GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 60


__ADS_3

Di sebuah acara TV bertemakan musik. Daffin mendapat kesempatan untuk tampil di sana, dan mencover sebuah lagu. Dia menyanyi sambil menari. Hal ini sudah diatur oleh pihak agensi yang menaungi dirinya; demi menunjukkan kemampuan Daffin dalam menyanyi dan menari kepada khalayak; sebelum ia debut sebagai penyanyi nanti. Sorot lampu di atas panggung pun mulai menyoroti dirinya. Daffin mengenakan kostum jas putih oversize. Dia juga pergi ke salon; menyambung rambut hingga panjangnya hampir sampai pundak; demi tampil di acara ini.


“Angmong gateun i damage, angma gateun damage, jeoldaero mulleoseoji ma, angmong gateun damage, gipeun panic, deo isang meomureuji anhgil,“ Daffin menyanyikan lagu berjudul Damage—yang dinyanyikan oleh salah satu boygrup asal Korea bernama JUST B—yang dinaungi oleh Bluedot Entertainment. Lagu yang sejatinya dinyanyikan oleh enam orang itu pun; Daffin nyanyikan seorang diri saja. Sungguh kemampuan mengelola nafas yang sangat baik—yang jarang dimiliki oleh kebanyakan penyanyi muda ataupun senior. Lihat dan dengarlah bagaimana Daffin bisa bernyanyi sestabil itu. Dia itu multitalenta, batin Hardinata—yang sedang menonton pertunjukan Daffin di bawah panggung.


Dia terlihat lebih bersinar, setelah berpisah dari Chris. Dia berdiri dengan tegap, bahkan tanpa sosok Chris di sampingnya. Hah, semakin dipikirkan, rasanya semakin sakit. Chris memasang kancing di bagian pergelangan tangan, lalu mengenakan rompi, dan jas. Dan satu lagi; jam tangan di pergelangan tangan sebelah kiri. Chris juga memangkas rambutnya, dan merubahnya menjadi middle-parted hair. Hari ini Chris memutuskan untuk kembali mengejar cintanya, setelah 1,5 bulan berpisah. Tunggu mas sayang, batin Chris sembari memasang kacamata.


Informasi dari mata-mata ialah hari ini Daffin akan tampil di salah satu acara musik di televisi nasional. Chris bukanlah pria romantis. Ia sempat bingung harus menemui Daffin dengan cara apa dan bagaimana. Setelah Daffin selesai menyanyikan satu lagu. Ia pun turun dari panggung. Namun, baru menuruni beberapa anak tangga, sebuah suara dari atas sana menghentikan langkahnya seketika. “Daffin Hernando,“ seru Chris. Jantung Daffin berdegup kencang; mendengar suara itu sejak sekian lama.


“Maaf, tolong maafin semua kesalahan mas selama ini, Daffin. Mas salah, tolong maafin mas sayang,“ ucap Chris. Ini siaran langsung yang ditonton oleh seluruh Indonesia, dan Chris berkata seperti itu di atas panggung? Dia tidak malu, kah? Hardinata menghela nafas melihat dua sejoli itu persis seperti anak baru gede saja. Daffin pun memutar badannya, dan menatap Chris dari sini. “Maafin mas, ya? Mas janji bakalan jadi suami yang lebih baik buat kamu,“ ucap Chris. Daffin terdiam sangat lama. “Mas,“ gumam Daffin—pun langsung naik ke atas panggung; menghampiri Chris.


“Kita turun sekarang,“ ucap Daffin sembari meraih pergelangan tangan Chris; supaya bersedia turun dari panggung bersama dirinya. Namun, Chris malah kekeh berdiri di sana. “Mas nggak malu? Seluruh Indonesia liat lho, mas? Tolong jangan malu-maluin diri mas sendiri di TV,“ ucap Daffin menahan tangis. Kedua matanya sudah memerah. “Lebih baik mas malu, Daffin. Biar semua orang jadi saksi, dan kalo suatu saat mas berani ngelakuin hal yang sama lagi, berarti mas lebih dari seorang pengecut,“ sahut Chris.


“Mas nggak mau turun sebelum kamu maafin mas,“ ucap Chris lagi. Daffin menelan ludah. Cup. Daffin pun mencium bibir Chris sekilas. “Kita turun sekarang, ok?“ ucap Daffin. Chris dan Daffin pun turun dari panggung; menuju ruang rias. Daffin menyapa semua orang yang berpapasan dengan dirinya dengan sangat ramah. Ia pun melepas earphone yang sedari tadi mengganjal di telinga. Sepanjang jalan; Chris sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari Daffin. Jujur Daffin deg-degan setelah sekian lama tidak bergenggaman tangan dengan Chris.


“Mas, lepasin dulu tangan aku. Ini aku mau lepasin mic speaker pinggang dulu,“ ucap Daffin sebal. Chris malah diam sambil menatap Daffin lurus. “Mas~“ seru Daffin mulai menampakkan tanduknya. Chris pun melepas genggaman tangannya—pun Daffin langsung melepas mic speaker itu dari pinggang dan lehernya. “Permisi,“ seru salah seorang staff. “Eh? Iya, mba?“ sahut Daffin menghampiri ke depan pintu. “Ini ada makanan dari fans kamu di depan gedung tadi. Nih,“ ucap staff itu sambil memberikan dua buah kardus berisi makanan. “Makasih banyak ya, mba? Tunggu dulu, ini buat mba satu, nih,“ ucap Daffin berterima kasih sambil memberikan satu kotak bento kepada staff itu.


Daffin duduk di sofa sambil menyalakan kipas portabel—yang biasa dipegang langsung dengan tangan. “Mas nggak ngantor?“ tanya Daffin. Dia seolah menghindari topik pembicaraan yang serius. Dia tau; alasan kedatangan Chris hari ini; tidak lain dan tidak bukan ialah ingin meminta rujuk mungkin? “Bentar lagi,“ sahut Chris singkat. Uh, suasana mendadak jadi canggung. Daffin pun berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja dengan mengambil sekotak bento. “Daff,“ seru Chris. “Daffin?“ seru Chris lagi.


Ketahuilah Daffin sedang menahan tangis. Chris pun meraih pundak Daffin. Kedua mata Daffin berkaca-kaca. Chris pun memeluk Daffin dengan erat. “Daffin, mas kangen banget sama kamu sayang, mas kangen,“ ucap Chris sembari memberikan kecupan manis di pucuk kepala Daffin. “Ta-tapi kamu udah kasar ke aku, mas,“ gumam Daffin mengangkat kepalanya sedikit; menatap Chris. Suara Daffin serasa tercekat karna sesenggukan. Dia terlihat sangat gagah di atas panggung. Tapi, ada sisi di mana, dia juga bisa menangis di pelukan Chris seperti ini.


“Nggak sayang, mas janji bakalan berubah, mas janji. Tolong kasih mas satu kesempatan lagi, ya? Hm?“ ucap Chris sembari mengusap pipi Daffin yang sembap karna air mata. Chris kecup kedua mata Daffin bergantian. Sejurus kemudian; Chris mengangkat tubuh Daffin hingga ia pun duduk di atas pangkuan. Ketahuilah bahwa Daffin itu lebih tinggi dari Chris. “Mas, nanti ada yang liat,“ ucap Daffin meletakkan kedua tangannya di pundak Chris. “Biarin, toh semua orang udah tau,“ sahut Chris. Eh? Tunggu dulu. Daffin tiba-tiba penasaran akan sesuatu. “Mas, mata kamu—“ ucap Daffin merasa aneh dengan mata kanan Chris. “Mata kanan mas buta total,“ ucap Chris kemudian.


Daffin tercengang. “Buta? Kenapa? Kenapa bisa buta maa?“ cerca Daffin jadi terlihat sangat cemas. “Tapi, tapi mas nggak papa, kan? Mata kiri mas gimana? Mas, mas bisa liat aku, kan?“ ucap Daffin. Bagaimana bisa Chris mengalami kebutaan? Kenapa Daffin baru tau sekarang? “Mas masih bisa liat sayang~ Cuman mata kanan mas doang yang bermasalah haha,“ sahut Chris tertawa seolah tidak ada apa-apa. “Mas, jangan becanda deh,“ ucap Daffin sebal sambil memukul pundak Chris pelan. “Kamu makin ganteng, ya? Badan kamu juga.. Mulai berisi?“ ucap Chris meremas dua labu itu dengan kuat.


“Ngh,“ gumam Daffin. “Kamu makin sensitif?“ goda Chris. “Buka mulut kamu Daffin,“ ucap Chris—pun langsung mencium bibir Daffin. Sambil berciuman; Chris sambil membuka beberapa kancing kemeja bagian atas Daffin. Ciuman itu pun turun ke area d a d a. Pun Daffin mengalungkan tangannya di leher Chris, dan menekan kepala Chris di sana. “Mmhh,“ gumam Daffin. Saat Chris mengelus si jagoan dari permukaan celana. “Nghh aahhh,“ gumam Daffin mendongakkan kepala sambil mencoba menutup mulutnya sendiri.


Chris dan Daffin keluar bersama-sama dari gedung—pun langsung diserbu oleh wartawan. Daffin melambaikan tangan. Sementara tangan kiri saling menggenggam satu sama lain. Public tidak lagi terkejut; melihat Daffin bersanding dengan kekasih prianya. Bahkan sebagian besar berpendapat, bahwa Chris dan Daffin terlihat sangat serasi. Di seberang sana. Galih sangat geram. Ia menggertakan gigi; melihat foto-foto mesra Chris dan Daffin di internet. Ia pun melempar gelas bir itu ke dinding hingga pecah. “Oh, jadi kalian udah bahagia? Gitu? Dan lupa sama apa yang udah kalian lakuin dulu ke kakak aku sendiri?“ gumam Galih.

__ADS_1


Daru sedang pusing tujuh keliling. Karna sebentar lagi ia dan Djaka akan menggelar resepsi pernikahan, dan mengucap janji sehidup semati. Dih, ngebayanginnya aja gue udah geli minta ampun, batin Daru. Terbesit di pikiran Daru; memecahkan benda apapun yang ada di kamar. Daru juga sengaja mengunci pintu kamar, dan menyetel musik dengan volume full. Ia tidak perduli, jikalau suara musik dari dalam kamar ini, terdengar sampai luar. Jam tangan? Vas bunga? Gelas? Semua ia lempar hingga pecah berkeping-keping. Semua benda yang ada di kamar ia lempar ke sembarang arah.


“Daru? Da? Tolong pelanin musiknya dong? Zahra lagi tidur sayang?“ seru Idah dari luar. Daru tentu saja tidak mendengarnya sama sekali. Seluruh keluarga berkumpul, dan itu membuat Daru muak. Daru memejamkan mata sambil menikmati lagu berjudul No Diggity - ONEUS. Idah mencoba memutar knop pintu, ternyata dikunci dari dalam. Lalu, Idah pun menggunakan kunci cadangan untuk membukanya. “Ya ampun! Daru!“ seru Idah terkejut melihat seisi kamar Daru yang berantakan. Ia pun mematikan musik yang sedang diputar. Daru menoleh pada sang ibu. Dia seolah tidak terpengaruh sama sekali.


“Ngapain kamu pecahin barang-barang di kamar kamu, hah?! Daru! Kamu itu bukan anak kecil lagi. Stop deh berontak ngerusakin ini dan itu. Nggak malu kamu, hah?“ ucap Idah marah-marah. “Nggak,“ sahut Daru. Jujur saat ini Daru tengah menahan tangis. “Urat malu aku udah putus, ma,“ ucap Daru menatap sang ibu. Dia sama sekali tidak menurunkan matanya. Idah menghela nafas berat sembari memijit pelipisnya yang mulai berdenyut. “Berani kamu ngelawan mama, Da? Mama udah lama diem, dan biarin kamu gitu aja. Mama pikir, kamu bakalan berubah, tapi apa? Kamu makin menjadi,“ ucap Idah kecewa.


Beberapa anggota keluarga yang lain pun ikut menghampiri. Mereka terkejut melihat kamar Daru—yang di mana terdapat pecahan beling di mana-mana. “Sebenernya aku anak mama ato bukan, sih? Kenapa mama malah belain Djaka si bangsat itu, hah? Kenapa malah dukung dia buat nikahin aku? Kenapa, ma!?“ ucap Daru berteriak dengan sangat keras. Daru menatap nyalang pada sang ibu. “Jangan salahin aku kalo aku berubah. Semua itu salah mama sama papa,“ ucap Daru.


“Daru,“ seru Didin dingin. Ia pun menghampiri puteranya sendiri, lalu menampar pipinya dengan keras. Daru menyentuh pipinya sendiri. Panas dan perih; ia rasa secara bersamaan. Ia sungguh tidak menyangka; jikalau Didin setega itu menampar pipinya. “Suatu saat kamu bakalan ngerti alesan papa sama mama mau nikahin kamu sama Djaka. Buka mata kamu, Daru. Jangan sampai keegoisan kamu bikin kamu buta. Kamu nggak bisa lari ke mana-mana. Berani kamu kabur dari rumah ato ngelakuin hal-hal aneh kek gini lagi. Siap-siap papa hapus kamu dari KK,“ ucap Didin mengancam. Daru pun tersenyum kecut.


Herman baru saja keluar dari toilet setelah mencuci tangan sampai bersih. Ia mundur beberapa langkah, sesaat setelah membuka pintu, karna terkejut—melihat Efan tiba-tiba berdiri di depan pintu. “Maaf lama,“ ucap Herman meminta maaf. “Nggak papa,“ sahut Efan—pun langsung melesat masuk ke dalam. Jujur dia sudah tidak tahan lagi menahan tampungan air s e n i di dalam sana. Eh? Tegang?, gumam Efan. Saat melihat si jagoan setengah menegang. Lima menit kemudian; ia pun keluar dari kamar mandi. Seperti orang pada umumnya. Saat tidak ada hal yang ingin dikerjakan; menonton TV sambil ngemil adalah solusi terbaik; untuk mengisi waktu luang.


Biasanya Efan selalu menghabiskan waktu sendiri di rumah, tiap kali pulang kerja sampai berangkat kerja lagi keesokan harinya. Tapi, sekarang ia sudah tidak sendiri lagi, alias ditemani oleh Herman, sang istri. I-istri?, batin Efan. Pun kedua pipinya merona, karna tersipu malu, menyebut Herman dengan sebutan istri. Meskipun itu cuma di dalam hati. Efan pun selfie diam-diam tanpa diketahui oleh Herman. Di foto tersebut juga ada Herman sedang berkutat dengan laptop. “Lagi nemenin si dia,“ tulis Efan di status whatsapp itu, beserta foto selfienya tadi.


Efan tau pernikahan ini tanpa dasar cinta. Tapi, baik Efan ataupun Herman, dua-duanya begitu menjaga pernikahan ini sebaik mungkin, meski pada awalnya jelas sekali seperti sebuah bercandaan saja. Seperti saat seseorang mempelajari sesuatu misalnya. Dia akan tetap belajar, sekalipun dia tidak menyukai hal itu, karna dia tau bahwa suatu saat ia akan memetik manisnya sebuah perjuangan. Eh? Perjuangan?, batin Efan. Efan juga heran, apakah saat ini antara dirinya dan Herman bisa disebut sebagai sebuah perjuangan untuk bisa saling mencintai?


Gimana caranya aku bilang ke Herman buat agak ngejauh dikit, ya? Tapi, aku takut dia tersinggung kalo seandainya aku ngomong kek gitu ke dia, batin Efan bimbang. “Efan?“ gumam Herman. “Errr tenang aja, aku nggak papa kok, Her,“ sahut Efan. “Her,“ seru Efan. “Hm?“ sahut Herman menoleh. “Jujur aku penasaran gimana cara ciuman cowok sama cowok kek gitu? Trus mungkin nggak, sih? Kalo errr cowok sama cowok ngelakuin itu juga?“ ucap Efan polos. Herman terdiam, lalu berdehem.


“Her,“


“Hm?“


“Kamu nganggep pernikahan kita ini apa? Candaan doang ato serius?“


Efan dan Herman pun saling bertatapan satu sama lain. Candaan atau serius? Entahlah, Herman juga tidak mengerti. Herman saat itu cuma berpikir; bagaimana cara untuk bisa keluar dari keluarga toxic, dan membuat mereka bisa memberi keadilan kepada Juan. Sekarang ia dan Efan sudah menikah. Lalu, ke mana pernikahan ini akan dibawa? Candaan atau serius? Herman bingung. Ia sama sekali belum memikirkan hal ini sebelumnya. Lagi Efan juga tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari semua ini.


“Her? Kamu mau denger pendapat aku, ato kamu mau putusin semuanya sendiri?“

__ADS_1


“Efan, aku juga nggak tau, aku bingung, maaf,“


“Her,“


Efan memanggil nama Herman. Efan menatap Herman dengan tatapan serius. Huft, Efan menghela nafas. “Maaf, apa boleh kita serius sama pernikahan kita ini? Uhm, aku tau kita belum ada perasaan apa-apa. Toh, kita sama-sama masih sendiri, nggak ada pasangan. Gimana kalo kita mulai pelan-pelan?“ ucap Efan. “Ef, aku—“ sahut Herman terputus, saat Efan mencium b i b i r nya secara tiba-tiba. Ini ciuman pertama setelah satu setengah bulan pernikahan. Oh Tuhan, tubuh aku nggak bisa gerak, batin Herman. Ciuman ini terasa sangat manis. Bibir Efan bergerak lembut di atas bibir Herman.


Hari ini Setiaji berada di salon seharian, mulai dari merawat kuku, treatment kecantikan, hingga barbershop. Dia juga membeli pakaian baru—yang lebih stylish. Mau tau kenapa? Karna hari ini adalah hari kelulusan Halim; untuk gelar S1 Administrasi Publik. Setiaji mengenakan kemeja putih—yang ia masukkan ke dalam celana abu-abu—juga blazer oversize abu-abu. Dia menunggu Halim, sang kekasih di luar gedung. Dia sudah tidak sabar; untuk melihat Halim dengan pakaian toga.


“Dor,“ seru Halim memeluk Setiaji dari belakang. Cup. Halim mengecup pipi Setiaji penuh cinta. “Lim, banyak yang liatin kita,“ ucap Setiaji pelan. “Biarin aja~ Biar mereka tau, kalo kamu udah ada yang punya,“ sahut Halim tersenyum bahagia. “Ehem, ini bunga buat lu,“ ucap Setiaji memberikan sebuket bunga kepada Halim dengan wajah tersipu. “Ji, gue pengen lu cium gue, trus difoto. Plis,“ ucap Halim memohon dengan amat sangat. Tentu saja Setiaji kurang setuju. “Lim, malu tau, ah,“ ucap Setiaji protes.


“Mba, tolong fotoin kita berdua, ya? Terutama pas calon istri aku cium aku, ok?“ ucap Halim meminta seseorang memfoto keduanya. “Halim!“ seru Setiaji protes. “Udah~ Sayang ku cinta ku~ Tinggal cium aja apa susahnya, sih?“ goda Halim. Dasar ini orang, nggak tau tempat apa gimana, sih? Nggak takut jadi bahan omongan orang kampus apa?, batin Setiaji. "Ntar malem kita perang ya sayang? Hehe,“ ucap Halim berbisik. Setiaji menatap Halim dengan tatapan membunuh. Satu dua tiga; Setiaji mengalungkan tangannya di leher Halim, dan mencium b i b i r nya.


FLASHBACK


Saat itu sedang ada acara HUT sekolah di SMAN; tempat Halim bersekolah saat itu. Lili dengan mudah menebak isi hati Setiaji—yang di mana Setiaji memiliki ketertarikan kepada Halim. Hingga pada akhirnya mereka pun berkenalan satu sama lain. Setiaji pada dasarnya bersifat cuek dan pendiam, namun Halim tidak menyerah untuk membuat Setiaji berbicara lebih banyak dari hati ke hati. Sial! Bisa-bisanya aku gugup, batin Setiaji. Ia pun meminum air mineral, demi mengusir rasa gugup di hati.


“Uhm, kakak kuliah di mana? Jurusan apa?“ tanya Halim. Entah mengapa; panggilan kakak terdengar sangat aneh di telinga Setiaji. Uhm, lebih tepatnya Setiaji tidak suka dipanggil dengan sebutan kakak. “Panggil nama aja, nggak usah pake imbuhan kak ato kakak,“ ucap Setiaji. Setiaji berusaha menghindari tatapan Halim. Berbeda dengan Halim—yang terus menatap Setiaji sambil tersenyum dengan senyuman terbaik. “Tapi, lu lebih tua dari gue. Nggak papa kalo gue manggil lu pake nama doang?“ tanya Halim memastikan sekali lagi.


“No problem,“ sahut Setiaji. “Ji, gue nanya lu kuliah di mana trus jurusan apa?“ tanya Halim. “UI jurusan Manajemen,“ sahut Setiaji. “Lu suka cowok?“ tanya Halim menohok. Hal itu membuat Setiaji mendelik seketika. “Dari mana kamu tau?“ tanya Setiaji agak sedikit terkejut. Halim pun tersenyum lebar. “Insting,“ sahut Halim sembari menunjuk kepalanya sendiri dengan jari telunjuk. Hidung mancung, bibir bagian atas lebih tipis daripada bagian bawah, dan sedikit bervolume. Halim sangat tampan; membuat Setiaji terpesona dan salah tingkah. Halim pun terkekeh; melihat Setiaji bengong sambil menatap dirinya.


.


.


.


JANGAN LUPA BACA JUGA SUGAR D [BL] UDAH UP CHAP 11-13! BANTU 600 LIKES YE!

__ADS_1


__ADS_2