GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 45


__ADS_3

Tristan itu adalah seorang pria yang biasa-biasa saja. Kalau kalian berpikir dia berasal dari keluarga pebisnis besar, maka kalian salah besar. Mulai dari apartemen sampai mobil, semua itu tidak lain ialah hasil dari jeri payah sendiri. Tristan tidak cuma mengajar di kampus sebagai dosen. Tapi, juga menjadi guru les privat hampir di semua mata pelajaran. Dengan gelar sarjana S2 yang ia punya, Tristan tentu saja menerima bayaran yang sangat fantastis. Sudah banyak murid-murid SMP dan SMA yang berhasil meraih juara dan masuk di Universitas bergengsi setelah mengikuti les privat bersama Tristan. Kalian tau berapa pendapatan Tristan per jam untuk satu orang murid saja? 12jt! Bisa kalian bayangkan berapa yang bisa Tristan peroleh per bulannya jikalau dirinya mengajar lebih dari 10 murid dengan total pertemuan 3-5 kali pertemuan tiap minggunya.


Tristan pun tiba di perumahan elit di Pondok Indah. Benar, hari ini Tristan akan menjadi tutor puteri seorang pengusaha kaya raya. Hm, dengar-dengar sih ayahnya itu pemilik lebih dari 10 cabang rumah sakit yang tersebar di berbagai kota. Benar atau tidak Tristan juga kurang tau. “Selamat pagi,“ ucap Tristan mengucapkan salam. “Masuk Tris,“ ucap Bu Indri, ibu dari Lia, murid kelas 1 SMA yang akan Tristan ajari nanti. Tiba di rumah ini, Tristan tidak lantas langsung mengajar, ia dijamu dulu dengan minuman dan beberapa cemilan lain seperti kue bolu. “Lia, tadi kakak kamu nelepon mau pulang katanya. Telepon lagi dong, kok belum nyampe juga?“ seru Indri dari ruang tamu. “Diminum Tris,“ ucap Indri. “Iya, bu. Terima kasih,“ ucap Tristan menyesap teh buatan Bu Indri.


“Eh, sekalian bilangin beliin Kerak Telor gitu,“ seru Indri lagi. “Iya bunda~“ sahut Lia dari dalam kamar. Indri dan Tristan pun saling bercakap-cakap seputar perkembangan belajar Lia di sekolah—serta kebiasaan sang puteri yang terlalu sering jalan-jalan keluar bersama teman-teman satu sekolah. Sehingga membuat Lia jarang belajar di rumah. “Diancem dulu, Tris. Baru nurut dia,“ ucap Indri geleng-geleng kepala. Tristan pun menanggapinya dengan senyuman tipis saja. “Maklum bu, masih remaja mah emang suka jalan-jalan keluar, yang penting bisa jaga diri aja,“ ucap Tristan berkomentar. “Bener Tris, cuma yah kadang ibu tuh capek ngasih taunya gitu loh,“ Indri mengeluh.


“Assalamu'alaikum,“ seru seseorang. “Wa'alaikumussalam,“ sahut Indri. Tristan melongo melihat siapa gerangan sosok yang katanya kakak Lia itu. “Pa-pak CEO?“ seru Tristan tidak percaya. Hardinata menatap Tristan malas. “Kalian berdua udah kenal nih? Kok kamu nggak cerita sih, Tris?“ ucap Indri. “Errr.. Itu.. Saya juga nggak tau bu kalo Pak Hardinata itu kakak Lia,“ sahut Tristan. Entah mengapa Indri mampu merasakan aura-aura permusuhan antara Hardinata dan Tristan. Hm, pernah berantem apa gimana sih?, batin Indri.


“Nih, kerak telor pesenan bunda tercinta,“ ucap Hardinata. “Bunda mikir kamu udah nggak inget rumah lagi loh, Har? Disuruh pulang aja susahnya minta ampun. Padahal deket banget,“ protes Indri. Hardinata pun duduk di sofa. “Kan bunda tau sendiri kalo aku sibuk di kantor?“ ucap Hardinata membela diri. “Sibuk dari hongkong! Pret! Sok sibuk banget kamu, Har,“ ucap Indri ke dapur menaruk kerak telor yang dibelikan oleh Hardinata tadi di lemari.


Tristan pun mulai mengajari Lia di ruangan khusus untuk belajar. Setiap kali Tristan mengajar, ia seringkali harus mengenakan kacamata, karna memang Tristan memiliki masalah pada penglihatan, yaitu minus. Hari ini Tristan mengajar dua mata pelajaran sekaligus, yaitu fisika dan kimia, yang dimana masing-masing dipelajari selama tiga puluh menit. Dari luar Hardinata memperhatikan bagaimana cara Tristan mengajari Lia. Tristan terlihat sangat berbeda saat sedang mengajar. Dia terlihat serius namun tetap santai. “Good job, Lia!“ seru Tristan memuji sampai mengacungkan dua jempol. “Durasinya lebih dipercepat lagi, Lia. Soalnya kamu ngelebihin target yang seharusnya. Itu aja sih yang perlu kamu latih sekarang,“ ucap Tristan menasihati.


“Liatin apa sih?“ tanya Indri duduk di sebelah Hardinata. Indri mencoba mengikuti ke arah mana sorot mata itu memandang. Tristan?, batin Indri. “Kamu liatin Tristan ampe segitunya, Har?“ ucap Indri menohok. “Uhuk,“ Hardinata terbatuk-batuk. “Bukan Tristan, bunda~ Tapi, aku lagi liatin Lia belajar doang,“ sahut Hardinata berbohong. “Itu tuh gara-gara kamu bandel trus adek kamu jadi ikut-ikutan bandel deh,“ ucap Indri menyalahkan Hardinata.


Lia dan Tristan pun keluar dari ruang belajar. Tristan ikut duduk bersama Hardinata dan Indri. Sebagai seorang ibu tentu saja Indri memiliki kepekaan tingkat tinggi. Indri merasa jikalau sedari tadi awal bertemu, baik Hardinata ataupun Tristan sama sekali tidak bicara satu sama lain. Terlihat saling diam—terlebih tatapan tidak suka Hardinata itu yang teramat sangat ketara sekali. “Kalian berdua nih abis berantem apa gimana sih?? Kok malah diem-dieman kek gitu? Katanya kenal?“ cerca Indri.


“Cuman nggak sengaja papasan di kafe aja, bu. Saya juga nggak terlalu akrab sama Pak Hardinata,“ sahut Tristan. Entah mengapa Tristan terpaksa mengatakan hal ini, meskipun dalam hati ia ingin sekali menjawab jikalau dirinya teramat sangat akrab dengan Hardinata. Mood Tristan langsung berubah. “Bu Indri, kalo gitu saya mohon pamit undur diri dulu, ya? Soalnya masih ada kerjaan lain,“ ucap Tristan tersenyum simpul.


Saat Tristan hendak membuka pintu mobil. Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil dirinya. “Tris-tan?“ panggil Hardinata. Hardinata baru tau nama asli dari pria yang pernah menolongnya di Taman Menteng waktu itu. Tristan pun menoleh dan menatap Hardinata datar. “Kalo mau ngomong ngomong aja, pak. Saya buru-buru,“ ucap Tristan terlihat kesal tanpa sebab. Hardinata mengernyitkan alis. Tristan ini kenapa?, batinnya. “Saya cuman mau manggil kamu aj—“ Kata-kata Hardinata pun langsung dipotong oleh Tristan. “Maaf, saya nggak ada waktu buat ngobrol basa-basi sama bapak. Kalo gitu saya pamit dulu.“ ucap Tristan memberikan penekanan penuh pada kalimat yang ia ucapkan. Hardinata mendengus saat mobil Tristan perlahan melesat jauh.


Pulang dari pemotretan. Daffin tiba-tiba merasa lapar. Lalu, ia pun memasak dua bungkus mie instan. Tring tring tring. Terdengar bunyi bel dipencet dari luar. Chris?, batin Daffin menaikkan sebelah alisnya. Itu tidak mungkin Chris. Ini apartemen Chris, dan mustahil Chris memencet bel terlebih dahulu saat hendak masuk ke dalam. Biasanya Chris akan masuk begitu saja. Toh, ini adalah apartemen miliknya.

__ADS_1


Huft, Daffin menghela nafas. “Maaf, siapa, ya?“ tanya Daffin saat ia melihat seorang perempuan muda dengan potongan rambut layer pendek dan tipis ala korea berdiri di depan pintu. “Kamu siapa? Kenapa bisa ada di apartemen Kak Chris? Oh! Kamu aktor yang itu, kan!?“ seru perempuan itu. Daffin diam saja. Ia bingung harus menanggapinya bagaimana. “Ehem kenalin, aku Lili, pacar Kak Chris.“ ucap Lili mengulurkan tangan ingin berjabat tangan. Daffin pun menyambut jabat tangan itu. “Daffin,“ sahut Daffin.


Lili pun menerobos masuk ke dalam begitu saja tanpa Daffin mempersilahkannya masuk terlebih dahulu. Daffin pun menutup pintu apartemen. “Ini cewek nggak ada sopan santunnya banget,“ batin Daffin geleng-geleng kepala. “Kamu temen Kak Chris, kan?“ tanya Lili memastikan. Kalau itu benar, Lili ingin menggali informasi tentang Chris melalui pria bernama Daffin ini. “Hm,“ sahut Daffin mengiyakan dengan deheman saja.


Daffin pun berjalan menuju dapur. Hampir saja mie instan yang Daffin masak kematangan. Lili duduk di kursi mini bar di dapur. “Kamu tau nggak cewek yang bakalan dinikahin sama Kak Chris itu orangnya kek gimana?“ tanya Lili. Daffin terdiam sejenak. Lalu, ia pun menjawab, “Nggak,“. Chris, cepetan pulang dong, batin Daffin. “Mau mie instan nggak? Gue bikin dua bungkus,“ tanya Daffin menawari. “Aku nggak makan mie instan, kak,“ sahut Lili.


Daffin pun duduk di hadapan Lili sambil makan mie dan telur ceplok dua butir. “Kak, plis kasih tau dong calon istrinya Kak Chris kek gimana? Ya ya ya?“ pinta Lili kekeh. Lili bahkan sampai menggenggam tangan Daffin. Daffin pun menatap Lili lurus. Jelas sekali kalau Daffin tidak menyukai Lili. Ini bukan masalah cemburu atau tidak. Hanya saja Daffin tidak suka. Kenapa bisa begitu, Daffin juga tidak tau.


“Calon istri Chris.. Gue denger-denger dia cowok..“ ucap Daffin. Kontan membuat kedua alis Lili saling bertautan. “Tunggu tunggu tunggu, maksud kamu apa?“ tanya Lili masih belum paham maksud perkataan Daffin. “Chris suka sama sesama jenis,“ ucap Daffin kemudian. “Hah?“ gumam Lili cengo. Lili benar-benar tidak percaya. “Daffin!“ seru Chris. Daffin dan Lili pun menoleh ke arah pintu. “Kak Chris!“ seru Lili langsung memeluk Chris dengan erat. Chris menatap Daffin dengan perasaan tidak enak hati. Semoga Daffin baik-baik saja, batin Chris.


“Daff, tolong taruh tas sama jas mas di kamar, ya?“ ucap Chris memerintah. Daffin pun beranjak dari kursi dan mengambil tas serta jas dari tangan Chris dan menaruhnya di kamar. Jujur saja Chris langsung pulang ke apartemen setelah dikabari oleh Setiaji, jikalau Lili ke Jakarta demi menyusul Chris, karna Lili tidak sengaja mendengar percakapan Harlis dan Iin mengenai acara pernikahan Chris dan Daffin.


“Kak! Kata Kak Daffin, Kak Chris suka sama cowok? Beneran? Uhm.. Kak, Kak Daffin cuma boong, kan?“ ucap Lili. Kalau ini benar. Sudah pasti Lili akan merasa amat sangat hancur. Bagaimana bisa seorang Chris menyukai seorang lelaki?, batin Lili. “Duduk dulu, Li,“ ucap Chris. Chris dan Lili pun duduk di sofa. Daffin datang dengan segelas air putih hangat untuk Chris. Chris pun meminum air itu beberapa teguk sebelum menjawab pertanyaan Lili. Chris akan lebih mempertegas hal ini. Bahkan, jikalau Lili harus menangis meraung-raung setelah mendengarnya nanti. Biarkan saja, batin Chris.


Kedua mata Lili terasa panas. “Ta-tapi tapi Li-Lili suka sa-sama Kak Chris..“ ucap Lili terisak. Jauh di dalam sana Lili berharap terdapat secercah perasaan cinta dan sayang di hati Chris untuk Lili. Sedikit saja tidak apa-apa, batin Lili. “Li..“ seru Chris sembari memegang kedua sisi pundak Lili. Tiba-tiba Chris teringat akan almarhumah Cindy. Dari yang Chris dengar, Cindy saat itu berlari keluar restoran dalam keadaan menangis setelah melihat Gilang dan James berciuman. Jangan sampai hal ini terjadi kepada Lili, batin Chris.


“Dengerin kata-kata kakak, Li. Kamu itu ampe kapanpun tetep adek kakak tersayang. Cuma kamu satu-satunya adek yang kakak punya. Tapi, Li.. Sayangnya kakak ke kamu persis kek sayangnya Setiaji ke kamu. Kakak mohon.. Tolong banget.. Ngertiin perasaan kakak, ya? Kita tetep keluarga, Li. Kamu ada masalah apa cerita aja sama, kakak.“ ucap Chris panjang lebar. Ugh, dada Lili terasa sesak. Tenggorokan Lili serasa tercekat. Lili tidak mampu ber kata-kata lagi.


“Emangnya kakak mau nikah sama siapa?“ tanya Lili mulai agak sedikit tenang. Chris melemparkan pandangannya ke Daffin. Sedangkan Daffin berlagak tidak tau menau sama sekali. “Daffin, Daffin Hernando,“ sahut Chris. “Da-Daffin?“ gumam Lili. Chris pun menganggukkan kepala pelan. “Ma-maksud kakak Da-Daffin yang mana?“ tanya Lili. Jangan bilang kalau orang itu adalah Daffin yang saat ini duduk di dekat Lili? “Jangan bilang kalo Daffin yang kakak maksud itu—“ ucap Lili lagi langsung dipotong oleh Chris. “Bener, Li. Dia Daffin yang bakalan nikah sama kakak nanti,“ sahut Chris menatap Daffin. Daffin pun menoleh—begitu pun Lili. Oh tuhan, apa-apaan ini? Kedua mata Lili semakin panas saja. “Ehem,“ Lili berdehem demi menahan sesak di dalam dada. Lili juga mengedipkan mata beberapa kali mencoba menahan genangan air mata ini supaya tidak jatuh.


“Lili mau pulang,“ ucap Lili kemudian. Daripada Lili terlihat seperti orang bodoh disini. Lebih baik Lili pergi saja dari sini. “Biar kakak anterin kamu, Li.“ ucap Chris. Kedua mata Daffin menyipit. Ia melihat tersirat rasa kekhawatiran yang teramat besar kepada Lili saat Lili berkata ingin pulang. Wajah Chris juga mendadak pias. Kenapa?, batin Daffin. “Lili bisa sendiri, kak. Nggak usah nganterin Lili. Lili bukan anak kecil lagi,“ ucap Lili mengusap sudut matanya yang sedikit berair. Chris menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. “Nggak Li nggak, kakak musti nganterin kamu, Li.“ ucap Chris lagi. Lili nggak boleh pulang sendirian, batin Chris.

__ADS_1


“Biar aku aja yang nganterin Lili, mas. Sekalian ada yang mau aku beli di luar,“ cetus Daffin. Daffin pun berdiri mengambil jaket di kamar sebentar. “Li.. Maaf, aku yang nganterin kamu pulang sekarang. Mas Chris kecapekan, mungkin mau istirahat dulu,“ ucap Daffin menatap Chris. Chris menatap Daffin dalam keterdiamannya. Sejurus kemudian tatapan itu pun berubah jadi sendu. Biar nanti Daffin tanyakan kepada Chris kenapa setelah ia mengantar pulang Lili. “Mas, aku nganterin Lili dulu, assalamu'alaikum,“ ucap Daffin. “Hm wa'alaikumussalam,“ sahut Chris terlihat tidak bersemangat.


Daffin pun mengantar Lili menuju apartemen Setiaji. Beruntung Lili tidak terlalu banyak berkomentar saat dalam perjalanan kesana. Daffin menoleh ke samping. Lili lagi nangis, batin Daffin saat ia lihat Lili terus saja mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya. Daffin pun tiba di apartemen Setiaji. Disana sudah ada Setiaji berdiri menunggu kedatangan Daffin dan Lili. “Daff, makasih ya? Udah nganterin Lili pulang.“ ucap Setiaji. Daffin pun tersenyum. “Sama-sama, kak. Oh iya, aku pulang dulu, ya kak? Maaf, nggak bisa mampir dulu,“ ucap Daffin. “Iya Daff. Nggak papa,“ ucap Setiaji.


Daffin pun tiba di apartemen sembari membawa beberapa makanan yang ia beli di jalan tadi. “Mas,“ seru Daffin. Disana Chris terlihat sedang rebahan di sofa dengan punggung tangan yang ia letakkan di atas dahi. Daffin pun menghampiri Chris dan duduk di samping Chris. “Mas? Kamu kenapa? Hm?“ tanya Daffin cemas. “Daff..“ seru Chris lirih. Ia pun bangun dan duduk dengan benar. “Mas.. Kalo kamu ada masalah cerita aja sama aku.. Mungkin aku bisa kasih solusi..“ ucap Daffin menggenggam tangan Chris. Kedua alis Daffin bahkan berkerut. Ketara sekali kekhawatiran di wajah Daffin.


“Mas tiba-tiba keinget Cindy, Daff. Mas takut Lili bakalan lari ke tengah jalan kek Cindy dulu,“ ucap Chris. Oh tuhan, jadi ini yang membuat suasana hati Chris memburuk sejak tadi? Pantas saja Chris sekhawatir itu tadi ke Lili. Jadi, ini toh penyebabnya, batin Daffin. Kedua tangan Daffin pun terulur untuk memeluk Chris. Daffin benamkan wajah Chris di dada. Ia usap pucuk kepala dan punggung Chris pelan. “Ma-mas beneran takut Daff.. Hm..“ ucap Chris lirih. Terdengar suara Chris sedang terisak. Chris nangis, batin Daffin. Daffin kecup pucuk kepala Chris. “Tenang mas, ada aku disini, semuanya baik-baik aja, nggak papa,“ ucap Daffin berusaha menenangkan Chris. Chris pun mempererat pelukannya di perut Daffin.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Gilang dari kantor, Gilang diam saja tanpa berbicara sepatah katapun seperti biasa. Dia bersender di kursi sambil memejamkan mata dan kedua tangan bersedekap di dada. James menoleh ke samping beberapa kali. Saat ini Gilang sedang merajuk kepada James, lantaran James tidak mempertimbangkan saran Gilang saat rapat di kantor tadi.


“Gilang! James!“ seru Idella mencium pipi keduanya kiri dan kanan setelah Gilang dan James mencium tangan Idella. “James, Gilang kenapa?“ tanya Idella saat melihat Gilang yang malah masuk ke dalam begitu saja. Gilang terlihat mengacuhkan James, batin Idella. “Biasa ma.. Tadi ada masalah dikit di kantor..“ sahut James. “Sering dia kek gitu, James?“ tanya Idella penasaran. James tersenyum kamu sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. “Kek gitulah ma haha,“ sahut James sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam bersama Idella. “Sabar banget kamu, James? Kalo bisa iket aja si Gilang nggak papa. Biarin aja ngamuk dia,“ ucap Idella.


“What's up brooooo!!!“ seru Gavin saat ia melihat sosok James masuk ke dalam rumah. “Bangsat banget lu Jim! Gue mertua lu dan lu baru sekarang mampir ke rumah gue???“ seru Gavin langsung mendapat pukulan manis dari Idella. “Sok banget deh kalo ngomong,“ ucap Idella. Idella pun ke dapur, mempersiapkan minuman dan cemilan sebelum nanti makan makanan utama. “Biasa bro~ Sibuk banget gue~“ sahut James. Gavin dan James pun tertawa bersama. Gilang? Dia cuma main gadget saja. Gilang sama sekali tidak peduli dengan keakraban antara sang ayah dan James. Cih! Peduli apa gue!, batin Gilang kesal.


“Muka kamu kenapa Gilang? Kok manyun gitu?“ seru Gavin sambil menendang-nendang kaki Gilang pelan. “Biasa aja pa, manyun dari mananya emang,“ sahut Gilang malas. Oh Gilang, bisa acting dikit nggak, sih? Ketara banget loh kalo kamu itu lagi ngambek sayang~, batin James. James duduk di sebelah Gilang. “Paan si ah,“ ucap Gilang marah saat James hendak menggenggam tangannya. “Orang utan nggak usah diladenin James,“ seru Idella sembari meletakkan nampan berisi minuman dan cemilan di atas meja.


“Paan sih ma, tega banget ngatain aku orang utan,“ protes Gilang tidak suka dengan kedua alis saling bertautan. “Akh!“ aduh Gilang saat Idella mencubit lengannya dengan keras. “Kamu ini udah gede loh Gilang. Pake ngambek-ngambekan segala sama suami sendiri. Inget umur.“ ucap Idella menohok. Idella pun menghela nafas. Kadang-kadang si Gilang ini juga bisa menjadi sangat menyebalkan. Seperti saat ini contohnya. Gilang berdecih kesal. “Jangan mepet-mepet napa sih ah, bisa geser nggak sih?!“ ucap Gilang kesal saat James semakin merapatkan tubuhnya ke Gilang.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like ya! Yang nggak pernah like yuk like mulai dari sekarang! Dari chapter 1 ampe 45! Hohoho dukung GKTG raih 2K likes! Jangan lupa favorit juga ya!


__ADS_2