GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 48


__ADS_3

Chris tiba di rumah tepat saat adzan maghrib berkumandang. Daffin yang tengah asyik bermain game dan berselancar di sosial media sambil rebahan di sofa itu pun kontan langsung duduk setelah ia mendengar suara decitan pintu dari depan. “Mas? Kamu abis belanja?“ seru Daffin menghampiri Chris di depan pintu sembari mengambil paper bag yang ada di tangan Chris. Daffin cium tangan Chris, dan Chris pun juga mencium kening serta bibir Daffin sekilas.


“Itu hadiah dari GM mas di kantor,“ sahut Chris. “Mau makan dulu ato gimana? Tadi aku ada masak Nasi Kebuli. Tapi, berhubung aku nggak suka kambing, jadi ya udah pake ayam aja,“ ucap Daffin. Sebelum membersihkan diri, Chris istirahat sebentar dan duduk di sofa. Daffin pun duduk di sebelah Chris. “Salat dulu, Daff. Ini mas aja belum mandi,“ ucap Chris. Daffin membuka bingkisan yang terdiri dari beberapa kotak itu.


“Hm? Huuuaaaa,“ gumam Daffin berdecak kagum setelah membuka kotak-kotak itu—yang ternyata dua kotak berisi handuk piyama set sandal handuk, satu kotak lagi berisi dia set piyama berwarna merah, dan satu kotaknya lagi berisi mug couple. “Kenapa Daff?“ tanya Chris. “Ini mas, hadiahnya keren-keren semua, aku suka banget nih sama warna handuknya warna kopi susu gitu,“ sahut Daffin. “Mas mau mandi dulu. Kamu salat duluan aja, Daff,“ ucap Chris beranjak dari sofa. Daffin pun mendelik. “Barengan aja salatnya napa mas,“ ucap Daffin sebal. Chris pun terkekeh. “Iya iya cie yang mau diimamin sama mas nya? Hm? Hahaha,“ goda Chris sembari berjalan menuju kamar mandi. Daffin mendengus.


Setelah salat maghrib bersama. Chris dan Daffin makan malam bersama. “Daff, nasi briyani nya ini kamu pake santen, kan?“ tanya Chris sambil menyuap nasi. “Pake, kenapa emang?“ sahut Daffin sambil minum air putih beberapa teguk. “Terlalu berlemak, Daff. Mas nggak terlalu suka sama makanan yang terlalu berlemak gitu. Ntar kalo kamu bikin lagi, santennya dikurangin,“ ucap Chris. Daffin mendadak kesal. Chris mungkin sama sekali tidak bermaksud demikian. Cuma Daffin saja yang berpandangan lain. “Kalo nggak enak nggak usah dimakan.“ ucap Daffin ketus.


Duh, salah lagi aku, batin Chris. Selesai makan malam dan mencuci piring. Daffin pun berniat ingin langsung ke kamar saja. “Di lemari ada Kue Cincin. Kalo mau makan makan aja. Aku mau rebahan di kamar.“ ucap Daffin dingin saat Chris menonton TV di ruang tengah. Huft, Chris pun menghela nafas. Ia matikan saluran TV nya, lalu menyusul Daffin ke kamar. Chris mengira Daffin tidur. Tapi, rupanya Daffin rebahan sambil main gadget. “Lagi baca apaan sih sayang? Keliatan asyik banget?“ tanya Chris—pun rebahan di sebalah Daffin sembari melihat situs apa saja yang sedang dibuka oleh Daffin.


Chris pun meletakkan tangan kirinya di atas pinggul Daffin, karna saat Daffin rebahan dalm posisi miring ke kanan. Daffin tidak menggubris pertanyaan Chris. Udah tau gue lagi buka apa, pake nanya segala, punya mata nggak sih, batin Daffin menggerutu kesal. “Dengerin mas dulu sayang,“ seru Chris. “Buat mas apapun yang kamu masak itu enak kok, sayang. Cuman masalahnya mas beneran nggak terlalu suka makanan yang terlalu berlemak gitu. Kalo nanti kamu bikin lagi kek apa yang mas bilang, mas pasti makan, hm? Udah ya jangan ngambek lagi~ Nggak kasian sama mas apa? Kamu cuekin mulu, hm?“ ucap Chris panjang lebar. Chris mengulum senyum. Sejurus kemudian ia pun menggelitiki Daffin. “Mas~ Udah ah stop stop geli mas,“ ucap Daffin meminta ampun saat Chris terus saja menggelitik pinggulnya.


Daffin memutar badan. Lalu, Chris pun melingkarkan satu kakinya di atas kaki Daffin yang lain. “Ngambek lagi ntar jatah bulanannya mas kurangin, mau?“ ucap Chris mengancam. Tentu saja Chris cuma bercanda. Ia cuma ingin mencairkan suasana saja. “Nggak ada hubungannya tau sama uang bulanan aku mas~“ ucap Daffin sebal. Chris pun mengunci tubuh Daffin dengan mendekapnya dengan erat. Sampai-sampai Daffin jadi sebal. “Jadi orang jangan suka ngambekan napa. Kalem gitu sayang,“ ucap Chris mencubit hidung Daffin gemas.


“Tapi, mas penasaran deh, Daff. Kok kamu santai aja kek nggak ada masalah gitu? Padahal job kamu dicancel semua, kan? Nganggur dong?“ sindir Chris. “Ya, berarti bukan rezeki aku lah, mas. Lagian kan mas bisa biayain hidup aku walopun nih ya karir aku ancur trus nggak ada job lagi.“ ucap Daffin percaya diri. Chris mengulum senyum. “Kepedean~ Ntar mas kurangin deh isi ATM kamu ato mas blokir aja sekalian,“ ucap Chris. Daffin pun memukul dada Chris pelan. “Makanya jangan ngambekan kalo nggak mah dipotong hehe,“ ucap Chris lagi.


Dua sejoli itu pun rebahan di atas ranjang sambil bercakap-cakap. Daffin tengkurap sambil main game. Sedangkan Chris memainkan jari-jemarinya di rambut Daffin. “Daff,“ seru Chris sambil mengusap pucuk kepala Daffin. “Hm?“ sahut Daffin tanpa menoleh. “Besok bikinin mas Soto Betawi, yah? Lagi pengen makan itu soalnya,“ ucap Chris. “Beli aja~ Lagian banyak yang jual kok,“ ucap Daffin masa bodoh. Ia sedang dalam mode malas untuk mempelajari resep baru. “Beda sayang~ Bikin sendiri sama beli, yah yah? Bikinin yah?“ pinta Chris sembari melingkarkan tangannya di perut Daffin dan satu kaki berada di atas tubuh Daffin. “Hm,“ sahut Daffin mengiyakan.


Beer Garden SCBD, di sini lah Juan bekerja, berlokasi di Jl. Jenderal Sudirman No. 5, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta—yang di mana Juan harus menempuh perjalanan kurang lebih 35 menit dari tempat ia tinggal. Juan sedang membuat jenis minuman cocktail bernama Cosmo to Go—minuman ini dibuat dari campuran Air Lemon, Jus Cranberry, dan Vodka. Lalu, Juan tuangkan di Margarita Glass, sebuah gelas khusus untuk meminum cocktail, berbentuk seperti corong dan dua lekukan.


“Silahkan dinikmati Ms. Naila,“ ucap Juan tersenyum tipis sembari menyajikan segelas Cosmo to Go untuk Naila. Ini adalah pertama kalinya Juan melihat Naila berkunjung ke mari. Jujur saja dalam hati Juan agak sedikit terkejut. Naila itu terlihat sangat polos. Tapi, siapa sangka? Seorang seperti Naila juga bisa datang ke bar dan minum segelas cocktail. “Juan..“ gumam Naila sembari menyesap cocktail. Juan pun menoleh sembari mengelap gelas sampai bersih.


Naila tersenyum kecut. “Kalo lu ada masalah, cerita aja, Nai,“ ucap Juan. Sejurus kemudian kedua mata Naila pun berkaca-kaca. “Nyokap gue nilap arisan orang, Jo..“ ucap Naila. Juan yakin masalah yang dihadapi oleh Naila pasti tidak sesederhana itu. Tiba-tiba Naila menangis. “Gue dikatain macem-macem sama tetangga, Jo. Bahkan, gue dijauhin sama temen-temen gue. Jujur gue benci banget, Jo, sama nyokap gue sendiri,“ ucap Naila dengan suara bergetar karna isak tangis.


Setelah mendengar cerita Naila. Juan tiba-tiba teringat akan keluarganya sendiri. Heh, Juan tersenyum pahit. Sudah dua tahunan lebih baik Juan ataupun keluarga besarnya tidak saling bersua. Bertukar kabar lewat sosial media atau sms pun tidak. Hah, Juan menghela nafas. “Selama lu masih diakui sebagai anak, mau sebejat apapun ortu lu, lu nggak boleh benci, Nai.“ ucap Juan menasihati. “Makasih, Jo. Lu udah dengerin semua uneg-uneg gue, dan gue juga mo minta maaf udah marah ke lu waktu itu, Jo,“ ucap Naila meminta maaf sembari menenggak habis minuman yang ia minum.


Juan menjemput Yoga di kantor untuk makan siang bersama di Sana Sini Restaurant, yang berlokasi di Thamrin, Jakarta Pusat. “Beneran mau makan di situ?“ tanya Yoga sembari memasang seatbelt. Di restoran itu terkenal dengan menu-menunya yang sangat mahal. Ini pasti akan sangat menguras kantong sekali, batin Yoga. Bukannya pelit, Yoga cuma tidak ingin Juan menghabiskan uangnya demi makan siang di restoran semahal itu. Kalau Yoga yang membayar tagihan, tentu saja Juan tidak setuju, dan berujung dengan perang dingin. Kata Juan, untuk urusan makan dan kebutuhan bulanan adalah tanggung jawabnya. Itulah mengapa Juan menolak Yoga membayar setiap makanan yang mereka makan.


“Beneran~ Hari ini lagi dapet rezeki alias bonus. Ya udah buat makan siang di sana aja,“

__ADS_1


“Kan mahal, Juan? Kamu mah, mending ditabung,“


“Masalah tabungan kan udah ada bagiannya, mas? Sekali-sekali makan di restoran mahal nggak papa kali,“


Saat Juan dan Yoga masuk ke dalam restoran itu. Sepasang mata memicing tajam ke arahnya. “Mas? Kenapa?“ tanya Shafa, sang adik. “Juan,“ sahut Pandu. Shafa pun langsung terdiam. Setelah hampir tiga tahun lamanya, akhirnya Shafa mendengar nama itu lagi. Shafa pun mengikuti arah pandang sang kakak, Pandu. Benar, di sana ada Juan bersama dengan seorang pria dewasa. Juan dan pria itu terlihat sangat mesra. Pasti itu adalah kekasih Juan, batin Shafa.


Shafa geram. Bagaimana kalau Juan hadir di tengah-tengah keluarga besar dan malah mempermalukan semua orang? Tatapan tidak suka Pandu dan Shafa kepada Juan, sangat jelas, jikalau keduanya amat sangat membenci Juan. “Juan?“ seru seseorang. Juan pun menoleh. Kedua mata Juan membola seketika saat ia melihat siapa yang ada di hadapannya kini. Pandu, batin Juan. Bagaimana bisa Pandu ada di sini? Juan mengepalkan tangan sedikit.


“Ke mana aja kamu, Juan? Kok nggak pulang-pulang?“ ucap Pandu sarkasme tersenyum miring. Dia berbicara seolah-olah Juan lah yang salah dan tidak tau diri. Nggak pulang-pulang?, batin Juan. Huft, Juan menghela nafas. Lalu, ia pun tersenyum penuh arti. “Maaf, tapi, untuk orang yang sudah dihapus dari kartu keluarga seperti saya, apa pantas pulang ke rumah lagi? Pak Pandu?“ ucap Juan sengaja berbicara lebih formal dan tidak kalah sarkasmenya dari Pandu.


Suasana apa ini? Siapa Pandu ini? Kalau dilihat-lihat, Juan dan pria bernama Pandu ini terlihat sangat tidak bersahabat. Persis seperti air dan minyak, tidak pernah menyatu. Tunggu dulu, dihapus dari kartu keluarga? Jangan bilang kalau Juan adalah anggota keluar dari si Pandu ini?, batin Yoga menganalisa. Pandu pun melemparkan pandangannya ke Yoga. Yoga? Cih! Jangan pikir aku bakalan menciut ditatap kek gitu sama kamu, Pandu, batin Yoga.


“Turunin mata anda Pak Pandu Lim,“ ucap Juan geram saat Pandu berani-beraninya menatap Yoga seperti itu. Kedua alis Juan pun bahkan telah saling bertautan. Heh, Pandu mendengus. Cih! Pandu berdecih kesal. Lalu, ia pun kembali ke mejanya sendiri. Sorot mata tajam Pandu tak henti-hentinya memicing ke arah Juan dan Yoga.


Yoga genggam satu tangan Juan. “Juan, kamu nggak papa? Kita pulang aja gimana?“ ucap Yoga cemas. Sejurus kemudian Juan pun tersenyum. “Mas, kita makan dulu, baru pulang, ya?“ ucap Juan. Yoga cuma menganggukkan kepala saja. Ini bukan lah saat yang tepat bagi Yoga untuk menanyai Juan lebih tentang apa yang terjadi hari ini.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaan di kantor. Gilang pun bersiap-siap untuk berangkat menuju tempat janjian. Sebelum pergi, Gilang pun menghampiri James di meja kerjanya. “Jim, aku duluan,“ ucap Gilang mengecup pipi James sekilas. “Nanti aku kabarin kalo udah mau pulang ke rumah,“ ucap Gilang lagi. “Hm,“ sahut James dengan deheman saja. James pun menaruh pulpennya di atas meja setelah Gilang keluar dari ruangan ini. James cemburu. Ia terlihat tidak senang saat tau Gilang akan berkumpul bersama teman-teman prianya.


Gilang pun tiba di Kafe Batavia, di kawasan Kota Tua. Gedung bernuansa khas Eropa yang telah berusia ratusan tahun ini benar-benar sangat terjaga. Front liner di sini juga ramah-ramah. Gilang pun dibimbing oleh seorang front liner menuju lantai dua di kafe ini. Saat menaiki anak tangga dengan hamparan karpet merah menyala, Gilang disambut oleh bingkai-bingkai foto para pesohor dunia—serta model terkenal dengan pose-pose menggoda. Di lantai dua, seorang waiter membimbing Gilang menuju meja yang telah di reservasi sebelumnya oleh teman-teman Gilang. Di sini Gilang benar-benar disambut dengan antusias.


Di sini ada Boni, Edo, Fauzi, dan Trio. “Cie cie istri salehah ehem,“ seru Trio menggoda Gilang. “Bangsat lu,“ ucap Gilang menggantung jas di bahu kursi kayu khas betawi yang ia duduki. “Gimana lu, Lang?“ tanya Edo. “Gimana apanya?“ Gilang bertanya balik sambil mengernyitkan alis bingung. “Oon jangan dipelihara, ngab. Itu, maksud gue, gimana rasanya nikah sama cowok gitu?? Gue asli nggak nyangka banget lu bakalan berkelok-kelok eh mentoknya di situ,“ ucap Edo panjang lebar. “Bener, ngab. Gue asli kaget banget tau nggak? Gue waktu itu pas lagi makan bareng sama pacar gue. Ya ela pake nyembur segala. Parah emang,“ timpal Boni geleng-geleng kepala.


“Lu lu pada kalo masih ngeledekin gue, gue mending cabut aja dah, rese banget.“ ucap Gilang sebal. “Slow aja napa? Ya ampun sensian banget,“ ucap Fauzi mencibir. Gilang memutar bola mata malas. “Gue dijodohin. Dah, intinya gitu, jangan banyak nanya. Lu kalo penasaran gimana rasanya mending cobain sendiri aja dah. Nah, kan lu lu pada berempat nih? Boni sama Fauzi, trus Edo sama Trio, pas banget, kan? Pas banget lah~“ ucap Gilang.


Mereka berempat pun menatap Gilang datar. Gilang ini kadang-kadang suka berbicara asal juga, ya? “Stop stop nggak usah ribut. Bener kata Gilang, kalo kita-kita penasaran ya udah coba aja, ntar abis dari sini langsung booking hotel aja. Gimana? Beres, kan?“ ucap Edo. “Bangsat,“ ucap Boni, Fauzi, Gilang, dan Trio bersamaan. Setelah asyik bercengkerama satu sama lain. Saatnya untuk santap sore. Gilang memesan beberapa menu mulai dari appetizer, main course, dan dessert: Batavia Fried Rice, Crepes Suzette, dan Avocado Juice. Saat suapan pertama berhasil masuk ke dalam mulut. Gilang tidak henti-hentinya memuji kelezatannya dalam hati. Uh, bumbu nasi gorengnya gurih dan nendang, apalagi ayam kalasan sama udah goreng tepungnya, empuk banget, batin Gilang.


Gilang tiba di rumah sehabis maghrib, setelah puas bersenang-senang dengan teman-temannya di Kafe. “Baru pulang? Kirain kamu udah nggak inget rumah lagi, Gilang.“ seru James dingin. Huft, Gilang tau James pasti sedang marah. “Jim, aku capek, plis jangan ngajakin ribut,“ ucap Gilang melangkahkan kaki ke kamar. James pun menyusul Gilang setelah menutup buku yang ia baca, lalu ia letakkan kembali di meja. Di kamar Gilang melepas stelan jas yang ia kenakan hingga menyisakan dalaman saja.


“Kamu ngumpul sama siapa aja tadi? Hah?“ ucap James posesif sesaat setelah ia masuk ke dalam kamar. Gilang benar-benar malas meladeni James di saat-saat seperti ini. “Jim, nanti kita bicarain lagi, aku mau mandi dulu.“ ucap Gilang langsung melesat ke kamar mandi. James mendengus. Berani sekali Gilang memengabaikan James? Hah, daripada James semakin emosi, ia pun memilih membuat Dimsum di dapur untuk makan malam. James masih marah. Hal itu jelas sekali dari raut mukanya yang datar tanpa ekspresi berarti.

__ADS_1


Setelah adonan dimsum selesai diaduk, James pun memanaskan dandang. Lalu, ia ambil selembar kulit pangsit, dan ia taruh sesendok adonan dimsum tadi di tengahnya. Lipat keliling sisi kulitnya, lalu beri parutan wortel di atasnya. Setelah itu kukus dalam dandang panas selama 30 menit. Sambil menunggu, James sambil menyalakan laptop. Dia memeriksa satu per satu file berkaitan dengan rapat esok hari. Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun, batin James.


Gilang keluar dari kamar dengan kaos polos warna army dan celana pendek selutut warna putih. Ia pun menghampiri James yang tengah berkutat dengan laptopnya itu. Gilang memandangi James. Ia berpikir, bahwa James terlihat cukup tampan saat sedang serius. James mengenakan kacamata bukan karna ia menderita gangguan penglihatan atau apapun, melainkan untuk menjaga kesehatan mata dari radiasi. Dan hal itu membuat James terlihat semakin keren di mata Gilang. “Ehem, masih ngambek?“ seru Gilang.


“Ngambek ato nggak itu bukan urusan kamu, Gilang.“ sahut James ketus. Gilang pun berusaha mengobati kemarahan James dengan mencoba memeluknya dari belakang. Tapi, apa yang Gilang dapat? James malah mendorong tubuh Gilang tidak suka. “Jim?“ seru Gilang terkejut. “Besok besok kalo kamu mau main di luar lagi, mending nggak usah pulang aja sekalian,“ ucap James ketus. Kilatan mata James itu sangat jelas. Dia benar-benar sedang marah besar. Tapi, mengapa James bisa semarah itu? Gilang cuma berkumpul saja dengan teman lama. Lalu, apa salahnya? Bisakah James mengerti sedikit saja?, batin Gilang.


“Jim, aku cuman ngumpul sama temen-temen doang, nggak ada yang lain,“


“Tapi, temen-temen kamu cowok semua kan, Gilang?“


“Emangnya kalo cowok semua kenapa? Toh, kalo ada cewek pun kamu bakalan tetep marah juga, kan?“


“Gilang, saya itu suami kamu. Kamu sebagai istri seharusnya nurut sama kata-kata suami.“


“Emangnya selama ini aku kurang nurut gimana lagi sih Jim? Dipaksa nikah pun aku bertahan Jim, karna aku udah mulai cinta dan sayang sama kamu. Kamu minta sama papa aku buat aku kerja di kantor kamu. Ok, aku turutin. Kapan aku nggak nurut sama kamu Jim? Kapan, Jim? Hah?“


“Temen-temen kamu pasti ada rasa sama kamu, Gilang. Mustahil mereka ngajakin kamu ngumpul murni karna pengen ngumpul doang. Gilang, saya nggak buta, saya lebih tua dari kamu dan saya juga lebih berpengalaman. Kamu nggak tau apa-apa, Gilang.“


Gilang geram. Bagaimana bisa James berkata seperti itu kepada dirinya? Hah, Gilang pun menghela nafas berat sambil menahan sesak dalam dada. “Terserah kamu, Jim. Tolong jangan ngekang aku dengan ngelarang aku bergaul sama orang lain. Malem ini aku tidur di kamar sebelah. Tolong jangan ganggu.“ ucap Gilang. Ia pun berlenggang menuju kamar sebelah meninggalkan James sendirian di dapur.


James termenung. Entah siapa yang salah dan siapa yang benar. James juga letih setelah seharian bekerja. Ia pun memijit pelipisnya yang terasa mulai berdenyut. Lebih baik aku istirahat aja, batin James. Malam itu pun dilalui dengan perang dingin antara keduanya. Semoga esok hari semuanya membaik, batin James sembari menutup pintu kamar. Lalu, ia pun merebahkan tubuhnya begitu saja di atas ranjang dengan mata terpejam. Berharap semua kegundahan dalam hati ini akan sirna.


.


.


.


UP KEMBALI KALO LIKES 40 YA!

__ADS_1


__ADS_2