GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 53


__ADS_3

Hampir dua mingguan ini Hardinata menghilang bak ditelan bumi. Pandangan mata keduanya pun bertemu; saat Hardinata menduduki kursi yang ada di depan Tristan. “Tristan,“ seru Hardinata pertama kali. Tristan diam saja. Ia seolah meminta penjelasan dari Hardinata; mengapa Hardinata menghilang selama itu—lewat tatapan mata. Hardinata juga tidak ingin bertele-tele. Ia pun mulai berbicara panjang lebar. “Tristan, untuk ke depannya, lebih baik kita nggak saling ketemu lagi,“ ucap Hardinata. Kedua mata Tristan menyipit. “Anggap aja kita nggak pernah saling kenal. Dan untuk malam itu, saya nggak akan mempermasalahnya. Tapi, kalo kamu berbuat seenaknya sama saya lagi, saya nggak akan segan-segan nuntut kamu, Tristan.“ ucap Hardinata beserta ancaman.


Hardinata tidak mamain-main soal tuntutan pengadilan. Orang-orang seperti Tristan ini; diberi maaf pun tidak pantas; kalau saja bukan karna nasihat dari Tasmirah—Hardinata pasti akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Bagi Hardinata; memenjarakan seorang Tristan itu adalah urusan kecil. “Apa nggak ada kesempatan buat saya sedikit aja? Pak CEO?“ ucap Tristan kemudian. Hardinata diam. “Tolong jangan paksa saya, Tristan,“ sahut Hardinata.


“Maaf,“ seru Tristan meminta maaf. “Maaf, kalo saya udah keterlaluan malam itu, Pak CEO,“ ucap Tristan lagi. Hardinata pun berdiri. “Saya udah maafin kamu. Jadi, pertemuan kita cukup ampe di sini aja, jangan ganggu saya lagi, Tristan.“ ucap Hardinata meninggalkan Tristan sendiri di sini. “KASIH SAYA SATU KESEMPATAN LAGI PAK CEO HARDINATA!!!“ ucap Tristan berteriak—hingga mengundang perhatian beberapa pengunjung cafe. Langkah Hardinata pun terhenti.


Tristan pun menghampiri Hardinata ke depan sana. Lalu, berdiri di depan Hardinata dan menatap kedua matanya lurus. “Saya serius, Pak CEO. Saya nggak main-main sama perasaan saya sendiri—“ ucap Tristan—yang langsung dipotong oleh Hardinata. “Saya juga nggak main-main, Tristan. Tolong jangan ganggu saya lagi. Saya mau hidup tenang, Tristan. Cukup. Cukup ampe di sini, Tristan. Nggak ada lain kali lagi.“ ucap Hardinata menegaskan.


Tristan terdiam setelah Hardinata berkata seperti itu, lalu pergi begitu saja. Tristan pun mengepalkan tangan kuat-kuat. Sesulit inikah mendapatkan hati seorang Hardinata? Tristan harus bagaimana lagi—demi bisa menjadi seseorang yang Hardinata cintai? Tristan menghela nafas berat. Lebih baik Tristan membiarkan suasana sedikit lebih tenang dulu. Baru memikirkan bagaimana cara—untuk bisa berkomunikasi lagi dengan Hardinata nanti. Tristan sudah berjalan terlalu jauh; melepas Hardinata begitu saja; argh, Tristan mengacak rambutnya gusar.


Djaka berdiri di depan cermin. Ia tatap pantulan dirinya di sana dari ujung kaki sampai ujung rambut. “Pantesan Daru nggak suka bin kesel sama aku hmmm jadi ini toh gara-garanya~“ gumam Djaka saat ia mengomentari diri sendiri—yang terlihat biasa-biasa saja, dan jauh dari kata stylish. Dalam hati Djaka bertekad ingin merubah penampilan. Tapi, sebelum itu, Djaka harus bertemu dengan atasan lebih dulu.


Tiba di kantor; Djaka langsung menuju ruangan CEO. “Masuk,“ ucap Chris dari dalam. Djaka pun duduk di depan Chris setelah dipersilahkan duduk. “Kenapa? Ada masalah?“ tanya Chris. “Ada banget, pak. Banyak!“ sahut Djaka—membuat Chris terkekeh. “Uhm, gini, pak.. Bo-boleh nggak kalo saya nyemir rambut?“ tanya Djaka. Kedua alis Chris berkerut. Hm? Semir rambut? Tumben sekali si Djaka ini bertanya perihal semir rambut?, batin Chris.


Chris pun menghela nafas sembari menaruh pulpen di atas meja. Ia pun menatap Djaka. “Djaka,“ seru Chris. “Iya, Pak,“ sahut Djaka mantap. “Kamu kalo mau nyemir rambut ya nyemir aja. Mau warna apa kek merah kuning ijo biru terserah—yang penting kerjaan kantor kamu selese, nggak males-malesan, sama bisa naikin provinsi perusahaan. Satu lagi jangan lupa, kamu Handel baik-baik manajer-manajer yang ada di bawah tangan kamu.“ ucap Chris.


“Kalo ntar saya jadi lebih ganteng dari bapak, gimana?“


“Lah? Emang kamu lebih ganteng dari saya kan, Djaka? Haha, tinggal kamu permak dikit aja beres wkwkwk,“


Chris tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Begitu pun Djaka; dia juga ikut tersenyum. Keluar dari ruangan Chris; Djaka pun berpikir untuk benar-benar merubah penampilan; supaya terlihat lebih fresh dan anak muda. “Padahal gue udah tua ckckck bentar lagi kepala tiga, ya ampun ckckck,“ batin Djaka.


Sepulang dari kantor; Djaka pun mengunjungi salah satu klinik kecantikan untuk menjalani perawatan—serta membeli sepaket skincare dan bodycare di klinik itu. Setelah itu ia pun mengunjungi salah satu butik fashion pria. Hm, katanya sih yang punya ini butik adalah seorang desainer ternama, batin Djaka. “Mohon maaf, permisi, pak? Ada yang bisa saya bantu?“ seru seorang pegawai butik itu. “Uhm.. Gini mba, saya tuh pengen belajar cara mix and match outfit kek gimana biar makin ganteng dan stylish,“ ucap Djaka tersenyum lebar. Si pegawai itu pun tersenyum, lalu mempersilahkan Djaka untuk masuk ke sebuah ruangan khusus. “Bapak tunggu di sini dulu, nanti saya panggilin Pak Didit,“ ucapnya. “Iya mba, makasih banyak sebelumnya,“ ucap Djaka.


Didit dan Djaka pun saling berbincang satu sama lain; membahas seputar fashion tentunya. Djaka mendapatkan banyak ilmu dari Didit—bagaimana cara mix and match pakaian yang baik dan benar. Sehingga membuat kita bisa bergaya sesuai usia. Tapi, tetap nyaman dan fresh. Djaka juga membeli beberapa stel pakaian casual dan jas—sesuai dengan yang direkomendasikan oleh Didit. Huft, Djaka menghela nafas saat ia keluar dari butik itu. Ia pun memandangi tangannya yang penuh dengan paper bag. “Tabungan kuuuuu,“ teriak Djaka dalam hati, karna ia telah menghabiskan uang sekian juta untuk perawatan dan shopping.


Bersantai di rumah saja bersama istri dan suami? Mengapa tidak? Lagian bersantai dan berlibur—tidak harus jalan-jalan ke mall—atau bahkan sampai ke ujung bumi pertiwi demi mencari pahatan-pahatan alam nan sedap dipandang mata. Sederhana saja; rebahan sambil mengeluarkan uneg-uneg masing-masing; itu terdengar lebih baik. Salah satu cara mempertahankan rumah tangga ialah dengan memperbanyak komunikasi, bukan?


Demi istri tercinta; James rela memijit kedua kaki Gilang dengan posisi kedua kaki Gilang berada di atas paha. James mengerling sesekali; Gilang sedang membaca novel; di wajahnya juga tertempel sheet mask. “Gilang,“ seru James. “Hm,“ sahut Gilang dengan dehaman saja. “Ngomong apa kek gitu~ Jangan diem mulu~“ ucap James sambil memijit kaki Gilang. James cuma merasa diacuhkan saja. Huh, untung istri tercinta, batin James.


“Mau bahas topik apaan emang?“ tanya Gilang tanpa menoleh. Gilang masih fokus berkutat dengan buku novelnya. “Uhm, apa, ya?“ guman James berpikir keras. “Kalo nggak tau mau ngomongin apa ya udah diem aja,“ ucap Gilang masa bodoh. Gilang mau membaca novel saja beberapa jam ke depan. “Ada kok ada!“ ucap James dengan cepat; sebelum Gilang tidak mau mendengarkannya sama sekali. “Kebetulan kantor aku kekurangan beberapa staff penting. Jadi, mau rekrut karyawan baru,“ ucap James. Sejurus kemudian; Gilang pun mendelik; ia langsung menoleh dan menaruh buku novel di atas dada.


“Trus?“

__ADS_1


“Hah? Nggak ada trus-trusan,“


“Pasti mau cari staff baru cewek, kan? Modelan kek sekretaris kamu yang satu itu?“


“Hah? Nggak lah sayang~ Demi istri tercinta saya bakalan nyari staff baru, tapi cewek,“


“Ehem,“ Gilang berdehem, lalu duduk sambil menatap James lamat-lamat. “Jim,“ seru Gilang. “Uhm..,“ gumam Gilang melemparkan pandangannya ke kiri dan ke kanan sambil mengulum bibir sendiri. “Bisa nggak kita pake aku kamu aja? Nggak usah pake saya—yang kek biasa kamu ngomong itu,“ ucap Gilang. “Bisa bisa apa sih ya nggak buat istri ku tercintaaaaaa,“ sahut James sengaja memanjangkan nada di ujung kalimat. “Kamu mah, Jim. Lagi serius juga~“ ucap Gilang sebal. James pun mengulum senyum. Gilang itu amat sangat menggemaskan saat ia bersikap manja, batin James.


“Nah,“ seru James menaruh kedua kakinya di atas paha Gilang. “Ini kaki kamu ngapain di sini?“ tanya Gilang heran. “Giliran kamu yang mijet,“ sahut James sambil mengedipkan mata beberapa kali. Gilang menatap James datar. Sejurus kemudian; ia pun mengenyahkan kaki James dari atas paha. “Males! Pijet aja sendiri! Aku mau baca novel!“ ucap Gilang kembali membaca novel sambil rebahan dengan posisi miring menghadap TV.


Terlintas di pikiran James—untuk menjaili sang istri. James pun menampar labu itu dengan keras—hingga Gilang mengaduh. “Jim!!!“ seru Gilang marah sambil melotot. Hm? Tentu saja James tidak peduli; memangnya James takut apa? Ditatap seperti itu oleh Gilang? Sama sekali tidak! “Bandel sih,“ James mencibir. Gilang geram. Namun, James malah memukul labu itu sekali lagi. Kedua mata Gilang semakin melotot—seolah-olah hendak keluar dari tempatnya. Sejurus kemudian; James meremas labu itu kuat-kuat. “Jim aaahh,“ gumam Gilang. James pun tersenyum penuh kemenangan dengan ekspresi tanpa dosa.


Setiaji menghela nafas untuk ke sekian kalinya sambil memijit pelipisnya yang sama sekali tidak berdenyut. Ia pun melepaskan kacamata, dan menaruhnya dengan kasar di atas meja. “Ji? Lu kenapa? Kok kesel gitu?“ tanya Halim. Setiaji mengerutkan dahi. “Ji, Kalo gue ada salah lu bilang aja, gue pasti bakalan perbaikin semuanya,“ ucap Halim; Halim berpikir, bahwa dirinya telah berbuat salah—sehingga membuat Setiaji menjadi semarah ini.


Setiaji pun menoleh. “Nggak, Lim. Gue nggak marah ke Lu. Lili Lim Lili,“ ucap Setiaji. Lili? Huft, ada apa lagi dengan Lili? Kali ini masalah apa lagi yang dia buat—sampai-sampai membuat Setiaji jadi sepusing ini?, batin Halim. Setiaji pun mulai bercerita; apa yang sedang terjadi saat ini; dari yang Halim dengar sedari tadi, ternyata Lili berencana sengaja mengambil cuti kuliah selama tiga minggu ke depan—demi mengejar Chris. Ini sungguh gila. Lili itu seumuran Halim. Tapi, bagaimana bisa dia setega itu—berpikir ingin merebut Chris dari Daffin?


Setiaji pun menelepon seseorang. “Halo Mr. Charles,“ seru Setiaji. Halim cuma memperhatikan Setiaji dari samping. Dia lagi serius banget, batin Halim. “Gimana kabar kamu, Setiaji?“ tanya Charles. “Haha i'm ok, Mr,“ sahut Setiaji. “Cepet bilang, mau minta tolong apa? Kebetulan aku punya kantong ajaib doraemon. Kamu bisa minta apa aja,“ ucap Charles bercanda. Setiaji terkekeh sembari meminum air putih beberapa tegukan. “Kamu tau, adek aku baru semester dua, enam bulan lagi baru semester tujuh.“ ucap Setiaji.


“Trus?“


“Buat apa? Dia kan udah kuliah di situ?“


“She is make a mistakes here, Mr. Charles. Jadi, lebih baik aku kirim dia ke kampus kamu bulan depan,“


“Hei, Setiaji. Kampus aku bukan tempat buat murid-murid bermasalah, ya?“


“Come on, help me, dude. Terserah mau kamu didik dia kek gimana. Semuanya aku serahin ke kamu. Intinya tolong didik dia ampe dia jadi murid yang baik dan penurut,“


Sambungan telepon pun terputus setelah pembicaraan antara Charles dan Setiaji selesai. “Charles? Charles siapa?“ tanya Halim curiga. Jujur baru pertama kali ini Halim mendengar seseorang bernama Charles, karna hampir semua teman-teman Setiaji; Halim tau siapa mereka tanpa terkecuali. Huft, Setiaji menghela nafas. “Dia temen aku di London, dia dosen di kampus, dan aku minta dia buat sediain satu kursi buat Lili.“ sahut Setiaji.


Halim semakin dilanda kebingungan. Kampus di London?, batin Halim. “Lu, beneran mau ngirim Lili ke sana?“ tanya Halim ragu. “Hm,“ sahut Setiaji menganggukkan kepala pelan. Setiaji itu terlihat pendiam dan biasa-biasa saja dari luar. Tapi, kalau ia dihadapkan dengan sebuah masalah, ia tidak akan segan-segan untuk bertindak lebih tegas. “Kalo Lili marah trus benci sama lu gimana?“ tanya Halim. Jaman sekarang sering kali terjadi perang dingin antarsaudara. Jujur saja dalam hati; Halim agak sedikit khawatir; kalau-kalau Lili dan Setiaji bermusuhan.


“Lim? Lu kenapa? Kok muka ditekuk gitu?“

__ADS_1


“Gue cuman takut kalo Lili bakalan benci banget sama lu. Trus dia nggak nganggep lu apa-apa lagi gitu, Ji,“


“Dasar elu mah. Benci mah benci aja kali. Biasa sodaraan musuhan~ Ntar juga baikan lagi~“


“Kalo dia benci lu selamanya gimana?“


“Lu kalo ngomong suka bikin gue mo ngakak deh, Lim. Dasar ada-ada aja elu mah. Kan ada kamu sayang?“ sahut Setiaji—yang tiba-tiba memanggil Halim dengan sebutan sayang. Bahkan Setiaji memeluk Halim dari samping. Halim langsung membeku; menelan ludah susah payah. Kedua pipi Halim juga memerah. Setiaji mengulum senyum; melihat Halim tersipu malu seperti ini. Cup. Setiaji mengecup pipi Halim sekilas. Halim pun otomatis memundurkan badan ke belakang sedikit. Halim mengedipkan mata beberapa kali—tidak percaya.


“Kak Chris!“ seru Lili menghampiri Chris—yang terlihat seperti ingin pulang. “Lili?“ seru Chris berpura-pura terkejut; padahal sebelumnya Chris sudah tau; jikalau Lili tengah menunggu dirinya di sini. Setiaji juga telah memberitahu. Chris menatap Lili dari ujung kaki sampai ujung rambut. Hm, berubah 100%, batin Chris; saat ia melihat perubahan style Lili—yang dulunya terkesan imut; sekarang terlihat lebih dewasa dengan tatanan rambut bob lurus belah tengah—yang di mana, di bagian sebelah kiri yang menjuntai itu diselipkan di belakang daun telinga.


Chris akui Lili cukup cantik. Tapi, mau secantik apapun Lili, Chris sama sekali tidak tertarik. Hm, Daffin, batin Chris saat ia mengingat Daffin. Chris berniat membelikan beberapa makanan favorit Daffin di jalan—sekalian pulang nanti. “Lili ikut Kak Chris, ya?“ pinta Lili penuh harap sambil melingkarkan tangannya di pergelangan tangan Chris. Chris tersenyum melihat tingkah manja Lili; meski banyak pasang mata yang melihat; Chris sama sekali tidak masalah. Lili itu sudah Chris anggap adik kandung sendiri.


Chris dan Lili pun pulang bersama ke apartemen. Di jalan tadi; Chris telah membeli asinan betawi, dan ketoprak; Masing-masing tiga bungkus. Jadi, total ada enam bungkus. “Mas,“ seru Daffin saat gembira. Namun, sejurus kemudian; senyuman Daffin pun memudar saat ia melihat seorang perempuan di samping Chris—berjalan beriringan. Dialah Lili. “Daff, ini ada asinan sama ketoprak buat kamu,“ ucap Chris menaruh bungkusan plastik itu di atas meja. “Daff?“ seru Chris; saat ia melihat keterdiaman Daffin.


Daffin tau; Chris itu setia; dan teguh pendirian; dia tidak akan pernah mengkhianati Daffin hanya karna seorang wanita. Dia bukan tipikal pria yang mudah digoda oleh wanita dan lelaki mana pun. Tapi, tetap saja, sebagai seorang istri—melihat Chris bisa sedekat ini dengan keponakan sendiri—juga merasa cemburu. “Uhm, i-iya mas,“ sahut Daffin. Saat Daffin ingin melangkahkan kaki ke dapur; Chris pun memanggil dirinya. “Daff, salaman dulu sama mas,“ tegur Chris. Ah iya, salaman, batin Daffin. Bagaimana Daffin bisa lupa salaman? Ugh, dasar, batin Daffin sebal.


Chris tentu saja peka; bahwa Daffin saat ini sedang cemburu. Lihatlah bagaimana Daffin melangkahkan kaki ke dapur tanpa sepatah kata pun. Cukup jelas, bukan? Chris mengulum senyum; melihat akan hal itu—Lili agak sedikit sebal. Setelah menaruh beberapa piring di atas meja; Daffin pun berniat ke kamar untuk mempersiapkan air hangat di bathtub; untuk Chris mandi nanti. “Kak Daffin!“ seru Lili. “Li, lu yang kakak, bukan gue. Gue masih 18 tahun.“ sahut Daffin dingin.


“Trus kamu mau ke mana?“ tanya Lili lagi. “Bukan urusan lu,“ sahut Daffin ketus—meninggalkan Lili sendiri di ruang tamu. Masa bodoh kalau Lili malah jadi kesal dan marah. Di dalam kamar; Chris sedang melepaskan pakaian. Daffin langsung melesat ke kamar mandi—tanpa menyapa terlebih dahulu. Chris pun menyusul Daffin ke kamar mandi. Di sana Daffin sedang menyiapkan air hangat di bathtub—juga menambahkan aroma terapi. “Daff,“ seru Chris. Daffin menuli. “Udah aku siapin mas. Kamu bisa mandi sekarang.“ ucap Daffin dingin. Lalu, ia pun keluar dari kamar mandi. Baru saja Daffin hendak melangkahkan kakinya keluar; Chris langsung menahan pergelangan tangannya; lalu memeluknya dari belakang.


“Mas seneng banget tau, nggak? Liat kamu cemburu. Gemesin tau!“ ucap Chris menohok. “Si-siapa yang cemburu sih, mas? Nggak ada! Udah ah, aku mau keluar; makan asinan yang kamu beliin tadi.“ ucap Daffin mengelak, karna gugup. “Pipi kamu udah merah sayang~“ ucap Chris dengan nada menggoda. Daffin membeku. Suasana pun menjadi hening sesaat. Perlahan-lahan; Chris menelusupkan tangannya ke dalam sana. Ia pun meremas dua biji telur milik Daffin itu. “Eunghh,“ gumam Daffin. Chris sengaja membaca beberapa informasi tentang spot tersensitif para pria. Salah satunya ialah dua biji telur, batin Chris. Chris sudah tidak tahan lagi. Ia dan Daffin pun bermesraan di kamar mandi. “Umh, mahs peh-lahn peh-lahn aj-ah aahhh maahhs keluar ngh! Sstttt aaahhhhhhhh,“ teriak Daffin—pun menyemburkan cairan putih itu ke lantai kamar mandi—setelah Chris menggempur lubang itu berkali-kali. Chris dan Daffin tidak peduli; jikalau ada Lili di ruang tamu; toh jarak antara kamar tidur dan ruang tamu cukup jauh.


Semua orang pun menoleh ke sumber suara—yang di mana itu adalah suara yang dihasilkan oleh decitan antara sepatu dan lantai keramik. “Siapa sih?“ tanya seorang karyawan. “Hah? Tunggu tunggu, itu kan GM kita!“ sahut yang lain. “Gila! GM kita udah kek bule aja! Padahal lokal loh Pak Djaka ini? Namanya aja Djaka,“ timpal yang lain.


Djaka masuk ke dalam kantor dengan percaya diri. Penampilan terbaru Djaka dengan model rambut Comma Hair berwarna Brunette—bagian depan rambut yang melengkung ke dalam, dan menyerupai tanda koma—serta warna rambut coklat klasik. Djaka juga mengenakan softlens berwarna coklat—yang sangat kontras sekali dengan warna kulit dan rambut.


“I-ini beneran bapak?“ tanya Tia masih belum bisa percaya. Diam-diam Djaka ini ganteng juga, ya?, batin Tia. “Kenapa? Jelek, ya?“ tanya Djaka. Tia pun langsung menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. “Ng-nggak kok, pak. Uhm ga-ganteng banget malah,“ cicit Tia malu-malu. Djaka pun tersenyum. “Kalo gitu saya mau ke ruangan saya dulu,“ ucap Djaka kemudian. Ia pun langsung melesat menuju lift.


.


.


.

__ADS_1


Libur up dulu GKTG mau up lagi di COME BACK HOME [BL]


__ADS_2