GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 25


__ADS_3

GKTG [BL] 25/1


Gilang geram. Gilang marah. Saking geram dan marahnya ia sampai-sampai tidak tau lagi harus berbuat apa. Maju kena mundur pun kena jua. Gilang memejamkan mata sejenak. Hah, mengapa ia bisa menjadi sepengecut ini? Berada di bawah kuasa Gavin dan James. Bahkan Gilang tidak bisa keluar dari lingkaran hitam ini barang selangkah.


Suasana gedung nampak ramai dihadiri oleh tamu undangan. Perkataan James kemarin rupanya bukan main-main. Ia serius ingin menikahi Gilang. Saat ini Gilang berada di ruang ganti. Ia menunggu Gavin menjemputnya ke altar.


Gilang sungguh masih belum bisa mencerna semua ini. Hah, James, Gilang benar-benar mengutuk pria itu. Hancur sudah hidup Gilang karna kehadiran orang itu. Mengapa ini harus terjadi pada Gilang? Salah Gilang apa?


“Bunda..“ seru Gilang. Ia melihat sang ibu masuk ke dalam mengenakan gaun putih. Telihat sangat anggun sekali, batin Gilang. Gilang menatap nanar sang ibu. Sudut mata Gilang sedikit bergetar. Menahan tangis mungkin. Bahkan sudut bibir Gilang terasa berat sekali untuk menyunggingkan senyum.


Gilang bangkit. Ia pun memeluk sang ibu dengan erat. “Bunda..“ seru Gilang dengan suara sedikit serak. Idella pun membalas pelukan sang putera. Idella tau bagaimana isi hati Gilang saat ini. Marah pun tidak akan menyelesaikan masalah.


“Nak, baik-baik sama suami kamu nanti, ya?“ ucap Idella menasihati. Gilang diam saja. Bagaimana bisa ia menghormati dan bersikap baik pada James? “Ini nggak masuk akal bunda. Gilang normal dan Gilang juga cowok. Bukan cewek.“ sahut Gilang.


Gilang tidak kuasa lagi menahan air mata. Ia menangis di pelukan sang bunda, Idella. “Eh?“ seru Idella melonggarkan pelukannya saat ia mendengar isak tangis sang putera. “Kok nangis sayang? Anak bunda nggak boleh nangis, hm?“ ucap Idella mengusap pipi Gilang.


Gilang menggeleng-gelengkan kepala. “Gilang nggak bisa bunda,“ ucap Gilang putus asa. Idella tau berat bagi Gilang untuk menerima semua ini. Maafin bunda sayang, bunda sama papa udah ngatur semua ini jauh-jauh hari, batin Idella. Gavin dan Idella sungguh tidak ingin Gilang jatuh kepada orang yang salah. Gilang itu lebih baik dilindungi. Daripada ia harus melindungi. Karna Gilang adalah satu-satunya mutiara di keluarga Pamungkas.


“Maafin bunda sayang,“ seru Idella. Idella berusaha menahan genangan air mata di pelupuk mata. Ia tidak ingin membuat Gilang semakin bersedih. Hari ini adalah hari bahagia Gilang, meskipun Gilang sendiri masih belum bisa menerima. “Suatu saat kamu bakalan paham maksud bunda sama papa jodohin kamu sama James. Kamu cuma butuh waktu aja sayang.“ ucap Idella tersenyum.


Gavin membuka pintu dan memberikan isyarat kepada Gilang untuk segera bersiap-siap. Semua para hadirin menunggu-nunggu mempelai pria sebagai istri datang berjalan di atas altar. Disana terlihat Gilang digandeng oleh Gavin. Semua mata tertuju pada Gilang, tidak terkecuali James.


Gilang begitu tampan, batin James. James terpana. Saat James dan semua orang bersuka cita. Gilang malah memasang raut muka datar tanpa ekspresi. Gilang tidak bahagia. Itulah definisi yang pas untuk Gilang saat ini. James tau. Ia berusaha untuk tetap tersenyum menyambut sang pujaan hati.


James mengulurkan tangan. Namun, Gilang sama sekali tidak memberikan tangannya pada James. Gilang juga tidak menatap James sama sekali dan naik altar sendiri hingga saat ini posisi Gilang dan James sejajar. “Jagain anak gue Jim. Jangan ampe lu bikin dia nangis.“ ucap Gavin menepuk pundak James sambil tersenyum. Gavin pun kembali ke bawah menyusul sang istri duduk di kursi.


Gilang dan James mengucapkan janji suci pernikahan. Semua orang bertepuk tangan. Gilang berusaha membuang pandangannya ke objek lain. Ia tidak sudi memandang wajah James. Menjijikan, batin Gilang. Gilang tidak mengerti mengapa semua orang bersorak sorai untuk pernikahan gila seperti ini.


James menggenggam tangan Gilang meskipun Gilang sempat menolak. James memasangkan seutas cincin di jari manis Gilang lalu mengecupnya dengan penuh kasih sayang. Bahkan James menitikkan air mata. Hal itu membuat Gilang menoleh. Dalam hati James berjanji akan selalu menjaga tangan ini untuk selalu berada pada genggamannya. James tidak akan pernah melepaskan tangan ini sampai akhir nanti. Biarkan maut yang memisahkan keduanya.


Kini giliran Gilang memasangkan cincin di jari manis James. Gilang pun memasangkan cincin itu dengan cepat meskipun sebelumnya ia sempat diam beberapa saat. Pernikahan Gilang dan James pun meriah. James juga ikut bernyanyi. Gilang? Jangan tanyakan dia bagaimana. Gilang diam saja duduk di kursi. Gavin dan Idella serta sanak keluarga yang lain terlihat mengajak Gilang bicara. Namun, Gilang hanya menjawabnya dengan singkat tanpa menoleh sama sekali.

__ADS_1


Gilang pun berdiri. Ia ingin ke suatu tempat di sekitar gedung ini untuk menenangkan diri. Setelah ia menemukan tempat yang pas. Ia pun langsung merokok disana. Tiba-tiba seorang pria duduk di kursi roda menghampiri Gilang.


“Boleh bapak bicara?“ seru Jeremy, ayah James. Gilang menoleh. Sekarang Jeremy sudah menjadi ayahnya jua. Gilang berusaha tersenyum namun sekali lagi ia tidak bisa. Gilang pun jongkok untuk menghormati orang yang lebih tua.


“James udah lama suka sama kamu Gilang.“ seru Jeremy. “Bisa dibilang dia udah suka dan sayang banget sama kamu tiga tahunan lebih. Dia pengen banget nemuin kamu dari dulu dan deketin kamu. Tapi, kamu masih fokus kuliah. James, dia nggak mau ngerusak konsentrasi kuliah kamu.“


“Jadi, dia nunggu saat yang tepat aja buat lamar kamu. Yah, meskipun terkesan maksa banget. Iya kan, Gilang? Hehe maafin James ya? Dia kek gitu bukan tanpa alesan Gilang. Dia udah beberapa kali kehilangan orang yang dia sayang, dan dia nggak mau itu terjadi lagi. Nurut dia nikahin kamu itu solusi terbaik supaya kamu nggak bisa lari kemana-mana.“


Jeremy tersenyum penuh arti saat ia menjelaskan fakta mengenai puteranya sendiri pada Gilang. “Maaf pa,“ gumam Gilang. Ia merasa sangat asing dan aneh sekali memanggil Jeremy dengan sebutan 'papa'. “Gilang nggak bisa bales perasaan James,“


“Kamu bukannya nggak bisa Gilang. Tapi, belum bisa. Bapak berani tarohan, kamu kalo udah sayang sama dia nanti pasti maunya dempet mulu tiap hari. Hmm jangan-jangan James bakalan dilarang kerja juga? Hahahaha,“ ucap Jeremy tertawa renyah. Ia pun meninggalkan Gilang sendiri yang saat ini hanya bisa melongo setelah mendengarkan perkataan Jeremy barusan.


Dalam hati Gilang merapalkan kalimat amit-amit berkali-kali. Jangan sampai Gilang jatuh cinta pada James. Ya kali gue jatuh cinta sama dia? Sama-sama punya tongkat pula?, batin Gilang.


Seluruh keluarga berkumpul di rumah James. Lebih tepatnya kediaman pribadi James. Jadi, James dan Jeremy itu tinggal di tempat yang berbeda. Semua orang begitu ramai berbicara ini itu dan menghidangkan berbagai santapan.


Gilang lebih memilih berdiam diri di kamar. Sudahlah. Lagi pula semua ini sudah terjadi. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian. Gilang pun merebahkan diri di kasur. Gilang sangat lelah sekali hari ini. Masa bodoh dengan para tetua yang saat ini tengah berkumpul di ruang tengah.


Cacan nyengir kuda saja. “Mau berapa???“ tanya James. Cacan memberikan isyarat dengan menunjukkan kelima jarinya. Itu artinya Cacan minta lima lembar uang. James pun memberikan lima lembar uang seratus ribuan.


“Jim, lu jangan terlalu manjain si Cacan napa? Ngelunjak dia ntar, kebanyakan tau ngasihnya. Mas Arga aja ngasihnya nggak gitu-gitu banget Jim.“ protes Dianti. Dianti ini adalah sepupu James dari keluarga sang ibu. “Sekali-sekali mba,“ sahut James. “Sekali-sekali dari hongkong,“ ucap Dianti.


“Loh? Bini lu mana Jim? Kok gak keliatan?“ tanya Dianti.


“Bener juga, kok papa nggak liat Gilang dari tadi?“ seru Jeremy.


“Di kamar.. Dia lagi istirahat paling..“


“Masa? Jangan-jangan mo minta jatah cepet itu Jim. Kode dia mah.“ sahut Dianti.


“Nggak gitu juga konsepnya mba~ Dia tuh ngambek.“

__ADS_1


“Ngambek kenapa? Lu apain emang Jim ampe dia ngambek segala??“


“Dipaksa kawin,“


James menjawab pertanyaan-pertanyaan menohok Dianti dengan santai. Hingga mengundang tawa orang-orang yang mendengarnya. “Lu sih suka maksa, ngambek kan dia???“


“Kalo gak dipaksa takut digondol maling mba. Hahahahaha,“ ucap James tertawa terbahak-bahak diikuti oleh seluruh keluarganya disini.


“Duuuh ada-ada aja lu Jim.“


James meminta izin untuk permisi beristirahat sebentar di kamar. James ingin mengetahui keadaan Gilang. James pun menghembuskan nafas lega. Gilang tertidur rupanya, batin James. James pun naik ke atas ranjang.


Perasaan kantuk pun menyerang James. Perlahan ia memejamkan mata sambil memeluk Gilang dari belakang. Setengah jam berlalu. Gilang menguap dan terbangun dari lelapnya. Ah, segar sekali, batin Gilang. Tunggu dulu, ini dimana? Gilang mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia juga melihat tangan yang cukup kekar itu melingkar di pinggulnya.


“James?“ gumam Gilang. Hah, bagaimana Gilang bisa lupa, kalau hari ini adalah hari tersialnya. Uh, Gilang pun langsung mengenyahkan tangan itu dari pinggulnya dengan kasar. Gilang bahkan mendorong James hingga membuat separuh tubuh James terjatuh. Namun, James berhasil berpegangan di sprai. Kejam sekali Gilang ini, batin James.


Kalau kalian ingat kembali rumus matematika. Bukankah negatif ditambah negatif sama dengan positif? Ini adalah hasil yang tidak bisa dirubah dan diganggu gugat. Seperti itu pula kehidupan seorang manusia. Cinta lahir dari sebuah kebencian yang besar. Gilang memang membenci James. Tapi, satu hal yang harus kalian sadari, Gilang sama sekali tidak melepas cincin itu dari jari manisnya.


Gilang marah. Ia pun langsung mengambil kunci mobil. Ia ingin pergi ke suatu tempat. “Mau kemana kamu Gilang?“ tanya Idella ketika melihat Gilang nampak terburu-buru. Gilang tidak menoleh sama sekali. Dalam hati Gilang tidak sudi menghabiskan malam pengantin bersama lelaki sialan itu. Gilang pun memilih untuk menginap di hotel saja.


“Kamu kejar Gilang dong Jim,“ seru Jeremy. “Biarin aja pa, ntar dia pulang sendiri kok,“ sahut James lalu kembali ke kamar. Lebih tepatnya ruang kerja. James bukannya tidak ingin peduli. Ia hanya ingin memberi pelajaran pada Gilang. Bagaimana rasanya jika tidak dipedulikan oleh siapapun. “Tolong kamu awasi dia. Kalo ada apa-apa lapor ke saya.“ ucap James pada seseorang di telepon.


Lelaki mana yang tidak terluka hatinya saat mendapat sorot mata tajam dari orang yang dicinta? Tatapan mata penuh kebencian. James memang egois. Tapi, ia juga tidak ingin melepas Gilang, baginya menikahi Gilang adalah keputusan yang tepat. Biarkan waktu saja yang merubah hati batu itu menjadi butiran pasir.


Malam hari James duduk bersender di ranjang. Ponselnya berbunyi. Ini adalah beberapa foto yang dikirimkan oleh orang suruhannya. Hati James panas. Disana Gilang terlihat berciuman dengan mesra dengan seorang perempuan. Bahkan katanya ia membawa perempuan tersebut ke hotel. Malam pengantin yang seharusnya Gilang habiskan dengan James, ia habiskan dengan perempuan lain. Ini sudah resiko James karna sudah memaksa Gilang masuk ke dalam hidupnya. Biarkan saja luka di hati ini memudar dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. James tersenyum kecut.


.


.


.

__ADS_1


Gue bisa rasain sakit hatinya James kek gimana 😭😭😭


__ADS_2