GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 27


__ADS_3

Juan berjalan di Koridor kampus bersama Naila membicarakan perihal materi kuliah. Jurusan hukum memang membutuhkan pemikiran tingkat tinggi. Dituntut kritis dalam menganalisa ataupun mengkritik sesuatu. Belum lagi sebentar lagi sudah mendekati ujian semester satu. Huh, semakin pusing saja, batin Juan.


Seorang gadis melangkahkan kaki dengan cepat ke arah Juan. Gadis itu memegang segelas es kopi. Lalu, ia siramkan es kopi itu tepat di kepala Juan. Naila otomatis menganga lebar. Ia terkejut melihat pemandangan tak terduga ini. Siapa gadis ini?, batin Naila.


Juan diam. Ia geram. Ia mencoba menahan diri untuk tidak terbawa emosi. Hah, Juan menghela nafas, menatap gadis itu tajam hampir tidak berkedip sama sekali. “Brengsek! Lu udah hancurin rumah tangga bonyok gue! Pergi lu! Pergi! Lu nggak pantes disini! Pergi!“ hardik gadis itu.


“Siapa yang lu maksud udah ngancurin rumah tangga bonyok lu, hah?“ ucap Juan dengan kedua alis mengkerut.


“Lu yang udah godain bokap gue, kan? Lu nggak ada cewek lain apa?? Ampe lu ngincer bokap gue segala?“ cerca gadis itu.


Orang-orang mulai berkerumun melihat pertengkaran antara Juan dan gadis itu. Hah, Juan juga tidak ingin semakin dipermalukan atau mempermalukan. “Lu kira nyokap lu suci, hah? Nyokap lu lebih dulu selingkuh. Lu tau? Lu kira darimana nyokap lu bisa beli barang mewah? Trus biayain gaya hidup lu yang glamour itu? Bokap lu cuma manager kantor biasa, kan?“ ucap Juan membuat gadis itu tertohok.


“Lu nggak punya bukti,“


“Gue punya buktinya. Lu mau apa? Masih untung nggak gue sebarin. Kalo gue sebarin? Gue jamin lu kehilangan muka.“


Gadis itu diam seribu bahasa. Juan menang. Dan gadis itu kalah. Suara gemertak gigi terdengar. Menandakan gadis itu geram teramat sangat. Ia sudah dipermalukan. Dasar Juan brengsek, batin gadis itu. Sudut matanya memerah.


Juan adalah seorang bartender di sebuah bar. Terkadang ia memang memberi layanan khusus kepada siapa saja entah itu lelaki ataupun perempuan. Tapi, ia akan membatasi diri saat ia sendiri sudah memiliki tambatan hati. Tambatan hati?


Juan pun tiba di rumah setelah kegiatan belajar di kampus selesai. Ia letakkan sepatu di rak. Lalu, ia pun masuk ke dalam dan mendapati seorang pria tengah membuat teh di dapur. “Baru pulang mas?“ tanya Juan. “Baru aja, makanya mas bikin teh, kamu mau juga nggak? Biar mas sekalian bikin?“ sahut pria itu membawa secangkit teh ke depan.


Juan langsung memeluk pria itu dari belakang dengan erat sambil mendusel-duselkan kepalanya di pundak pria itu. “Mau masnya aja bukan tehnya~“ ucap Juan menggoda. “Lepasin dulu, ini mas lagi bawa teh nanti tumpah,“ ucap pria itu. Sebut saja namanya, Yoga.


Sudah hampir setengah tahun ini Juan dan Yoga memutuskan untuk tinggal bersama, meskipun Yoga sendiri masih berstatus suami orang. Jangan berpikiran macam-macam dulu. Juan tidak sembarangan menjalin hubungan lantas merebut suami orang lain.


Usut punya usut sang istri pun ternyata sudah lama berselingkuh dengan pria lain. Bahkan masih sampai sekarang. Ingin mereka bercerai. Namun, demi kebahagiaan puteri mereka satu-satunya, mereka rela hidup dengan status suami istri meskipun jalan mereka sudah berbeda. Sampai disini mengerti, bukan?


Juan terus saja memeluk Yoga dengan erat bahkan sampai saat keduanya duduk di sofa. Yoga tau, pasti Juan sedang ingin dimanja, lebih tepatnya meminta jatah mungkin? Yoga pun mendorong Juan sedikit untuk melonggarkan pelukannya yang menyesakkan itu.

__ADS_1


Ia pun mengecup bibir Juan dalam-dalam beberapa detik, lalu ia jauhkan kembali bibirnya dari bibir Juan. “Hm?“ seru Juan merasa kurang. “Masih kurang sayang~“ ucap Juan. Uh, mengapa suara Juan terdengar merdu sekali di telinga Yoga?


“Tunggu,“ ucap Yoga. Yoga melepas kancing kemejanya supaya lebih memudahkan Juan untuk bermanja-manja dengan dirinya. Ah, Yoga memang tau apa yang Juan sukai. Yoga pun meraih leher Juan lalu mengecup bibirnya. Yoga duduk di pangkuan Juan hingga posisi mereka kini rebahan, yang dimana Juan berada di bawah.


Ups, jangan salah sangka, Juan itu adalah pemeran prianya, sedangkan Yoga adalah pemeran wanitanya. Hm, bagaimana bisa pria setua Yoga yang sudah berkepala empat itu bisa berada di bawah kungkungan Juan? Mengherankan, bukan? Yoga bergerak dengan erotis. Yoga menaik turunkan pinggulnya saat ia mencoba mencium bibir Juan dengan gaya yang liar. Uh, Juan suka ini.


Pantat Yoga bergesekkan dengan adik kecil Juan di dalam sana. Lihatlah, Celana Juan mulai mengembang membentuk tenda. Satu jam kemudian. Mereka masih bermesraan dan melepas dahaga masing-masing. Yoga menungging sambil menggigit bibir bagian bawah.


“Cepehhttaan lagiii aah iyah iyah it-ituu-uuuhhhh cepeeehhht eung disituh,“ suara-suara indah itu menggema di ruang tengah. Jujur saja Yoga sudah lemas sekali. Namun, Juan terus saja merojok lubang itu tanpa henti. Pinggul Yoga ikut bergoyang. “Ju-juahn juaaahnn ah ah ah eummmphhh eeuuuunngghhh,“ Yoga pun menyemburkan cairan putih itu untuk ke sekian kalinya hingga mengenai sopa, bahkan tanpa disentuh sama sekali.


Juan tidak ingin permainan ini cepat berakhir. Ia pun mengeluarkan sang adik dari lubang itu. Lalu, menjilati lubang itu sampai dirasa sudah cukup basah. Ia masukan satu dua tiga hingga empat jarinya ke dalam sana. Oh tuhan, lubang milik Yoga terasa disayat-sayat. Perih sekali.


“U-udaahhh hah hah eummh,“ pinta Yoga. “Udah? Aku belum keluar loh sayang?“ ucap Juan seduktif. Setelah puas bermain-main di lubang itu. Juan meminta Yoga untuk merubah posisi. Ya, mereka mengambil posisi enam sembilan.


Juan menjilati lubang itu sekaligus mengulum adik Yoga. Pun Yoga mengulum adik Juan. “AKH!“ Yoga memekik saat jari-jemari Juan melesak masuk begitu saja tanpa aba-aba. Kini posisi Yoga berubah menjadi duduk biasa di sofa. Tapi, dengan kedua kaki mengangkang lebar. Uh, lubang kemerahan itu berkedut ingin dimanja. “Tahan sayang,“ ucap Juan.


“AKKKKHHHHHH AH AH JUAAHHHN STOOHHHP AH AH EUMMMP UNGH,“ tubuh Yoga menggelinjang hebat saat adik Juan yang besar dan gemuk itu menghujam dalam-dalam lubang miliknya dengan tempo yang sangat cepat.


Juan pun mengangkat tubuh Yoga dan menggendongnya, masih dalam posisi dimana adik Juan masih tertancap di dalam sana. Juan berjalan menuju kamar. Juan dan Yoga rebahan dengan hati-hati supaya adik Juan di dalam sana tidak terlepas sampai terbangun dari tidur nanti. Ya, Juan memang suka sekali saat dimana keduanya tidur dengan posisi adik Juan masih tertancap di dalam.


Dari sini ia memandang sang pujaan hati. Sorot mata itu. Sorot mata nan ia rindukan setiap saat, setiap detik, dan setiap waktu. Tiada hari tanpa memandang senyumannya yang menawan. Sungguh hati ini cemburu. Saat bibirnya terukir manis untuk orang lain. Pencemburu? Biar saja bagaimana orang lain menganggap. Ini diri sendiri. Bukan orang lain. Semua orang tidak sama. Benar, kan?


Chris berdiri dan dengan tengan bertumpu di atas meja kaca bundar. Ia berdiri menunggu sang pujaan hati selesai pemotretan. Lelah? Itu pasti. Tapi, selama diri ini masing sanggup berdiri, apapun akan ia lakukan. Tiba-tiba sudut mata Chris menyipit. Ia pandangi Daffin yang saat ini berfoto dengan pose pakaian yang sedikit terbuka.


Lihatlah bagaimana bidikan kamera itu terus menerus memancarkan cahaya kilat berkali-kali. Foto ini sudah pasti akan dirilis di salah satu penerbitan majalah dan disebarkan kemana-mana. Bodoh, pikir Chris. Tentu saja majalah itu dijual dan dipasarkan. Masa di museumkan?


“Masih lama?“ tanya Chris saat Daffin datang menghampiri. “Satu set lagi,“ sahut bibir tipis itu. Hm, memandangi Daffin seperti ini saja semakin membuat rasa dalam dada ini kian tak terkontrol. Ini masih di tempat pemotretan. Chris tidak mungkin melahap Daffin disini. Bisa-bisa Chris dicap pria mesum.


Daffin melambaikan tangan pada beberapa orang yang menyapa dirinya. Ya, Daffin dikenal ramah di dunia modeling. Para staff yang bekerja sama dengan dirinya merasa sangat senang dan beruntung. Daffin kerap kali mengirim makanan ke lokasi pemotretan. Daffin juga tidak segan-segan menolong para staff yang sedang kesusahan saat melaksanakan pekerjaannya sendiri.

__ADS_1


“Mas capek?“ tanya Daffin. Ia kembali melambaikan tangan. Chris menggelengkan kepala pelan. Ia menatap Daffin lamat-lamat. “Mas mau makan kamu,“ ucap Chris dengan sorot mata yang terlihat bernafsu. Daffin langsung mencubit lengan bagian atas Chris. “Coba cubit lagi sayang,“ goda Chris. Uh, Daffin semakin sebal. Bagaimana kalau ada orang yang mendengar?, batin Daffin.


Daffin melotot tajam. “Tenang, nggak ada yang denger kok,“ ucap Chris percaya diri. Chris yakin ia sudah berbicara pelan sekali. Hm, kalaupun ada yang mendengar, biarlah, sudah terlanjur. Mau diapakan lagi? Benar, kan?


Bugh, seseorang dengan sengaja menabrak pundak Daffin saat dia berjalan berselisihan. Itu Daru. Daru mengenakan kemeja coklat tua serta celana panjang hitam. Daru adalah musuh Daffin di dunia modeling. Dia selalu saja mencari gara-gara. Daru tersenyum miring. Lebih tepatnya tersenyum remeh.


Daffin emosi. Hampir saja ia ingin menampar Daru. Sorot mata menghina dan merendahkan itu, rasanya Daffin ingin mencongkel matanya sampai ke akar. Biarkan saja dia buta seumur hidup, batin Daffin. “Umur lu berapa sih? Tua banget? Cih!“ ucap Daru sarkasme.


Chris menyentuh tangan Daffin. Chris memberi isyarat supaya Daffin tidak emosi dan gegabah. Daru itu hanya ingin memanas-manasi saja. Usia Daffin memang masih belasan. Daffin terlihat sedikit lebih dewasa dari umurnya lantaran model rambut cepak serta pakaian yang ia kenakan saat ini.


Daru berlalu begitu saja. Ia berjalan sangat angkuh. Kenapa harus ada seorang modeling kepala batu seperti Daru? Huh, meresahkan, batin Daffin. Daru duduk di kursi yang sudah disediakan oleh pihak pemotretan. Ia duduk sambil dikipasi oleh dua orang asisten sekaligus. Pongah sekali, bukan?


Sorot mata Daru pun memandang sesuatu yang tidak biasa. Ia geram saat melihat Daffin terlihat mesra dengan seorang pria. Satu tangannya ia kepal kuat-kuat hingga membuat jari-jemarinya memutih. Daru minum air mineral langsung dari botol dengan kasar.


“Bisa pelan-pelan nggak, sih!?“ seru Daru marah saat sang asisten tidak sengaja gelang yang ia kenakan mengenai rambut Daru dan membuat helaian rambutnya tertarik sedikit. Chris dan Daffin menoleh. Cih!, batin Daffin mencibir. Daffin geleng-geleng kepala.


Chris mampu merasakan hawa permusuhan di antara keduanya. “Kenapa?“ tanya Chris ingin tau. “Orang gila,“ sahut Daffin ketus. Ia kesal. Huh, Chris malah terkekeh melihat Daffin cemberut karna kesal pada orang lain. “Emang kamu nggak gila gitu?“ cetus Chris membuat Daffin mendelik. “Hah?“ seru Daffin dengan kedua alis saling bertautan. Maksud Chris berkata seperti itu, apa?, batin Daffin.


“Gila karna cinta sama mas,“ ucap Chris menggombal. Dasar Chris bodoh, batin Daffin. Chris benar-benar tidak tau tempat. Bisa-bisanya dia menggoda Daffin di tempat seperti ini? Chris menahan tawa sembari meminum kopi yang diberikan oleh salah satu staff tadi.


Uh, bukannya kesal, pipi Daffin malah merona. Sial, batin Daffin. Chris memang paling bisa dalam urusan menggoda Daffin, mungkin karna Chris lebih dewasa darinya. Hm, entahlah, Daffin mengerikan bahu tidak tau. Tim pun memanggil beberapa modeling untuk segera berkumpul. “Aku kesana dulu,“ ucap Daffin lalu bergabung.


Setelah selesai melakukan pemotretan majalah untuk fashion terbaru. Chris dan Daffin memutuskan untuk makan-makan di sebuah rumah makan di Jakarta, tepatnya di Omah Pincuk. Disini menjual berbagai macam jenis makanan seperti seafood, chinese food, western food, dan lain-lain.


“Mau pesen apa?“ tanya Chris.


“Bingung mas banyak banget ini,“ sahut Daffin. “Hm..“ gumam Daffin. “Ayam bakar taliwang, mendoan, fuyunghai, sama nasi.“ ucap Daffin memberi tau pesanannya. “Sanggup makan emang?“ tanya Chris. “Jangan remehin aku mas~ Mau segimana banyaknya pun pasti abis,“ sahut Daffin percaya diri.


“Kalo nggak abis awas aja di rumah nanti Daff. Mas makan kamu ntar,“ ancam Chris membuat Daffin berkeringat dingin. Chris tersenyum samar melihat Daffin agak panik. Lagian bermesraan di atas ranjang bukankah sudah biasa? Jadi, untuk apa Daffin sepanik dan setakut itu? Huh, padahal Daffinlah yang teriakannya paling kencang, dan selalu meminta tambahan ronde, batin Chris.

__ADS_1


“Baru pulang Daff?“ tanya sang ibu yang berdiri di ambang pintu. “Ampun deh ma, kek anaknya yang kemana aja,“ sahut Daffin. “Nggak bosen kamu Chris nungguin nih si Daffin? Ibu aja nih ya yang pernah nungguin dia tuh malah marah-marah nggak jelas.“ ucap Olivia.


“Haha nggak sama sekali, bu.“ sahut Chris tertawa renyah. Mereka pun masuk ke dalam. Daffin langsung menghempaskan badan di atas kasur. “Ganti baju dulu,“ ucap Chris. “Ngantuk~ Mo tidur~“ sahut Daffin mulai memejamkan mata. Daffin lelah sekali.


__ADS_2