
Satu minggu telah berlalu semenjak Daffin bercerai dengan Chris. Daffin kembali disibukkan dengan aktivitas modeling. Hari ini ia melakukan pemotretan untuk salah satu brand jam tangan lokal. Foto pertama diambil dengan konsep hitam putih. Daffin mengenakan kaos hitam bertuliskan flash, celana jeans hitam, dan jam tangan hitam. Dengan gaya rambut messy hair; Daffin berpose dengan memasukkan tangan kiri ke dalam saku celana, dan tangan kanan bertumpu di atas p a h a. Pose kedua; kedua tangan Daffin bertumpu di atas meja dengan mendongakkan kepala sedikit. Seutas aksesoris cincin melingkar di jari kelingking Daffin.
Di pose lain sebagai pose khas dari Daffin ialah pose seorang pria nakal. Daffin menggigit kalung rantai dengan tatapan menggoda ke arah kamera. Dia terlihat sangat mempesona. Terlebih ada salah satu fotonya yang lain—yang mengenakan setelan jas putih. Tapi, di bagian dalam tidak mengenakan apapun, hingga membuat perut Daffin terekspos. Beruntung meski tidak terbentuk sempurna, bukan berarti mengandung banyak lemak, dan tentunya terlihat sangat kencang.
Setelah pemotretan selesai, dan sebelum make-up dihapus total. Daffin pun selfie sebentar, lalu mengupload foto tersebut di sosial media instagram dan twitter. Seluruh keluarga telah mengetahui perceraian antara Chris dan Daffin. Mayang juga telah secara khusus meminta maaf kepada kedua orang tua Daffin: Nugraha dan Olivia. Bahkan sebagai seorang ibu; Mayang tidak tau; jikalau sang putera suka melakukan tindak kekerasan kepada orang lain sejak dulu. Terutama kepada orang terkasih. Pantas saja Chris baru menikah di usia hampir kepala tiga. Pun hubungan dua keluar jadi merenggang. Nugraha dan Olivia marah besar, mengetahui putera semata wayangnya dianiaya seperti itu. Di mana hati nurani Chris? Dia orang berpendidikan. Tapi, apa yang dia lakukan sama sekali tidak mencerminkan, bahwa dia adalah orang yang berpendidikan.
Sudahlah. Daffin tidak ingin terlalu memikirkan hal itu. Karna saat ini cukup fokus untuk meraih cita-cita saja. Daffin juga telah menandatangani kontrak; untuk membintangi film bergenre dunia olah raga. Hal itu mengharuskan Daffin untuk memiliki tubuh atletis. Sehingga ia pun dituntut harus rajin berlatih fitness selama enam bulan ke depan. Daffin mengucapkan terima kasih kepada seluruh kru di pemotretan tersebut sembari menundukkan kepala. “Daff! Ini hadiah dari fans kamu di sana tuh,“ ucap salah satu anggota kru itu sembari memberikan banyak paper bag berisi hadiah.
Saat berada di dalam mobil. Daffin teringat akan Chris. Lagi apa, ya? Dia sekarang?, batin Daffin diiringi suara helaan nafas, lalu melemparkan pandangannya keluar jendela. Sampai saat ini pun. Chris sama sekali tidak pernah menemuinya secara pribadi. Kecuali berpapasan di Koridor kampus—atau sedang mengajar di kelas. Itu pun baik Chris ataupun Daffin sama-sama bersikap; seolah-olah tidak saling mengenal satu sama lain. Begini-begini Daffin juga bisa mencemaskan seorang Chris. Karna bagaimana pun dia tetaplah mantan suami dalam pernikahan—yang terbilang cukup singkat yaitu 10 bulan. Selama itu Daffin harus menahan semua rasa perih di hati.
Di tempat lain. Lili membuat menu makan siang dengan begitu sangat terampil. Dia membuat pancake, spaghetti bolognese, dan macaroni schotel. Tiga menu makan siang ini benar-benar menggugah selera. Chris mencicipi macaroninya terlebih dahulu. Campuran makaroni, susu, telur, daging ayam, dan taburan keju benar-benar sangat lezat sekali. “Gimana, kak?“ tanya Lili menantikan respon dari Chris. “Enak, enak banget malah,“ ucap Chris kemudian. Dia menyantap macaroni itu dengan lahap. Tapi, tiba-tiba Chris teringat akan sosok Daffin, sang mantan istri.
Chris pun tersenyum pahit. Chris mencoba mengingat kembali saat-saat—yang di mana Daffin memasak di dapur, dan Chris duduk manis sambil memandangi Daffin dengan senyuman terbaik. Daffin, batin Chris. Chris rindu. Tergambar jelas di ingatan Chris, bagaimana Daffin tersenyum dengan tulus sembari memasak. Dia begitu pintar membagi waktu di tengah kesibukan kuliah dan profesi dia sebagai artis. Dia juga sangat penurut, dan tidak pernah mengeluh sedikit pun. “Kita cerai mas,“ satu kalimat dari bibir Daffin itu mengusik ketenangan Chris.
“Lili? Kamu mau jalan keluar bareng kakak nggak?“ ucap Chris sekaligus bertanya. Tentu saja Lili menerima ajakan tersebut dengan senang hati. Saat dalam perjalanan ingin mendatangi beberapa tempat wisata, dan pusat perbelanjaan. Lili memberanikan diri menanyakan sesuatu—yang bersifat pribadi kepada Chris. “Kak,“ seru Lili. “Hm?“ sahut Chris sambil menyetir. “Kenapa Daffin nggak pulang ke apartemen?“ tanya Lili. Chris terdiam. Ia sempat melamun, dan hampir saja lepas kendali saat menyetir. “Kak Chris!“ seru Lili panik. Beruntung keadaan menjadi normal kembali dengan cepat.
Hampir aja, batin Chris. Beberapa saat kemudian; ia dan Lili pun tiba di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Di sana Chris menemani Lili berbelanja ini dan itu. “Kamu pilih aja mau yang mana. Biar kakak yang bayar,“ ucap Chris. Kedua mata Lili pun berbinar. “Beneran?“ ucap Lili terlihat sangat senang. Dia juga melingkarkan tangannya di lengan Chris. “Makasih banyak ya, kak!“ ucap Lili tersenyum lebar. Dia menggandeng tangan Chris seolah-olah ingin menunjukkan dirinya lah kekasih Chris yang sesungguhnya. Bukan si Daffin itu, batin Lili.
“Lili, kakak tinggal bentar, ya? Kakak mau angkat telepon dulu,“ ucap Chris. Lili pun menganggukkan kepala dengan cepat. Lili memilah-milah pakaian sambil senyum-senyum sendiri. Jujur ia amat sangat bahagia bisa tinggal berdua dengan Chris di apartemen yang sama. Meskipun tidur di kamar yang berbeda. Tiba-tiba ada beberapa orang pria tidak dikenal menghampiri Lili, dan menjadikannya sandera. Seluruh pengunjung mal berteriak ketakutan. Pria tidak dikenal itu menodongkan senjata tajam. “Lili!“ seru Chris sesaat setelah ia menoleh ke belakang, dan melihat Lili dijadikan sandera oleh para pria itu. Sudah pasti mereka adalah sekelompok perampok—yang ingin mendapatkan sejumlah uang dengan menyandera salah seorang pengunjung.
Lili gemetar. Ia begitu sangat ketakutan. Belati yang dipegang oleh pria ini sangat tajam. Bergerak sedikit saja akan membuat lehernya tergores. “Kak Kak Chris,“ ucap Lili dengan suara bergetar. Kedua kakinya juga sudah agak lemas. “Kalo kalian berani panggil polisi! Gue bakalan ngelukain nih cewek! Serahin uang 100jt sekarang!“ ucap si penyandera. Chris menggulung kemeja beserta blazer yang ia kenakan, lalu berjalan menuju lima orang pria yang tengah menghadang jalan di depan sana. “Seratus juta? Heh, jangan harap!“ ucap Chris dingin dengan tatapan membunuh nan mengerikan. Ini adalah jenis tatapan—yang Lili sendiri baru pertama kali lihat. Chris terlihat sangat mengerikan.
__ADS_1
Chris pun menghajar pria-pria itu dengan tangan kosong dengan sangat cepat. Saat dia berhasil membuat Lili terlepas dari genggaman pria itu. Lili pun berteriak. “Kak Chris!“ ucap Lili berteriak. Saat ia melihat seseorang ingin menyerang Chris dengan sebuah belati dari belakang. Chris berhasil menghindar. Tapi, entah bagaimana, belati itu berhasil mengenai matanya yang sebelah kanan. Dalam kondisi dirinya yang sedang kesakitan itu. Chris masih tetap berusaha untuk menahan pria itu, dan menarik tangan pria itu ke belakang. “Tali!“ ucap Chris sambil menahan perih pada matanya.
Di depan sana. Lili berdiri dengan tubuh gemetaran, dan kaki lemas. “Ka-Kak Chris,“ gumam Lili. Saat ia melihat darah mengucur dari mata Chris. Pasti mata Chris terluka sangat parah. Gi-gimana nih?, batin Lili ketakutan. Kabar ini pun dengan cepat diketahui oleh Setiaji. Setiaji menggertakan gigi. Kali ini Lili sudah melewati batas. Dia terlihat sangat marah. Setiaji mengambil mantel di lemari, serta kunci mobil. Ia pun langsung tancap gas menuju rumah sakit tempat Chris dirawat. Seluruh keluarga juga sudah diberitau dan segera menuju ke sana bersama.
Di rumah sakit ada: Harlis, Iin, Lili, Mayang, dan Setiaji—yang juga baru saja tiba. Saat ini Chris sedang berada di ruang operasi. Setelah satu jam berlalu. Seorang dokter laki-laki berusia sekitar 40 tahunan itu pun keluar dari ruang operasi. “Dok, gimana keadaan anak saya?“ ucap Mayang. Dokter itu pun terdiam. “Dok! Keadaan anak saya gimana, dok! Dok!“ ucap Mayang mulai emosi. “Mba, tenang dulu mba,“ ucap Iin mencoba menenangkan Mayang. “Kondisi Pak Chris baik-baik aja. Tapi, maaf, mata kanan Pak Chris rusak total, dan dipastikan Pak Chris mengalami kebutaan pada mata bagian kanan,“ ucap dokter itu menjelaskan kondisi Chris saat ini.
Bu-buta?, gumam Lili semakin gemetar. Beberapa saat kemudian; dua orang polisi pun datang kemari. Tubuh Mayang sempoyongan. Iin membantu menahannya. Setelah mendengar vonis dari dokter terhadap puteranya sendiri. Chris, gumam Mayang menitikkan air mata. Sebelum Lili memberikan keterangan kepada pihak kepolisian. Setiaji pun berkata, “Hari ini kakak bakalan kirim kamu ke London, Lili. Kamu selesein urusan kamu sama pihak kepolisian dulu. Baru kakak anterin kamu ke Bandara,“. Lili menggelengkan kepala dengan cepat. Nggak nggak nggak aku nggak bisa tinggal sendirian di sana, batin Lili.
“Kak, a-aku nggak mau ke London. Ja-jangan kirim aku ke sana, kak, a-aku nggak mau,“ ucap Lili terlihat cemas dan ketakutan. Tentu saja Lili bisa sampai seketakutan itu. Tinggal sendiri di sana ia akan merasa seperti tinggal di neraka. Tidak bisa bebas ingin pergi ke mana pun. Terlebih tidak ada orang tua atau sesiapa pun yang ia kenal. Lalu, bagaimana dengan Chris? “Ji, kamu jangan gegabah. Lagian nggak harus ngirim Lili ke London juga, kan?“ ucap Harlis, sang ayah sembari menyentuh lengan Setiaji. “Dia udah ngerusak rumah tangga orang, pa. Coba papa pikirin, orang bodoh mana yang mau cuti kuliah demi ngejer cowok doang? Pa, di luar sana banyak orang miskin yang pengen kuliah. Lili nggak kekurangan duit. Tapi, dia malah nyia-nyiain masa depan dia sendiri,“ ucap Setiaji.
“Tante, gimana kalo kita ngabarin Daffin, Om Nugraha, sama Tante Olivia juga?“ ucap Setiaji ke Mayang. “Nggak usah, Ji. Jangan.. Tante udah malu sama apa yang udah dilakuin Chris ke Daffin. Biarin aja, mereka nggak perlu tau keadaan Chris sekarang kek gimana. Biar ini jadi renungan buat Chris nanti,“ sahut Mayang. Semoga apa yang telah terjadi saat ini, bisa menjadi pelajaran berharga bagi Chris, batin Mayang. Cukup sudah ia kehilangan muka di depan keluarga Hernando, dan rasanya ia sudah tidak lagi memiliki muka untuk menemui mereka. Daffin, maafin mama, karna mama udah gagal ngedidik Chris buat jadi anak, dan suami yang baik buat kamu, batin Mayang.
Herman merasa kasihan akan Juan. Entah bagaimana cara agar Juan bisa kembali berkumpul di keluarga besar ini; melihat mereka bercengkrama seolah tidak terjadi apapun seperti ini; membuat Herman merasa seperti dialah manusia paling buruk di dunia ini. Lihat Juan mampu berdiri sendiri tanpa bantuan keluarga Lim sehujung jari pun. Dia mampu menepis rasa sakit itu dengan bahagia. Hah, sebuah senyuman yang Herman tidak pernah temukan di tengah-tengah mereka saat ini—yang haus akan harta dan jabatan.
Beruntung dengan segala usaha yang Herman kerahkan beberapa tahun terakhir; membuat ia mampu menjadi salah satu pemegang saham terbesar di Lim grup. Selain itu ia juga membangun perusahaan sendiri, meski belum terlalu besar, bisa dibilang perusahaan kecil-kecilan yang ia bangun mulai berkembang pesat. Lalu, terbesit lah di pikiran Herman untuk mematahkan stigma negatif di keluarga ini tentang pernikahan sejenis. “Ma, pa, aku pengen nikahin seseorang,“ celetuk Herman. Intan dan Satromo berbinar, dan tersenyum bahagia. Setelah mendengar Herman mengutarakan niatnya ingin menikahi seseorang.
“Ceritain ke kita semua, Her. Dia siapa? Orang mana?“ tanya Intan, sang ibu begitu antusias. “Dia PNS biasa. Ortu dia juga sama-sama PNS. Jujur buat dapetin restu dari mereka, aku berjuang mati-matian, ma,“ sahut Herman misterius. Semua orang yang ada di sana semakin di buat penasaran. Hm, kira-kira siapa perempuan itu—yang telah berhasil mencuri hati seorang Herman? Herman juga tidak berbohong soal dirinya—yang telah berjuang mati-matian itu. “Om, siapa, sih? Cepetan~ Kasih tau! Penasaran tau!“ ucap Shafa.
“Efan Emanuel,“ ucap Herman pada akhirnya. Suasana jadi hening seketika; seolah-olah membuat telinga siapapun yang mendengarnya berdengung, dan tidak mampu mendengar apapun. Lihatlah sorot mata penuh amarah dan emosi itu. “Berani kamu?!“ ucap Satromo langsung berdiri dari sofa. Satromo naik pitam hingga membuat wajahnya merah padam. “Kamu jangan main-main, Herman,“ ucap Satromo lagi. Orang tua Juan; Gio dan Safira pun tidak kalah terkejut. Ini seperti mimpi buruk yang terulang kembali. “Maaf, aku serius, pa,“ ucap Herman. Satromo pun langsung mengambil tongkat miliknya, dan ia mencoba memukul Herman dengan tongkat tersebut.
Namun, Herman berhasil menahannya. “Pa, ma, Gio, Safira, buka mata kalian. Kalian lihat Juan sekarang. Dia kuliah jurusan hukum. Dia bisa berdiri sendiri tanpa campur tangan dari kita sedikit pun. Dan kalian malah bangga dengan Pandu dan Shafa—yang bisanya cuma hambur-hamburin uang doang? Cih!“ ucap Herman sarkasme. Gio pun berdiri. Juan benar-benar telah menularkan penyakitnya kepada sang kakak. Heh, dasar anak itu, batin Gio. “Aku kecewa sama kakak,“ ucap Gio dingin. Herman tersenyum miring. “Inget Gio, orang yang cuman mendedikasikan hidupnya demi harta dan jabatan itu lebih menjijikkan daripada Juan—yang cuma pengen hidup bahagia sama Yoga. Jangan ampe kamu ngajari anak-anak kamu jadi orang yang haus harta, kek kamu,“ ucap Herman membuat Gio tertohok.
__ADS_1
Gio mengepalkan tangan kuat-kuat. Berani sekali Herman berbicara seperti itu di depan semua orang? Plak. Gio pun menampar Herman, sang kakak. “Maaf, permisi, pak? Ini ada tamu, pak,“ ucap si Bibi. Semua orang pun menoleh. “Siapa?“ tanya Satromo terdengar sangat dingin, karna sedang dalam kondisi marah. “Efan Emanuel, dan kenalin beliau ini orang tua saya, Surya Emanuel dan Nurul Syafatunnisa,“ sahut Efan. Dilihat dari raut muka mereka; sepertinya Herman sudah berkata jujur kepada seluruh keluarga. Bisa dilihat dari betapa sinisnya mereka menatap Efan, dan kedua orang tuanya.
Gio tersenyum remeh, lalu menghampiri Efan, dan menatap kedua matanya sembari meremas pundak Efan. Efan sama sekali tidak takut dengan tatapan Gio nan sinis itu. “Kamu keluar dari rumah ini. Saya nggak sudi ada kotoran masuk ke dalam rumah saya. Ngerti?“ ucap Gio sarkasme sambil menggerakkan gigi. “Singkirin tangan kamu, Gio,“ seru Herman tidak terima. Gio pun dengan senang hati mengenyahkan tangannya dari pundak Efan. Gio membersihkan tangannya dengan gel anti bakteri. Dia menghina Efan secara tidak langsung, dan menganggap Efan kotor serta pembawa penyakit.
Efan pun maju ke depan beberapa langkah, dan meletakkan undangan pernikahan di atas meja. “Dateng ato nggak itu terserah kalian. Karna mulai hari ini Herman jadi tanggung jawab saya,“ ucap Efan. Gio pun langsung menertawakan Efan. “Tanggung jawab? Hei, kamu cuman PNS biasa. Paling-paling gaji kamu cuma 4jt an. Apa? Mau tanggung jawab? Cih!“ ucap Gio merendahkan Efan. “Herman,“ seru Efan. “Kita pulang,“ ucap Efan. Saat Herman berniat ingin melangkahkan kaki. Satromo pun bersuara. “Berani kamu maju selangkah aja. Papa nggak bakalan terima kamu di rumah ini lagi, Herman,“ ucap Satromo.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Herman menghampiri Efan, dan pergi keluar meninggalkan rumah ini bersama Efan, dan kedua orang tua Efan. Juan.. Cuman ini yang bisa om lakuin ke kamu. Maaf, maafin om udah pernah mukul kamu, dan ikut ngusir kamu dari rumah ini dulu. Maafin om, Juan, batin Herman. Beberapa hari kemudian. Saat Juan sedang berada di kampus, dan bersantai bersama dengan Daffin, Malik, dan Naila. Juan tiba-tiba membeku dengan kedua mata membolak sempurna. Saat ia melihat sebuah artikel serta video yang viral di internet.
Di sana tertulis, bahwa salah satu anggota keluarga dari Lim Grup, yaitu Herman Lim—yang merupakan salah satu dewan direksi itu; melangsungkan pernikahan sejenis dengan seorang PNS bernama Efan Emanuel di Balai Sudirman Jakarta. Bahkan hp Juan sampai terjatuh ke lantai karna saking terkejutnya. Juan mengerutkan dahi. Om Herman kenapa? Kenapa dia bisa nikah sama cowok juga? Gimana reaksi papa, mama, kakek, nenek, dan yang lain?, batin Juan. “Juan? Lu kenapa?“ tanya Naila. Juan masih tercengang. Sungguh tidak bisa dipercaya. Setau Juan; Herman juga menentang hubungan sejensi. Tapi, tapi kenapa?
“Tolong ijinin ke dosen ntar kalo gue sakit. Gue ada urusan,“ sahut Juan. Tanpa babibu ia pun langsung pergi begitu saja. “Juan kenapa sih, Nai? Kok dia kek panik gitu?“ tanya Daffin. “Gue juga nggak tau, Daff. Keknya urgent banget, deh. Muka dia ampe pucet gitu,“ sahut Naila sambil mengedikkan bahu. Juan pun langsung tancap gas menuju Balai Sudirman dengan kendaraan roda dua miliknya. Juan butuh penjelasan Herman. Ia ingin tau; apa yang telah terjadi sebenarnya. Juan memukul setir dengan keras karna kesal.
.
.
.
JANGAN LUPA BACA JUGA JUDUL LAIN YE! LANGSUNG LU BUKA AJE PROFIL GUE BUAT LIAT LIAT NOPEL GUE!
UP KEMBALI KALO LIKES DAH 50+++++++
__ADS_1