GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 15


__ADS_3

Cindy berkali-kali memencet bel apartemen Rama namun tidak dibukakannya sama sekali. Ia pun menekan password apartemen Rama yang merupakan tanggal jadian keduanya satu tahun lalu. Ia pun menelisik seluruh ruangan yang nampak sepi. Rama tidak ada disana.


”Kemana sih kamu yang?” gumam Cindy semakin cemas dibuatnya. Ia pun mencoba mengirimkan sms kepada Rama sekali lagi yang berisi, ”Plis bales sms aku yang, kita ngobrol baik-baik. Ini aku udah di aparteman kamu.”


”Tunggu.” balas Rama. Cindy pun menghela nafasnya lega.


Rama pun masuk bersama seorang pria yang mengenakan masker dan topi serba hitam. Disana Cindy segera bangkit dan memeluk Rama dengan erat. ”Maafin aku yang,” ucap Cindy menyesal. Rama? Ia sama sekali tidak membalas pelukan Cindy dan lebih memilih diam.


Merasa tidak mendapat reaksi apa-apa dari Rama, Cindy pun mengendurkan pelukannya. ”Duduk dulu.” ucap Rama dingin dengan kilatan mata yang dingin pula. Cindy tidak menemukan Rama yang biasanya dari sorot matanya, yang selalu tersenyum dan menatapnya dengan tatapan teduh penuh kasih sayang. Pun menyambutnya dengan suka cita.


”Duduk disini aja Kevin.” ucap Rama memintanya untuk ikut duduk di antara dirinya dan Cindy.


”Jadi, kenapa kemaren kamu nggak dateng trus hp nggak aktif?” tanya Rama. Cindy bingung harus memberikan penjelasan apa. Kemarin ia terlalu senang akan kehadiran Gilang dan jalan-jalan sampai tengah malam.


”Hp aku ketinggalan di kantor soalnya buru-buru mau pulang.”


”Bukan hp, tapi kamunya kenapa nggak dateng?”


Cindy diam seribu bahasa. Ia sama sekali tidak pandai dalam urusan berbohong. Dalam hati Kevin mampu melihat gelagat aneh si perempuan yang bernama Cindy itu hingga membuatnya tersenyum sinis.


Cindy salah tingkah karena di sisi lain ia di intimidasi oleh sosok pria yang baru ia ketahui namanya adalah Kevin. Kevin seolah mampu membaca gerak-geriknya sehingga menuntutnya untuk segera berkata jujur dan tidak bertele-tele.


”Kemaren keluarga aku dateng trus jalan-jalan sama mereka.” jawab Cindy tidak sepenuhnya berbohong. Sorot mata Cindy menurun, ia tidak berani menatap kedua mata Rama secara langsung.


”Nggak masalah kamu mau boong ato nyakitin aku kek gimana aja. Tapi, kalo kamu nyakitin hati mama aku nggak bisa tolerir Cin. Kamu udah ngerendahin mama aku.” ucap Rama membuat Cindy mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk takut.


“Hah?“ gumam Cindy cengo.


”Lebih baik mulai dari sekarang kita jalani hidup masing-masing aja Cin.” ucap Rama membuat Cindy terkejut bukan main. Bagaimana bisa Rama mengakhiri hubungan yang sudah terjalin selama satu tahun hanya karena satu kesalahan saja?


”Kamu jangan bercanda deh yang.” ucap Cindy tidak percaya.


”Aku serius Cin.” jawab Rama mantap.


”Kamu coba tenang dulu deh yang, kita bicarain baik-baik, masa kamu mau end gitu aja sih?”

__ADS_1


”Kalau gitu kamu siap nggak nikah sama aku bulan depan?“


Pertanyaan sarkasme dari Rama pun berhasil membuat Cindy tertohok. Cindy mati kutu dibuatnya. Lidahnya kelu antara harus menjawab ya atau tidak. Jujur saat ini Cindy masih belum siap untuk menikah, karena itu artinya ia tidak lagi sebebas seperti sebelum nikah.


Usianya masih 21 tahun dan baru saja bekerja di perusahaan besar dengan gaji lumayan tinggi. Masih banyak hal yang harus ia capai di perusahaan tersebut untuk bisa naik jabatan. Menikah? Bukankah itu artinya waktunya akan terbagi? Setidaknya tunggu sampai ia naik jabatan dulu baru memutuskan menikah.


”See? Nggak bisa jawab, kan?“ seru Rama sambil mengerutkan alisnya.


”Tapi, kita baru satu tahun, kan yang? Kita masih bisa nikmatin waktu bareng sebelum nikah? Kan nggak harus buru-buru yang?”


”Kamu tau Cin umur aku udah berapa? Aku nggak buang-buang waktu jalanin hubungan yang nggak pasti.”


Cindy pun menarik tangannya kembali. Ia mengedipkan matanya beberapa kali menahan air mata yang hendak jatuh. ”Ok.” sahutnya pelan lalu segera meninggalkan apartemen Rama detik itu juga.


Dada Rama perih sekali serasa ditancap dengan ribuan belati tajam. Ia terpaksa harus mengakhiri hubungannya dengan Cindy karena ia tidak mau terus-terusan berasa dalam hubungan semu tak berujung.


”Fix dia udah punya cowok lain.“ celetuk Kevin semakin memperkeruh suasana saja.


”Sotoy.” sahut Rama kemudian menyalakan puntung rokoknya dengan pemantik api.


”Emangnya lu setua apa sih? Keknya ngebet banget mau nikah ****.” ledek Kevin.


Kevin pun mengangguk paham lalu mulai memainkan game di gadgetnya untuk mengusir kebosanan. Tanpa Rama sadari ia memperhatikan Kevin lamat-lamat. Bahkan, matanya meneliti satu per satu area wajahnya, dari alis, mata, hidung, dan bibir.


Ia pun teringat kembali akan kejadian beberapa waktu lalu, yang dimana dirinya begitu menikmati ciuman tiba-tiba dari Kevin. Ia pun segera memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Ia tidak mau Kevin tau kalau wajahnya kini persis seperti udang rebus.


”Saya mandi dulu, kamu buatin saya kopi. Awas kalo saya selese mandi tapi kopinya malah belum siap.” ucap Rama segera berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Kevin pun mencebikkan bibirnya kesal.


Rama keluar dari kamarnya sambil mengusap kepalanya yang basah dengan handuk. Indra penciumannya tiba-tiba mencium sesuatu yang wangi dari dapur. Ia pun berjalan menuju dapur dan mendapati Kevin tengah memasak sesuatu.


”Bikin apa?” tanya Rama yang bersender di samping Kevin.


”Bisa nggak sih bajuan dulu?” protes Kevin menatap tidak suka pada Rama yang shirtless.


”Lagian sama-sama cowok juga.” ucap Rama membela diri. Kevin pun menyipitkan mata dan mencebikkan bibirnya sebal. Entah mengapa Rama merasa seperti sepasang suami istri yang tengah bertengkar hanya karena masalah spele.

__ADS_1


Ia pun tersenyum samar. Hah? Sepasang suami istri? Mikir apa sih Rama ini? Ia pun berdehem dan berkata, ”Saya ke kamar dulu.“ ucap Rama segera menuju ke kamar. Di balik pintu kamar ia memegang dadanya ketika merasakan gelenyar-gelenyar aneh ketika fantasi liarnya mendominasi pikirannya.


”Kok bisa-bisanya sih gue mikir kek gitu. Sadar Ram sadar dia tuh cowok dia tuh cowok. Elu juga baru the end ama si Cindy.” gumam Rama merutuki dirinya sendiri sambil menoyor kepalanya sendiri beberapa kali.


”Ganti baju ato ngerem apa gimana sih?” gumam Kevin sambil geleng-geleng kepala.


10 menit kemudian yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. ”Ngerem lu?” tanya Kevin dengan tatapan yang kurang mengenakan. Ia sebal karena harus menunggu tuan rumah terlebih dahulu padahal perutnya sudah lapar tingkat akut.


”PMS ya? Kok ngambek mulu dari tadi?” tanya Rama sambil mengambil nasi dengan centong.


”Terserah gue.” jawab Kevin ketus.


Setelah selesai makan malam keduanya pun duduk di sofa depan TV. Kevin asyik dengan channel yang menayangkan kartun favoritnya, sedangkan Rama fokus dengan laptopnya karena harus prepare untuk mata kuliah yang akan ia ajarkan besok.


Tiba-tiba Kevin menoleh ke samping ketika dirasanya suasana begitu hening. Ia penasaran apa yang dilakukan oleh Rama sampai-sampai seserius itu. Rama pun juga menoleh ke samping sampai-sampai membuat hidung keduanya sedikit bersentuhan.


Kevin terkejut sambil mengerjapkan matanya tidak percaya berkali-kali. Kevin membeku di tempat tanpa sebab ketika matanya bertemu dengan kedua manik mata Rama. Begini rupanya wajah Rama kalau dilihat dari dekat? Batinnya.


”Boleh cium nggak?” tanya Rama tanpa berkedip.


”Hah?“ sahut Kevin merasa otaknya ngeblank seketika.


Rama melepas kacamatanya lalu meletakannya di meja. Ia pun mendekatkan wajahnya perlahan-lahan hingga akhirnya bibir keduanya pun saling bertemu. Rama memejamkan matanya meresapi rasa sesuatu yang kenyal yang kini menempel di bibirnya.


Berbeda dengan Kevin yang dimana kedua matanya membola sempurna. Entahlah tubuhnya seperti dikunci dan membuatnya tidak bisa bergerak barang seinci pun. Perlahan Kevin pun mulai memejamkan matanya merasakan lidah Rama yang bermain di dalam rongga mulutnya.


”Eunggh.“ Kevin melenguh ketika Rama semakin memperdalam ciumannya hingga membuat air liur Kevin meleleh keluar. Rama tidak peduli. Ia pun meraih pinggang Kevin supaya berhimpitan dengan dirinya.


Rama pun melepaskan ciumannya dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Ia pandangi wajah Kevin yang sudan memerah seperti udang rebus. Lalu, ia pun kembali mencium Kevin mulai dari area rahangnya hingga ke bibir.


Tiba-tiba Rama merasa ada sesuatu yang mengeras di bawah sana. Ia pun segera melepaskan ciumannya dan mencoba melihat apa yang terjadi. ”Kamu..?“ gumam Rama. ”Maaf, udah malem, saya mau tidur dulu. G'night.” ucap Rama lalu merapikan laptopnya serta kertas-kertas yang berserakan dengan cepat. Lalu, segera masuk ke dalam kamar.


”Shit!” umpat Kevin ketika ia menyadari kalau adik kecilnya ternyata bangun hanya karena berciuman dengan seorang pria, apalagi pria itu adalah Rama. Pria? Ia pun menyentuh sudut bibirnya hingga dagu yang terasa basah. ”Euuwwwhhh.” gumamnya berlagak jijik lalu segera berlari menuju wastafel di dapur.


Kevin membasuk mulut dan dagunya dengan kasar. ”Gue konak? Shit shit shit!” batinnya lalu kembali menggosok mulutnya dengan kasar sampai dirasa benar-benar bersih.

__ADS_1


***


Judul lain COME BACK HOME [BL], BLUE SKY [BL], ARES [BB], JOMBLO AKUT


__ADS_2