
Perusahaan Medicro Pharmaceutical memiliki gedung kantornya sendiri. Gedung berlantai 10 itu seluruhnya milik Medicro Pharmaceutical. Disetiap lantainya terdapat bagian-bagian sendiri. Dalam satu gedung tersebut terdapat laboratorium dan tempat produksi obat-obatan, gudang, ruang kantor bagi para staff perusahaan serta beberapa meeting room,pantry bahkan sebuah kantin khusus di rooftop yang menyajikan berbagai aneka hidangan catering serta berbagai snacks dan minuman kaleng dibeberapa vending machine dan coffee machine yang menggunakan self-service system. Dimana para pegawai yang ingin makan disana hanya tinggal memasukkan lembaran uang sesuai harga yang tertera kedalam vending machine dan menekan tombol yang ada. Kemudian mesin akan mengeluarkan makanan/minuman sesuai tombol yang ditekan. Terdapat kursi dan meja-meja panjang untuk duduk. Spot ini adalah tempat favorit bagi para pegawai di perusahaan itu untuk lunch atau melepaskan penat kala mereka harus lembur.
Didepan pintu masuk lobby gedung, terdapat beberapa kamera cctv dan metal detector serta 2 orang penjaga keamanan gedung. Memasuki area dalam gedung terlihat sebuah meja kayu panjang dengan dua orang petugas wanita sebagai information center. Terdapat sebuah kamera khusus otomatis yang akan memotret dan menyimpan memori tamu yang datang maupun pegawai yang masuk pada bagian ini.
Sedangkan bagian lift gedung dilengkapi dengan alat pengenal identitas diri, yang mengharuskan setiap penggunanya mentap ID card mereka untuk membuat lift bergerak naik dan turun. Sedangkan para tamu luar yang datang mereka akan diberikan ID Card sementara.
Seorang lelaki kurus tengah menatap ke setiap sisi gedung perusahaan tersebut. Gedung yang dilengkapi berbagai perangkat keamanan berteknologi canggih itu membuatnya tampak terkagum-kagum akan kemewahan perusahaan ini.
Ini adalah hari pertama bagi dirinya mendapatkan pekerjaan sungguhan. Sebuah pekerjaan halal dengan gaji yang cukup untuk membiayai hidupnya. Ia adalah pegawai cleaning service yang baru. Pagi tadi ia telah bertemu dengan kepala cleaning service di gedung ini. Ia telah mendapatkan sebuah seragam yang harus dikenakannya selama bekerja dan sebuah id card bertuliskan nama dan foto dirinya untuk memasuki setiap lantai gedung untuk dibersihkan.
Lelaki ini telah bertekad untuk bekerja dengan benar dan sungguh-sungguh di perusahaan ini. Tampak jam telah menunjukkan pukul 08.30 dan gedung ini mulai ramai dengan para pegawai yang berseliweran. Si petugas cleaning service ini telah berada dilantai 3. Ia kedapatan tugas bekerja untuk 3 lantai di hari pertamanya itu. Petugas cleaning service di perusahaan itu ada 4 orang dengan satu orang pimpinan yang melakukan supervisi terhadap para petugas cleaning service serta 3 orang office boy di gedung tersebut.
Seorang lelaki dengan jaket kulit dan sunglasses berwarna coklat memasuki gedung itu. Ferguso tampak sedikit tergesa memasuki gedung itu. Biasanya ia jarang berada digedung ini. Don Pablo menghire dirinya untuk menjadi tenaga lapangan yang bertugas mengontrol dan memastikan distribusi morfin ke setiap rumah sakit legal maupun di dunia kelam. Tempat klinik-klinik illegal dimana para mafia dan bandar juga menjadi kongsi mereka.
__ADS_1
***
"Sayang,sudah berminggu-minggu kau tak mengabariku...kita perlu membicarakan masalah kehamilanku! kabari aku segera !", ucap Chantel dengan nada kesal.
Belakangan ia telah mengirimkan pesan singkat beberapa kali ke nomor Ferguso.. Tapi, lelaki ini tak menggubrisnya. Bukan karena ia seorang lelaki bajingan. Tetapi, Ferguso tengah sibuk memikirkan segala yang terjadi belakangan ini.
Seseorang tengah mengintainya. Ia tak tahu apakah ini berkaitan dengan masalah pribadinya terhadap wanita yang ada diujung telepon ini atau ini masalah dengan pekerjaannya. Seseorang yang mungkin musuh dalam selimut mengintai dirinya. Pikirannya berkecamuk dengan berbagai spekulasi yang ia miliki. Itulah yang membuatnya menjauh dari diri Chantel.
"Maafkan aku,Chantel...aku sedang banyak masalah belakangan ini..kau tahu setelah apa yang terjadi di apartemenku...aku rasa sebaiknya aku berkonsentrasi pada masalahku ini..."
"..Klik.."balas Chantel terhadap diri lelaki itu sambil menutup sambungan telepon sepihak. Emosinya kurang baik belakangan ini. Ia merasa panik dengan kondisinya. Juan tak tahu menahu mengenai kehamilannya ini.Dan...Chantel pun yakin lelaki ini pun tak akan peduli juga jika ia hamil anaknya. Ia menghisap kembali cerutu milik Juan. Ia tengah berada didalam apartemennya. Juan sedang keluar mengurusi segala bisnisnya. Chantel pun memilih untuk segera keluar dan bekerja kembali di Bar. Hari ini ia masuk shift sore. Tetapi siang itu ia memilih keluar rumah. Sekedar mencari hiburan. Jam masuk kerjanya masih lama.
Ferguso tampak menghela nafas panjang dan berat. Chantel menguji kesabarannya hari itu. Ia memilih untuk menerima perlakuan wanita ini terhadapnya.Ia sadar, ia lah yang salah. Wajar wanita itu marah terhadapnya. Chantel adalah wanita satu-satunya yang Ferguso kencani. Ia bukanlah lelaki yang pandai merayu wanita meskipun pekerjaannya bukanlah sebuah pekerjaan yang terlihat baik. Tetapi urusan perempuan, ia bukanlah bajingan yang bisa membual terhadap wanita.
__ADS_1
Wajahnya tampak semakin kusut kala lift telah menuju ke sebuah lantai. Lantai 5. Tempat dimana ia memiliki akses komputer untuk membuka data segala transaksi morphine yang telah dan akan didistribusikan. Ia tak tahu harus memulai dari mana. Ia berjalan mengikut nuraninya. Ia tak terlalu yakin apa yang terjadi diapartemennya adalah ulah Fernando padanya, setelah apa yang terjadi belakangan ini. Ia merasa sepertinya ada musuh dalam pekerjaannya.
Ia berada didepan ruang kaca. Ruangan itu hanya berukuran 2 x 3 meter. ruangan sangat kecil hanya berisi sebuah komputer, mesin scanning dan printer. Ini adalah sebuah komputer yang dapat diakses oleh siapapun pegawai di perusahaan tersebut. Meskipun ruangan tersebut, hanyalah ruangan kecil, untuk masuk kesana terdapat sebuah security system yang dipasang. Dimana untuk masuk ke ruangan kaca sempit itu, Ferguso harus kembali mentap ID card miliknya. Serta ia harus menggunakan fingerprint untuk membuka access code di komputer yang tersedia dihadapannya itu. terdapat sebuah alat kecil yang tersambung pada komputer. Alat kecil yang merekam sidik jari. Hingga jika seseorang meretas untuk mencuri data diperusahaan itu, pihak perusahaan dapat dengan sigap mengetahui siapa pelakunya dan dengan mudah meretas dan menghancurkan kembali data yang telah dicuri.
Cling...
Sebuah suara notifikasi dari komputer yang tengah memunculkan data yang dibutuhkan. Ferguso menatap layar tersebut. Ia mengambil sebuah kertas dan memprintoutnya. Ia mengambil data pendistribusian yang dilakukan sejak 3 bulan lalu sebelum kejadian kebakaran di apartemennya itu. Ia mengetik kode tertentu. Ia tahu betul untuk pendistribusian morphine secara illegal perusahaan memiliki kode sendiri dalam pengarsipan setiap dokumen yang ada. Hanya data itulah yang diambil Ferguso.
"Mungkin ada clue dari sana.." ucapnya membatin pada dirinya sendiri. Sambil menunggu hasil printer selesai memprint. Ferguso mulai berupaya menenangkan dirinya. Ia kembali mengambil handphone dari saku celananya. Mengetik sebuah pesan text singkat.
"Chantel sayangku...maafkan aku yang terlalu sibuk dengan urusanku belakangan ini..hingga melupakan masalah kita. Bisakah kau memaafkanku ? Malam nanti, aku jemput kau ditempat kerjamu..aku ingin mengajakmu makan malam bersama sambil membicarakan masalah kita." cling. pesan telah terkirim. Ferguso memasukkan kembali handphonenya sambil tersenyum. Ia mengerti wanita tak akan bisa diajak berdebat saat mereka marah.Bisa merusak segalanya.
Ting..
__ADS_1
sebuah bunyi tanda printer telah selesai memprint semua berkas yang ia butuhkan. Ia menutup kembali lembar kerja di komputer dan mematikannya. Merapihkan semuanya seperti sediakala dan keluar dari ruangan sempit itu. Tak lupa, ia menatap kembali ID cardnya untuk mengunci pintu ruangan tersebut sekaligus merekam jejak jam keluar masuk setiap orang yang berada di ruangan sempit itu.
***