beberapa rumah tinggal atau villa didaerah pegunungan Rheinsen ini. Tapi tidak cukup banyak. Bahkan satu sama lain terletak berjauhan. Karena area ini dahulunya adalah hutan belukar yang kemudian para landlord atau tuan tanah dan para bangsawan lokal datang ke kawasan ini dan mereka menguasai hampir sebagian hutan ini. Maka tidak heran dibeberapa area terdapat pagar pembatas yang menandakan kepemilikan lahan tersebut, yang tidak bisa dimasuki sembarang orang kecuali pemiliknya.


Keluarga nenek dari nenek buyut Samantha merupakan salah bangsawan asli didaerah sini yang cukup ternama. Jadi beberapa penduduk asli dikaki gunung mengenal keluarga ini atau lebih tepatnya Villa Monsieur ini.


"Em...Frans...kalian tunggu didalam dulu disini ya..Jangan kemana-mana..Mama dan Papa,mau mengambil koper dan beberapa barang yang ada didalam bagasi mobil.." ucap Samantha tepat berdiri didepan pintu kamar mereka. Emily dan Frans yang tengah mengobrol dikasur mereka menoleh pada sang ibu.


"Ok,Mom...Don't worry..." ucap Emily sambil mengacungkan jempol pada sang ibu. Tanda ia dapat diandalkan atas instruksi yang diberikan Samantha pada dirinya dan adiknya itu. Samantha tersenyum lega sekaligus bangga. Ia memiliki kedua putri yang penurut dan seorang anak sulung yang bisa diandalkan.


Jam dipergelangan tangannya menunjukkan hampir pukul 2 siang. Ia membuka kulkas. Beberapa kaleng makanan dan minuman instan sudah ada disana.


sebuah keranjang buah yang berisi beberapa buah apel dan anggur pun telah tersaji diatas meja makan yang luas dengan sebuah vas kaca berisi mawar segar beraneka warna yang ditata rapi. Menimbulkan aroma khas yang lembut.


Manuella telah mempersiapkan segalanya dengan baik, pikir Samantha.


Tak lama...

__ADS_1


Ssseeet ....seperti sebuah siluet orang melintasi pintu dapur. Samantha tidak terlalu jelas dengan pandangannya karena matanya tidak sedang tertuju disana. Pintu yang berada disisi kanannya,sebagian berupa kaca yang dapat tembus melihat bagian luar. Hingga ia merasa ada sesuatu yang melintasi pintu itu.


Rasa terkejut dan sedikit cemas tiba-tiba saja muncul dalam dirinya.


Ia agak ragu sebenarnya untuk membuka dan melihat apa yang ada diluar. Tapi nalurinya mendorongnya kesana. Ia berjalan dan ketika tepat didepan pintu, Sam menggenggam gagang pintu erat.


Ceklek....ia membukanya. Tampak sisi halaman belakang yang cukup luas. Ia menoleh kekiri dan kekanan. Ia berjalan beberapa langkah kebagian belakang halaman, dimana tadi siluet orang berlari ke arah sana.


Langkah Samantha terhenti ketika ia melihat tembok batu yang ditutupi tanaman mawar rambat yang rimbun menutupi.


Mentok. Tak ada siapapun ia lihat.


Mungkin hanya halusinasiku saja hingga melihat sesuatu yang memang tak ada disana, pikir Sam kembali. Ia pun membalikkan badan menuju ke arah dapur kembali.


Samantha tak tahu. Diujung tembok batu tersebut terdapat sebuah celah kecil yang muat untuk seseorang bertubuh kurus melewatinya. Celah terrsebut tak terlihat karena terhalang rimbunnya batang pohon mawar merambat yang menjulur menutupi pagar batu itu.


Dibagian luar pagar tersebut, memasuki sisi hutan pegunungan Rheinsen, seorang lelaki kurus tak terlalu tinggi tengah tersengal-sengal dengan nafasnya. Ia hampir saja terlihat oleh Samantha.


Hmm...aku harus mengubah rencana hari ini sedikit.Sial! umpat lelaki kurus itu. Ia pun kembali berjalan memasuki hutan yang tertutupi rimbunnya pepohonan dan semak yang tinggi disisi kanan kirinya.

__ADS_1


__ADS_2