Goddess Of Don Pablo

Goddess Of Don Pablo
Bab 40 : Perjumpaan..


__ADS_3

Marlon membukakan pintu mobil. Ia tersenyum tatkala gadis itu keluar dari dalam mobil. Kemudian mengedipkan sebelah matanya pada seorang penjaga hotel yang tepat berdiri di depan lobby.


Sang penjaga hotel pun dengan sigap melayani Maria. Ia langsung membawa gadis itu menuju restoran. Mereka menaiki lift menuju rooftop atau bagian tertinggi dari hotel tersebut.


Seorang pria dengan kaos hitam berkerah dan bertopi serta menggunakan kacamata hitam telah menunggu. Wajahnya tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Ia telah mempersiapkan diri sebelumnya. Ubannya telah ditutup dengan cat rambut senada dengan warna rambut aslinya. Lelaki itu pun telah mencukur habis jenggot dan jambangnya. Hanya tersisa rambut-rambut kecil bekas cukuran. Ia satu-satunya pengunjung restoran pagi itu.


Ia memilih spot di outdoor. Di tepi kolam renang. Nampak ia telah menyelesaikan sarapan paginya. Pelayan hotel itu membawa Maria ketempat lelaki itu tengah duduk. lelaki itu duduk membelakangi arah pintu masuk Maria saat ini. Jantung Maria mulai berdegup kencang. Melihat siluet punggung lelaki yang perlahan semakin dekat dengannya.


"Permisi, Tuan..." ucap pelayan hotel itu. Lelaki itu menoleh ke arah suara tersebut. Ia melihat seorang pelayan hotel dengan gadis muda yang sangat cantik. Kini ayah dan anak itu saling bertatapan. Mereka terdiam untuk beberapa saat. Sampai pelayan hotel menarik kursi dan mempersilahkan gadis itu duduk dihadapan pria itu.


Maria tampak tak percaya dengan penglihatannya. Inikah ayahnya ? wajah dan penampilannya jauh lebih muda dari bayangan wanita itu. Ia tampak lebih stylish dari yang Maria dulu ingat ketika masa kanak-kanak.


"Maria...kau...tampak berbeda sekarang..."ucap lelaki dihadapannya sambil melepaskan kacamata hitamnya.


"Kau...maksudku...Daddy juga tampak berbeda dari yang kukenal dahulu..." ucap Maria terdengar lirih dan bergetar. Sebenarnya ia gugup. Inilah untuk pertama kalinya ia melihat pria yang telah membuatnya terlahir ke dunia semenjak terakhir ia masuk asrama ketika berusia remaja. Hingga setelahnya ia tak pernah melihatnya kembali.


" Kau sudah sarapan ?" sang ayah bertanya tapi belum jua Maria menjawab, ia telah menoleh dan menjentikkan tangannya kepada pelayan hotel yang ada. Pelayan itu bergegas menuju ke meja mereka. ia memberikan sebuah daftar menu kepada Maria.


"Kau pilih dulu, Nak...kita ngobrol sambil kau sarapan...",ucapnya.


"Chicken Cordon Bleau, French fries ukuran large dan air mineral" ,ucap gadis itu.


"Itu saja Nyonya ?" tanya pelayan itu kembali.


"Ya.." ucap wanita itu sambil menganggukkan kepala dan memberikan kembali daftar menu kepada si pelayan tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu sekarang ? Kau sudah bekerja ?" tanya ayahnya itu kemudian.


" Yah..begitulah... semenjak aku lulus dan mendapatkan gelar sarjana komputerku, aku bekerja di kepolisian pada bagian IT. Sekarang aku ditempatkan di Kepolisian Bellarose.."jawabnya datar.


"Hmm ...Daddy...dan..bagaimana dirimu sekarang ? Sepertinya ...Daddy tampak sukses dan mapan dari sebelumnya ? " tanya Maria dengan sangat sopan.


"Yah...begitulah... aku memiliki usahaku sendiri. Sebuah Cafe dan Pub yang cukup mewah.. ", ucap pria itu.


"Hmm ...apakah kini kau sudah menikah ?" tanya Maria halus. Ia sebetulnya canggung dan bingung. Banyak hal yang ia ingin tanyakan pada ayahnya itu. Tapi, ia tidak tahu apakah ini akan sopan atau tidak untuk pertemuan pertama mereka kembali.


" Aku tidak menikahi wanita manapun kecuali ibumu, Maria ...dan aku tidak memiliki anak manapun kecuali dirimu satu-satunya.."ucap pria dihadapannya itu. Tak lama berselang, si pelayan tengah menghampiri meja mereka dan memberikan pesanan yang telah dipesan. Maria menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada pelayan itu seketika pelayan itu mempersilahkannya akan hidangan yang dibawanya. Setelahnya ia berlalu dan meninggalkan pasangan itu kembali.


"Lalu...Apa yang kau lakukan Daddy selama ini semenjak...aku berasrama...?" Maria memotong chicken Cordon Bleau dihadapannya. Ia mengunyah dan menikmati setiap gigitannya. Sambil menyodorkan sepiring french fries kepada ayahnya.


Maria masih mengunyah ayam di mulutnya itu. Isi mozzarella yang meleleh dari gigitannya membuatnya mengunyah lebih lama. Ia meneguk air mineral. Kemudian ia menghela napas panjang dan berkata :


"Aku berusaha belajar dengan giat semenjak aku berasrama sampai aku mendapatkan gelar sarjana IT ku. Saat akan lulus, sebenarnya...aku saat itu berharap ayah akan ikut hadir dalam prosesi wisudaku...Aku berupaya mencarimu dengan kemampuan IT ku...Tapi aku tak dapat menemukan apapun mengenai keberadaanmu. Aku sempat bingung mencarimu..sejujurnya saat itu aku sedih...hanya saja waktu membuatku sibuk dengan hal lain...Aku kemudian mencari kerja..melamar kesana-sini yang membuka lowongan. Saat itulah kepolisian di Coveland sedang membutuhkan tenaga IT. Beruntung,aku lolos dan bekerja disana. Dan kemudian aku ditransfer ke sini...ke kepolisian di Bellarose .. belum ada setahun aku berada disini..."ucapnya begitu lancar.


"Kau sendirian tinggal disini ? Maksud ayah di apartemenmu ?"


"Yah..tentu Daddy ...aku sendirian di apartemenku dan itu membuatku nyaman..." jawab Maria. Ia tahu semua orang selalu menyangkanya nerd dan egois hanya karena ia hidup seorang diri. Biasanya gadis seumurannya, lebih menyukai tinggal sharing, yaitu tinggal dengan seorang teman dekat atau pasangan yang membuat uang sewa per bulannya pun akan lebih murah karena memiliki kawan berbagi. Tapi bagi Maria itu merupakan sebuah gangguan. Ia lebih nyaman tinggal sendiri tanpa merasa khawatir seseorang akan menggerecoki hidupnya.


"Hmm ..baiklah...Kau belum memiliki pacar ?" tanya ayahnya datar tersenyum.


"Yah...kau tahu...aku seorang IT di kepolisian...aku rasa tidak banyak pria yang mau mengencani wanita dengan tipe seperti aku bukan ? tapi bagiku tak masalah...aku pun merasa belum saatnya aku memiliki pacar...pekerjaanku cukup banyak...sudah cukup untuk menyita waktu dan energi ku.."terang Maria panjang lebar.

__ADS_1


Sang Ayah tersenyum. Ia mencocol sepotong kentang goreng di saus sambal yang tersedia di wadah kecil yang ada di meja.


Lelaki itu merasa bangga, Maria dapat tumbuh menjadi gadis cerdas, mandiri, dan punya harga diri. Tidak seperti kebanyakan wanita yang ada di cafenya. Wanita-wanita cantik yang rela menjajakan tubuhnya untuk dicicipi lelaki hanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.


Lelaki itu tahu, ia bukanlah ayah yang baik jua. Segala dosa dan kenikmatan duniawi telah ia cicipi. Ia hanyalah seperti kebanyakan lelaki yang seorang bajingan. Tetapi ia merasa menjadi lelaki yang beruntung memiliki seorang anak seperti wanita dihadapannya ini.


"Hari ini kau punya jadwal atau janji ?" tanya sang ayah.


"Tidak. Waktuku luang seharian ini.." jawab Maria jelas. sepiring Chicken Cordon Bleau telah ia habiskan. Kini ia tengah menenggak habis botol air mineralnya.


"Kalau begitu kau sudah selesai dengan sarapanmu ? Aku ingin mengajakmu shopping ..didekat sini ada sebuah mall cukup besar ..." ucap lelaki itu. Ia merasa bersalah tak dapat menjadi ayah yang baik bagi gadis dihadapannya. Kerasnya hidup telah menjadikannya menghalalkan apapun untuk menjadi seperti sekarang. Dan kini ketika ia memiliki segala impian lelaki manapun, ia ingin menebus semuanya.. Ia akan memberikan apapun yang gadis ini minta. Maria. Ya..ia satu-satunya wanita yang berarti dalam hidupnya selama ini. Semangat yang membawanya bertahan dalam kerasnya kehidupan.. Setelah satu-satunya istri yang ia cintai meninggalkannya.


"Ayuk...kita pergi sekarang...?" tanya Maria sambil bangkit dari duduknya. Sang ayah hanya menganggukkan kepala. Ia mengenakan kembali kacamata hitamnya. Topi dan kacamata hitam itu telah membuat sebagian wajahnya tertutup dan sulit dikenali.


Ia merangkul anak gadisnya sambil berjalan memasuki lift dan turun ke lobby hotel.


Sebuah Limousine menunggu didepannya. Tepat ketika sang supir membuka pintu penumpang, seorang lelaki jangkung dan kurus datang dan memasuki lobby hotel. Ia tampak terkejut melihat wanita berkaos merah berjalan menuju mobil Limousine itu.Wanita yang ia baru kenal beberapa hari. Maria. Wanita itu tak menyadari keberadaan Thomas.


Ia tampak berjalan penuh riang sambil tersenyum pada lelaki disebelahnya. Seorang lelaki yang tampak kaya dan eksklusif.Lelaki yang tampak penuh mesra dan kasih sayang itu merangkulnya begitu erat.


Thomas tak dapat melihat jelas wajah lelaki itu. Tapi ia seperti familiar melihatnya. Entah mengapa hatinya seperti panas terbakar melihat adegan itu. Rasa cemburu sekaligus patah hati mendadak datang begitu saja.


Haruskah perasaan itu datang bersamaan ?


***

__ADS_1


__ADS_2